Mereka yang Berguguran di Jalan Iman

Iman merupakan harta paling berharga dalam hidup ini. Tapi tidak sedikit orang yang rela menukar harta berharga tersebut dengan yang lebih rendah nilainya bahkan justru dengan sebuah nilai yang hina.

Kisah pertama, kita mulai dengan kisah Abdah bin Abdurrahim. Masa mudanya diarungi dengan menghafal al quran dan berjihad di jalan Allah. Berbagai ekspansi militer ia ikuti. Kawan-lawan seperjuangannya banyak yang merasa kagum dengan prestasinya. Kini, peperangan besar sedang ia hadapi, melawan Romawi.

Di sinilah ujian keteguhan itu datang menantang keteguhan pemuda luar biasa ini. Bukan pedangnya yang diuji, orang-orang Romawi memiliki mental tak jauh beda dengan musuh-musuh tak punya iman lainnya. Bukan pula ibadah dan hafalannya, karena meskipun tengah berjihad, ia masih bisa beribadah dan menghafal. Yang diuji kali ini adalah nafsu bujangnya.

Ketika melewati sebuah benteng di negeri Romawi, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada sebuah wajah jelita dengan rambut pirang. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan, bukan jatuh cinta lagi, Abdah jatuh hati. Hatinya jatuh dan langsung terpenjara oleh kecantikan wanita Eropa yang baru pertama dilihatnya.

Sekonyong-konyong, hasrat hati Abdah tertarik dengan sangat kuat, seperti besi kecil yang didekatkan pada sebuah magnet besar. Abdah membelokkan langkah kudanya mendekati si wanita. Tanpa babibu, Abdah melamar si wanita untuk dijadikan isteri. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, si wanita menerima, hanya saja ada syaratnya.

Syaratnya, Abdah harus menukar imannya dengan kekufuran, menjadi seorang Nashrani. Rupanya racun cinta yang ditembakkan setan kali ini tepat mengenai tali hati Abdah. Ia mengiyakan begitu saja syarat gadis pirang itu. Ia pun melepas Islamnya dan menikah di dalam benteng.

Seperti disambar petir, kawan-kawan Abdah terguncang. Bagaimana bisa seorang pejuang sekaligus penghafal al Quran rela melepas mahkota iman nya hanya untuk ditukar dengan sampah dunia yang beberapa tahun lagi tua dan akhirnya ke neraka? Ibadah dan semua catatan perjuangannya pun berakhir sampai di sini. Sirna tak tersisa. Saat ditanya, apa yang terisa dari hafalanmu? Abdah menjawab, hanya dua ayat:

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).

Kisah kedua, plotnya setali tiga uang dengan Abdah. Kisahnya dituturkan oleh Imam al Qurthuby dalam kitab at Tadzkirah. Tentang seorang pemuda ahli ibadah yang mendedikasikan dirinya sebagai muadzin. Perjalanan hidupnya dilalui dengan ibadah dan kedekatan dengan masjid.

Sampai suatu ketika, keteguhan hatinya diuji oleh seorang wanita Nashrani. Saat hendak mengumandangkan adzan, matanya terpikat pada pemandangan luarbiasa di sebuah jendela, di bawah menara. Kecantikan putri seorang nashrani itu, rupanya mampu menembus jendela dan menjangkau jarak si muadzin.

Sang muadzin pun jatuh hati. Ia turuni tangga menara, menghampiri sumber pesona itu memancar. Sang gadis bertanya, “ Apa yang anda inginkan?” sang Muadzin menjawab, “Dirimu.” “Kenapa begitu?” Dia menjawab, “Aku telah jatuh cinta padamu.” Wanita itu berkata, “Saya tidak mau berbuat dosa.” Muadzin berkata, “Aku akan menikahimu.” Wanita itu menjawab, “Kamu seorang muslim dan saya seorang Nasrani, ayahku jelas tidak akan merestui.” Muadzin berkata, “Saya akan beragama Nasrani.”

Seperti zombie, pemuda itu menuruti hasrat hatinya tanpa bisa berpikir jernih lagi. Akhirnya, dia pun pindah keyakinan. Dan saat menaiki tangga loteng rumah sang gadis, pemuda itu jatuh dan meningal dunia. Ia mati sebagai orang-orang yang selalu disebut Allah sebagai adh Dhallin, orang-orang yang tersesat. (at-Tadzkirah fi Umuril Akhirah oleh al-Qurthubi hlm. 43)

Kisah ketiga adalah kisah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Perjalanan iman nya sebenarnya sudah cukup cemerlang. Abdull Uzza bin Khattal masuk Islam di Madinah. Namanya diganti oleh Rasulullah menjadi Abdullah bin Khattal. Tak berapa lama, ia sudah dipercaya menjadi petugas pengambil zakat ke berbagai daerah.

Baca Juga: Makanan yang Haram, Merusak Tabiat dan Jasad

Suatu ketika, Abdullah bin Khattal diutus mengambil zakat ke suatu daerah. Di tengah perjalanan, ia menyuruh budak yang bersamanya untuk memasak sesuatu dan Abdullah pun tidur. Bangun dari tidur, ternyata si budak tidak melaksanakan tugasnya. Abdullah naik pitam dan dibunuhlah si budak. Perasaan takut pun menguasai dirinya. Jika ketahuan Rasulullah, ia pasti akan dibunuh. Ia pun lari dan membelot ke pihak musyrikin. Mengganti iman nya agar selamat dari hukuman qishash. Akhirnya, saat pembebasan Makkah, ia dibunuh oleh Said bin Harits dalam keadaan musyrik.

Wal iyadzubillah. Ternyata, kebersamaan dengan Nabi tetap tak mampu membuat jiwa tetap istiqomah di jalan iman. Kasus hampir mirip juga terjadi pada mantan sahabat Nabi bernama Miqyas. Ia masuk Islam sambil menuntut diyat saudaranya. Rasulullah mengabulkan tuntutannya dan diberikan diyat. Ia pun tinggal di Madinah. Namun, rupanya dendamnya atas terbunuhnya saudaranya belum juga surut. Ia tetap membunuh orang yang membunuh saudaranya padahal telah dibayarkan diyatnya. Karena perbuatannya, Miqyas divonis mati dan dibunuh oleh Numailah atas perintah Rasulullah SAW.

Satu lagi kisah seorang sahabat Nabi yang juga berakhir tragis. Namanya Quzman. Seorang lelaki hebat dari Kabilah Bani Zhafr. Saat penduduk Madinah banyak yang masuk Islam, ia pun turut masuk Islam. Ketika terjadi perang Uhud, Quzman ikut trjun dalam kancah perang. Beberapa orang musyirk berhasil dibantainya.

Ketika peperangan usai, Quzman mengalami luka parah. Saudaranya dari Bani Zhafr membawanya pulang dan menghiburnya, memintanya untuk bersabar. Mereka memuji kepahlawanannya dan mendoakannya agar mendapat surga yang tertinggi. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Quzman berkata, “Demi Allah, aku ikut berperang semata-mata karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan sudi untuk berperang!”

Saudara-saudara seiman yang mendengar hal itu menjadi sedih. Mereka membujuknya agar bertaubat, tetapi Quzman enggan. Dan karena luka yang dialaminya cukup parah, rasa sakit yang menyerang syaraf-syarafnya membuatnya tak mampu bersabar. Quzman pun bunuh diri. Ketika Nabi SAW diberitahu tentang keadaan Quzman tersebut, beliau bersabda, “Jika dia berkata (dan berbuat) seperti itu, maka ia termasuk penghuni (akan masuk) neraka!”

 

Istiqamah Tidak Mudah

Istiqomah memang tidak mudah. Fokus pada tujuan itu bikin lelah. Godaan menghadang sepanjang jalan. Hanya orang-orang hebat dan dirahmati Allah yang mampu tetap lurus berjalan dan tahan godaan. Lainnya lebih banyak yang gugur. Ada yang baru satu langkah sudah kalah, setengah perjalanan sudah kelelahan, bahkan ada yang sedikit lagi sampai malah memilih berhenti.

Secara teori, sangat mudah memetakan godaan yang dihadapi hamba beriman. Dalam perjalannya menuju nasib akhir dirinya, manusia akan menghadapi dua jenis godaan:godaan syubhat dan syahwat. Ya.Hanya dua, tapi derivasinya bisa tak terhingga sehingga secara praktek sama sekali tak akan mudah untuk menghadapinya.

Syubhat adalah perkara-perkara yang samar-samar, meragukan dan mampu membuat orang bingung dan akhirnya salah jalan. Wujudnya dapat berupa berbagai pemikiran rusak dan persepsi-persepsi membingungkan dan menyesatkan.

Kisah melencengnya kaum khawarij menjadi bukti nyata beratnya godaan syubhat. Mereka adalah kaum ahli ibadah, tapi pemikiran mereka melenceng karena syubhat (kesamaran) persepsi dalam menyikapi keputusan khalifah. Akibatnya mereka keluar dari baiat kekhilafahan kaum muslimin lalu melakukan banyak pembantaian terhadap saudara muslim sendiri.

Baca Juga: Karakteristik Firqatun Naajiyah, Golongan Orang-orang yang Selamat

Demikian pula kaum syiah. Syubhat pemikiran yang ditebarkan Abdullah bin Saba’ sukses memperdaya ribuan manusia dari generasi ke generasi. Pikiran sesat yang mengangungkan Ali dan ahlul bait melebihi semua sahabat Rasulullah, bahkan Rasulullah sendiri. Berkembanglah sekte sesat paling keji di muka bumi yang berhasil mendirikan daulah bahkan negara sendiri.

Bentuk lain adalah pikiran-pikiran sesat kaum liberal yang mampu membuat seorang mukmin akhirnya tak percaya kebenaran al Quran, tak meyakini kewajiban hijab, shalat dan haji. Wal iyadzubillah, semoga kita dijaga oleh Allah dari pengaruh pikiran-pikiran ini.

Adapun syahwat adalah godaan yang menyerang hawa nafsu. Kategori besarnya dibagi menjadi tiga; harta, tahta, wanita. Tapi pada praktiknya, ketiganya bisa saling terkait dan membentuk berbagai macam jenis godaan yang bisa menjatuhkan seseoran dari jalan iman.

Tak ada jaminan untuk tetap istiqomah selain rahmat Allah dan usaha kita sendiri. Gelar al-hafiz, julukan mujahid, status seorang ahli ibadah bahkan kebersamaan dengan Nabi (sahabat) hanyalah alat dan atribut yang seharusnya bisa membantu, namun tetap tai bisa menjamin. Oleh karenanya, amal apapun yang telah kita lakukan, hendaknya jangan membuat kewaspadaan kita kendur. Bisa jadi, saat rajin beramal, godaan yang terbesar belumlah datang. Selalulah berdoa agar diberi keistiqomahan di atas jalan iman. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan yang selamat hingga akhir hayat. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Telaah

Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan dari Ibnu Abbas dan Muqatil yang meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, di dunia ini saya adalah orang yang buta, apakah di akhirat saya juga akan buta? Lalu turunlah ayat,

 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada..” (Al-Hajj: 46).

Yakni barangsiapa di dunia hatinya buta terhadap Islam, maka di akhirat dia akan masuk neraka. Demikian dijelaskan oleh al-Qurthubi.
Tak semua orang yang memiliki kelengkapan indera mampu menangkap kebenaran. Bukan karena lemahnya indera, namun karena cacatnya iradah (kemauan) untuk mencari kebenaran, atau lebih suka menggunakan inderanya sesuai keinginan nafsunya, bukan sesuai kehendak Penciptanya.

Semestinya dengan indera mata, mereka bisa membaca ayat-ayat Qur’aniyah yang menunjukkan kebenaran secara terang benderang. Mereka juga bisa melihat ayat-ayat Kauniyah, sehingga bisa memahami dahsyatnya penciptaan yang otomatis menunjukkan keagungan Penciptanya.

Mereka tidak menggunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar dan akalnya untuk memahami kebenaran, hingga mereka tidak mengenalnya dan tidak pula berpihak kepada kebenaran. Bukan inderanya yang lemah, tapi yang buta dan tuli adalah hatinya.

Baca Juga: Qalbun Salim, Hati yang Selamat dari Syubhat dan Syahwat

Mereka adalah orang yang tak mau tahu petunjuk Allah yang seharusnya menjadi panduan hidup manusia. Tidak mau membaca al-Qur’an, tidak pula sudi mendatangi majelis ilmu sehingga mendengarkan petunjuk yang terkandung dalam al-Qur’an. Mereka lebih suka
menggunakan mata, telinga dan pikirannya untuk yang lain sembari berpaling dari al- Qur’an.

Buta hati adalah sebenar-benar bencana, karena dengannya seseorang tidak bisa mengenali nikmat Allah atas dirinya. Dia tidak juga membedakan mana jalan menuju keselamatan dan mana jalan yang menjerumuskan kepada kesengsaraan. Yang baik dikatakan buruk dan sebaliknya, yang semestinya musuh malah dijadikan teman, dan begitulah semua barometer bisa terbolak-balik.

Meski di dunia mereka melek matanya, namun kelak di akhirat, Allah akan bangkitkan mereka dalam keadaan buta lantaran hatinya buta saat di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَن كَانَ فِي هَـٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS al-Isra’ 72)

Qatadah menjelaskan ayat tersebut, “Barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap nikmat-nikmat Allah, juga terhadap bukti penciptaan dan keagungan- Nya, maka di akhirat dia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya.”

Baca Juga: Dari Mata Turun ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Sedangkan Ibnu Katsier menjelaskan dari sudut panang yang lain, “Yakni barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Allah adalah Esa dalam mencipta dan mengurus makhluknya, maka dalam hal akhirat yang tak kasat mata tentu dai lebih buta dan ebih sesat.”

Gejala buta hati di dunia bisa dilihat dari fokus perhatian dan usahanya. Yang mereka lihat, dengar dan pikirkan hanya dunia semata. Mereka tidak pedulikan urusan akhirat, seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum:7)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di berkata, “Pikiran mereka hanya fokus dengan urusan dunia sehingga lalai terhadap urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak pula takut akan neraka. Inilah tanda kebinasaan mereka, bahkan dengan akalnya mereka tidak bisa meraba. Usaha mereka memang menakjubkan seperti kemampuan menemukan atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada kaum lain yang mampu menandinginya, sehingga orang lain begitu remeh dalam pandangan mereka. Akan tetapi sayang, mereka jahil dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya justru akan membinasakan dirinya.”

Maka Allah membenci orang yang hanya pandai dalam hal dunia, atau bahkan menjadi seorang pakar, namun dia jahil dalam urusan
agamanya. Amat disayangkan jika seseorang mampu menempuh jenjang strata-3 dalam hal ilmu dunia, namun pengetahuan agamanya
tidak beranjak dari level TK. Rasulullah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”.
(HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albani)

Ini tidak menunjukkan bahwa ilmu dunia itu cela, akan tetapi sisi celanya adalah ketika seseorang tidak mau belajar tentang ilmu akhirat. Tapi, ilmu akhiratlah yang bisa menunjukkan agar ilmu dunianya bisa berfaidah untuk dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat.

Tanpanya, kepandaiannya bisa jadi akan menjadi bumerang bagi dia. Mungkin akan menyalahgunakan ilmu, atau setidaknya dia tidak mendapat pahala apa-apa dengan jerih payah dan usahanya, karena tidak ada panduan bagaimana keahlianya bisa bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Semoga Allah anugerahkan kita kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan

Biografi Iblis, Si Pembangkang Hingga Akhir Zaman

Kita semua tahu musuh utama seorang muslim adalah setan. Tapi seberapa tahu kita bahwa setan punya pimpinan dan setan punya standar operasi yang digencarkan oleh pimpinannya? Berikut biografi Iblis, si bos besar setan.

 

Asal Muasal

Bangsa Jin lebih dahulu menempati bumi daripada manusia. Tatkala mereka berbuat kerusakan di muka bumi, Allah mengutus sepasukan Malaikat. Para malaikat memerangi, mengusir dan mendesak mereka hingga ke lautan. Salah satu jin ditangkap dan dibawa ke langit. Di langit, Jin tersebut menjadi penjaga Jannah.

Dialah Iblis. Dahulu namanya Azazil atau al-Harits dan kuniyahnya Abu al-Kurdus. Dalam riwayat lain, Iblis pernah menjadi ketua malaikat penjaga langit dunia, memiliki empat sayap, rajin beribadah dan memiliki wawasan luas. Diciptakan dari unsur api dan

derajatnya hampir sama dengan malaikat karena sangat rajin beribadah.

 

Awal Mula Pembangkangan

Saat Allah menciptakan Adam dan menyuruh seluruh malaikat termasuk Iblis untuk bersujud, Iblis menolak perintah Allah. Dia tidak sudi melakukan sujud penghormatan tersebut semata karena sombong. Allah pun melaknatnya dan melemparkannya ke dunia.

Iblis menolak perintah ini karena memang sebagai jin, dia memiliki pilihan antara melaksanakan dan mengabaikan. Adapun malaikat, semua tercipta dengan karakter sama yaitu tidak akan pernah memaksiati perintah Allah.

Pembangkangan selanjutnya dilakukan Iblis saat memperdaya Hawa dan Adam agar memakan buah larangan yang dia sebut sebagai buah kekekalan (Khuldi). Intensitas rayuannya membuat Hawa terpedaya dan menjerumuskan diri dan juga suaminya melanggar laragan Allah. Keduanya pun memakan buah yang oleh Iblis disebut sebagai buah khuldi dan kemdian diusir oleh Allah dari surga menuju dunia.

Baca Juga: Empat Pelajaran Berharga dari Kisah Adam dan Godaan Hawa

Dan Iblis, penolakannya untuk sujud menghormati Adam sangat dimurkai Allah. Iblis pun dilaknat dan kemudian diusir ke dunia bersama Adam dan Hawa.

Iblis pun memohon kepada Allah agar dikekalkan hingga Kiamat. Tujuannya satu, balas dendam pada Adam dan anak turunnya karena membuat dirinya terlaknat. Allah menyetujui hal ini dengan segala kebaijaksanaan dan ilmu-Nya. Iblis dan bala tentaranya akan menjadi ujian bagi bani Adam.

Ada pendapat ngawur yang menyatakan bahwa iblis lebih baik dari malaikat karena hanya mau bersujud kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam. Pendapat ini jelas ngawur, pertama karena sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan ibadah. Kedua, Allah yang memerintahkan dan perintah-Nya mutlak, termasuk untuk sujud sekalipun. Ketiga, jika memang sujud itu hanya trik untuk menguji, maka seluruh malaikatlah yang akan dilaknat, sedang Iblis satu-satunya yang lulus. Kenyataannya tidak demikian.

 

Istana Iblis

Pasca Pengusiran dari langit, Iblis membangun kerajaannya di bumi. Dia membangun singgasananya di atas lautan. Setan-setan menjadi bala tentaranya.

Saat Ibnu Shayyad ditanya oleh Rasulullah mengenai apa yang dia lihat, Ibnu Shayyad melihat Singgasana di atas lautan yang dikelilingi ular-ular. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa itu adalah Arsy-nya Iblis.

Dari Arsy inilah Iblis memerintah dan menerima laporan hasil kerja bala tentaranya. Dan dari sinilah segala bentuk godaan maksiat bermula. Prestasi mereka dinilai berdasar tingkat maksiat dan dosa dari manusia yang mereka goda. Dalam sebuah riwayat disebutkan, perceraian merupakan hasil godaan yang paling diapresiasi oleh Iblis. Jika ada anak buahnya yang berhasil menceraikan pasangan suami isteri, dia akan didekatkan kepada Iblis dan diberi mahkota.

Baca Juga: Imma’ah, Tukang Ikut-ikutan Mayoritas Orang

Wallahua’lam, tidak ada yang tahu letak kerajaan Iblis. Tidak sedikit yang berasumsi bahwa area lautan di Segitiga Bermuda-lah kerajaan Iblis berada. Dugaan ini didasarkan pada beragam misteri dan kecelakakaan pesawat dan kapal di area tersebut. Namun, semuanya hanyalah dugaan semata.

 

Musuh Iblis Terkuat

Musuh terkuat iblis dan bala tentaranya adalah orang-orang “mukhlas”. Siapakah orang yang mukhlas? Mukhlas adalah orang yang keikhlasannya sudah menjadi “habit” atau kebiasaan. Seakan-akan, setiap amalnya senantiasa dilingkupi keikhlasan dan sudah tidak perlu usaha lebih keras untuk ikhlas. Tingkat dibawahnya adalah mukhlis, yatu orang yang hatinya masih harus bekerja keras agar bisa ikhlas dalam beramal.

Jika seseorang telah menjadi mukhlas, akan ada dinding antara dirinya dengan setan hingga setan sulit menggoda dan mencuri keikhlasannya. Dialah yang dikecualikan Iblis dari manusia pada umumnya.

“(Iblis berkata) Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka (Qs. Shad: 82-83)

 

Dicekik Nabi Muhammad 

 

عَنْأَبِي الدَّرْدَاءِ ، قَالَ : قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَسَمِعْنَاهُ , يَقُولُ : ” أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ، ثُمَّ قَالَ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا ” , فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ , قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ , وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ , قَالَ : ” إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي , فَقُلْتُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قُلْتُ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَرَدْتُ أَنْ آخُذَهُ , وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا بِهَا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ” 

 

Dari Abu Darda berkata, “Rasulullah shalat dan tetiba kami mendengar Beliau mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Lantas Beliau mengucap lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah” sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membentangkan tangannya seakan-akan Beliau tengah meraih sesuatu. Usai shalat, kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengar anda mengucapkan  ucapan yang belum pernah kami dengar sebelumnya dan kami melihat anda menjulurkan tangan anda.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya tadi Iblis si musuh Allah datang membawa obor dan ingin membakar mukaku dengannya. Maka aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu sebanyak tiga kali. Lalu Aku berkata, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Tapi Iblis masih belum mau pergi dan akupun berniat menangkapnya. Demi Allah, kalau saja bukan karena doa saudaraku Sulaiman, Iblis itu akan terikat sampai pagi dan akan menjadi mainan anak-anak Madinah.” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi mencekik lehernya hingga beliau mampu merasakan basahnya air liur Iblis karena cekikan Beliau.

 

Dilaknat Sampai Kiamat

Kehidupan abadi yang dimiliki Iblis digunakan untuk menyesatkan manusia dan membawa mereka menuju tempat akhir si Pembangkang. Dendam ini menyeret anak-anak Adam yang terpedaya ke dalam neraka. Meski demikian, nasib akhir setiap manusia yang celaka bukanlah menjadi tanggung jawab Iblis, tapi tanggung jawab masing-masing. Kelak, manusia memang akan menyalahkan Iblis, namun Iblis akan berlepas diri dan menyatakan bahwa dia hanya memperdaya dan manusia sendirilah yang percaya. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menyelamakan kita dari tipu daya iblis dan tentaranya.

(Taufik anwar/Al-Bidayah wa an Nihayah, Juz I Bab Ma Warada fi Khalqi Adam)

 

Allah Menjamin Urusan Seorang Hamba, Selagi Hamba Menjadikan-Nya Jaminan

Tak akan pernah rugi orang yang memasrahkan segala urusannya kepada Allah. Allah akan memberikan jaminan keselamatan atau keberhasilan atau jaminan dalam bentuk lain selama seseorang menjadikan Allah sebagai saksinya dan mencukupkan Allah sebagai dzat yang Maha menjamin segala urusan.

Sebagaimana tersebut sebuah kisah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa pada suatu hari ada seorang dari Bani Israil yang datang meminjam uang sebanyak seribu dinar kepada saudaranya. Pemilik uang tersebut lalu berkata kepadanya, “Beri saya saksi yang bisa menengahi kita berdua.”

Orang yang hendak meminjam tersebut berkata, “Cukup Allah sebagai saksi kita.”

Pemilik uang tersebut lalu berkata lagi, “Kalau begitu beri aku jaminan.”

Orang itupun menjawab, “Cukuplah Allah sebagai jaminan saya.”

Kalau demikian aku percaya padamu,” Jawab pemilik uang.

Baca Juga: Sukses dengan Keterbatasan

Orang itu lalu memberikan pinjamannya seribu dinar sampai batas waktu yang telah mereka sepakati. Kemudian si peminjam tersebut pergi menyeberangi lautan untuk menunaikan hajatnya.

Selang beberapa lama, setelah ia menyelesaikan keperluannya, ia pun hendak mencari kapal yang bisa ia tumpangi untuk segera membayar utangnya . Akan tetapi, tak ada satu kapalpun yang ia temukan.  Sampai ia kebingungan bagaimana cara mengembalikan pinjamannya karena sudah tiba jangka waktu yang telah disepakati.

Lalu ia mengambil sebatang kayu, kemudian ia lubangi tengahnya dan diisi uang sebanyak seribu dinar, jumlah yang telah ia pinjam. Ia tulisi secarik surat untuk saudaranya tersebut. Setelah itu ia pergi ke tepi laut seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hamba pernah berutang pada si fulan sebanyak seribu dinar, ia meminta padaku sebuah jaminan, akupun berkata, ‘cukup Allah sebagai jaminannya, ia pun setuju. Lalu ia meminta seorang saksi, akupun katakana padanya, “cukup Allah sebagai saksinya, Ia pun ridha dan setuju dengan hal itu.” Dan sekarang sungguh aku telah berusaha untuk mencari tumpangan untuk segera kembali dan membayar utangku, namun aku tidak mendapatkannya, oleh karena itu, aku pasrahkan ini pada-Mu.”

Lalu ia pun melemparkan batang kayu yang sudah ia isi dengan uang seribu dinar itu dan masih berusaha mencari kapal untuk balik ke negerinya.

Di seberang jauh, orang yang meminjamkan uangnya tersebut sudah menunggunya di tepi pantai berharap si peminjam itu lekas balik dan mengembalikan uangnya. Namun sekian waktu menunggu, belum juga datang, ia menemukan sebatang kayu yang terdampar dan mengarah ke dirinya. Ia segera mengambilnya untuk kayu bakar, lalu diberikan kepada istrinya. Ketika sang istri hendak memasak dan membelah kayu tersebut, ia kaget, ternayat di dalamnya ada uang seribu dinar dan secarik kertas.

Tak lama kemudian orang yang berutang tersebut datang dan hendak membayar utangnya seraya meminta maaf karena terlambat membayar utangnya. Ia berkata, “Demi Allah, aku sudah berusaha untuk mencari kapal agar aku bisa segera membayar utangku padamu.”

Baca Juga: Untuk Muslimah: Jangan Ragu Datangi Majelis Ilmu

Si pemilik uang berkata, “Apakah kamu pernah mengirimiku sesuatu?”

Kata si peminjam itu, “Saya sudah berusaha mencari tumpangan, namun tidak aku dapatkan satupun”

Laki-laki pemilik uang itu berkata lagi, “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hutangmu, (dengan) sebatang kayu yang kamu kirimkan. Silakan kembali dan bawalah seribu dinarmu itu dengan selamat.”

(Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Banyak orang yang mengaku percaya kepada Allah dan pasrah kepada-Nya, namun masih banyak yang ragu-ragu; kalau-kalau nanti hartanya berkurang, kalau saja nanti dia jadi miskin dan kalau saja ia tidak bisa makan. Padahal Allah maha menjamin dan Allah maha mencukupi kebutuhan semua hamba-Nya, manakala hamba tersebut memasrahkan segala urusan dan kebutuhannya kepada Allah secara total. Semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Fadhilah

 


Dapatkan artikel islami terbaik di Majalah islam ar-risalah. Majalah panduan untuk ketakwaan dan manajemen hati. Info keagenan dan Langganan: 085229508085

Khutbah Jumat: Hati Gersang Karena Iman Telah Usang

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah jum’at rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah l tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Saat dikalahkan Nabi Musa as, tukang sihir Fir’aun segera bertaubat. Mereka tersungkur sujud, dan menyatakan keimanannya di hadapan semua orang yang menyaksikannya, termasuk Fir’aun yang sebelumnya menjadi majikannya. Ujian berat pun langsung mereka hadapi,

“Fir’aun berkata, “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, Sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; Maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);

“Demi, Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.”

Tapi lihatlah jawaban mereka terhadap ancaman Fir’aun,

“Sesungguhnya kepada Allah-ah Kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Rabb Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (QS al-A’raf 123-124)

Bagitulah dahsyatnya iman saat pertama kali datang. Besarnya pengorbanan tak tanggung-tanggung untuk dikerahkan. Beratnya resiko dipikul dengan sepenuh kekuatan, meski nyawa harus dipertaruhkan.

Tapi, iman bukanlah keadaan yang stagnan. Iman bisa turun, bisa juga naik. Bisa usang seperti usangnya pakaian, bisa pula diperbaharui kembali. Iman itu bisa tumbuh dan berkembang, bisa semakin kokoh, akarnya menghunjam, namun bisa pula sebaliknya. Seumpama pohon yang ditelantarkan, makin layu daunnya, kian rapuh batangnya dan tidak mustahil akan tercabut akar dari tanahnya. Bagaimana perjalanan iman kemudian, tergantung cara merawat dan melestarikannya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Proses lunturnya iman umumnya berbeda dengan keadaan saat pertama iman datang. Iman datang langsung meningkat tajam, tapi turun dan lapuk secara perlahan. Bahkan seringkali pemiliknya tidak merasa kehilangan, dan tidak pula mendeteksi terkikisnya iman sedikit demi sedikit.

Saat kita kehilangan gairah untuk melakukan ketaatan, tidak pula bergegas menyambut tawaran pahala yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita harus mulai waspada. Jangan-jangan iman kita mulai usang, dan keyakinan kita makin berkurang. Karena salah satu tanda lemahnya iman adalah lemahnya kemauan seseorang untuk menjalankan ketaatan.

Iming-iming menggiurkan di akhirat tidak lagi mampu membuat orang yang lemah iman untuk bersegera menyambut seruan kebaikan. Seperti keadaan orang munafik yang digambarkan oleh Nabi,

 

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tiada shalat yang lebih berat bagi orang munafik melebihi beratnya mereka menjalankan shalat fajar dan isyak (dengan berjamaah), seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Seandainya iman di hati sehat, yakin akan kebenaran janji Nabi, tentu mereka akan mendatangi shalat jamaah, meskipun dengan susah payah. Tapi jika iman di hati telah pudar, maka kesehatan, kelonggaran waktu dan dekatnya posisi rumah dengan masjid masih belum dianggap kemudahan untuk mendatangi shalat jamaah.

Begitupun dengan tawaran pahala 27 derajat bagi siapa yang menjalankan shalat berjamaah di masjid, tidak juga menyebabkannya bergegas mengambil peluang ini. Berbeda ceritanya jika seandainya mereka dijanjikan hadiah uang 27 juta, tunai di dunia. Pasti mereka akan rela antri dan berdesak-desakan untuk memasukinya. Padahal 27 juta itu tak ada nilainya sama sekali bila dibandingkan dengan nilai 27 derajat di akhirat. Tapi, lemahnya keyakinan menyebabkan orang enggan untuk menunaikan shalat berjamaah.

Sebagaimana dalam urusan shalat, untuk amal ketaatan yang lain pun tak jauh beda. Lemah iman menyebabkan seseorang menjadi bakhil untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Sebab dia tidak yakin, jika harta yang dikeluarkan itu benar-benar akan diganti dengan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat.

Belum lagi untuk urusan ketaatan yang menghajatkan pengorbanan, juga resiko di perjalanan, maka lebih berat lagi bagi mereka untuk menunaikannya. Seperti berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fii sabilillah.

Adapun orang yang sehat imannya, dia tak hanya sekedar menjalankan ketaatan. Ia bahkan merasa sangat ringan dan betah berada di atas ketaatan. Seperti yang diungkapkan oleh Utsman bin Affan, “Andai saja hati kita bersih, tentu kita tak akan bosan membaca al-Qur’an.” Atau seperti yang diungkapkan oleh seorang ulama salaf, “telah tua umurku, telah rapuh tulangku, sehingga aku hanya mampu membaca al-Baqarah, Ali imran dan an-Nisa’ saja ketika shalat malam.”

Subhanallah….!

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ketika penyakit lemah iman mulai menjalar, maka secara perlahan pula, kepekaan seseorang terhadap dosa akan menjadi tumpul. Penyakit ini juga menyebabkan penderitanya kehilangan imunitas, kekebalan ataupun proteksi hati dari segala dosa. Berita tentang siksa akhirat dan ancaman bagi pelaku dosa, disikapi sebagai tak lebih dari sekadar informasi dan maklumat belaka. Bukan lagi sebagai peringatan keras, yang mampu membuatnya mundur dan menjauh dari daerah larangan Allah yang berupa dosa dan maksiat.

Faktor kebiasaan dan pengulangan menjadi penyebab lunturnya keimanan dan melemahnya tali keyakinan. Hingga akhirnya dosa dianggap sebagai perbuatan yang layak mendapat permakluman. Dari sinilah, setan mulai menggoyahkan pendiriannya. Alasan ‘keumuman’, suara mayoritas, adat yang meluas dipaksakan sebagai representasi suatu kebenaran.

Apa iya ini perbuatan dosa? Mengapa banyak yang melakukannya? Masak iya mayoritas manusia akan disiksa? Begitu setan mengikis batu demi batu dari benteng pertahanan iman kita. Terus menerus, hingga akhirnya runtuhlah bentengn itu secara keseluruhan.

Kita mungkin lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Allah tidak pernah menjadikan suara mayoritas sebagai ukuran kebenaran. Dan Allah juga tidak mustahil menyiksa kaum mayoritas, jika mereka memang layak mendapatkan siksa. Seperti kaum Nuh, Kaum Luth dan kaum Nabi-nabi lain yang ternyata lebih didominasi orang yang sesat katimbang yang mengikuti hidayah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Penyakit lemah iman tak hanya bisa diderita oleh orang awam. Orang alim pun tak mustahil menderita penyakit ini. Kuatnya iman seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pengetahuan seseorang terhadap ilmu syar’i. Ada kalanya, seseorang memiliki banyak pengetahuan tentang fikih, tafsir, hadits dan cabang-cabang ilmu lainnya, namun dia tidak selamat dari kelemahan iman. Padahal, jika lemah iman menjangkiti orang semacam ini, tingkat bahayanya jauh lebih besar dari orang biasa.

Karena orang yang alim mengerti celah-celah dalil, mengetahui siasat untuk bisa berkelit darinya, dan bisa menipu umat dengan kepandaiannya dalam berdalil. Ketika ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat, ia bisa berargumen dan memelintir dalil. Dia menjadikan sebagai dalih di hadapan orang-orang awam.

Akhirnya, orang awam akan melakukan kemaksiatan yang sama, lalu menjadikan pendapat ulama’ suu’ itu sebagai argumen. Maka kerusakan pun semakin meluas.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi khatib maupun bagi jamaah sekalian.

Akhir kata, marilah kita berdoa semoga kita diberi kekuatan untuk menjaga kualitas iman kita. Diberi Kekuatan untuk mengembalikan iman kita jika suatu saat lemah. Dan diberi bimbingan agar iman senantiasa ada di dalam jiwa, hingga ajal menjemput kita. amin.

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Khutbah Jumat

 

Baca Khutbah Jumat Lainnya: Minder Taat Akhirnya Maksiat, Kandas Karena Malas, Pejabat; Orang yang Paling Butuh Nasihat

 


Belum Baca Majalah Ar-risalah Edisi Terbaru? Dapatkan Di Sini

Majalah hati, majalah islam online yang menyajikan khutbah jumat, artikel islam keluarga dan artikel islam lainnya

Khutbah Jumat- Mendulang Manfaat Kala Sakit dan Sehat

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Puji Syukur kepada Allah yang telah mengaruniakan nikmat iman dan Islam. nikmat yang dengannya, kita akan selamat di dunia dan akhirat. Karenanya, nikmat ini harus kita jaga, sampai ajal tiba.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah beliau hingga hari Kiamat.

Kemudian, kami wasiyatkan kepada khatib pribadi dan kepada para hadirin sekalian agar meningkatkan takwa kepada Allah Ta’ala. Takwa adalah penentu arah kehidupan manusia. Arah yang akan menentukan nasibnya; bahagia atau sengsara, selamat atau celaka.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Bagaikan siang dan malam, begitulah warna hidup manusia. Tak ada manusia yang mencapai segala yang diinginkan, atau terhindar dari segala yang dibenci. Ada kalanya senang, tapi juga pernah bersedih, ada kalanya sehat, tapi pasti juga pernah merasakan sakit.

Allah memang menguji manusia dengan dua hal, sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang menyedihkan,

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS al-Anbiya’ 35)

Yakni Allah menguji  manusia, sesekali dengan musibah, sesekali dengan nikmat, agar terbukti siapa yang bersyukur, siapa pula yang kufur, siapa yang bersabar, siapa pula yang berputus asa, sebagaimana disebutkan Ibnu Katsier dalam tafsirnya.
Ibnu Abbas menafsirkan ayat tersebut, “Yakni menguji dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kaya dan miskin, halal dan haram, taat dan maksiat, hidayah dan kesesatan.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sehat dan sakit sama-sama bermakna ujian, maka keduanya berpotensi mendatangkan selaksa manfaat, tapi juga tak jarang membuat orang menjadi sesat, yakni ketika salah dalam mengelola dan mengambil sikap.

Adalah keliru orang yang memandang bahwa ujian bagi jasad hanya saat terjangkit penyakit saja. Kesehatan hakikatnya adalah ujian yang berupa kenikmatan, yang hasil akhirnya ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Siapapun mengakui, meskipun kerap tidak menyadari, bahwa sehat adalah nikmat yang agung. Bahkan ia adalah sayyidu na’imid dunya, nikmat paling besar bagi kemasalahatan hidup di dunia, sebagaimana Islam adalah sayyidu na’imil akhirah, nikmat yang paling agung bagi akhirat. Sebagai bukti, manusia berani mengorbankan harta berapapun demi kesembuhannya, dan tak ada yang berani menjual kesehatannya meski dengan imbalan yang tinggi.

Suatu kali, seseorang mendatangi Yunus bin Ubaid rahimahullah, ulama di kalangan tabi’in. Dia mengeluhkan perihal kesempitan yang dialaminya. Seakan dia tidak memiliki apa-apa. Lalu Yunus bertanya, “Relakah kamu tukar penglihatanmu dengan seratus ribu dirham?” Ia menjawab, “Tidak.” Yunus, “Bagaimana dengan tanganmu, bolehkah ditukar dengan seratus ribu dirham?” Ia menjawab, “Tidak rela.” Yunus, “Bagaimana dengan kedua kakimu?” Ia menjawab, “tidak juga.” Lalu Yunus berkata, “Perbanyaklah mengingat nikmat Allah, aku melihat kamu memiliki ratusan ribu dirham, tapi masih juga banyak mengeluh?”

Namun sayang, agungnya nikmat kesehatan tak banyak disadari oleh umumnya orang. Karena kesadaran akan tingginya nilai nikmat itu biasanya lebih terasa justru di saat nikmat tersebut telah lenyap dari genggamannya. Seperti orang yang akhirnya menyandang kebutaan, barangkali dia amat sadar betapa nikmat mata adalah karunia yang sangat besar. Namun kesadaran ini jarang hadir dalam benak manusia saat nikmat masih melekat. Kebanyakan manusia seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang dilupakan oleh kebanyakan manusia, yakni sehat dan waktu luang.” (HR Al-Bukhari )

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Hasil positif ujian berupa sehat adalah syukur. Tanda mensyukuri nikmat sehat adalah dengan mengakui dan mengingat bahwa kesehatan yang dirasakannya adalah semata-mata karena karunia Allah, dan tidak menganggapnya sebagai suatu pemberian yang remeh. Karena faktanya, dengan sehat  manusia bisa melakukan banyak maslahat, dengannya pula sesuatu yang enak dan nikmat akan terasa enak dan nikmat, berbeda dengan orang sakit yang tidak merasakan nikmatnya sesuatu yang nikmat.

Selain mengingat, mengakui nikmat dan juga memuji Allah atas nikmat sehat, yang tidak kalah pentingnya adalah syukur dengan anggota badan, yakni menggunakan sehat sesuai dengan kehendak Allah, memanfaatkan badan yang sehat untuk taat dan hal-hal yang bermanfaat. Di antara salaf berkata, asy-syukru tarkul ma’ashi, tanda syukur adalah dengan meninggalkan maksiat. Maka barangsiapa yang bermaksiat dengan anggota badannya yang sehat, maka dia telah mengkufuri nikmat Allah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Hadirnya penyakit adalah ujian yang tidak diingini oleh kebanyakan manusia. Pun begitu, tak ada orang yang sehat sepanjang masa. Setiap orang pasti pernah mengalami sakit. Beragam cara orang menyikapi musibah sakit. Namun secara garis besar, ada empat  macam sikap, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin,

Pertama, orang yang marah dan jengkel. Baik rasa jengkel yang dipendam dalam hati, maupun dilampiaskan dengan lisan dan anggota badan. Misalnya berburuk sangka kepada Allah, merasa dizhalimi oleh Allah dan semisalnya. Atau yang diungkapkan dengan lisan seperti keluhan yang mengindikasikan putus asa dan mencela takdir. Apalagi jika ditunjukkan dengan anggota badan, seperti dengan sengaja bermaksiat, meninggalkan perintah padahal mampu menjalankan dan tingkah laku lain sebagai pelampiasan atas kekesalannya. Dia adalah orang yang gagal dalam menjalani ujian. Dia juga mendapatkan dua musibah, musibah dunia dan musibah agama sekaligus.

Kedua, orang yang bersabar terhadap penyakit yang dideritanya. Ia tidak menyukai sakit, tapi ia menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan, demi mendapatkan pahala dari Allah. Tidak mengucapkan apa-apa yang dimurkai oleh Allah,  tidak pula anggota badannya melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah, bahkan hatinya tidak menaruh kebencian atau kejengkelan terhadap Allah sedikitpun.

Sikap ketiga adalah ridha dalam menghadapi musibah sakit. Ini masih masih dalam bingkai kesabaran, namun lebih tinggi dari sekedar bersabar untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah, mengeluh atau melampiaskan dengan anggota badannya. Dia merasa ridha dengan ketetapan Allah atas dirinya. Dia memahami, bahwa ujian adalah tanda cinta Allah atas hamba-Nya, selagi hamba itu ridha atas ujian yang menimpanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

 

 وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya dengan musibah, maka barangsiapa ridha, maka Allah ridha kepadanya, dan barangsiapa marah, maka Allahpun marah kepadanya.” (HR Tirmidzi, beliau berkata, hadits hasan gharib)

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Tingkatan paling tinggi dalam menghadapi musibah sakit adalah sikap keempat, yaitu tingkat syukur. Dia bukan saja sabar dan ridha, bahkan dia bersyukur lantaran diberi sakit. Karena baginya, sakit adalah wahana penghapus dosa dan meninggikan derajat di sisi-Nya. Dia yakin akan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

“Tiada seorang muslim yang tertusuk duri atau musibah yang lebih berat dari itu, melainkan dicatat baginya satu derajat, dan dihapus dengannya satu kesalahan.” (HR Muslim)

Minimal ada empat alasan menurut Syuraih al-Qadhi, mengapa musibah bisa membuahkan rasa syukur, bahkan beliau bertahmid empat kali karenanya. Pertama karena Allah memberikan taufik kepadanya untuk membaca istirja’ (bacaan inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un) yang dengannya dia mengharap pahala dari Allah.

Kedua, karena Allah memberi karunia kesabaran, padahal Allah melimpahkan pahala tanpa hitungan bagi orang yang wafat dalam keadaan bersabar. Apalagi, Allah juga memberikan 3 hal bagi orang yang bersabar, dan masing-masing lebih baik dari pada dunia dan seisinya, yakni shalawat dari Allah, rahmat dan hidayah-Nya, seperti disebut dalam QS. al-Baqarah 155-157.

Yang terakhir, selayaknya dia bersyukur karena rasa sakit yang dialami tidak lebih berat dari itu. Masih banyak orang lain yang mengalami sakit lebih berat. Keempat, bersyukur karena musibah sakit hanyalah musibah duniawi, bukan ukhrawi. Sehingga akibatnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan musibah akhirat. Inilah tingkatan paling tinggi dalam menyikapi rasa sakit. Pun begitu, bukanlah kebaikan jika seseorang berdoa supaya dijangkiti suatu penyalit, tidak pula berobat itu mengurangi nilai sabar, ridha dan syukurnya.

Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan, semga bermanfaat. kita berdoa semoga Allah menganugerahkan kita sabar dan syukur. Amien.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Oleh: Redaksi/Khutbah Jumat

Materi Khutbah Lainnya: 

Sabar dan Syukur; Dua Tali Pengikat Nikmat

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Islam Akan menang Bersama Atau Tanpa Kita

Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Selalu ada target dan tujuan dalam setiap langkah kita. Dan tak sedikit dari tujuan itu tertunda atau bahkan luput dari kita, meskipun tujuan itu berupa kebaikan atau sesuatu yang nantinya kita niatkan sebagai sarana kebaikan. Ingin segera kaya agar bisa sedekah, ingin segera sembuh dari sakit agar kuat menjalankan ibadah, atau ingin berhaji menyempurnakan rukun Islam namun belum diberi kemampuan.

Namun tak perlu patah arang saat tujuan baik belum terpegang. Bisa jadi Allah ingin kita lebih gigih untuk berjuang. Yang dengannya Allah berikan pahala atas kesungguhan dan kesabaran. Atau dengannya Allah hendak menjaga hati kita dari kotoran, yang jika hari ini tujuan kebaikan dalam genggaman boleh jadi ada ujub yang justru menihilkan pahala kesungguhan.

 

Baca Juga: Waspadai Ngedrop Iman Pasca Ramadhan

 

Selagi kita menjaga hak Allah, niscaya Allah menjaga kita ‘ihfazhillaha yahfadzka’. Menjaga hak Allah dalam hal perintah yang harus kita kerjakan. Dan juga dalam hal larangan yang harus kita tinggalkan. Selagi ini yang kita kerjakan, niscaya Allah akan melindungi, menolong dan menjaga kita. Dan penjagaan yang paling berfaedah bagi kita adalah penjagaan iman, agar ia tetap bersemayam di hati, dan terus bertambah kadarnya dan semakin terang cahayanya.

Karena Allah Mahatahu tentang keadaan hati para hamba-Nya, maka Dia menjaga dengan cara-Nya, meskipun cara itu tidak langsung dimengerti oleh hamba-Nya.

Di antara hamba Allah ada yang terjaga keimanannya di suatu kondisi dalam keadaan fakir, yang jika dihamparkan banyaknya harta untuknya saat itu, niscaya akan rusaklah imannya, maka Allah menjaganya dengan cara menunda pemberiannya hingga saat yang paling tepat. Ada pula di antara hamba-Nya yang terjaga keimanannya ketika diberi kekayaan, yang jika dia ditimpa kefakiran niscaya imannya akan rusak. Di antara hamba Allah ada yang imannya terjaga dengan diuji sakit, yang seandainya ketika itu dia dalam keadaan sehat, maka akan rusaklah imannya, atau dia akan menggunakan sehat untuk maksiat. Di antara hamba Allah ada yang punya keinginan menjalankan sebagian jenis ibadah, namun Allah belum memperkenankannya, Karena Allah hendak menghindarkan ia dari ujub yang akan merusak pahala amalnya.

 

Baca Juga: Ketaatan Adalah Ujian

 

Seperti orang yang belum berkesempatan untuk berhaji, tak selalunya ia dalam kondisi buruk. Begitu pula tentang jabatan dan pangkat, yang jelas Allah mengatur dan mengurus hamba-Nya sesuai dengan ilmu-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tetaplah husnuzhan, berprasangka baik kepada Allah, niscaya yang kita panen adalah kebaikan. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah

 

Berbuat Nakal Dengan Alasan Karena Takdir

 

Pertanyaan: 

Ustadz, ana pernah ditanya adik kelas mengenai takdir Allah. Dia adalah mantan anak nakal. Dia ingin taubat dan memperbaiki dirinya, tapi di sela perjuangannya itu, terlintas perasaan yang meragukan. Katanya, Allah sudah menetapkan takdir baik dan buruknya seseorang, berarti percuma kalau kita ingin baik sedangkan kita telah dicatat di Lauh Mahfuzh sebagai orang buruk.

Bagaimana memahamkan anak seperti ini? Jazaakallah khairan katsiran.

Muslimah- Lamongan

 

Jawaban:

Saudari yang shalihah, beriman kepada takdir Allah merupakan salah satu rukun iman, hingga masalah ini harus kita perhatikan dengan hati-hati agar tidak keliru. Dalam masalah ini ada beberapa hal yang harus kita padukan. Yaitu tentang keadilan Allah, ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan usaha manusia beserta hukum sebab akibatnya.

Kita harus percaya bahwa Allah Mahaadil yang akan memberi balasan setiap perbuatan makhuk-Nya sesuai dengan keadilan-Nya secara layak. Sehingga setiap kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasan yang pantas. Selain itu, kita percaya bahwa kuasa Allah meliputi segala sesuatu, yang tidak akan pernah mampu ditolak oleh siapapun.

Ilmu Allah sangatlah luas. Dia Mahatahu atas segala yang terjadi di alam semesta ini, baik yang sudah,sedang, maupun belum terjadi, bahkan sebelum langit dan bumi ini diciptakan-Nya. Tidak ada sehelai daun yang gugur kecuali Dia mengetahuinya. Demikian juga seluruh kejadian yang ada, mustahil terjadi di luar ilmu-Nya.

 

Baca Juga: Istri Sering Memakai Baju Seksi

 

Sebagai manusia kita dikaruniai kemampuan dan akal untuk memilih dan berusaha. Dalam konteks inilah berlaku hukum sebab akibat, dimana siapa menanam akan memanen. Semua yang kita lakukan karena kita memang ingin melakukannya. Sehingga tidak ada alasan untuk berhenti berikhtiar dan menyalahkan Allah (naudzubillah min dzalik) ketika kita terjerumus ke dalam maksiat dengan alasan takdir. Lagipula, bukankah takdir Allah adalah rahasia yang kita tidak pernah tahu rinciannya? Dia tidak membeberkan apa yang akan terjadi besok pagi kepada kita secara detil.

Untuk itu, tidak ada alasan untuk menyerah tanpa daya sebelum berusaha.

Kita baru boleh mengatakan bahwa ini takdir Allah jika telah terjadi. Dan jika yang terjadi adalah kemaksiatan, kita percaya ada hikmah di balik peristiwa itu karena Allah Maha Bijaksana disertai perasaan menyesal dan janji untuk tidak mengulanginya. Namun jika yang terjadi adalah kebaikan, kita harus bersyukur karena Allah memberi kemudahan. Semoga hari-hari berikutnya juga seperti ini.

Terakhir, jangan terlalu banyak berbicara tentang takdir agar setan tidak mempermainkan kita untuk kemudian menyesatkan kita. Wallahu a’lam

 

Oleh: Redaksi/Konsultasi

Katakan “No” Untuk Kekufuran!

 

Allah ta’ala menurunkan alqur’an dengan bahasa arab, jelas bisa dipahami bagi siapa yang mau mengambil pelajaran. Namun dengan dalih toleransi dan hak asasi manusia ada saja orang orang yang mengku muslim namun mendustakan ayat ayat Allah.

Mendustakan ayat ayat Allah bukanlah kejadian baru yang terjadi hari ini, akan tetapi sudah terjadi sejak Allah menurunkan Kitab kepada para Rusul, bila orang kafir mendustakan ayat-ayat Allah maka hal ini tidak perlu panjang lebar pembahasannya karena jelas mereka tidak mengimani kitab yang diturunkan Allah lalu bagaimana mereka tidak mendustakan ayat-ayat Allah. Akan tetapi ada orang orang yang mengku beriman kepada kitab Allah namun sejatinya mereka mendustakan apa yang ada di dalam kitab yang mereka imani.

Contohnya adalah berwala’nya orang-orang yang mengaku muslim kepada orang kafir, ketika mereka dinasehati janganlah engkau melakukan kerusakan di muka bumi ini, janganlah menjadi teman setia dan menjadi pendukung musuh musuh Allah bahkan memilih mereka sebagai pemimpin atas kaum muslimin, maka mereka berkata, “kami ini sedang memperbaiki dan membangun, ada janji politik yang baik yang ditawarkan oleh kawan politik (kafir) ini untuk kemaslahatan kaum muslimin,” “Tidak mengapa memilih pemimpin kafir yang adil daripada pemimipin muslim yang korup,” atau memelintir makna tegas alqur’an dengan berkata, “tidak ada ayat yang melarang kaum muslimin memilih pemimpin kafir.”

Baca Juga: Ideologi Tertutup Ala Partai Demokrasi?

Padahal telah jelas dalam perkatan al Hasan al bashri ketika menafsirkan Ayat, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu [keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfal: 73), yaitu apabila orang muslim mengambil orang kafir sebagai aulia/pemimpin.”

Jika orang islam mengambil orang kafir sebagai teman dekat mereka, pemimpin mereka maka ia termasuk golongannya, dari manapun millahnya. Karena orang kafir saling bantu membantu dan menjadi pelindung pada sebagian mereka. Maka untuk mempertahankan Iman dan Islam, setiap muslim harus menjadikan muslim yang lain sebagai teman dekat, pelindung dan pemimpin, karena sebagian mereka adalah penolong bagai sebagian yang lain.

Karena keraguannya akan al haq, maka ia malu dan risih bila dakwah yang terang dan lugas bahasanya ini diserukan, ia malu bila orang islam mengatakan bahwa islam yes kafir no!, ia malu sebagai Muslim mengatakan bahwa hukum yang paling adil dan benar adalah hukum Allah, dengan alasan yang seolah-olah benar akan tetapi sejatinya memadukan kebatilan satu dengan kebatilan yang lain, ia berkata, “Diatas hukum agama dan adat ada konstitusi negara.”

Sepertinya ia ingin kalau umat islam melunak, jangan terlalu vulgar dalam membacakan ayat ayat Allah, ikuti perkataan dan kelakuan orang kafir, dan kalau bisa diam saja terhadap kebatilan, kemaksiatan dan perbuatan merusak di muka bumi ini, ikuti saja hawa nafsu orang kafir, naudzubillah.

Allah ta’ala berfirman :

“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).”

Hendaklah setiap muslim tidak bersikap lunak terhadap kekafiran yang telah jelas kekafirannya. Ia harus meyakini pada dirinya dan bila bisa berdakwah kepada semua orang bahwa kaum Yahudi dan Nasrani adalah golongan kafir dan termasuk penghuni neraka. Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Demi dzat yang jiwa Muhammad ditanganNya. Tiada seorangpun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani,tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka”. (HR.Muslim)

Lebih lebih orang musyrik selain yahudi dan nashrani, siapa saja yang tidak mengesakan Allah dalam peribadahannya maka apapun agamanya, mereka termasuk dalam agama yang satu yaitu kekafiran.

Baca Juga: Demi Uang, Logika Dibuang

Bukankah Allah memerintah Rasulnya dengan berfirman, Qul Yaa ayyuhal kaafiruun, katakanlah Muhammad, hai orang-orang kafir..!

Hukum Islam universal, kebaikannya menyeluruh dan meliputi tidak hanya untuk orang kafir bahkan hewan, tumbuhan dan alam semesta ini mendapatkan kebaikan dengan diterapkannya hukum Islam, adapun keburukan-keburukan yang dihembuskan oleh orang orang yang memusuhi Islam jika hukum Islam diterapkan, maka itu adalah hembusan dan bisikan setan yang menakut nakuti pemeluknya untuk memegang teguh panduannya, yaitu kitabullah.

Inilah perkataan kita kepada orang kafir sebagimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan pengikutnya :

“Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Inilah toleransi yang diajarkan untuk membentengi aqidah dan keimanan setiap muslim, bahwa kekafiran harus dibenci, adapun pelakunya maka didakwahi bahkan dimulai dengan kalimat yang lembut, namun bila senjata yang mereka todongkan maka Islampun punya cara yang lebih baik dari senjata yang mereka todongkan. (Redaksi/syubhat)

 

Tema Terkait: Syubhat, Kufur, Iman

Kawan tapi Lawan

Banyak orang bilang, persahabatan itu butuh pembuktian, pengorbanan untuk sang kawan. Yang karenanya, kita rela mengorbankan sesuatu untuk sang kawan. Tapi apakah setiap orang yang mengharap pengorbanan kita itu benar-benar kawan? Jika sang kawan itu menuntut pengorbanan iman dan menanggalkan keyakinan, sesungguhnya dia bukanlah kawan, tetapi lawan. Karena yang dianggap kawan itu justru menjerumuskan kita kepada kesengsaraan dan penyesalan. Seperti apa yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an, ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. (QS. Al-Furqan: 28-29)

Imam Ath Thabary rahimahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang kondisi orang yang menzalimi diri sendiri dan menyekutukan Rabbnya, kelak di hadapan-Nya dia sangat menyesal atas apa yang ia lakukan semasa di dunia. Dan ia juga mencela dirinya, menyalahkan dirinya karena telah mematuhi teman-teman akrabnya yang telah menyesatkannya dari jalan Allah. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang telah murtad setelah ia masuk Islam karena mengharapkan keridhoan teman akrabnya Ubay bin Khalaf. Yakni ketika Uqbah duduk di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mendengarkan ucapan beliau, lalu Ubay bin Khalaf memakinya dan dia terus memaki Uqbah, hingga akhirnya dia pun murtad dari Islam untuk menghindar dari cacian Ubay bin Khalaf, ia lebih condong kepada apa yang diinginkan kawannya daripada apa yang dikehendaki oleh Allah.

Disangka Kawan

Ayat ini tak hanya berlaku khusus bagi Uqbah dan Ubay, namun bagi siapapun yang menjalin persahabatan dengan temannya, hingga ke tingkat akrab yang dapat memberikan pengaruh dalam sikap dan perilakunya, bahkan mengorbankan keimanannya demi keinginan kawannya. Maka hakikatnya yang dianggap kawan itu adalah lawan. Karena pengorbanan terhadapnya demi mendapatkan ridhanya tak berbuah selain sengsara. Pun kawan yang menjerumuskan itu tak mampu menolongnya dari siksa. Seperti setan yang membujuk manusia untuk kufur lalu tidak mau bertanggung jawab terhadap akibatnya.

Baca Juga: Teman Beda Agama 

“Seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kair, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. al-Hasyr: 16).

Ada lagi yang mengatakan, bahwa kawan adalah yang membersamaimu dalam suka dan duka; senang ketika kamu senang, menghiburmu di saat susah. Namun apakah setiap orang yang berperilaku kepada kita sedemikian rupa benar-benar menjadi kawan sejati? Tidak, bahkan sebagiannya adalah musuh. Jika ia senang melihatmu terjerumus dalam kesenangan yang mengandung dosa, maka sejatinya dia adalah musuh dan bukan kawan. Rasa senang yang ditampakkannya akan semakin membuatmu semakin semangat dalam bermaksiat. Makin percaya bahwa apa yang andai peroleh itu sah-sah saja, bahkan utama. Padahal itu adalah perkara yang mengandung dosa. Seperti ucapan selamat kepada teman yang memiliki pacar baru, atau kepada rekan yang ‘sukses’ dengan bisnis riba atau pendapatan haram yang lain. Atau seperti turut kegirangan saat kawannya memenangkan suatu perjudian. Termasuk juga ketika kawannya berhasil menyakiti orang lain secara zhalim.

Terlebih jika ia turut mendukung dan membantu mewujudkan suatu keinginan yang bertentangan dengan syariat, maka ini termasuk praktik ta’aawun ‘alal itsmi wal ‘udwan, bersekongkol dalam dosa dan permusuhan yang jelas dilarang oleh Allah.

Ternyata adalah Lawan

Tidak setiap orang yang mendukungmu untuk meraih keinginanmu itu layak dijadikan kawan. Sebagian bahkan layak untuk disebut sebagai musuh atau lawan. Pada saat terlintas keinginan pada kesenangan nisbi yang mematikan hati, yang diperlukan saat itu adalah teman yang bias ‘ngerem’ dan menyadarkan kekhilaanmu. Tapi jika yang hadir itu justru mendorongmu untuk terus maju, maka sebenarnya dia adalah musuhmu. Seperti Haman di sisi Fir’aun, seorang teknolog yang mewujudkan keinginan-keinginan Fir’aun untuk berlaku sewenang-wenang dan ingkar kepada Allah, maka hakikatnya Haman itu adalah musuh bagi Fir’aun, karena menjadi sebab Fir’aun terus dengan tindakannya yang melampaui batas.

Sama saja dengan para penguasa dari zaman ke zaman, ketika kesewenangan dan kekafirannya disahkan dan didukung oleh para tokoh dan bawahannya, maka sebenarnya mereka itu menjadi musuh satu sama lain yang saling menjerumuskan kepada kebinasaan dan kesengsaraan.

Baca Juga: Berteman Dengan Orang-Orang Shalih

Maka tidak setiap orang yang mendukungmu itu bisa dianggap sebagai kawan. Bahkan Iblis pun berlagak empati lalu memberi ‘nasihat’ dan dukungan kepada Adam alaihissalam. Iblis tahu, betapa Adam ingin terus hidup di surga sebagaimana Iblis juga tahu betapa penasarannya Adam terhadap pohon yang dilarang oleh Allah meski sekedar didekati, apalagi untuk dinikmati. Melihat celah itu, mulailah Iblis beraksi. Ia melakukan ‘cuci otak’ terhadap Adam dengan hembusan yang memperdayakan, yang seakan dia berada di pihak Adam. Iblis sebut pohon larangan itu sebagai syajaratul khuldi, pohon kekekalan. Ini seperti yang Allah kisahkan,

“Kemudian setan membisikan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa” (QS. Thaha: 120)

Iblis juga meyakinkan bahwa ia berada di pihak Adam dan bahwa dirinya sebagai kawan hanya bisa menasihati,

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” (QS al-A’raf: 21)
Lalu merasuklah racun pemikiran itu di benak Adam, ia pun tersihir oleh kata-kata Iblis dan menganggap Iblis berada di pihaknya, ingin dirinya tetap berada di dalam surga, hingga kemudian Adam melakukan usulan Iblis yang berbuah penyesalan tiada tara. Maka jelaslah akhirnya, bahwa Iblis adalah musuh yang nyata bagi Adam dan keturunannya.

Sekarang Kawan Nanti Menjadi Lawan

Tanpa kita harus berlaku su’uzhan kepada orang di sekitar kita, tapi hendaknya kita tetap waspada siapa orang-orang yang berada dekat dengan kita. Jangan sampai kecolongan menjadikan orang yang menjerumuskan kita kepada dosa sebagai kawan. Apalah artinya keakraban di dunia jika nantinya menjadi musuh yang akan saling mencela dan menyakiti di akhirat. Apalah artinya senang bersama di dunia jika berakhir dengan penderitaan neraka selamanya.  

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf: 67)

Syeikh as-Sa’di dalam tafsirnya Taisir al-Kariimir Rahman menjelaskan bahwa jika kasih sayang dalam persahabatan yang kita jalin dengan teman kita bukan didasari karena Allah, maka kelak hal itu akan berbalik menjadi permusuhan di hari kiamat. Apalagi jika teman kita itu mengajak dan menjerumuskan kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang dimurkai oleh Allah seperti kesyirikan dan kemaksiatan, maka bisa dipastikan dia akan menjadi musuh yang nyata bagi kita di hari kiamat.

Adapun Imam al-Baghawi dalam Tasir al-Baghawi menyebutkan bahwa kelak orang-orang yang berteman di atas kemaksiatan dan kesesatan akan berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya si fulan dahulu mencegahku untuk berbuat taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan ia (justru) menyuruhku untuk berbuat dosa dan melarangku dari berbuat kebaikan. Dia juga mengabarkan kepadaku bahwa kelak aku tidak akan pernah bertemu dengan-Mu. Lalu ia berkata, “Alangkah ia seburuk-buruk saudara, sejahat-jahat sahabat dan sejelek-jelek teman.”

Maka jangan salah memilih kawan jika tak ingin berbuah penyesalan (Abu Umar Abdillah/Pertemanan/Muthalaah

 

Tema Terkait: Pertemanan, Keimanan, Muthalaah

Pentingnya Akidah Islam Dalam Membendung Fitnah Wanita

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menguji hamba-Nya dengan beberapa fitnah. Tidak lain tujuannya adalah agar terpiih siapa diantara mereka yang paling bagus amalan dan keimanannya.

Fitnah maknanya adalah segala bentuk cobaan bagi manusia yang menyebabkan manusia berpaling dan menjauh dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun varian dan bentuknya sangat banyak, dianataranya adalah fitnah harta benda, fitnah wanita, tahta dan lain sebagainya.

Rasulullah senantiasa memohon kepada Allah agar dihindarkan dari keburukan fitnah. Beliau mewanti kepada umatnya marabahaya yang ditimbulkan fitnah-fitnah tersebut. bilamana ia terjerembab dalam fitnah tersebut, di dunia ia akan tersesat dan kehilangan jalan hidup, sedangkan di neraka ia akan ditimpa dengan beratnya hisab dan adzab Allah yang sangat pedih.

Nabi bersabda,

“Sesungguhnya kalian akan merasakan berbagai fitnah, maka berlindungan kalian kepada Allah.”

Di antara fitnah yang paling berbahaya adalah fitnah yang ditimbulkan oleh wanita.

Baca Juga: Hukum Jihad Bagi Wanita

Allah memberikan fitrah kepada manusia (laki-laki) dengan kecintaannya kepada wanita, anak-anak dan harta benda, sebagaimana Allah berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. ali-Imron:14)

Islam menetapkan batasan bagaimana berhubungan dengan wanita, bagaimana menyalurkan kecintaannya kepada wanita. Siapa yang sesuai dengan ketetapan ini, ia akan terhidar dari fitnahnya dan siapa yang mengabaikan ketetapan ini, ia akan terjerumus dalam fitnah.

Fitnah yang ditimbulakn wanita banyak macamnya, diantaranya sebagai berikut,

1.Kecintaan yang haram, yaitu cinta yang berlebihan dan melewati batas.

2.Melihat wanita yang bukan mahram.

3.Perbuatan terlarang yang dilakukan kepada wanita ajnabi (bukan mahram), seperti; zina, memegang dan berbicara secara langsung.

4.Melewati batas syar’I dalam mencintai istri.

5.Melihat aurat wanita dalam alat komunikasi maupun media sosial dan beralasan bahwa hal tersebut hanyalah gambar bukan wanita sebenarnya.

6.Tidak menunaikan hak istri, anak-anak dan kerabat perempuan.

Fitnah bagi para lelaki banyak macamnya, dan fitnah wanita inilah yang paling berbahaya, sebagaimana Nabi bersabda,

“ما تركتُ بعدي في النَّاس فِتنة أضرّ على الرجال مِن النِّساء.”

“Tidak aku tinggalkan fitnah kepada manusia yang paling berbahaya kepada para lelaki melainkan fitnah wanita.“ (Muttafaq ‘alaih)

Kebanyakan orang masuk neraka karena wanita. Suatu ketika Nabi ditanya, “Apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka?” beliau bersabda, “dikarenakan dua lobang, yaitu mulut dan kemaluan.” Disebabkan karena fitnah wanita, banyak orang yang terjerumus kedalam perbuatan zina.

Beberapa perbuatan wanita yang mengundang fitnah pada hari ini diantaranya:

1.Tabaruj, para wanita melepas hijabnya dan memperlihatkan beberapa lekukan tubuhnya.

2.Ikhtilat, antara wanita dan laki-laki bercampur dan dianggap lumrah. Siapa yang tidak mau bercampur dianggap kuno dan ketinggalan jaman.

3.Berlebihan dalam berhias, dengan mengenakan berbagai macam make up dan penghias mata, rambut, high heel dan lain sebagainya.

4.Memposting gambar dan menyebarkannya, banyak wanita yang sengaja memajang foto-fotonya di media sosial.

5.Video wanita di berbagai media komunikasi, yang menampilkan gerakan dan mengumbar suara.

Dan masih banyak fitnah yang didendangkan wanita untuk menggoda manusia.

Peran akidah dalam membendung fitnah wanita

1.Peran Iman kepada Allah Azza wa Jalla

 Keimanan dan kecintaan kepada Allah ta’ala akan membuat seseorang mecintai apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Bagi seorang wanita yang beriman,ia akan beriltizam mengenakan hijab sebagai tanda keimanannya kepada Allah dan kecintaan pada-Nya. Sebagaimana seorang mukmin yang laki-laki dan wanita akan senantiasa  menundukkan pandangan mereka lantaran iman sebagaimana Allah bersabda,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” (QS. an-Nur; 30-31)

Disamping itu, dengan rasa khasyah seseorang kepada Allah, akan membuatnya takut akan azab Allah dan menjauhi segala hal menyebabkan murka Allah.

2.Peran Iman kepada Rasulullah SAW

Iman kepada Nabi Muhammad adalah salah satu cara membendung diri dari fitnah ini. Beriman kepadanya mencangkup; percaya kepada apa yang beliau sampaikan, mengikuti risalah beiau dan menjadikan beliau tauladan dalam hidup.

Rasulullah memperingatkan kaum muslimin dari fitnah wanita dan memerintahan umatnya untuk menghindari apa saja yang menggiring seseorang terkena fitnah wanita.

Baca Juga: Agar Iman Tak Goyah di Zaman Fitnah

Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah beliau berkata, “suatu ketika saat Nabi duduk di masjid, ada seorang perempuan dari Muzainah masuk dengan menjulurkan perhiasannya di masjid. Lalu Nabi bersabda, “Wahai para manusia, laranglah wanita-wanita kalian memakai perhiasan dan menyombongkan diri di masjid, karena sesungguhnya Bani Israil tidak melarang wanita-wanita mereka berhias dan menyombongkan diri saat ke majid.” (HR. Ibnu Majah: 1326/2)

Selain dengan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, fitnah bisa dibendung dengan akal pikiran yang sehat. Ketika nafsu syahwat membuncah, pakailah akal untuk berfikir bahwa tidak ada seorangpun yang menghendaki istrinya, anak-anaknya dan kerabatnya untuk dijadikan pelampiasan, sebagaimana hadits dari Abi Umamah ketika ada seorang yang ijin kepada Nabi untuk berzina. 

Demikian peran akidah dalam membendung fitnah yang ditimbulkan oleh wanita. Semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan dan menampakkan kepada kita yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Aamiin

(arrisalah/al-Akidah al-Islamiyah wa atsaruha fin najati minal fitan al-mu’ashirah/Akidah)

 

Tema Terkait: Akidah, Wanita, Fitnah 

Khilafah & Syari’ah Islam

Saat revolusi IT dan dunia informasi mulai terasa pengaruhnya, penulis membayangkan, transparansi informasi dan obyektivitas data akan mengalami perubahan menuju ke arah yang lebih jujur dan makin menjauh dari kebohongan. Harapan itu bertumpu pada dirambahnya hampir seluruh sudut bumi oleh jangkauan informasi dan pemberitaan dengan kecepatan live, hampir tidak ada delay antara kejadian dengan sampainya informasi. Ketika kemudian muncul informasi dengan genre hoax, penulis menyadari, obyektivitas dan transparansi tidak bertumpu pada jangkauan, akurasi dan kecepatan transmisi alat, tetapi kepada sikap mental operator alat dan sarana.

Di alam demokrasi, penyebaran gagasan dan ide merupakan perkara esensial asas tempat berpijak paham demokrasi, dan hal itu dilindungi dengan regulasi. Seharusnya itu menjadi lahan subur mendidik masyarakat untuk lebih bersikap akademik, membuka pikiran untuk menerima pendapat yang berbeda. Jauh dari ekspektasi itu, ternyata ketika gagasan yang diperkenalkan kepada masyarakat berbeda dengan platform yang dipegangi oleh penguasa, sementara gagasan itu mendapatkan respon positif dari masyarakat, pemikiran berkembang dan diterima, penguasa cenderung menggunakan abuse of power, menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memberangus pemikiran. Suatu tindakan yang bertentangan dengan sendi dasar ajaran demokrasi yang mereka pegangi.

Fakta Historis Khilafah

Syari’at Islam dan Khilafah merupakan discourse akademik yang terbuka untuk didekati dengan studi sejarah. Jika dilakukan studi sejarah secara obyektif, siapa pun tidak akan kesulitan untuk menemukan fakta-fakta ilmiah mengenai eksistensi dan peran institusi khilafah dalam meng-implementasikan syari’at Islam di tengah umat Islam. Adapun fakta bahwa kualitas penerapan prinsip-prinsip tersebut dari waktu ke waktu fluktuatif, hal itu juga tidak bisa diingkari. Sebab, meskipun khilafah dan syari’at Islam merupakan ajaran yang bersumber dari Al-Qur’aan dan As-Sunnah, akan tetapi pelaksanaannya merupakan hasil ijtihad manusia yang tidak terlindungi dari kemungkinan salah, pelaksananya bukan Nabi, tidak ma’shum. Tetapi pernyataan bahwa khilafah tidak pernah ada dan utopis seperti yang banyak dikatakan oleh para politisi dan penyelenggara pemerintahan dari kalangan orang Islam, merupakan pernyataan ahistoris dan berpotensi menjadi intelectual abuse.

Bagaimana tidak, para sejarawan muslim maupun non-muslim mencatat Khilafah Rasyidah setelah Rasulullah hingga 30 tahun setelah beliau wafat, kemudian Bani Umayyah, Bani ‘Abbasiyah, dll. Khilafah ‘Utsmaniyah yang mengalahkan dominasi Romawi Timur bukanlah kabar bohong, kota Konstantinopel berganti nama menjadi Islambul, yang kemudian dikenal dengan Istanbul, pemerintahannya berdiri lebih dari 500 tahun. Bahwa implementasi syari’at Islam di dalamnya mengalami pasang-surut, hal itu tidak kemudian menafikan eksistensinya. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada sistem yang lain, bahkan lebih buruk.

Tersebarnya Islam di negara dengan penduduk muslim terbesar ini juga tidak lepas dari peran kekhalifahan tersebut dari waktu ke waktu dalam mengirim para ulama sebagai delegasi du’aat. Spirit, keberanian dan pengorbanan untuk melawan penjajah Portugis, Inggris, Belanda maupun Jepang tidak mungkin dilepaskan dari peran para ulama yang terus menerus menginspirasi dan memimpin umat. Sulit dibayangkan para pemeluk Nashrani (misalnya) akan melawan penjajah tersebut, sedang mereka memeluk agama tersebut karena terkena ajakan ‘dakwah’ mereka. Kesultanan Aceh dalam menghadapi Portugis di Malaka juga melibatkan para penembak meriam dari Turki Utsmaniy (1567), dibantu oleh kerajaan Demak dan Calicut (India). Ini merupakan peran nyata Khilafah pada zamannya.

Baca Juga: Memaknai Islam Sebagai Rahmatan lil ‘alamin

Para Wali lokal seperti Sunan Kalijaga yang dipuji dan dibanggakan oleh penduduk muslim di tanah Jawa maupun Indonesia pada umumnya tidak lahir langsung pintar, tetapi hasil dakwah dan didikan para ulama delegasi kekhalifahan tersebut. Prestasi keulamaan global seperti Imam Nawawi al-Jawiy al-Bantaniy yang menjadi Imam Masjid al-Haram (kakek buyut KH Ma’ruf Amin), yang juga merupakan ulama’ penulis yang sangat produktif pada zamannya, tidak dapat dilepaskan dari peran para pendakwah sebelumnya. Beliau masih keturunan Syarif Hidayatullah yang menginisiasi banyak perlawanan jihad menghadapi Portugis hingga kolonialisme Belanda, merebut dan mengalahkan Portugis dari Sunda Kelapa dan mengganti namanya dengan Jayakarta (Jakarta).

Semua itu merupakan fakta sejarah tidak terbantahkan. Menafikan peran Khilafah, merupakan tindakan ‘bunuh diri sejarah’. Islam dan umat Islam Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari peran Khilafah Islamiyah pada zamannya. Apakah mereka membanggakan para sesepuh dalam melahirkan nation state Indonesia, sementara mereka memotong sejarah nenek moyang mereka yang lebih jauh, yang tersambung langsung dengan kekhalifahan dan para Khalifah/Sultan.

Nubuwah Nabi tentang Khilafah di Atas Sistem Kenabian

Mengenai nubuwah Nabi tentang akan kembalinya khilafah ‘ala manhaj an-nubuwwah di akhir zaman, ketum PKB dalam acara ‘Menangkal yang Radikal’-nya Metro TV, Rabu malam 24/5/2017 menyatakan bahwa hadits tentang adanya Khilafah di akhir zaman, merupakan hadits dlo’if yang tidak dapat dijadikan argumentasi. Pernyataan tersebut melampaui kapasitas dirinya sebagai politisi dan memasuki wilayah yang bukan otoritasnya, apalagi tanpa menyertakan sumber rujukan yang mendasari statement-nya. Padahal pakar hadits modern Syaikh Nashiruddin al-Albaniy dalam kitab beliau As-Silsilah ash-Shohihah mengatakan bahwa hadits tentang Al-Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah merupakan hadits shahih.

Pernyataan itu juga menyalahi kultur basis konstituen partainya yang menghargai ulama’ serta meyakini kuat terhadap nubuwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya politisi tersebut juga telah membuat blunder dukungan kepada calon pemimpin non-muslim dalam kasus pilkada DKI.

Khatimah

Kita tidak menafikan bahwa perdebatan tentang Khilafah pada hari ini diwarnai oleh banyak hal yang membuat sebagian besar publik kehilangan jejak dan obyektivitas. Munculnya kelompok Islamic State di Iraq dan simpatisannya di semua tempat, seruan Hizbut Tahrir untuk kembali kepada Khilafah menurut konsepnya, serangan-serangan bersenjata dan pemboman baik lokal maupun global dengan mengatasnamakan Khilafah turut mempengaruhi suasana perbincangan tentang khilafah ini.

Baca Juga: Khilafah Rasyidah Mahdiyah

Beragam metode untuk kembali memunculkan khilafah seperti yang dilakukan beberapa golongan, seharusnya tidak menjadikan pembahasan ilmiah tentang Khilafah kehilangan obyektivitas-nya. Sebab boleh jadi kemunculannya tidak seperti yang diteorikan oleh HT, atau jalan penuh kekerasan yang ditawarkan Al-Adnaniy, tetapi juga tidak seperti yang dikehendaki oleh Demokrasi. Sistem demokrasi selalu berbuat curang tatkala Khilafah atau syari’at Islam menempuh jalur konstitusional seperti pengalaman di Aljazair pada era 90-an, maupun Mesir dengan terpilihnya Muhammad Mursi sebagai presiden. (Redaksi/Fikrah/Juli 2017)

 

Tema Terkait: Rahmatan lil ‘alamin, Khilafah, Akidah

Imannya Samar, Kemudian Pudar

Tampaknya masih musyrik padahal sudah bersyahadat dan masuk Islam, itulah keadaan sebagian sahabat di awal periode Makkah. Menyembunyikan keislaman di awal dakwah perlu dilakukan untuk menyelamatkan jiwa dan bahkan sebagai taktik untuk mengendus makar-makar musuh Islam, sehingga bisa menyelamatkan muslim yang lain. Salah satu contohnya adalah keislaman Nu’aim bin Abdillah.

Ketika cahaya hidayah Islam belum masuk dalam kalbu Umar, ia pernah keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah (yang menyembunyikan keislamannya).

Setelah mengkorek informasi dari Umar, maka sahabat Nu’aim memberitakan suatu kabar yang mengakibatkan Umar membatalkan niatnya untuk membunuh Rasulullah. Bahkan kisahnya berakhir dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab radhiallahu’anhu.

Di Madinah keadaan berubah tidak seperti di Makkah, setelah perang Badar ada sebagian yang menampakkan Islam, namun sejatinya mereka masih dalam kekafiran, mereka menyembunyikan kekafirannya di hadapan kaum muslimin supaya mendapatkan keamanan dan keuntungan dunia semata. Ketika bertemu dengan teman kafirnya maka mereka menerangkan jati diri mereka yang sebenarnya, dan bekerjasama dengan orang-orang kafir untuk melawan Islam. Itulah kemunafikan.

Yang Takut Terjangkiti Kemunafikan Itulah Mukmin

Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.”

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

Ketika seorang mukmin takut dari sifat-sifat kemunafikan maka ia akan menjauh dari perbuatan tersebut, sebaliknya orang yang tidak khawatir menjadi munafik akan mudah untuk mengamalkan perbuatan kemunafikan, sehingga ketika nifak amal itu terus dilakukan menghantarkannya kepada nifak i’tiqadi (nifak akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam).

Muslim berusaha untuk tidak dusta dengan perkataannya, tidak menyebarkan hoax. Bila diberi amanah maka berupaya menunaikannya dan tidak mengkhianati amanah tersebut, beramar ma’aruf nahi mungkar serta tidak membuat makar, menunaikan janji dan bila ada perselisihan maka tidak berlaku curang dan tidak menempuh segala cara untuk menang.

Terang Terangan Beramal Kemunafikan Dekat Dengan Kekafiran

lihatlah Hari ini, ada yang mengaku Islam namun fasih menolak Syari’at Islam berlaku di bumi Nusantara, bahkan dengan lancangnya ia mengatakan kalimat kekafiran yang sangat jelas “diatas hukum agama dan adat ada konstitusi negara.”

Ada yang sangat dekat dengan orang kafir bahkan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan meninggalkan orang Islam, padahal sudah sangat jelas, hanya orang munafiklah yang mengangkat pemimpin kafir dan meninggalkan orang-orang Mukmin.

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (An Nisa: 138-139)

Ada pula diantara mereka yang dekat dengan orang orang atheis komunis, musyrik dan ahlu kitab (yahudi dan nasrani) menjalin hubungan kerjasama, dengan dalih kemaslahatan umat dan meninggalkan bekerjasama dengan pemimpin yang muslim, padahal kita sudah tahu sesatnya aqidah orang musyrik dan ahlul kitab dan ketidak ridhaan mereka terhadap keimanan serta liciknya mereka menguasai sumber daya alam Nusantara.

Memang begitulah arwah diciptakan oleh Allah, yang setipe akan berkumpul dan bersama sama, yang tidak memiliki kesamaan sifat akan bepisah dan menjauh serta tidak mau besatu. Orang mukmin tidak mungkin bersatu dengan orang kafir, dan orang munafik sukanya bersama dengan orang kafir, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-orang munafik beramar mungkar dan bernahi ma’ruf, kemaksiatan dan kebatilan dibela sedangkan amal shaleh dan al haq di benci dan ditentang. Ulama yang berdakwah dengan haq dikriminalkan, sedang orang kafir nyata melakukan kesalahan dan senantiasa meruntukan bangunan keimanan malah dibela. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh kepada yang munkar dan melarang berbuat yang ma´ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (tidak suka berinfak fisabilillah dan tidak berlaku ihsan). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 67)

Meski sisi kesesatannya berbeda, yang satu liberal yang satu syi’ah, mereka sepakat untuk memilih pemimpin kafir dan menentang penafsiran yang benar dengan tafsir batil mereka.

Orang kafir jelas menjadi musuh bagi Islam secara terang terangan, namun orang munafik juga musuh (yang sebenarnya ), waspadalah terhadap mereka (QS. Al Munafikun: 4). Allah memerintahkan kepada Nabi untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik, bersikap keras terhadap mereka (At Taubah: 73), dan berjihad melawan orang munafik adalah dengan hujjah, mengekang dan menghukum mereka serta bersikap keras dan tegas. Qotalahumullah anna yu’fakun, semoga Allah membinasakan mereka, bagaimanakah mungkin mereka berpaling dari petunjuk kepada kesesatan. Nasalullahal aafiyah was salaamah minan nifaaq.

 

 

 

Menikam Keimanan!

Umat Islam, merupakan jumlah mayoritas di negeri ini. Juga merupakan jumlah terbesar bagi hitungan pemeluk Islam di suatu negara. Mereka meyakini dasar-dasar keimanan yang enam, termasuk di dalamnya keyakinan (keimanan) kepada hari akhir dengan segala ahwal-nya sebagaimana diberitakan oleh Allah melalui rasul-Nya, baik yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an maupun yang dijelaskan di dalam hadits Nabi shallalLahu ‘alayhi wa sallam. Keyakinan umat Islam terhadap hari akherat merupakan sendi keimanan yang telah mapan dan tidak ada yang mempersoalkan perkara tersebut.

Di tengah situasi sosial-politik di masyarakat begitu sensitif, suhu politik memanas dan sering terjadi benturan, baik dipicu tekanan ekonomi, polarisasi gesekan di tingkat elit politik, atau dipantik oleh semangat dan pemahaman agama (yang dianggap ekstrem dan sektarian). Keadaan itu membuat sebagaian elit politik  masygul, yang kemudian di-artikulasikan oleh Ketum PDIP Megawati pada peringatan hari ulang tahun PDIP ke 44. Isi dari pidato politik tersebut secara umum merupakan pandangan politik PDIP yang diwakili ketuanya, yang tentu saja ‘debatable’ di kalangan politikus.

Celakanya ada dictum pidato yang kebablasan,… “Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya”. Kalimat tersebut diikuti oleh applaus dari para hadirin (tidak diketahui apa arti tepuk tangan gemuruh tersebut).

Megawati membaca teks pidato, dia berposisi sebagai artikulator. Statement itu, di satu sisi dapat diasumsikan bahwa suara tersebut mewakili sikap elit politik PDIP, di sisi lain Megawati tidak bisa dikatakan tidak bertanggung jawab terhadap statement yang dibacakannya. Pidato politik di moment politis HUT partai, tentu memiliki implikasi luas. Pilihan ‘mimbar’ untuk menyampaikan statement tersebut tentu bukan accident, tetapi by design. Pilihan tempat, waktu dan perhelatan politik, dimana, kapan dan siapa yang menyampaikan pernyataan tersebut telah dipilih secara matang. Hanya apatisme atau hiprokritme yang menganggap statement itu sebagai pidato biasa dan hanya ‘bunga’ kata-kata. Sebagai mantan presiden dan menduduki posisi sebagai ketum parpol pemenang pemilu legislatif, yang ‘petugas partai’-nya berhasil menduduki kursi kepresidenan, di tengah sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka pidato itu ‘menempati’ posisinya.

Tikaman pada Sendi Dasar Keimanan

Rukun iman merupakan perkara yang disepakati oleh umat Islam. Rukun tersebut dalam bentuk sistematika secara urut disebutkan di dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Umar bin Khaththab, yakni ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi dalam bentuk manusia yang menanyakan kepada beliau tentang apa itu Islam, Iman dan Ihsan, ditutup dengan pertanyaan beliau tentang ‘asyrotus-saa’ah’ (tanda-tanda hari Qiyamat). Keenam rukun itu dijelaskan secara bertebaran dalam ayat maupun hadits Nabi secara terpisah-pisah di banyak kejadian dan kasus-kasus, maupun dalam bentuk arahan dan tarbiyah. Tidak ada yang boleh dikurangi dari ke-enam rukun tersebut dalam keimanan, penafian atau penolakan terhadap salah satu dari kekomplitannya, ber-implikasi rusak dan ditolaknya keimanan secara total.

Namun demikian, penyebutannya di dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi kadang-kadang hanya diambil unsur terbesar yang dipandang telah mewakili keseluruhannya,… yakni beriman kepada Alloh dan hari akhir. Di dalam al-Qur’an lebih dari 20 ayat yang menyebutkan iman kepada Allah dan hari akhir sebagai satu rangkaian. Mengapa? Ya,.. karena rukun iman yang lain adalah merupakan konsekuensi logis. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, konsekuensinya harus mempercayai malaikat-malaikat yang Allah mendelegasikan pengurusan urusan tertentu kepada malaikat-Nya. Dia juga harus beriman kepada kitab yang diturunkan-Nya untuk mengatur urusan hamba-Nya, beriman kepada para Nabi yang diutus-Nya, dan beriman kepada taqdir (ketetapan)-Nya; baik maupun buruk. Iman kepada Allah saja, tanpa diikuti iman kepada hari akhir, termasuk rinciannya semisal iman kepada yaum al-mahsyar, haudh, hisab, mizan, shirath, jannah dan naar, tidak ada artinya.

Iman kepada semua rincian dari keimanan kepada hari akhir itu, terkait dengan jazaa’ (balasan pahala) dan ‘iqob (hukuman). Ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, yang di-implementasikan dalam bentuk ketundukan kepada aturan dalam kitab suci dan penjelasannya dalam sunnah Nabi, juga tidak bersikap fatalistik menyerah kepada takdir dan meninggalkan ‘amal, menjadi termotivasi dengan keberadaan malaikat yang mencatat, menyertai, menolong, ikut berjihad, memohonkan ampunan dan mendoakan orang-orang yang beriman, selalu terkait dengan jazaa’ dan ‘iqob tadi.

Deklarasi Kekafiran

Pidato itu menempatkan penyusunnya, yang mengartikulasikannya, dan mereka yang menyetujuinya, berada pada salah satu diantara dua posisi, pertama kufur syakk, kedua kufur juhud, (mengingkari rukun iman tersebab ragu-ragu, atau mengingkarinya karena memang menolak). Masalahnya yang diingkari dan atau diragui adalah sendi dasar keimanan, yang apabila hanya disebut 2 (dua) itu saja, yakni ‘Iman kepada Allah dan Hari Akhir’, maka sudah tercakup didalamnya keimanan kepada malaikat, kitab-kitab suci, para rasul dan taqdir baik-buruk. Untuk perkara se-dloruriy itu, tidak ada toleransi untuk tidak mengerti.

Jika Megawati ragu-ragu terhadap kehidupan sesudah dunia fana, dan tidak yakin kepada informasinya lantaran pembawa berita toh belum pernah ke akherat, maka kemungkinannya ada 3 (tiga) ; tidak percaya ayat-ayat Allah yang mengabarkan hal itu (ingkar kepada kitab suci), tidak percaya kepada Nabi yang menjadi utusan (ingkar kepada rasul), atau (yang paling ringan) tidak percaya kepada da’i/muballigh yang menyampaikan pengajaran hal itu. Apa yang diragukan itu termasuk perkara yang dikategorikan ma’luum min ad-dien bi adl-dloruuroh, karenanya keraguan terhadapnya termasuk kufur akbar.

Napak Tilas

Tentang penolakan dan keraguan seperti itu sudah diberitakan dalam ayat-Nya, “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akherat tidak sampai, bahkan mereka ragu-ragu tentang akherat itu, bahkan mereka buta akan hal itu. Berkatalah orang-orang kafir itu, “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita, apakah benar-benar kita akan dibangkitkan dari kubur? Sesungguhnya kami telah diancam dengan hal ini, begitu pula bapak-bapak kami dahulu, tidak lain hal ini hanyalah dongengan orang-orang terdahulu”. [An-Naml : 66-68]. Orang-orang musyrik pada masa diturunkannya Al-Qur’aan juga ragu terhadap kebenarannya,…”Mengapa diturunkan adz-Dzikr (yakni Al-Qur’aan) kepadanya (RasululLah) diantara kita?” Bahkan mereka meragukan peringatan-Ku (Al-Qur’aan), dan (sebabnya) karena mereka belum merasakan adzab-Ku. [Shaad : 8].

Sama dan sebangun,…mereka ragu kepada Al-Qur’aan, karena belum ‘nengok’ akherat, sehingga merasakan adzab Allah. Dan sekiranya mereka telah sampai ke akherat pasti mereka percaya, tetapi telah terlambat. Jika untuk mempercayai akherat dengan kenikmatan jannah dan pedihnya naar, mesti masuk untuk ‘menengok dulu’ baru kembali kedunia dan menjalani hidup dengan penuh keimanan, maka hilanglah hikmah penciptaan alam semesta oleh Allah, dan hilang pula hakekat hidup sebagai ujian untuk mengetahui siapa yang beriman dan siapa yang kufur.

Hendaknya setiap orang yang beriman mengidentifikasi dirinya dimana dia berdiri dan bersama siapa, agar tidak menyesal nantinya. Dan kepada yang tetap dalam keraguan terhadap berita Al-Qur’aan tentang apa yang terjadi setelah dunia fana,… qooluu : “salaaman”.

Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Zaman ini adalah zaman fitnah. Zaman yang penuh ujian bagi hati dan pikiran. Ada beragam jenis fitnah siap mengombang-ambingkan manusia dalam kebingungan.

Apa itu fitnah? Fitnah dalam bahasa Arab memiliki makna bala’ dan ujian. Ujian bagi hati dan pikiran. Fitnah bagi hati, wujudnya adalah fenomena-fenomena yang menguji kekuatan iman dan ketakwaan. Saking banyaknya, serasa hampir mustahil bisa mempertahankan iman tetap utuh dari hari ke hari. Pasti akan ada hari di mana iman kita sedikit tergores, tergerus atau bahkan hampir terampas dari hati.

Ambil contoh, fitnah berupa makin mudahnya wanita dan lelaki yang mengumbar aurat. Ibarat memalingkan muka dari aurat di depan mata, mata kita akan tetap terbentur pada aurat lain saat menghadap ke belakang. Beberapa masa yang lalu, yang hidup di pedesaan masih bisa selamat dari hal ini. Tidak seperti orang kota yang menyaksikannya saban hari. Akan tetapi, lihatlah, hari ini orang desa sudah mengikuti orang kota, bukan pekerjaannya, tapi cara mengumbar auratnya.

Fitnah minuman keras. Mendapatkan minuman keras bukanlah hal sulit. Beberapa waktu lalu, minuman keras bahkan disediakan di swalayan-swalayan kecil. Tidak sulit pula mendapatkannya di diskotek, klub malam atau tempat-tempat hiburan lain. Parahnya lagi, tempat-tempat tersebut justru seringkali dilindungi oknum aparat. Akibatnya, saat ada sebagian kaum muslimin yang melakukan amar makruf nahi mungkar justru merekalah yang ditangkap sementara penjual miras dibiarkan bebas.

Belum lagi jika fitnah berupa makin merajalelanya homoseksual, lesbian dan penyakit-penyakit seksual lain yang hari ini justru minta diakui. Maraknya transaksi ribawi yang sangat menggiurkan, mudahnya melakukan penipuan dalam jual beli karena hari ini jual beli dilakukan secara online dan fitnah-fitnah penguji iman yang lain.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Fitnah yang tak kalah berbahaya adalah fitnah yang menguji pikiran. Menguji kecerdasan sekaligus kebijaksanaan kita sebagai muslim. Fitnah yang mengharuskan kita lebih jeli dan teliti sebelum bertindak. Mengapa? Karena jika kita salah dalam bertindak, bukan hanya kita yang bisa terkena akibatnya tapi juga saudara-saudara muslim kita.
Salah satu contoh fitnah ini adalah makin banyaknya penyebaran berita bohong. Orang jaman sekarang menyebutnya hoax. Hoax adalah berita dusta yang disebar melalui berbagai media; facebook atau whatsapp, situs internet dan juga televisi.

Sebagian besarnya adalah berita-berita bohong tapi heboh yang menarik untuk disebarkan dan sebagian lain adalah berita nyata tapi dibesar-besarkan. Hoax dan berita-berita tidak jujur semacam ini berseliweran setiap waktu di handphone, komputer dan media berita lainnya. Hoax berbahaya karena isinya mampu menyesatkan pikiran, memprovokasi tindakan negatif, adu domba atau menjatuhkan nama baik orang lain.

Berita-berita hoak semacam ini menjadikan kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita juga sulit membedakan mana yang jujur dan mana yang dusta. Fenomena ini persis seperti yang disampaikan Nabi Muhammad ribuan tahun silam,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Shahih)

Bayangkan, satu berita hoak bisa membuat kita memilih pemimpin yang salah, membenci orang yang baik, memusuhi seorang ulama, ikut-ikutan memfitnah dan membenci kaum muslimin, ikut memihak para penjahat dan membenci pembela kebenaran, merasa khawatir atau takut berlebihan dan lain sebagainya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Untuk menangkal fitnah pertama yaitu fitnah hati dan iman, hendaknya kita memperbanyak istighfar dan berusaha meningkatkan ketakwaan. Godaan iman yang setiap hari menerjang sangat sulit dihindari. Kita tidak mencari, tapi fitnah itu datang sendiri. Tanpa istighfar dan melakukan amal penambah iman yang lain, iman kita akan seperti tanah di pinggiran sungai yang saban hari dihantam arus deras.

Adapun unutk menangkal fitnah kedua, hendaknya kita renungi nasihat dari Banu Mas’ud berikut:

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ ، فَإنَّكَ أَنْ تَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُوْنَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

“Sesungguhnya akan ada hal-hal syubhat (membuat ragu). Maka, wajib bagi kalian untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam bertindak. Sungguh, apabila engkau menjadi pengikut suatu kebaikan, itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin suatu keburukan.”

Ya, benar. Berhati-hati. Jangan mudah percaya terhadap semua berita yang terlihat heboh. Jangan mudah tersulut oleh berita yang provokatif. Jangan pula mudah teprengaruh oleh berita yang menyudutkan Islam, mendeskreditkan ulama dan tokoh-tokoh umat juga berita-berita yang memojokkan Islam.

Jangan pula mudah menyebarkan berita tanpa mengecek sumbernya. Membagikan berita memang semudah menekan jempol pada handphone, tapi pertanggungjawabannya akan sangat sulit. Kita akan menjadi bagian dari mata rantai penyebaran hoak, dusta, fitnah dan provokasi. Jika ada saudara kita, ulama kita atau umat Islam yang terkena dampak buruk suatu hoak, kita akan turut dimintai pertanggungjawaban.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karenanya, kehati-hatian adalah jalan paling selamat. Fitnah yang bertebaran hari ini sudah menjadi ketentuan ilahi. Kita tidak bisa mengubahnya. Hal yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati. Berhati-hati menjaga iman, berhati-hati menjaga sikap, berhati-hati menjaga lisan dan berhati-hati menjaga jemari. Semoga dengan begitu, kita bisa selamat dari fitnah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.