Ambisi Jadi Pejabat? Jangan! Kamu Tak Akan Kuat

99

Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu termasuk as-saabiquunal awwalun, sahabat yang awal-awal masuk Islam. Jasa dan kiprah dakwahnya tak diragukan lagi, terutama dalam mengislamkan penduduk Ghifar dan Aslam. Kedekatannya dengan Nabi ﷺ juga tak ada yang sangsi. Suatu ketika, muncul niatan beliau untuk menjadi pejabat atau mempin kaum dan berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda menjadikanku sebagai pejabat/pemimpin?” Mendengar pengajuan itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau seorang yang lemah sedangkan jabatan itu adalah amanah (yang berat), dan sesungguhnya ia menjadi sebab kehinaan dan penyesalan pada hari Kiamat kecuali yang menjalankannya dengan baik dan melaksanakan tanggungjawabnya.” (HR. Muslim)

Dalam bahasa kekinian nasihat Nabi tersebut seperti orang yang mengatakan, “Jangan! Kamu tidak akan kuat.” Biarlah orang lain yang memikul amanah yang berat itu. Ini bisa jadi karena Nabi ﷺ tahu, bahwa potensi Abu Dzar bukan di bidang itu, atau di balik sisi unggul Abu Dzar, beliau khawatir justru pintu kekuasaan itu justru menjadi ‘kuburan’ bagi Abu Dzar radhiyallahu anhu. Ketika seseorang mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, maka ini menunjukkan sisi kelemahan dirinya.

Baca Juga: Apa Enaknya Jadi Pejabat?

Ketika seseorang mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin, maka ini menunjukkan sisi kelemahan dirinya.

Karena biasanya orang yang mengajukan diri sebagai pemimpin, perhatiannya lebih dominan pada sisi keuntungan duniawi, atau melihat besarnya kewenangan yang dimiliki. Padahal di balik itu, ada amanah dan tanggung jawab besar yang jika tidak ditunaikan dengan baik niscaya bencana akan meluas dan ia juga terancam dengan balasan yang berat di akhirat.

Tabiat Dasar Manusia

Potensi menyukai kedudukan, jabatan dan kekuasaan memang menjadi tabiat yang dimiliki umumnya manusia. Karena padanya berbagai kenikmatan dunia secara komplit bisa diraihnya. Imam ath-Thabari menjelaskan tentang firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Beliau menafsirkan, “Telah dibuat indah untuk manusia sifat tertariknya mereka terhadap wanita dan anak keturunan serta segala hal yang disebutkan. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal ini hanyalah untuk menjelaskan sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka lebih mengutamakan dunia dan ambisi terhadap kekuasaan dibandingkan harus mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, padahal mereka telah mengetahui kebenarannya.”

Yakni bahwa manusia itu punya tabiat suka kekuasaan yang terkumpul padanya beragam kenikmatan, maka ketika mereka berambisi terhadap kesenangan tersebut dan berpaling dari kebenaran, maka mereka menyerupai karakter Yahudi yang berpaling dari kebenaran karena kekuasaan.

Orang-orang yang memperturutkan ambisi jabatan, mereka mengejar kekuasaan untuk melampiaskan seluruh keinginan. Yaitu berkuasa di muka bumi, agar seluruh hati mengarah dan memperhatikan mereka, dan dengannya berbagai keinginan bisa terwujudkan. Sehingga ambisi untuk meraih kekuasaan akan melahirkan kerusakan-kerusakan yang tak mampu dihitung secara valid kecuali oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Akan muncul dosa, hasad, perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, dengki, kezaliman, fitnah, fanatik pribadi, tanpa memedulikan lagi hak Allah Subhanahu wa ta’ala. Orang yang terhina di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala akan dimuliakan sementara orang yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala pasti dihina. Kekuasaan duniawi tidak mungkin sempurna kecuali dengan cara-cara kotor seperti itu. Kekuasaan duniawi tidak akan tercapai kecuali dengan menempuh tipu daya dan siasat yang kotor. Demikian di antara yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab ar-Ruh.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Pejabat, Orang yang Paling Butuh Nasehat

Sering luput dari bayangan orang yang berambisi terhadap jabatan, bagaimana kelak di akhirat seluruh rakyat yang hingga mencapai jutaan akan menuntutnya pada Hari Kiamat jika hak di dunia ada yang tak mereka dapatkan. Setiap tuntutan mengurangi pahalanya, dan jika pahalanya telah habis maka dosa rakyat yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, wal iyadzu billah.

Alangkah mengerikan ancaman dari Nabi ﷺ bersabda, “Tiada seorang hamba yang diberi amanah untuk memimpin rakyat oleh Allah lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan hamba itu tidak akan mencium baunya jannah.” (HR Bukari dan Muslim)

Lantas apakah berarti seorang muslim yang memiliki potensi memimpin tidak boleh memimpin? Tentu saja boleh. Intinya adalah jangan berambisi menjadi pemimpin, dan agar kita tidak menjadikan pemimpin orang yang haus akan kekuasaan. Karena ambisinya lebih besar dari rasa takutnya kepada Allah. Bahwa jika kemudian umat memerikan kepercayaan dan dia memiliki kemampuan, tidak mengapa ia memgambilnya dengan memohon pertolongan kepada Allah. Ini sebagaimana nasihat Nabi ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu anhu,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah kamu mengemis jabatan. Karena jika engkau diserahi jabatan karena ambisi meminta, engkau akan dibiarkan mengurusi sendiri. Tetapi jika engkau diberinya tanpa mencarinya, maka engkau akan ditolong Allah dalam mengurusinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Terkini