Tidak Mau Tinggal dengan Mertua

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya menikah dan tinggal terpisah dengan rumah keluarga saya. Ada banyak masalah di antara istri dan ibu saya, sehingga mereka tidak bisa tinggal di satu rumah. Di satu sisi saya mencintai istri dan ingin agar dia bahagia, tapi di sisi lain saya ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua.

Ustadz, orangtua saya meminta kami agar tinggal bersama mereka. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mematuhi orang tua dan menceraikan istri jika dia tidak mau ikut tinggal bersama, atau saya harus lebih mengutamakan istri dan keluarga kecil saya?

Atas nasihat ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang bingung

Di bumi Allah

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang dirahmati Allah, saya bisa memahami dilema yang sedang Anda alami atas dua keinginan sama-sama sulit. Di mana Anda berkeinginan kuat agar keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Tetapi jika dua hal memang tidak bisa dipadukan, bukankah tidak bijaksana jika kita memaksakannya?

Dalam hal ini yang perlu Anda pahami pertama adalah wajibnya ketaatan dan pelayanan istri kepada suami adalah terhadap diri suami itu saja, bukan kepada keluarga besar suami. Sehingga jika Anda berkeinginan untuk membawa istri masuk ke dalam keluarga besar dan melayani mereka, Anda harus membicarakannya baik-baik sebelumnya. Hal ini agar istri menerimanya dengan ridha dan ikhlas sehingga mudah menjalankannya sebagai tambahan kebaikan baginya.

Namun di sisi lain, Anda juga harus memahami besarnya hak orang tua, terutama ibu atas diri Anda. Sehingga yang diperlukan adalah pembagian waktu yang baik, serta komunikasi yang sehat. Anda jelaskan kepada keduanya bahwa masing-masing memiliki hak atas diri Anda dan hal itu bukanlah untuk dipertentangkan.

Anda tidak bisa memaksa istri untuk tinggal bersama ibu Anda jika dia tidak ikhlas menerimanya. Namun hal itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk berbakti kepada ibu Anda. Carilah tempat yang tidak terlalu jauh sesuai kemampuan Anda agar tetap bisa mengunjungi dan berbakti kepada orang tua. Jangan menyerah untuk terus mengkomunikasikan pilihan Anda agar orangtua dan istri bisa mengerti dan ridha. Katakanlah bahwa hal itu justru demi kebaikan semua pihak.

Jangan lupa berdoa kepada Allah agar memberikan yang terbaik dan kemampuan untuk menyelesaikan maslah Anda dalam keridhaan-Nya.

Selamat mencoba dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

Hukum Perempuan Menikah tanpa Sepengetahuan Orangtua

 

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, bagaimana hukum pernikahan yang dilaksanakan seorang wanita tanpa sepengetahuan ayah kandungnya? Pernikahan tersebut dilaksanakan melalui seorang wali hakim atau ustadz suatu kelompok pengajian. Jazakumullah khaira jazaa’ atas jawaban ustadz.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Seorang ibu di Solo.

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Ibu yang peduli, saya menemui beberapa kasus seperti yang Anda tanyakan. Menurut jumhur ulama, pernikahan seorang wanita tanpa persetujuan walinya merupakan pernikahan yang batil (tidak sah), dan jika hal itu karena kejahilan, maka ia termasuk pernikahan syubhat. Rasulullah bersabda, “Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya batil, pernikahannya batil, pernikahannya batil.” HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah.

Ibu yang shalihah, jika kedua pihak yang melakukan pernikahan ini tidak mengetahui kebatilannya karena jahil, maka keduanya tidak berdosa, insyaallah, namun pernikahannya harus segera dibatalkan dan keduanya dipisahkan. Sedang hukum atas anak-anak hasil pernikahan keduanya seperti anak-anak dari pernikahan yang sah. Yaitu mendapatkan nafkah dari ayah mereka, nasab mereka dinisbahkan kepada si ayah, serta berlaku hukum waris di antara mereka.

Namun jika ternyata kedua belah pihak mengetahui kebatilan pernikahan itu dan tetap nekat untuk menikah, maka keduanya dianggap telah berzina, melakukan dosa besar, dan harus ditegakkan hukum had perzinaan atas keduanya. Jika ternyata pernikahan tersebut membuahkan anak, maka si anak dinisbahkan kepada ibunya, karena merupakan anak zina. Kecuali jika hanya si wanita yang mengetahui kebatilannya sementara si lelaki tidak, maka yang dianggap telah berzina adalah si wanita, dan anak hasil pernikahan tersebut tetap dinisbahkan kepada si ayah karena dia tidak mengetahui kebatilan pernikahan itu.

Jika pernikahan tersebut memungkinkan untuk dilanjutkan dengan memenuhi syarat yang kurang seperti keberadaan wali, maka mereka boleh melakukan akad baru dengan mahar baru atas persetujuan wali si wanita meskipun masih dalam masa iddah, karena iddahnya adalah iddah dia sendiri.

Ibu yang budiman, adapun ustadz atau kelompok pengajian yang memudahkan urusan wali dalam pernikahan, maka Anda selayaknya hati-hati. Lebih baik Anda memilih kelompok pengajian atau ustadz yang lebih hati-hati dan bisa dipertanggungjawabkan. Sekian dan semoga bermanfaat.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Konsultasi keluarga

Tetap Takwa, Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Semua orang tentu mendambakan bisa menikah dan hidup bahagia bersama pasangannya. Terutama wanita. Mereka mulai berharap dan bermimpi tentang seorang suami semenjak masa remaja. Keinginan untuk segera menyempurnakan separuh agamanya cukup kuat pada wanita. Wanita ingin memiliki pasangan yang membuat hidupnya luar biasa dalam melalui hari hari dan kehadiran anak-anak yang menjadikan rumahnya serasa surga. Sungguh, wanita mana yang tidak menginginkan gambaran keluarga yang sempurna dalam hidupnya.

Setiap wanita menginginkan hal tersebut. Dan dengan keinginan ini, muncul tekanan bagi banyak wanita Muslim untuk menikah pada usia muda. Ya, bagi pria mungkin tak begitu menjadi soal, namun bagi wanita hal ini sering membuatnya tertekan.

Sebagian wanita bahkan menjadi rendah diri karena tak kunjung mendapatkan belahan jiwa. Ketika jodoh tak kunjung datang dan sebagian masyarat mulai menganggapnya sebagai perawan tua, pikiran buruk pun berkecamuk. Bagaimana bila umur saya sudah 25 dan belum menikah? Apa yang dikatakan kerabat saya? Mengapa Allah menguji saya dengan ujian ini? Apakah saya tidak cantik? Mungkin saya harus melepaskan jilbab saya… (Naudzubillah min dzalik)

Mereka mulai mengalami depresi saat melihat teman-temannya menikah. Banyak yang bahkan merasa seperti masa muda mereka terbuang jika tidak segera menikah saat masih muda.

Jika pikiran-pikiran itu sempat terlintas di benak Anda, waspadalah! Setan sedang ingin merusak hidup Anda karena ia tak senang pada jiwa-jiwa yang berbakti kepada Allah.

Bersabarlah, karena Allah berfirman, Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).

Bagaimana membuang pikiran negatif dan kesedihan?

 

1. Dedikasikan masa muda Anda untuk beribadah kepada Allah jika jodoh tak kunjung datang

Banyak alasan kenapa jodoh tak kunjung datang, namun bukan berarti masa muda Anda sia-sia. Dedikasikanlah hari-harimu dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan cara ini Anda tidak akan merasa sedih atau menyesal. Tidak ada yang hilang jika Allah bersamamu setiap hari. Rasulullah menuturkan bahwa ada tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah

 

2.Melakukan aktivitas yang yang mulia

Isilah masa mudamu dengan aktivitas yang produktif. Misalnya terlibat aktif dalam dakwah muslimah atau mengajar TPA.

 

3.Jangan memperhatikan apa yang orang lain katakan

Tekanan keluarga yang terus menanyakan kapan nikah memang membuat hidup Anda tidak nyaman. Namun, ingat bahwa rasa sakit hanyalah sebuah keadaan pikiran. Anda bisa memikirkan jalan keluar dari segala hal, bahkan rasa sakit. Cobalah untuk tidak melibatkan diri dalam argumen, hindari berpikir negatif. Jika Anda merasa terbebani, berdoalah, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 286)

 

4. Anda adalah spesial dan terlahir dengan tujuan mulia

Allah menciptakan setiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Hidup kita adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Allah akan senantiasa menguji hambaNya untuk melihat sejauh mana cintanya. Akan ada air mata tapi juga akan ada tawa dan cinta. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Percayalah bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

 

5. Selalu ada alasan mengapa Allah menakdirkan hal tersebut

Cobalah merenung sejenak dan carilah alasan mengapa Allah memilih situasi ini untukmu.

Mungkin Dia menginginkan agar Anda memenuhi tugas yang sangat penting dalam hidup Anda sehingga Allah membebaskan Anda sampai tujuan itu tercapai? Atau mungkin Ia ingin memberi hadiah kepada Anda dengan sesuatu yang hebat dan cobaan berat ini adalah ujian untuk Anda. Jadi beristighfarlah sebanyak yang Anda bisa dan berdoalah kepada Allah agar Allah memberikan kemenangan dan kedamaian dan meenangkan hatimu. Banyaklah berdoa agar Allah memberikan pasangan terbaik untukmu.

Bacalah doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Jika hati kita dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tentu kita dapat menghadapai semua rintangan.
Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita dalam kebaikan. Amin.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Motivasi

Baca Juga yang Lainnya: Untuk Muslimah: Jangan ragu Datangi Majelis Ilmu, Amalnya di Puncak Takutnya Mencapai Klimaks, Dari Mata Turun Ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Istikharah, Cara Terbaik Untuk Memilih yang Terbaik

Istikharah artinya meminta pilihan. Abu Amru Abdillah al-Hamadi menjelaskan, istikharah artinya meminta agar keinginan hati dicondongkan pada apa yang terbaik dan utama menurut Allah, dengan cara menunaikan shalat sunah dan berdoa dengan doa istikharah yang diajarkan Nabi SAW.

Prakteknya cukup mudah, seseorang menunaikan shalat sunah -bukan shalat wajib- dua rakaat dan membaca surat apapun dari al- Quran setelah al-Fatihah. Setelah salam, membaca tahmid atau bacaan yang berisi pujian pada Allah, membaca shalawat untuk Nabi SAW lalu berdoa dengan do’a istikharah dan ditutup dengan shalawat. Soal waktu pelaksanaannya, pada dasarnya bisa dikerjakan kapan saja, tapi lebih utama dilaksanakan pada waktu-waktu yang memiliki fadhilah (keutamaan) seperti pada sepertiga malam akhir.

 

Baca Juga: Yang Menyenangkan Belum Tentu Membuat Bahagia

 

Adapun lafazh doanya bisa kita baca dalam hadits shahih riwayat Imam al Bukhari, dari Jabir bin Abdillah beliau berkata,

“Adalah Rasulullah SAW mengajari kami Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah al-Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah dua rakaat, kemudian membaca:

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي –أَوْ قالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

 

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik bagi agamaku, kehidupanku dan akibatnya terhadap diriku – atau Nabi SAW bersabda: untuk dunia atau akhiratku- sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagi dalam agamaku, kehidupanku dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah keridhaan-Mu kepadaku.” Lalu menyebutkan urusannya.

 

Boleh Hanya Dengan Berdoa

Yang paling utama adalah melakasanakan istikharah sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits; diawali dengan shalat sunah dua rakaat kemudian membaca doa. Sebab, ada hikmah yang agung dalam anjuran untuk melakukan shalat sunah sebelum memanjatkan doa.

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hikmah disyariatkanya shalat sebelum doa bahwa tujuan istikharah adalah memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Untuk itu seseorang harus mengetuk pintu Allah. Dan tidak ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan itu semua selain dengan shalat, karena di dalamnya terdapat pengagungan kepada Allah, pujian dan rasa membutuhkan yang sempurna.”

Akan tetapi bagi yang tidak mungkin melaksanakan shalat, diperbolehkan istikharah hanya dengan membaca doanya saja. Misalnya seorang wanita yang tengah haid dan ingin melakukan istikharah karena suatu keperluan.

Imam an Nawawi berkata, ” Jika tidak memungkinkan bagi seseorang melakasanakan shalat, ia boleh istikharah dengan berdoa saja.” Inilah pendapat ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i.

 

Baca Juga: Antara pilihan Kita dan Pilihan-Nya

 

Yang perlu diperhatikan, hendaknya lafazh doa yang dibaca, persis seperti apa yang diriwayatkan dalam hadits yang shahih. Kita harus berusaha menghafalnya sebisa mungkin. Ulama mengatakan, lafazh doa ini diajarkan oleh Rasulullah sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur`an, sedang surat dalam al Qur`an tidak boleh ditambah atau dikurangi. Beliaulah yang paling tahu mengenai lafazh terbaik untuk memohon kepada Allah.”

Artinya, lafazh istikharah sudah pas, syamil (mencakup semuanya) dan utama karena diajarkan oleh Nabi secara langsung. Kita bisa melihat betapa indahnya doa tersebut –salah satunya- dari kalimat ” yang terbaik untuk dienku, hidupku dan akibat sesudah itu bagiku” maknanya bahwa hendaknya kebaikan tersebut adalah kebaikan yang menyentuh semua aspek; dien, kehidupan dan akhir atau dari itu semua dan kebaikan akhirat. Sebab bisa jadi, sesuatu terlihat baik bagi dunianya tapi buruk bagi agamanya.

 

Tak Hanya Untuk Memilih Jodoh

Istikharah adalah doa bagi hamba ketika menghadapi dilema, harus memilih antara dua atau beberapa hal. Karena tak jarang, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membutuhkan keputusan tepat mengingat urusan tersebut sangatlah krusial bagi diri kita atau mungkin juga orang lain. Seberapa penting atau tidaknya, besar kecilnya, krusial atau sepelenya setiap urusan, masing-masing orang memiliki standar berbeda dan lebih tahu dengan urusannya. Sehingga persepsi bahwa Istikharah hanyalah ritual khusus untuk memilih calon pasangan saja adalah salah, karena kita juga disunahkan melakukan istikharah untuk selian itu, misalnya; saat akan memilih tempat tinggal atau sekolah, apakah harus pergi (safar) ataukah mengurungkannya, mengatakan suatu rahasia kepada teman, keluar dari pekerjaan atau tidak, memutus hubungan kerja dengan seseorang dan urusan lainnya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Rasulullah wafat, di Madinah ada dua orang tukang gali kubur, yang satu pembuat lahad (kubur yang digali agak condong ke samping/dinding lubang) dan dharih (lubang kubur biasa). Orang-orang berkata, “Kita istikharah pada Allah lalu kita utus dua orang kepada dua tukang gali itu. Utusan yang datang terakhir, kita tinggalkan.” Lalu penggali lahad datang lebih dahulu dan digalilah kubur Rasulullah SAW dalam bentuk lahad.”

 

Baca Juga: Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

 

Intinya bahwa istikharah adalah salah satu sunah bagi kita saat harus mengambil keputusan dan pilihan. Tujuannya agar dalam mengambil keputusan selalu melandaskannya pada keimanan dan syariat-Nya. Yaitu iman bahwa Allah lah yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui, hanya kepada-Nyalah kita meminta petunjuk dan arahan dan iman pada takdir. Sehingga apapun yang kita pilih, hati kita akan tenang dan yakin bahwa apa yang telah Allah takdirkan adalah yang terbaik dengan segala hikmah yang ada padanya.

 

Bagaimana Seseorang Menemukan Jawaban?

Apa yang harus kita lakukan setelah menunaikan istikharah? Menunggu ilham dan mimpi atau terus saja melangkah sesuai kata hati?

Dalam hal ini, para ulama telah menjelaskan pada kita beberapa hal yang sangat berguna. Setelah istikharah hendaknya seseorang melakukan dua hal:

 

Pertama:

Istisyarah, yaitu musyawarah atau meminta pendapat para ulama dan orang-orang bijak. Disebutkan dalam Kitab “Kasyfus Sitarah ‘an Shalatil Istikharah” bahwa sebagian salaf mengatakan, “Termasuk tindakan orang berakal yang benar adalah menambahkan pendapat para ulama pada pendapatnya dan menyatukan pikirannya dengan pikiran orang-orang bijaksana. Sebab, satu pendapat bisa jadi salah, dan satu pikiran mungkin tergelincir.”

Abul Hasan al Marudi asy Syafi’i berkata, “Sikap yang mengindikasikan kemantapan seorang yang berakal adalah ia tidak memutuskan perkara atau membuat keputusan tanpa bermusyawarah dengan orang yang bisa menasehati dan analisa dari orang yang berpemikiran lurus. Bahkan Allah masih menyuruh Nabi-Nya agar bermusyawarah, padahal Allah telah menyatakan akan selalu memberi petunjuk padanya SAW. Allah berfirman, ” Dan ajak musyawarahlah mereka dalam memutuskan perkara.” (QS. Ali Imran;159).

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pendapat, nasehat dan arahan dari orang lain yang lebih berilmu atau lebih berpengalaman dari kita. Kekhawatiran atau pertimbangan-pertimbangan yang kurang baik yang barangkali pernah kita pikirkan sebelumnya bisa teratasi. Sebab, ilmu dan pengamalan serta kebijaksanaan yang Allah berikan pada mereka adalah sesuatu yang mungkin belum kita miliki.

Ibnu Taimiyah berkata,

“Tak akan menyesal orang yang telah istikharah pada al Khalik, musyawarah dengan para makhluk dan mantap dengan pilihannya.”

Ahli sastra mengatakan,

 

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tak akan rugi orang yang telah istikharah, dan tak akan menyesal oang yang sudah bermusyawarah.”

Istisyarah adalah salah satu anjuran yang sangat baik setelah istikharah. Seakan keduanya adalah dua mata koin. Namun begitu, pada beberapa kondisi, bisa jadi istisyarah tidak bisa kita lakukan karena beberapa alasan. Dan hal itu tidak masalah karena kita hanya dituntut untuk beramal sesuai kemampuan kita.

 

Kedua:

Memantapkan hati atas satu pilihan dan melaksanakannya dengan penuh tawakal.

Caranya dengan menyingkirkan berbagai pertimbangan yang dilandasi nafsu. Dalam hal ini kita harus jujur pada diri sendiri. Karena jika tidak, hal inilah yang akan menjadi pemicu malapetaka. Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang yang sudah berniat melakukan sesuatu, hendaknya ia tidak melaksanakan apa yang membuat hatinya senang, tapi didasari hawa nafsu yang kuat sejak sebelum ia istikharah.”

Muhammad bin Ali Kamaludin az Zamlakani menjelaskan bahwa jika seseorang telah menunaikan dua rakaat istikharah untuk suatu perkara, maka hendaknya ia lakukan apa yang jelas baginya, baik hatinya merasa benar-benar lega atau belum. Sebab di situ pasti ada kebaikan meski -mungkin-  masih ada yang mangganjal di hatinya.

Dengan kedua hal diatas, kita telah menempuh sunah syar’iyah nya dengan menjalankan sunah dari rasul dan juga sunah kauniyahnya dengan musyawarah dan memikirkan berbagai pertimbangan nalar yang kemudian akan melahirkan sebuah pilihan atau keputusan.

Soal mimpi, bisa jadi memang merupakan salah satu isyarat. Tapi tidak dibenarkan jika kita bertindak atau tidak bertindak hanya berdasarkan mimpi dan melupakan musyawarah dan berbagai pertimbangan kemashlahatan. Bisa jadi, mimpi tersebut hanyalah bunga tidur karena pikiran kita memang tangah betul-betul fokus pada satu suatu urusan hingga terbawa ke pikiran bawah sadar kita. Istikharah adalah doa sebagaimana doa lainnya. Artinya tidak selalunya setelah istikharah, Allah pasti akan menjawab doa kita dengan memberi tanda dan isyarat melalui mimpi. Wallahua’am

 

Oleh: Redaksi/Doa

Saya Rajin Beribadah, Tapi Mengapa Jodoh Tak Kunjung Datang?

 

Pertanyaan: 

Saya seorang gadis yang rajin mendirikan shalat, tapi saya tidak kunjung mendapatkan jodoh. Apakah tidak kunjung mendapatkan jodoh ada kaitannya dengan qadha dan qadar Allah, atau karena saya seorang yang berdosa hingga Allah murka kepada saya?

 

jawaban:

Ukhti yang baik, Al-Qur’an, Sunnah yang shahih dan ijama’ generasi ulama salaf telah menunjukkan akan kewajiban beriman dengan takdir baik dan buruk, hal tersebut sudah menjadi bagian dari rukun iman yang enam dan tidak dianggap sempurna keimanan seorang hamba kecuali rukun keenam tersebut, Allah –Ta’ala- berfirman:

”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al Hadid: 22)

 

Baca Juga: Orangtua Belum Mengizinkan Menikah

 

Majunya atau mundurnya waktu pernikahan, mudah dan sulitnya semua itu adalah takdir Allah. Semua musibah yang telah ditakdirkan oleh Allah –Ta’ala- kepada seorang hamba, akan menjadi baik bagi seorang mukmin jika dia bersabar dengan musibah itu dan mengambil pelajaran, sebagaimana sabda Nabi,

“Urusan orang mukmin itu menakjubkan, sungguh semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin, jika dia sedang berbahagia dia bersyukur, maka hal itu lebih baik baginya, dan jika dia tertimpa musibah dia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya”. (HR. Muslim: 2999)

Musibah yang terjadi bisa jadi sebagai akibat dari maksiat yang telah dilakukan, namun hal tersebut tidak menjadi sebuah keharusan, bisa jadi untuk meninggikan derajat seorang mukmin, dan menambah kebaikannya jika dia bersabar dan ridho atau ada banyak lagi hikmah yang agung dibalik musibah tersebut.

 

Baca Juga: Bila Wanita Melamar Pria

 

Selama anda menolak para peminang anda karena Allah dan disebabkan karena mereka tidak istiqamah dalam agama, maka Allah –Ta’ala- akan menggantikan dengan yang lebih baik insyaallah. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. ath Thalaq: 2-3)

Maka dekatkanlah diri kepada Allahdengan berdo’a dan beribadah, dan jangan mengeluh karena rahmat Allah begitu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

 

Oleh: Redaksi/ Konsultasi

 

Lima Kaedah Penting Dalam Pernikahan

Ketika kita menghadiri resepsi pernikahan, ada satu ayat yang paling sering dibacakan oleh qari’ maupun pemberi tausiyah untuk memulai ceramah, yaitu surat ar-rum ayat 21.

Judul di atas disarikan dari firman Allah swt yang terdapat dalam surat Ar-Rum, ayat 21 :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.”

Meskipun singkat dan pendek, ayat tersebut mengandung pelajaran yang sangat banyak dan bermanfaat, dan selanjutnya bisa kita jadikan pedoman di dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Dari ayat di atas, paling tidak kita bisa mengambil lima kaedah.

Kaedah Pertama:

Bahwa pernikahan yang berlangsung antara laki-laki dan perempuan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Artinya bahwa semua pernikahan yang terjadi adalah atas izin Allah.

Perlu diketahui bahwa Allah swt telah menentukan taqdir setiap makhluk di dunia ini jauh sebelumnya yaitu 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi ini, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu hadist , bahwasanya Rosulullah saw bersabda,

“Pertama kali yang diciptakan Allah adalah qalam (pena), Allah berfirman kepadanya ;”Tulislah ”, maka dia menulis taqdir segala sesuatu semenjak 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi dan Arsy Allah di atas air.” (HR Muslim)

Hadist di atas menjelaskan secara tidak langsung bahwa pasangan kita telah ditentukan oleh Allah swt, jauh sebelum kita diciptakan di muka bumi ini. Dengan memahami hal ini para pemuda mestinya tak perlu galau atau berkecil hati ketika calon yang diidam-idamkan ternyata tak jadi menikah dengannya karena menikah dengan orang lain atau karena tidak disetujui oleh orang tua.

Kaedah Kedua:

Bahwa istri yang akan kita nikahi nanti adalah dari jenis kita sendiri, yaitu dari jenis manusia, bukan dari jenis jin atau malaikat. Ini merupakan rahmat Allah yang harus kita syukuri. Bayangkan kalau istri kita dari jenis jin, tentunya akan mendapatkan kesulitan untuk berhubungan dengannya.

Kaedah Ketiga:

Istri yang akan kita nikahi nanti adalah makhluk Allah yang diciptakan dari diri kita sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk nabi Adam as. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwasanya ketika Adam tinggal di dalam Syurga sendiri, dia merasa kesepian. Dan ketika dia sedang tidur, diciptakanlah Siti Hawa dari tulak rusuknya yang pendek dari pinggang kirinya , agar Adam bisa merasa tenang berada di samping Siti Hawa. Inilah arti firman Allah swt :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” ( Qs Al A’raf : 189 )

Di dalam hadist Abu Hurairah ra bahwa Rosulullah saw bersabda :

 استوصوا بالنساء خيراً ، فإن المرأة خلقت من ضلع ، وإن أعوج ما في الضلع أعلاه ، فإن ذهبت تقيمه كسرته ، وإن تركته لم يزل أعوج ، فاستوصوا بالنساء  ، وفي رواية  المرأة كالضلع إن أقمتها كسرتها ، وإن استمتعت بها ، استمتعت وفيها عوج

“Berwasiatlah kepada perempuan dengan hal-hal yang baik, sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulak rusuk, dan sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk terdapat disebelah atas, , dan jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, dan jika anda biarkan maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah kepada perempuan.

Dan dalam riwayat lain disebutkan: ”perempuan itu bagaikan tulang rusuk, jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, jika anda bersenang-senang dengannya, maka anda akan bersenang-senang dengannya, sedangkan dia masih dalam keadaan bengkok ”

Kaedah Keempat:

Salah satu fungsi dari pernikahan adalah mewujudkan ketenangan. Ketenangan yang di dapat seseorang dari pernikahan bisa diklasifikasikan menjadi tiga :

Pertama: Ketenangan Jiwa.

Di sini pernikahan adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan ketenangan. Seorang laki-laki yang merasa capek dan penat karena seharian kerja mencari nafkah, ketika kembali ke rumah, tiba- tiba hatinya menjadi sejuk dan tenang, karena di depan pintu rumahnya telah disambut istrinya dengan senyuman. Di dalam pernikahan seseorang bisa membicarakan dengan pasangannya seluruh masalah-masalah yang dihadapinya di kantor, di pasar di sekolah maupun di tempat-tempat lainnya. Dengan leluasa masing-masing dari suami istri mengeluarkan unek-uneknya dengan hati dalam suasana yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan.

Baca Juga: 3 Manfaat Nikah Muda 

Hal yang demikian ini jelas akan berdampak pada ketenangan jiwa. Karena masing-masing telah mendapatkan tempat untuk mengadukan segala problematika hidupnya. Ketenangan jiwa seperti ini akhirnya akan membawa pada ketenangan jasmani.

Kedua: Ketenangan Jasmani.

Seseorang yang selalu dirundung kesedihan di dalam hidupnya, akan melemahkan kesehatan jasmaninya.

Dalam kehidupan ini ada suatu kaedah : bahwa sesuatu yang berhenti dan tidak dialirkan, maka akan merusak. Air yang tergenang akan merusak, tapi jika dialirkan akan bermanfaat karena akan membentuk energi yang bisa menyalakan lampu. Demikian juga air mani yang tersimpan lama dalam tubuh seseorang dan tidak disalurkan akan menyebabkan penyakit.

Ketiga: Ketenangan Materi.

Orang yang menikah akan mendapatkan ketenangan materi. Ketenangan materi ini terwujud dalam tiga hal :

Allah swt telah berfirman :

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui ” (Qs. An Nur: 32) .

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mau menikah dengan niat mencari ridha Allah dan menghindari maksiat, maka Allah berjanji akan memberikan karunia kepada mereka dengan rizki yang halal. Dan kita sebagai orang Islam harus berkeyakinan seperti yang disebutkan Allah di dalam ayat di atas.

Selain itu, kalau ditinjau dari ilmu psikologi dan sosiologi, maka akan kita dapatkan seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya, hidup dalam kemiskinan, ketika menikah tiba-tiba menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Kenapa ? Karena dengan menikah, dia dituntut untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Kewajiban tersebut menuntutnya untuk bekerja keras. Selain ia mendapatkan pahala karena bekerja untuk memberikan nafkah keluarganya, juga Allah akan melimpahkan rizki yang halal kepadanya, karena kesungguhannya. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ” (Qs. Al Ankabut: 69)

Kaedah Kelima:

Bahwa cinta yang tumbuh dalam pernikahan bukan sekedar cinta jasmani, atau cinta seorang laki-laki terhadap perempuan sebagaimana yang dipahami orang selama ini. Bukan pula seperti cinta seorang pacar dengan pacarnya yang sekedar janji dan ungkapan mulut tanpa ada komitmen di dalamnya. Cinta dalam pernikahan adalah cinta yang dibangun diatas mawaddah dan rahmah (kasih dan sayang). Artinya cinta tersebut diiringi dengan tanggung jawab dan komitmen. Seorang suami yang mencintai istrinya, maka dia bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya, dia harus menjaga kesehatannya, menjaga keamanannya, menjaga perasaannya, dan menjaganya supaya tetap selalu bahagia hidup bersamanya.

Baca Juga: Hukum Nikah Sirri Dalam Islam

Cinta dalam pernikahan bukan berarti dia pasti mencintai semua yang ada pada diri pasangannya, karena seperti ini adalah sesuatu yang mustahil. Masing-masing dari pasangan suami istri akan mendapatkan kekurangan dari pasangannya. Secara naluri manusia, dia akan membenci kekurangan tersebut, Cuma dia harus bersabar dengan kekurangan itu. Dia harus berusaha bagaimana kekurangan yang dimiliki pasangannya tetap membuatnya cinta dan sayang kepadanya. Maka dalam surat An Nisa’ ayat 19 , Allah berfirman :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

”Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Melalui ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk menggauli dan bersikap dengan istri kita secara patut dan baik, walaupun kita membenci sebagian sifat atau bagian dari badannya. Inilah yang dinamakan mawaddah dan rahmah, yaitu cinta kasih sayang yang diiringi dengan komitmen dan tanggung jawab serta kesabaran untuk menerima segala kekurangan. Maka sangat tepat kalau Allah menyebut bahwa dalam pernikahan bukan sekedar ”hubb” (cinta jasmani), akan tetapi lebih daripada itu, yaitu mawaddah wa rahmah (cinta kasih sayang dan komitmen). 

 

Oleh: Redaksi/Nikah 

Hukum Nikah Siri Dalam Islam

Belakangan ini sempat heboh berita tentang sebuah situs yang menggunakan nama nikah siri. Website tersebut memberikan jasa bagi orang yang ingin mendapatkan jodoh atau pasangan hanya dengan membayar mahar yang telah disepakati oleh anggota dan kliennya. Usut punya usut ternyata praktik yang terjadi disana sangat melenceng dari hakekat pernikahan menurut Islam. Lalu bagaimana pandangan Islam tentang Nikah Siri?

Siri secara etimologi berarti sesuatu yang tersembunyi, rahasia, pelan-pelan. ( Ibnu al Mandhur, Lisan al Arab : 4/ 356 ).  Kadang Siri juga diartikan zina. Seperti dalam ayat;

وَلَـكِن لاَّ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا

Tetapi janganlah kamu membuat perjanjian untuk berzina (atau melakukan hubungan seksual) dengan mereka “ (Qs. Al Baqarah: 235)

Sirran pada ayat di atas menurut pendapat sebagian ulama berarti: berzina atau melakukan hubungan seksual.(Tafsir al Qurtubi: 3/126).

Nikah Siri dalam pandangan masyarakat  mempunyai tiga pengertian:

 

  • Pengertian Pertama 

Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan secara sembunyi –sembunyi  tanpa wali dan saksi. Inilah pengertian yang pernah diungkap oleh Imam Syafi’I di dalam kitab Al Umm: 5/ 23,

“Dari Malik dari Abi Zubair berkata bahwa suatu hari Umar dilapori tentang pernikahan yang tidak disaksikan kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka beliau berkata : “ Ini adalah nikah sirri, dan saya tidak membolehkannya, kalau saya mengetahuinya, niscaya akan saya rajam (pelakunya)“

Pernikahan Siri dalam bentuk yang pertama ini hukumnya tidak sah.

 

  • Pengertian Kedua

Nikah Siri adalah pernikahan yang dihadiri oleh wali dan dua orang saksi, tetapi saksi-saksi tersebut tidak boleh mengumumkannya kepada khayalak ramai.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum nikah seperti ini:

Pendapat Pertama: menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya sah tapi makruh. Ini pendapat mayoritas ulama, diantaranya adalah Umar bin Khattab, Urwah, Sya’bi, Nafi’,  Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Imam Ahmad ( Ibnu Qudamah, al Mughni, Beirut, Daar al Kitab al Arabi,  : 7/ 434-435 ) .  Dalilnya adalah hadist Aisyah RDH, bahwa  Rasulullah SAW bersabda:

لا نِكاحَ إلا بوَلِيّ وشاهِدَيّ عَدْل

“ Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil “  ( HR Daruqutni dan al Baihaqi ) Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla : 9/465)

Hadits di atas menunjukkan bahwa suatu pernikahan jika telah dihadiri wali dan dua orang saksi dianggap  sah, tanpa perlu lagi diumumkan kepada khayalak ramai.

Pendapat Kedua: menyatakan bahwa nikah seperti ini hukumnya tidak sah. Pendapat ini dipegang oleh Malikiyah dan sebagian dari ulama madzhab Hanabilah (Ibnu Qudamah, al Mughni : 7/ 435, Syekh al Utsaimin, asy-Syarh al-Mumti’ ’ala Zaad al Mustamti’, Dar Ibnu al Jauzi , 1428, cet. Pertama : 12/ 95 ) . Bahkan ulama Malikiyah mengharuskan suaminya untuk segera menceraikan istrinya, atau membatalkan pernikahan tersebut, bahkan mereka menyatakan wajib ditegakkan had kepada kedua mempelai jika mereka terbukti sudah melakukan hubungan seksual. Begitu juga kedua saksi wajib diberikan sangsi jika memang sengaja untuk merahasiakan pernikahan kedua mempelai tersebut.  (Al Qarrafi, Ad Dzakhirah, tahqiq: DR. Muhammad al Hajji, Beirut, Dar al Gharb al Islami, 1994, cet: pertama: 4/ 401)  Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Hatib al Jumahi, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

فَصْلٌ بَيْنَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ الدُّفُّ وَالصَّوْتُ

“Pembeda antara  yang halal  ( pernikahan ) dan yang haram  ( perzinaan ) adalah gendang rebana dan suara  “ (HR. an-Nasai dan al Hakim dan beliau menshahihkannya serta dihasankan yang lain)

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

 “Umumkanlah nikah, adakanlah di masjid, dan pukullah rebana untuk mengumumkannya.” ( HR Tirmidzi, Ibnu Majah ) Imam Tirmidzi  berkata: Ini merupakan hadits gharib hasan pada bab ini.

 

  • Pengertian Ketiga

Nikah Siri adalah pernikahan yang dilakukan dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil serta adanya ijab qabul, hanya saja pernikahan ini  tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan Negara, dalam hal ini adalah KUA .

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang tidak mencatatkan pernikahan mereka ke KUA, diantaranya, biaya, tempat kerja atau sekolah yang  tidak membolehkan menikah selama bekerja atau sekolah, faktor sosial yang tidak bisa menerima pernikahan lebih dari satu dan lain sebagainya.

Bagaimana Hukum Nikah Siri dalam bentuk ketiga ini?

Pertama: Menurut kaca mata Syariat, nikah siri dalam katagori ini, hukumnya sah dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena syarat-syarat dan rukun pernikahan sudah terpenuhi, Sehingga tidak ada dosa.

Kedua: Menurut kaca mata hukum positif di Indonesia dengan merujuk pada RUU Pernikahan di atas, maka nikah siri semacam ini dikenakan sangsi.

Mencatatkan nikah di KUA memang memiliki maslahat. Minimal, seseorang memiliki bukti resmi menikah dan menghilangkan su’udzan orang yang tidak tahu. Tapi pemberian sanksi berat seperti di atas, sepertinya patut dipertimbangkan kembali. Atau jika memang harus ditetapkan, semestinya perzinaan dikenai sanksi yang jauh berlipat karena jelas-jelas merusak moral, tatanan masyarakat dan juga agama. Dampaknya berlipat kali lebih buruk daripada nikah yang tidak dicatatkan di KUA. Semoga pemerintah bisa lebih bijaksana. Wallahua’lam.

Ditulis Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah

 

Tema Menarik Lainnya:

 

Nikah di Bulan ‘Sura’ Bakal Celaka?

Pada bulan Muharram atau yang akrab ditelinga masyarakat Indonesia terutama Jawa dengan sebutan Sura kali ini, banyak sekali mitos-mitos yang masih menjadi keyakinan dan masih mereka pegang erat-erat. Sehingga banyak dari mereka yang takut untuk melakukan kegiatan semisal; bepergian ke tempat jauh, mengadakan pesta pernikahan, membangun rumah dan semisalnya.

Tidak ada alasan ilmiyah mengapa sedemikian diyakini dan dipegang erat-erat mitos-mitos tersebut kecuali karena doktrin turun-temurun dari nenek-moyang dan para pendahulu mereka. Ada yang menyangkakan bahwa Sura adalah bulannya Nyi Roro Kidul, jadi kalau ada yang nekat mengganggu urusannya, ia akan marah dan mengganggu siapa yang mengusiknya. Adapula yang menyangka bila Sura adalah bulannya para raja Jawa terdahulu sehingga tidak sopan melakukan ritual di bulan ini.

Baca Juga: Melangkahi Kakak Menikah

Salah satu ritual yang dihindari di masyarakat pada bulan ini adalah mengadakan pesta pernikahan. Pernikahan adalah prosesi sakral yang istimewa dan bernilai ibadah. Namun ada saja yang terlalu ekstrim menyakralkan hal tersebut. Imbasnya ketika menentukan pasangan nikah dan hari pernikahan didasarkan pada primbon keyakinan yang diakui masyarakat, seperti; bila menikah di bulan Sura akan mendatangkan musibah dan pasangan suami-istri tak akan bertahan lama, bila dia tinggal di sebelah timur, maka menurut primbon dia tidak baik menikah dengan yang tinggal diarah barat atau semisalnya. Yang semua keyakinan tersebut tidak pernah diajarkan oleh Islam.

Muharram (Sura) adalah salah satu bulan mulia dalam Islam. Allah memuliakan amalan dan melipat gandakan pahala sebuah amalan seringkalinya karena ikatan waktu dan tempat pelaksanaan. Misalnya; ibadah di bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda, karena waktu bulan tersebut adalah bulan yang mulia. Misal lainnya, orang yang berdoa di Masjidil Haram dan shalat disana tentunya pahala dan kemuliaannya berbeda dari masjid pada umumnya, karena tempatnya bernilai mulia. Begitu juga melakukan kebaikan di bulan Muharram tentunya akan bernilai keutamaan yang lebih daripada bulan-bulan lainnya, karena kemuliaan waktu yang ada padanya. Maka, tidak elok rasanya bila bulan mulia ini justru dijadikan bulan yang menakutkan sebagaimana keyakinan masyarakat pada umumnya.

Berhubungan dengan hukum nikah di bulan Muharram, tidak ada dalil yang melarangnya dan tidak ada satupun ulama yang melarangnya berdasarkan qiyas maupun ijma’. Oleh karenanya kembali kepada hukum asal semua perbuatan, yaitu boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkan perbuatan tersebut. Sebagaimana kaidahnya berbunyi:

أن الأصل في العادات والأفعال الإباحة ، ما لم يرد دليل التحريم

“Hukum asal dari kebiasaan dan perbuatan adalah mubah (boleh), selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”

Ali Menikahi Fathimah di Awal Bulan Muharram

Bila ada sebagian orang yang masih mempercayai mitos, ada baiknya kita mencontoh Sahabat mulia Ali bin Abi Thalib.

Ali radhiyallahu ‘anhu menikahi ibunda Fathimah pada tahun ketiga setelah peristiwa hijrah. Adapun ia menikahinya pada awal-awal hari di bulan pertama tahun Hijriyah, yang bermakna bulan tersebut adalah bulan Muharram. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam kitab ‘Al-Bidayah wan Nihayah: 3/419.

Baca Juga: Antara Adat Sura dan Keutamaan Asyura

Ali radhiyallahu ‘anhu dan sayidah Fathimah menjadi pasangan yang romantis dan bahagia hingga ajal menjemput mereka berdua, dan mereka tidak terkena sedikitpun musibah karena menikah pada bulan Sura.

Jadi tidak ada hubungan antara menikah di bulan Muharram (Sura) dengan mitos yang mengatakan bahwa akan mendatangkan musibah, bala dan kerusakan. Semua hal tersebut adalah keyakinan bathil yang harus kita jauhi. Wallahu a’lam. (Nurdin/Terkini/Syubhat)

 

Tema Terkait: Terkini, Syubhat, Pernikahan

Bila Wanita Melamar Pria

Menawarkan diri pada lelaki yang pasti; pasti agamanya, pasti kualitas akhlaknya. Walau yang tak pasti cuma satu, diterima atau tidak. Dan andai ditolak pun sebenarnya bukanlah kehinaan, hanya ladang kesabaran yang niscaya menumbuhkan pahala. Daripada menunggu yang tak pasti; tak pasti agamanya, tak pasti akhlaknya. Bahkan juga tak pasti pula datangnya.

Apakah salah bila seorang wanita muslimah menawarkan dirinya pada seorang lelaki shalih? Padahal menikah merupakan ibadah setengah dien.

Contoh yang Telah Berlalu

Sebenarnya kejadian seperti ini juga pernah terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana  hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menawarkan diri kepadanya, dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berhajat kepadaku?” Lalu ketika menceritakan hadits ini maka anak perempuan Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh sedikit malu perempuan itu dan buruk akhlaknya.” Lalu dijawab oleh Anas radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya dia itu (perempuan yang menawar diri) lebih mulia dan baik darimu karena dia mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menawar dirinya demi kebaikan.” (HR. Bukhari)

  Baca Juga: 3 Manfaat Menikah Muda

Dalam riwayat lain, Sahal bin Sa’ad mengatakan bahwa seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu.” Tatkala wanita itu melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutuskan sesuatu terhadap tawarannya itu, lantas dia duduk. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadit di atas tidak dikhususkan kepada Rasul saja, bahkan bisa menjadi contoh teladan kepada semua wanita muslimah dan mereka diperbolehkan menawarkan diri kepada lelaki shalih agar menikahinya, tentunya selama tidak akan menimbulkan fitnah tersendiri dan dengan cara-cara yang terpuji. Dan apa yang terjadi kepada Rasul, selama tidak dikhususkan, maka menjadi perbuatan sunnah yang umum. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Al-Bukhari mengemukakan hadits ini dalam bab seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih. Sementara dalam Kitab Fathul Baari disebutkan, “Ibnul Munir berkata dalam kitab Al-Hasyiah, “Di antara kehebatan Bukhari bahwa ketika dia tahu ada kekhususan dalam kisah seorang wanita yang menyerahkan dirinya ini, dia mencoba menyimpulkan hadits tersebut untuk perkara yang bukan kekhususan. Artinya, bahwa seorang wanita diperbolehkan menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shalih karena tertarik oleh keshalehannya. Maka hal itu diperbolehkan.”

Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits mengenai seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu dapat diambil kesimpulan, bahwa seorang wanita yang ingin menikah dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya bukanlah merupakan aib sama sekali. Apalagi kalau tujuannya baik dan maksudnya benar. Boleh jadi karena kelebihan agama laki-laki yang mau dilamar atau karena keinginan dan hawa nafsu yang apabila didiamkan saja dikhawatirkan dia bisa terjebak ke dalam sesuatu yang dilarang agama.”

Kemudian Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata juga, “Hadits tersebut bisa dijadikan dalil mengenai bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya kepada seseorang yang diharapkan keberkahannya.”

Berkata Ibn Hisyam dalam mengisahkan teladan Ibunda Khadijah dalam menawarkan dirinya kepada Rasulullah dengan mengutus perantara (orang tengah) untuk menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah dengan menyampaikan pesanan Khadijah, “Wahai anak saudara pamanku, sesungguhnya aku telah tertarik kepadamu dalam kekeluargaanmu, sikap amanahmu, kebaikan akhlakmu dan benarnya kata-katamu.” (Tarikh Ibn Hisyam: 1/122)

Adapun menjawab ayat Al-Qur’an yang menyebut kekhususan hanya untuk Nabi, sebagaimana firman Allah, “Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau menikahinya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Pengkhususan di sini dimaksudkan dalam masalah maskawin, yaitu dikhususkan untuk Rasulullah nikah dengan perempuan yang menghadiahkan dirinya kepada baginda Nabi tanpa perlu beliau membayar maskawin, sedangkan bagi umat Islam yang lain diwajibkan membayar maskawin, namun untuk nabi diberi pengecualian. (Ibnu Katsir: 3/124)

Bisa Juga Oleh Walinya

Memang bisa juga dengan perantara walinya, mungkin saudaranya yang laki-laki atau perempuan, juga bisa orang tuanya yang langsung menawarkan. Sebagaimana cerita tentang nabi Shalih yang ditawari Syu’aib akan anak-anaknya yang perempuan, “Berkatalah dia (Syu’aib), “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun.” (QS. Al-Qhasas: 27)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, “Bahwa Umar bin Khattab ketika melihat Hafsah –putrinya dari Khunais bin Khudzafah As-Sahmi– belum bersuami, beliau menawarkannya kepada Utsman bin Affan, lalu kepada Abu Bakar, dan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengkhitbahnya.” (HR. Bukhari)

  Baca Juga: Orangtua Belum Mengijinkan Menikah

Demikian hadits yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, apa ada yang engkau pilih dari Quraisy sehingga engkau memanggilku?” Rasulullah menjawab, “Apakah engkau ada pandangan?” Aku katakan, “Ya, putri Hamzah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya dia tidak halal bagiku, karena dia putri dari saudaraku sesusuan.” (HR. Muslim)

Melecut Nyali Para Pria

Sebenarnya, bukan karena ketidaktahuan yang membuat para ikhwan melambatkan pernikahan. Tapi seringkali karena tidak pede terutama masalah mahar dan ma’isyah. Nah, akhwat yang semestinya juga ikut meyakinkan mereka, bahwa dia berani untuk menanggung bersama. Berani menjalani proses kehidupan apapun bentuknya, lapang dan sempitnya, susah maupun gembiranya. Terkadang para ikhwan itu perlu dipecut agar tidak lagi menjadi pengecut, agar bertambah kuat imannya tentang rizki Rabbnya, dan bertambah pula kreativitas usahanya. Pernikahan terbukti menjadi sebuah bentuk sarana percepatan diri yang sangat efektif. Lalu hanya kepada Allah kita semua bertawakkal. (Mustaqim/Redaksi/Wanita)

 

  Tema Terkait: Wanita, Nikah, Motivasi 

 

 

 

Siapakah Wali Nikah Ketika Tidak Ada Ayah?

Saya menikahi seorang wanita dan telah menceraikannya dua kali. Ayahnya kini telah wafat, sedangkan semua saudara laki-laki sekandungnya lebih muda darinya. Saya sekarang ingin merujuknya kembali setelah perceraian sekitar dua tahun lalu. Apakah keberadaan wali merupakan suatu keharusan untuk kesempurnaan pernikahan. Padahal bapak telah wafat, sementara adik laki-laki sekandungnya masih kecil? Ataukah dibenarkan merujuknya tanpa perlu wali?

 

Jawaban :

Kalau suami telah menceraikan istrinya dan selesai masa iddahnya, maka dia tidak halal baginya kecuali dengan akad baru. Dan wali merupakan salah satu syarat sah akad nikah. Tidak sah pernikahan tanpanya.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Kitab ‘Al-Mughni, “Nikah tidak sah kecuali dengan adanya wali. Wanita tidak memiliki wewenang menikahkan dirinya atau orang lain, begitu juga tidak sah mewakilkan orang lain selain walinya untuk menikahkannya. Kalau dilangsungkan, maka nikahnya tidak sah.”

Dalil akan hal itu adalah sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, “Tidak (sah) pernikahan kecuali dengan adanya wali.” (HR. Abu Daud, no. 2085. Tirmizi, no. 1101. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Karena Anda telah menceraikannya dua tahun, maka telah selesai iddanya. Bagi mantan suami ketika mantan istri telah selesai masa iddahnya maka dia menjadi orang asing seperti laki-laki lainnya. Karenanya, tidak halal bagi Anda dengannya kecuali dengan melangsungkan akad baru. Dan akadnya harus dilakukan oleh walinya, atau sang wali mewakilkan seseorang untuk menikahkannya. Apabila  tidak ada bapak, kakeknya adalah walinya. Kalau tidak ada, maka saudara laki-laki adalah walinya. Tidak mengapa meskipun lebih muda umurnya. Akan tetapi disyaratkan baligh dalam perwalian. Maka, kalau salah seorang dari saudaranya telah baligh, dia adalah walinya meskipun lebih muda dari dirinya.

Telah disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 18/14: “Tidak boleh menikahkan seorang wanita kecuali mukallaf (sudah terkena beban kewajiban agama) dan matang kejiwaan. Kalau tidak ada, maka hakim (yang menikahkan). Karena penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali. Hakim adalah penggantinya dalam kondisi seperti ini.”

Kalau semua saudara laki-lakinya masih kecil dan tidak ada seorang pun yang baligh. Maka perwaliannya pindah kepada orang setelahnya. Mereka adalah para paman. Kalau tidak ada seorang pun, maka anak-anak paman. Kalau tidak ada seorang pun dari mereka sebagai wali. Maka yang melaksanakan akan nikahnya adalah hakim agama.

Berdasarkan sabda Nabi sallallahu’alai wa sallam,“Kalau mereka (para wali) berselisih, maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Abu Daud, 2083, Tirmizi, no. 1102. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

Dengan demikian, jika anda ingin menikah dengan wanita itu, sementara tidak ada seorang pun walinya. Maka anda merujuk kepada hakim agama di pengadilan untuk melangsungkan akad pernikahannya.

3 Manfaat Nikah Muda

Allah menciptakan manusia berpasang-pasang, ada pria ada juga wanita. Bahkan bukan hanya manusia, makhluk seperti hewan sekalipun mereka diciptakan berpasang-pasang. Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita pada dasarnya adalah haram sebelum mereka mengikatnya dengan syariat yang disebut nikah.

Akan tetapi masih banyak kita jumpai berbagai jenis manusia yang mereka menghalalkan hubungan pria-wanita tersebut dengan berzina, selingkuh dan lain sebagainya. Di lain sisi adapula sebagian orang yang betah membujang dan tidak ada niatan untuk menikah, paadahal sahabat Ibnu Mas’ud berkata, “Sekalipun usiaku hanya tersisa sepuluh hari, maka aku tetap akan menikah, sebab aku tidak ingin menghadap Allah dalam keadaan membujang.”

Menikah tidak harus menunggu mapan atau harus berumur 30 puluhan. Dalam syariat justru menikah di usia muda meiliki beberapa manfaat, antara lain;

  1. Segera terealisasi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana tertera dalam beberapa ayat Allah memerintahkan kita untuk menikah seperti yang tertera dalam surat an-Nur ayat 32 dan an-Nisa ayat 3 serta hadits Nabi tentang menjaga mata.

 

  1. Segera mendapat pertolongan Allah.

Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah, Mujahid fii sabilillah, Budak yang ingin merdeka, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucia.” (HR. at-Tirmidizi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

 

  1. Segera terpenuhi setengah agamanya

Sehebat apapun orang menjalankan syariat islam, paling maksimal dia hanya mencapai 50% saja, sampai dia menikah. Sebagaimana Nabi bersabda, “Apabila seseorang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Oleh karena itu, hendaklah dia bertaqwa kepada Allah untuk meraih setengah lainnya.”

 

Itulah beberapa manfaat nikah di usia dini, selain bernilai Ibadah, setengah agama kita akan terpenuhi dengan segera ketika kita segera menjalankannya. Yuk yang masih bujang segera menikah 🙂

Kala Cinta Bersalin Rupa

Setiap manusia mestinya takut menyelisihi perintah Allah. Takut kalau-kalau dirinya tertimpa fitnah atau tertimpa azab lantaran itu. Setiap kita mestinya takut bermaksiat kepada Allah. Jangan melihat kecilnya, tetapi lihatlah kebesaran Zat yang dimaksiati.

 

Baca Juga:  Cinta-Mu, Cinta Pecinta-Mu, dan Cinta Amal Kebaikan

 

Jangan menganggap remeh sekecil apapun dosa karena Rasulullah bersabda bahwa perumpamaan dosa-dosa remeh itu seperti suatu kaum yang singgah di sebuah lembah. Kemudian satu orang datang membawa sebatang kayu lalu yang lain datang membawa sebatang kayu. Begitu seterusnya hingga kayu tersebut cukup untuk memasak roti. Dan ketika dosa-dosa remeh itu ketika dilakukan akan membinasakannya.

Akibat dari maksiat yang dilakukan iblis adalah laknat di dunia dan akhirat. Ia menjadi pemuka bagi para pendosa dan membawa mereka masuk ke neraka. Padahal neraka adalah seburuk-buruk tempat yang didatangi.

Setan juga telah memaklumatkan permusuhan dengan manusia. Ia ingin mengubah fitrah lurus yang manusia diciptakan di atasnya. Membelokkan manusia dari jalan lurus yang semestinya dan menjerumuskannya ke dalam kebinasaan. “Karena Engkau telah menghukum saya sesat, saya akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka. Dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur,” begitu ia bersumpah kepada Rabbnya.

 

BACA JUGA : Ketaatan Adalah Ujian

 

Apa yang menyebabkan iblis terusir dari kerajaan langit. Yang menyebabkan batinnya lebih buruk daripada rupanya. Yang menggantikan kedekatannya dengan Allah dengan kejauhan. Rahmat dengan laknat. Ketampanan dengan keburukan. Surga dengan neraka yang menyala. Iman dengan kufur. Cinta kepada yang Maha Melindungi dengan permusuhan dan penentangan. Suara tasbih dan tahlil dengan suara kekafiran, kesyirikan, kedusataan, kepalsuan, dan kekejian.

Menggantikan pakaian iman dengan pakaian kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan? Lalu ia menjadi mahluk terhina di hadapan Rabbnya. Ia terjatuh dari rahmat-Nya sejatuh-jatuhnya dan mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah menghinakannya dan memurkainya semurka-murkanya. Lalu menjadikannya sebagai pengendali setiap orang fasik lagi jahat. Ia lebih suka memegang kendali ini daripada ibadah dan dan kemuliaan yang ia miliki sebelumnya. Kami berlindung kepadamu ya Allah dari perbuatan menyelisihi perintah-Mu dan larangan-Mu. Demikian Ibnu Qayim al-Jauziah menuliskan renungan dalam kitabnya.

Semoga orang-orang yang hidup hatinya bisa mengambil pelajaran dan orang-orang yang lalai segera tersadar.

Empat Nasib Manusia

Dilihat dari segi nasib, bahagia atau sengsara saat di dunia dan di akhirat, manusia akan mengalami salah satu dari empat nasib; bahagia di dunia-bahagia di akhirat, sengsara di dunia-bahagia di akhirat, bahagia di dunia-sengsara di akhirat dan sengsara di dunia-sengsara pula di akhirat.

Sebelum keempat nasib ini dirinci, perlu dicatat bahwa“bahagia di dunia” yang dimaksud bukanlah kebahagiaan hakiki berupa kebahagiaan dan ketenangan ruhani karena berada di bawah naungan ridha ilahi. Tapi yang dimaksud adalah kebahagiaan yang oleh kebanyakan orang dipersepsikan sebagai kebahagiaan; harta melimpah, hidup nan serba mudah dan musibah yang seakan-akan enggan untuk singgah.

Nah sekarang mari kita rinci satu persatu.

Bahagia di dunia-bahagia di akhirat

Nasib yang paling diidamkan semua orang. Semboyan “kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya mati masuk surga” menjadi puncak khayalan yang diinginkan manusia. Tapi benarkah ada orang yang di dunia kaya dan saat di akhirat beruntung mendapat Jannah-Nya? Tentu saja ada. Itulah orang yang mendapat fadhlullah, anugerah istimewa dari Allah.

Dalam sebuah hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa suatu ketika para shahabat yang ekonominya lemah mengadu pada Nabi tentang rasa iri mereka terhadap shahabat lain yang kaya. Yang kaya bisa infak banyak tapi juga melakukan ibadah yang sama dengan yang mereka lakukan saban hari. Lalu Nabi mengajarkan dzikir-dzikir yang dapat mengimbangi pahala infak. Tapi ternyata shahabat yang kaya juga mendengar dzikir ini lalu mengamalkannya. Saat dikomplain, Nabi SAW menjawab, “ Itulah anugerah Allah yang akan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki.”

Itulah anugerah Allah. Allah membagi rezeki sesuai kehendak-Nya. Ada yang sedikit ada yang banyak. Sebagian orang ada yang dikarunia rezeki melimpah, hidupnya pun serba mudah. Namun begitu, ternyata semua itu tidak memalingkannya dari cahaya hidayah. Harta yang dikaruniakan gunakan untuk membangun rel yang memuluskan jalan mereka menuju jannah. Rel-rel yang dibangun adalah besi-besi berkualitas dari infak fi sabilillah, sedekah kepada fakir miskin dan yatim dan berbagai proyek amal jariyah. Lebih daripada itu, harta itu juga digunakan untuk membeli berbagai fasilitas yang dapat membantu meraup ilmu mulai dari buku hingga biaya untuk belajar kepada para guru. Kesehatan dan kemudahan hidup digunakan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pengabdian kepada Allah.

Dengan semua ini, insyaallah, kebahagiaan yang lebih abadi di akhirat telah menanti. Kalau sudah begini, manusia semacam ini memang sulit ditandingi. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki.

Sengsara di dunia-bahagia di akhirat

Ini nasib kebanyakan orang-orang beriman. Kehidupan di dunia bagi mereka seringnya menjadi camp pelatihan untuk menempa iman. Kesulitan hidup berupa sempitnya kran rezeki memicu munculnya ujian-ujian kehidupan seperti tak terpenuhinya kebutuhan logistik, pendidikan, sandang dan papan. Atau kesulitan hidup berupa kekurangan dalam hal fisik; buta, bisu, buntung, lumpuh dan sebagainya.Dera dan cobaan yang kerapkali menguras airmata dan menggoreskan kesedihan dalam jiwa.

Namun begitu, iman mereka menuntun agar bersabar menghadapi semua dan tetap berada di jalan-Nya. Dan pada akhirnya, selain iman yang meningkat, semua kesengsaraan itu akan diganti dengan kebahagiaan yang berlipat. Rasa sakit, sedih dan ketidaknyamanan hati seorang mukmin akan menjadi penebus dosa dan atau meningkatkan derajat. Sedang di akhirat, hilangnya dosa berarti hilangnya halangan menuju kebahagiaandi dalam jannah dengan keindahannya yang memikat. Dan tingginya derajat keimanan adalah jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat.

Allah berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al Baqarah:155-157)

Bahagia di dunia-sengsara di akhirat

Kalau yang ini adalah gambaran rata-rata kehidupan orang-orang kafir dan manusia durhaka. Sebagian mereka bergelimang harta, hidup mewah dan dihujani kenikmatan-kenikmatan melimpah. Bukan lain karena mereka bebas mencari harta, tanpa peduli mana halal mana haram.Sebagian yang lain barangkali tidak mendapatkan yang semisal. Tapi mereka mendapatkan kebebasan dalam hidup karena merasa tidak terikat dengan aturan apapun. Aturan yang mereka patuhi hanya satu “boleh asal mau atau tidak malu”.

Merekalah yang menjadikan dunia sebagai surga dan berharap atau bahkan yakin bahwa yang Mahakuasa akan memaklumi kedurhakaan dan kelalaian mereka dari perintah-Nya, lalu memasukkan mereka ke jannah-Nya. Padahal sejak di dunia mereka telah diperingatkan:

“Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” (QS. 31:24)

Sengsara di dunia sengsara di akhirat.

Inilah orang paling celaka dalam sejarah kehidupan manusia, dunia akhirat. Di dunia hidup miskin, susah payah mencari sesuap nasi dan hutang menumpuk karena usaha selalu tekor hingga hidup pun tak nyaman karena diburu-buru debt kolektor.Atau hidup dalam keterbatasan karena cacat di badan dan masih ditambah ekonomi yang pas-pasan. Dan dengan semua itu, mereka tidak memiliki harapan untuk hidup bahagia di akhirat meski hanya seujung jari, karena iman sama sekali tidak tumbuh dalam hati. Di penghujung hidup mereka mati dalam kondisi kafir, menolak beriman kepada Rabbul Izzati.

Dan di akhirat, neraka yang menyala-nyala telah menanti. Karena ketiadaan iman, mereka tidak akan mendapatkan belas kasihan. Hukuman akan tetap dijalankan karena di dunia mereka telah diperingatkan. Na’udzu billah, semoga kita terhindar dari keburukan ini.

Padahal yang didunia sempat merasakan kesenangan saja, apabila dicelupkan ke dalam neraka, akan musnah semua rasa yang pernah dicecapnya. Lantas bagaimana dengan yang sengsara di dunia dan berakhir dengan siksa di neraka?

عَامِلَةٌنَّاصِبَةٌ {3} تَصْلَىنَارًاحَامِيَةً

“Bekerja keras lagi kepayahan, -sedang di akhirat- memasuki api yang sangat panas (QS. Al Ghasiyah:3-4)

Kita masih bisa memilih

Dari keempat kondisi di atas, sebisanya kita tempatkan diri kita pada yang pertama. Caranya dengan sungguh-sungguh bekerja agar kehidupan dunia sukses dan mulia. Bersamaan dengan itu, kesuksesan itu kita gunakan untuk membeli kebahagiaan yang jauh lebih kekal di akhirat. Jika tidak bisa, pilihan kita hanya tinggal kondisi kedua karena yang ketiga hakikatnya sama-sama celaka dengan yang dibawahnya. Meskipun hidup di dunia kita harus berkawan dengan sengsara, tapi dengan iman di dada kita masih layak tersenyum karena harapan itu masih ada. Harapan agar dimasukkan ke dalam jannah yang serba mewah, atas ijin dan ridha dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pemurah.Wallahua’lam bishawab, wa astaghfirullaha ‘ala kulli khati`ah. (taufikanwar)