Suami Tanpa Rasa Cemburu

Namanya ‘Dayyuts’. Satu di antara manusia yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat nanti, juga tidak akan dimasukkan ke dalam jannah. Tentu saja ia adalah sebutan yang tidak pantas melihat betapa besar ancaman Allah kepadanya, meski bagi sebagian orang yang tidak mengerti, kata itu terdengar indah di telinga. Ya, dayyuts adalah dosa besar!

‘Dayyuts’ adalah sebutan untuk suami atau pengendali keluarga yang tidak memiliki rasa cemburu (ghirah), meski anggota keluarganya melakukan perbuatan keji dan tidak senonoh. Dia membiarkan mereka melakukan hal itu meski dia tahu, melihatnya, dan mestinya, mampu menindaknya. Baik secara lisan maupun tindakan.

Dia membiarkan kemungkaran terjadi dalam wilayah kekuasaannya tanpa perasaan terluka. Dalam hal ini, patutlah kiranya jika kita merenungkan hikmah dari Imam al-Hasan, “Demi Allah, tidaklah seorang suami yang selalu menuruti apa kata dan keinginan istrinya, melainkan Allah akan mengekangnya di neraka.”

Dayyuts adalah suami yang mandul menjalankan perannya sebagai penyelamat keluarganya dari api neraka. Dia salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya. Terbuai oleh angan-angan kosong tentang arti kebahagiaan, namun tidak tahu untuk apa berkeluarga selain menyetujui apa saja yang menjadi kesenangan anggota keluarganya meski hal itu bertentangan dengan syariat. Dia adalah suami yang menghambakan diri kepada istri dan anak-anaknya, bukan kepada Allah.

Wujud perilaku dayyuts bisa bermacam-macam. Suami yang memiliki kecukupan materi, terbuai oleh kenikmatan dunia dan terpesona oleh gaya hidup modern yang materialistik. Merasa bahwa hal itulah yang seharusnya mereka lakukan, bahkan mereka banggakan. Tanpa malu bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi tempat-tempa hiburan atas nama lifestyle, membiarkan anggota keluarga ber-tabarruj (bersolek) dengan tujuan memamerkan kecantikan mereka kepada publik, seolah ingin menunjukkan kesuksesannya membiayai kecantikan itu.

Ada juga yang membiarkan anggota keluarganya berkenalan dengan lawan jenis non mahram atas nama pergaulan modern, bercampur baur tanpa hijab, menebarkan senyum kepada semua orang, bernyanyi-nyanyi di karaoke, atau berjoget di klub-klub malam. Atau membuka pintu rumah selebar-lebarnya untuk siapapun yang datang bertamu, baik dia ada di rumah atau tidak, bahkan mengizinkan anggota keluarganya dibawa pergi keluar oleh si tamu itu atas dalih kebebasan, aktifitas ektra kurikuler, belajar bersama, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar di luar sana.

Dia tidak menyadari bahwa apa dilakukannya bukanlah sebuah kebaikan. Hal itu sangat menghinakan, tidak pantas, dan memalukan. Karena hilangnya ghirah dalam hati seseorang, berarti pertanda matinya hati dan lemahnya iman. Padahal rasa cemburu itulah yang akan menghidupkan hati dan menggerakkan kebaikan atas anggota badan dengan menolak berbagai perilaku maksiat yang dilakukannya.

Dayyuts adalah suami yang menjerumuskan orang-orang yang menjadi tanggungannya di akhirat nanti ke dalam kerusakan dan kehancuran yang nyata. Orang-orang yang harusnya dia kasihi dan cintai, dibiarkannya terinjak-injak kehormatan mereka tanpa pembelaan yang berarti. Pertanda kebodohan dan kelemahan sekaligus! Padahal Rasulullah telah bersabda, “Cukuplah seseorang disebut ‘berdosa’ jika dia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Wahai para suami yang bingung menjalani perannya, di manakah ghirah kalian? Mengapa kalian melupakan kewajiban asasi kalian sebagai pengayom dan pelindung keluarga? Kenapa kalian biarkan wanita-wanita kalian keluar rumah tanpa hijab, sedang hal itu merusakkan penghalang antara mereka dengan Allah?

Padahal sebagai kepala keluarga, kita mestinya merasa sakit hati dan cemburu jika maksiat telah dilakukan oleh anggota keluarga kita. Kenyataan pahit bukti kegagalan kepemimpinan kita yang harusnya membuat kita marah dan bergegas melakukan perbaikan untuk menegakkan hukum Allah di dalam keluarga kita. Dalam hal ini, Imam ad-Dzahabi mengatakan, “Sungguh tidak ada kebaikan sama sekali padanya, (yakni) pada orang yang tidak memiliki kecemburuan.”

Tahukah kita tentang kecemburuan shahabat Sa’ad bin Ubadah? Dia pernah berkata, “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki berduaan dengan istriku, niscaya akau akan menyabetnya dengan pedang!” Dan ketika ucapan itu akhirnya disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Apa kalian merasa heran akan ghirah Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, demi Allah, aku lebih cemburu dari padanya!” Subhanallah!

Sekarang saatnya kita berbenah untuk menunjukkan kedudukan kita sebagai kepala keluarga sejati. Yang peduli akan kebaikan asasi bagi anggota keluarga kita dengan tidak membiarkan berbagai bentuk penyimpangan syariat terjadi di bawah kendali kita. Sebab kita akan ditanya tentang hal itu semua.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi atas materi dan fasilitas hidup, namun juga pemenuhan atas kebutuhan arahan dan bimbingan dalam menjalani kebenaran hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Setuju?

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa

Entah siapa yang memulai, namun pembagian tugas: suami mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga, menjadi sebuah teori atas nama agama dan adat yang tak terbantahkan. Sungguh, ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan gender atau banyaknya muslimah yang bekerja di luar rumah dengan beragam alasan. Tapi nyatanya, ada juga para suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan rumah kepada istri. Ya, sepenuhnya tanpa syarat. Mulai dari hal-hal remeh seperti sekadar menyapu nasi sisa yang tercecer (bekas makan anak-anaknya sendiri), sampai urusan strategis yang sering dianggap sepele, yaitu pendidikan anak.

Ironis. Ketika dalam sebuah keluarga muslim pasangan suami istri saling melempar tanggung jawab urusan ini. Suami sibuk di luar rumah demikian pula dengan sang istri. Akhirnya, anak diserahkan kepada pembantu atau seharian penuh berada di sekolah-sekolah terpadu tanpa kontrol orang tua. Orang Jawa bilang, “Pasrah bongkokan.” Ayah-ibu tiba di rumah dalam keadaan sangat payah, sehingga hampir tak ada selera untuk bercanda dengan anak-anaknya. Lebih ironis lagi, bila sibuknya sang ayah atau ibu tersebut, disebabkan urusan dakwah untuk memperbaiki akhlak orang lain, namun lupa kepada keluarganya. Lupa bahwa anak-anaknya jauh lebih berhak diperhatikan daripada orang lain.

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Dan perintahkanlah keluargamu menjalankan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kami lah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akherat] adalah bagi orang yang takwa.” (QS. Thaha : 13)

Mari kita renungi. Kita kembalikan semua pada fitrahnya.

Kita semua telah hafal di luar kepala, bahwa ibu adalah madrosatul ula, sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Tak heran, bila anak sering dianggap imitasi dari para orang tua, terlebih ibu. Lihatlah bagaimana cara mereka marah, bagaimana cara mereka berbicara, berpakaian atau bertingkah laku. Mungkin, para ibu akan tertawa sendiri bila menyadarinya. Maka sangat disayangkan bila anak-anak kita mendapat metode pendidikan yang salah dari sang ibu. Lebih menyedihkan lagi, bila pendidikan pertama ini justru didapat dari orang lain, mengingat betapa sibuknya ibu dengan pekerjaannya, dengan hobinya, dengan teman-temannya, dengan pengajiannya, dan sebagainya.

Padahal di antara tugas seorang ibu yang sholihah adalah untuk mendidik anak-anaknya, untuk menjaga kesucian dan kebersihan, menjaga kehormatan dan keberanian, serta meninggalkan gemerlap perhiasan dan kesenangan dunia. Semua itu agar mereka tumbuh sebagai anak-anak yang hanya hidup dengan islam dan untuk islam.

Lalu dimana ayah?

Dalam Islam ayah memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ia bertanggung jawab atas keistiqamahan seluruh anggota keluarga. Ialah istri dan anak-anaknya.

“Dan ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya”. (HR. Muslim)

Akan tetapi kesibukanlah yang sering dijadikan alasan oleh para ayah sehingga kesulitan mencari waktu luang untuk berkumpul dengan anggota keluarga. Hampir tak ada waktu untuk sekadar mendengarkan keluhan, mengarahkan, mendengarkan pendapat atau mengajak bicara. Istri pun sering tidak mendapat kesempatan untuk berdiskusi atau membicarakan program-program dalam keluarga. Bisa juga kebersamaan yang ada itu hanya sebatas formalitas saja. Ayah bersama laptopnya, ibu sibuk dengan teman-temannya di negeri dumay (dunia maya), anak-anak menonton televisi, semua asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Berkumpul dalam satu atap, namun semua membisu. Bisu dan tenggelam dalam alamnya masing-masing.

Padahal peran ayah dalam mendidik anak tak kalah pentingnya. Dia memiliki andil untuk membantu istri dengan cara menjelaskan dan mendiskusikan  metode pendidikan bagi anak-anaknya serta langkah-langkah operasional untuk mewujudkan semua itu. Karena anak-anak biasanya lebih sering berinteraksi dengan ibu. Namun tanpa bantuan suami, sulit rasanya bagi seorang istri memahami hakekat pendidikan yang benar dan mengokohkan keinginan mencetak generasi-generasi terbaik dari anak-anaknya.

Mari kita perhatikan, bagaimana lelaki terbaik umat ini berinteraksi dengan anak-anak. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, “Aku mellihat Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, kemudian datang Al-Hasan dan Al-Husain yang mengenakan gamis berwarna merah berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Maka beliau turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan mendudukkan di hadapannya. Beliau pun bersabda, ‘Maha benar Allah dalam firmanNya, ‘Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah ujian.’ Aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih, maka aku tidak sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan aku mengangkat keduanya.” Hmm…Sebuah pemandangan unik yang mungkin tak akan ditemui dari para ayah zaman sekarang.

Maka bisa dipastikan bahwa urusan pendidikan anak, bukan melulu tanggung jawab suami atau hanya menjadi tugas istri. Keduanya disyari’atkan untuk bahu membahu dalam menjalankannya. Akan tetapi para istri semestinya bersabar atas kelalaian suami yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bahkan tak menjadi penghalang bagi langkah suami dalam berbagai urusan. Sebaliknya para suami juga tidak boleh tenggelam dalam dunianya, hingga menelantarkan keluarganya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku”. (HR. Tirmidzi)

Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama bahwa, pendidikan anak bukan merupakan pekerjaan main-main. Inilah pekerjaan lintas generasi yang berawal dari rumah. Dari kita, orang tuanya. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Sebuah pekerjaan yang buah manisnya tidak bisa kita nikmati seketika, namun berbuntut panjang bahkan hingga ke negeri akhirat.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah

 

Status Suami yang Hilang

Terdapat kasus di beberapa tempat yang menyebutkan bahwa seorang istri telah ditinggal suaminya kira-kira lima tahun lamanya, bagaimana statusnya, apakah dibolehkan baginya untuk menikah lagi dengan laki-laki lain, ataukah dia harus menunggu suaminya datang? sampai kapan dia harus menunggu sedang suaminya tidak jelas keberadaannya? Bagaimana Islam memberikan solusi atas masalah seperti ini?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pendapat Pertama:

Bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya hendaknya sabar dan tidak boleh menuntut cerai. Ini adalah pendapat madzab Hanafiyah dan Syafi’iyah serta adh-Dhahiriyah. Mereka berdalil bahwa pada asalnya pernikahan antara kedua masih berlangsung hingga terdapat keterangan yang jelas, bahwa suaminya meninggal atau telah menceraikannya. (az- Zaila’i, Nasbu ar Rozah fi takhrij ahadits al hidayah: kitab al mafqud, Ibnu Hamam, Syarh Fathu al Qadir ; Kitab al Mafqud, Ibnu Hazm, al Muhalla bi al Atsar; Faskh nikah al mafqud).

Pendapat Kedua:

Bahwa seorang istri yang ditinggal lama oleh suaminya, dan merasa dirugikan secara batin, maka dia  berhak menuntut cerai. Ini adalah pendapat Hanabilah dan Malikiyah.

Adapun dalil-dalil yang bisa dikemukakan untuk mendukung pendapat ini adalah:

1. Firman Allah SWT:

Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa: 19).

2. Firman Allah SWT:

“Janganlah engkau tahan mereka untuk memberi kemudharatan bagi mereka, karena demikian itu berarti kamu menganiaya mereka.”(QS. Al Baqarah: 231).

3. Sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada yang mudharat (dalam ajaran Islam) dan tidak boleh seorang muslim membuat kemudharatan bagi orang lain.” (Hadist Hasan Riwayat Ibnu Majah dan Daruqutni).

Ayat dan hadist di atas melarang seorang muslim, khususnya suami untuk membuat kemudharatan bagi istrinya dengan pergi meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama tanpa ada keperluan yang jelas. Maka, istri yang merasa dirugikan dengan kepergian suaminya tersebut berhak untuk menolak mudharat tersebut dengan gugatan cerai yang diajukan ke pengadilan.

4. Disamping itu, seorang istri dalam keadaan sendirian, biasanya sangat sulit untuk menjaga dirinya, apalagi di tengah-tengah zaman yang penuh dengan fitnah seperti ini. Untuk menghindari firnah dan bisikan setan tersebut, maka dibolehkan baginya untuk meminta cerai dan menikah dengan lelaki lain.

5. Mereka juga mengqiyaskan dengan masalah “al- iila’ “(suami yang bersumpah untuk tidak mendekati istrinya) dan “al Unnah” (suami yang impoten), dalam dua masalah tersebut sang istri boleh memilih untuk cerai, maka begitu juga dalam masalah ini. (Ibnu Rusyd, Bidayat al Mujtahid wa Nihayah al Maqasid, 2/ 52).

Hanya saja para ulama yang memegang pendapat kedua ini berbeda pendapat dalam beberapa masalah:

Para ulama dari kalangan Hanabilah menyatakan bahwa suami yang meninggalkan istrinya selama enam bulan tanpa berita, maka istri berhak meminta cerai dan menikah dengan laki-laki lain.

Mereka berdalil dengan kisah Umar bin Khattab yang mendengar keluhan seorang wanita lewat bait-bait sya’irnya ketika ditinggal suaminya berperang, kemudian beliau menanyakan kepada anaknya Hafshah tentang batas kesabaran seorang perempuan berpisah dengan suaminya, maka Hafsah menjawab enam bulan. Dan keputusan ini hanya berlaku bagi suami yang pergi begitu saja tanpa ada udzur syar’i, dan disebut dengan faskh nikah (pembubaran pernikahan) dan tidak disebut talak. (Muhammad Abu Zahrah, al Ahwal as Syakhsiyah hal: 367)

Adapun para ulama Malikiyah menentukan batas waktu waktu satu tahun, bahkan dalam riwayat lain batasan waktunya adalah empat tahun, dimana seorang istri boleh meminta cerai dan menikah dengan suami lain. Dan ketentuan ini berlaku bagi suami yang pergi, baik karena ada udzur syar’i maupun tidak ada udzur syar’i. Jika hakim yang memisahkan antara keduanya, maka disebut talak ba’in.  (Ibnu Rusydi : 2/ 54).

Mereka juga membedakan antara yang hilang di Negara Islam, atau di Negara kafir, atau hilang dalam kondisi fitnah atau hilang dalam peperangan. Masing-masing mempunyai waktu tersendiri.

Jika suami berada di tempat yang bisa dijangkau oleh surat atau peringatan, maka seorang hakim diharuskan untuk memberikan peringatan terlebih dahulu, baik lewat surat, telepon, sms, maupun kurir ataupun cara-cara yang lain, dan menyuruhnya untuk segera kembali dan tinggal bersama istrinya, atau memindahkan istrinya ditempatnya yang baru atau kalau perlu diceraikannya. Kemudian sang hakim memberikan batasan waktu tertentu untuk merealisasikan peringatan tersebut, jika pada batas tertentu sang suami tidak ada respon, maka sang hakim berhak untuk memisahkan antara keduanya. (Ibnu Juzai, al Qawanin al Fiqhiyah, Muhammad Abu Zahrah:  366).

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran- wallahu a’lam– adalah pendapat yang menyatakan bahwa batasan waktu dimana seorang istri boleh meminta cerai dan menikah dengan lelaki lain, jika suami pergi tanpa udzur syar’i adalah satu tahun atau lebih. Itupun, jika istri merasa dirugikan secara lahir maupun batin, dan suaminya telah terputus informasinya serta tidak diketahui nasibnya. Itu semua  berlaku jika kepergian suami tersebut tanpa ada keperluan yang berarti.

Adapun jika kepergian tersebut untuk suatu maslahat, seperti berdagang, atau tugas, atau belajar, maka seorang istri hendaknya bersabar dan tidak diperkenankan untuk mengajukan gugatan cerai kepada hakim.

Gugatan cerai ini, juga bisa diajukan oleh seorang istri yang suaminya dipenjara karena kejahatan atau perbuatan kriminal lainnya yang merugikan masyarakat banyak, sekaligus sebagai pelajaran agar para suami untuk tidak melakukan tindakan kejahatan. (Muhammad Abu Zahrah : 368)

Adapun mayoritas ulama tidak membolehkan hal tersebut, karena tidak ada dalil syar’i yang dijadikan sandaran. (Ibnu Qudamah, al Mughni, Juz 11, hal : 247, DR. Wahbah Az-Zuhaili, al Fiqh al-Islami, Juz :7, hlm: 535).

Jika hakim telah memisahkan antara keduanya dan telah selesai masa iddahnya, kemudian sang istri menikah dengan lelaki yang lain, tiba-tiba mantan suaminya muncul, maka pernikahan istri dengan laki-laki yang kedua tidak bisa dibatalkan, karena penikahan dengan lelaki yang pertama (mantan suaminya) sudah batal. (Ibnu Jauzi: 177).

Adapun jika dasar pemisahan antara suami istri tersebut, karena diprediksikan bahwa suaminya telah meninggal dunia, tetapi pada kenyataannya masih hidup, maka pernikahan yang kedua batal. Dan pernikahan pertama masih berlangsung. Wallahu A’lam

 

Oleh: Dr. Ahmad Zain an-Najah/Kontemporer

Sayang Anak, Antara Tabiat dan Ujian

Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang Allah hibahkan kepada orangtua. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan oleh orangtua sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Sudah lumrah ketika orangtua itu mencintai dan menyanyangi anaknya. Buah hati termasuk di antara deretan perhiasan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ﴿١٤

“Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali-Imran: 14)

Sebagai perhiasan dunia, keberadaan anak juga sekaligus menjadi ujian bagi orangtuanya. Kecintaan orangtua kepada anaknya pun akan dinilai kadar, sebab maupun bagaimana cara orangtua menyanyangi anaknya.

Dengan cinta yang benar, maka anak bisa menjadi penyejuk pandangan mata orangtua, sebagaimana cita-cita seorang muslim yang tersirat dalam doa,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿٧٤

“Wahai Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penenang hati.” (QS. al-Furqon: 74)

Imam Hasan al-bashri ketika ditanya makna penyejuk pandangan mata dalam ayat ini beliau berkata, “Yakni ketika Allah memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim di mana istri, saudara dan anaknya dalam keadaan taat kepada Allah.

Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim melebihi ketika ia melihat anaknya, cucunya, saudaranya atau istrinya mentaati Allah Azza wa Jalla.”

Anak bisa menjadi ‘mesin produksi’ pahala bagi orangtuanya. Yakni ketika orangtua mendidik anaknya dengan keshalihan, maka orangtua yang mendidiknya mendapatkan pahala setiap amal shalih yang dikerjakan anaknya. Sebagimana ia juga mendapat keberuntungan doa yang dipanjatkan anak yang shalih untuk orangtuanya.

Bahkan karenanya, orangtua diangkat derajatnya di jannah kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي اْلجَنَّةِ, فَيَقُوْلُ: أنَّي لِي هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. (HR. Ibnu majah dan Ahmad)

Begitu pula orangtua akan dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan anaknya, di tempat paling tinggi levelnya di antara mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS Ath Thur:21).

Mereka akan disatukan di level yang sama, sedangkan Allah berjanji tak akan mengurangi sedikitpun keutamaan mereka, maka mereka ditempatkan di level tertinggi yang diraih dalam anggota keluarga, sebagaiman pendapat dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Begitulah ketika orang tua mencintai anaknya dengan tulus dan benar, ia menjadi anugerah dan pahala bagi orangtua. Akan tetapi, ia juga bisa menjadi sumber petaka dan musuh bagi orang tua. Cara mencintai yang salah, bisa memposisikan anak sebagai musuh yang akan mencelakakan orangtuanya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿١٤

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian adalah musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (QS. ath-Thagabun 14).

Menjadi musuh yang dimaksud bukan berarti bermusuhan atau saling berhadadapan untuk saling mencelakakan secara fisik. Bisa jadi keduanya sejalan dalam kebiasaan dan kesenangan. Tetapi
maksudnya ketika anak membujuk, mengajak atau meminta kepada orangtuanya untuk memberikan fasilitas kemaksiatan, maka dalam kondisi seperti ini, anak adalah layaknya musuh yang mencelakakan orangtuanya. Bukankah banyak di antara orangtua gemar memperturutkan setiap keinginan anak dengan alasan sayang, padahal apa yang diminta itu sesuatu yang merusak agamanya.

Allah Ta’ala juga mengingatkan agar anak-anak tidak melalaikan kita dari mengingat-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّـهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9)

Walhasil, anak adalah aset bagi orangtua. Lantas orangtua memiliki obsesi yang berbeda bagi anak-anaknya. Ada yang menginginkan anaknya kelak menjadi orang kaya, ini yang menjadi prioritasnya.
Padahal, belum tentu ketika kelak anaknya menjadi orang kaya orangtua masih hidup. Atau taruhlah ketika orangtua masih hidup saat anaknya menjadi orang kaya, tanpa didikan takwa maka anak takkan berbakti kepadanya.

Begitupun dengan orang yang berambisi anaknya menjadi pejabat. Belum tentu orangtua masih hidup saat anaknya menjadi pejabat. Atau kalaupun masih hidup, belum tentu anaknya berbakti dan memuliakan orangtua.

Maka rasa cinta kepada anak seharusnya mengarahkan buah hati tersebut kepada keshalihan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim, “Rabbi habli minash shaalihin, Wahai Rabbi, anugerahkanlah kepadaku seorang putera yang shalih.”

Keshalihan anak secara otomatis mengundang pertolongan Allah kepadanya. Sebagaimana janji Allah Ta’ala, “wahuwa yatawallash shaalihin, dan Dia Allah menolong orang-orang yang shalih.” (QS. al-A‘raf: 196)

Wallahu a’lam.

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Menumbuhkan Akhlak Anak Sejak Usia Dini

Setiap orang tua, tentu memiliki harapan besar bagi buah hatinya. Semua itu, tak hanya tersirat dalam sorot mata yang penuh pinta. Bahkan goresan pena “semoga menjadi anak sholeh/ sholehah” tertulis dengan berjuta impian dalam setiap lembar doa menyambut lahirnya makhluk kecil, yang sekian lama dinantikannya.

Namun seiring berjalannya waktu, tak sedikit orang tua yang justru mengeluhkan kehadiran anaknya. Katanya, mereka berkembang tak sesuai harapan. Apa pasalnya? Anak yang semula nampak lucu dan menyenangkan, kini sering berkata kasar, membantah orang tua bahkan tidak mengerti adab atau sopan santun. Hmm… kalau begitu, siapa ya yang harus diluruskan?

Jujur, para orang tua sering mengabaikan pendidikan akhlak bagi anaknya sejak usia dini. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi nyatanya terkadang kita tak bisa membedakan antara al khuluq (akhlak) dengan al khim (watak). Bahkan para orang tua sering menyamaratakan keduanya. Padahal, akhlak adalah tabiat yang bisa dibentuk. Sedangkan watak lebih kepada tabiat yang bersifat naluri.

Mari kita simak perkataan Ibn Qoyyim dalam kitabnya Ahkamul Maulud,  “Yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Dia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya memperbaiki hal tersebut ketika dewasa. Perangai ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika semua perangai itu akan muncul. Jadi, bila kita temui akhlak yang menyimpang dari kebanyakan manusia, bisa jadi karena pendidikan akhlak yang dilaluinya.”

Baca Juga: Jangan Cemas Bila Anak Tak Paham Pelajaran di Sekolahan

Maka jangan terburu-buru menyalahkan anak atau guru mereka di sekolah. Mungkin tanpa disadari, kita telah menanamkan deretan kekeliruan yang kemudian menjadi tabiatnya. Boleh jadi kita membiarkan mereka serba terburu-buru dalam menjalankan sesuatu. Makan terburu-buru, berangkat sekolah terburu-buru bahkan sholat pun terburu-buru. Hingga kebiasaan ini melekat, menjadi pribadi egois dan selalu kemrungsung dalam setiap tindak tanduknya. Atau, mungkin juga tanpa disadari kita selalu mengikuti kemauan anak. Hingga anak-anak tumbuh sebagai manusia manja dan keras kepala yang selalu berusaha memenuhi hawa nafsunya. Tanpa peduli dengan orang yang ada di sekitarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah membangun akhlak yang mulia itu? Jawabnya ada pada “Pendidikan Adab”.

Akhir-akhir ini, banyak orang tua yang cenderung melalaikan pendidikan adab bagi anak-anaknya. Menganggapnya sebagai hal sepele yang dapat diabaikan. Atas nama pola pendidikan modern, para orang tua membiarkan perilaku anak tanpa pagar sopan santun yang dibenarkan. Ia tidak tahu, yang demikian itu berarti menyiapkan anak-anak untuk berbuat durhaka. Ia tidak tahu bahwa menanamkan adab merupakan hak anak atas bapaknya sebagaimana hak mereka untuk diberi makan, dan minum yang menjadi kewajiban orang tuanya.

Sebenarnya urgensi adab akan tampak jelas dalam kehidupan seorang anak ketika bermuamalah dan bergaul. Khususnya bagaimana mereka menghormati yang tua maupun memperlakukan yang lebih muda. Rasulullah bahkan memberikan perhatian besar terhadap hal ini. Ibn Abbas meriwayatkan dari Ibn Majah, Rasulullah bersabada, “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.”

Baca Juga: Salah Kaprah Mendidik Anak

Tak heran, para salafush sholih juga memiliki perhatian besar terhadap hal ini. Mereka menumbuhkembangkan anak diatas pilar adab mulia. Ibrahim bin Habib bin Syahid menceritakan bahwa ayahnya pernah berucap, “Datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka. Ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka. Karena hal itu lebih aku sukai daripada banyak bicara.”

Jelaslah kini. Tujuan utama perhatian terhadap akhlak dibangun agar menjadi karakter dan perangai dalam diri anak. Adab yang baik akan menghasilkan akal yang efektif. Sedangkan dari akal yang efektif akan melahirkan  kebiasaan- kebiasaan yang baik. Dari kebiasaan baik melahirkan karakter terpuji; dari karakter terpuji melahirkan amal shalih; dan dari amal shalih akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Bila Allah ridha, maka akan muncul kejayaan bagi umat ini. In syaAllah.

Pendeknya, persoalan adab atau sopan santun bukanlah perkara main-main. Hal ini dapat menjadi tabiat yang sulit diubah bila telah melekat kuat. Masih banyak para orang tua yang membiarkan anaknya berlaku ‘tidak sopan’ ketika bertamu. Masih banyak anak-anak yang orang tuanya rajin menghadiri majelis takllim –bahkan sekolah di SDIT- namun tak peduli dengan orang yang lebih tua. Rupanya, ini juga PR besar bagi kita semua.

 

Oleh: Redaksi/Parenting Anak/Majalah ar-risalah edisi 166

Suami Tidak Memberi Nafkah, Otomatis Cerai?

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz, saudara perempuan saya sudah menikah namun ditinggal pergi suaminya merantau keluar Jawa. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa kabar berita dan nafkah yang diberikan. Apakah mereka sudah dihukumi cerai secara agama?Jazakumullah untuk nasihatnya.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Hamba Allah

 

 

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Saudara seiman yang dirahmati Allah, saya bisa mengerti kegalauan Anda saat saudara perempuan Anda diperlakukan seperti itu. Bagaimanapun, kita tentu berharap yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga, yaitu pernikahan yang bahagia. Dan jika hal sebaliknya yang terjadi, wajar jika kita menjadi sangat kecewa. Namun, ada beberapa hal yang harus kita fahami dahulu sebelum mengambil keputusan agar tidak salah melangkah.

Sebagai penjagaan keseimbangan dan penghindaran dari kezhaliman, sebuah pernikahan memiliki konsekuensi hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Dalam hal ini, kepemimpinan suami dan ketaatan istri adalah pondasi utamanya. Memimpin dan menafkahi menjadi kewajiban terbesar suami. Sementara melayani dan mentaati suami kewajiban terbesar bagi istri.

Namun, jika salah satu atau bahkan kedua pihak dari pasangan itu tidak menjalankan kewajibannya, pernikahan mereka tetap sah, karena pelanggaran tanggung jawab bukanlah penyebab perceraian. Sehingga, jika seorang suami tidak memberi nafkah, atau pergi tanpa memberi kabar, juga si istri tidak mau taat kepada suami, pernikahan mereka tidak otomatis berakhir.

Baca Juga:Tidak Tahan dengan Penampilan  & Kelakuan Istri

Misalnya jika ada istri yang nusyuz atau durhaka kepada suaminya, Allah tidak menghukumi pernikahan mereka batal. Namun memberikan solusi untuk perbaikan keluarga dengan nasihat, boikot ranjang dan pemukulan. Jika kedurhakaan istri membatalkan pernikahan, tentu tidak perlu lagi solusi semacam ini. Demikian pula ketika suami melakukan nusyuz, yang menampakkan rasa bosan kepada istri, malas untuk tinggal bersama, bahkan tidak menafkahinya. Dalam kasus ini, istri berhak mengajukan sulh (berdamai), dengan melepaskan sebagian haknya yang menjadi kewajiban suaminya, dalam rangka mempertahankan keluarga.

Selain itu, sebuah perceraian bersifat resmi. Yaitu harus ada pernyataan resmi dari pihak terkait tentangnya. Bisa dari pihak suami dengan menjatuhkan thalak, bisa si istri mengajukan khulu’, atau otomatis batal jika si suami murtad dari Islam.

Maka, mintalah saudara Anda untuk berfikir tentang manfaat dan madharat antara bertahan atau berpisah. Seberapa dia bisa bersabar dan menjaga keikhlasannya menjalani rumah tangga seperti itu. Kalau dia sudah tidak kuat lagi, antarkan dia ke lembaga terkait untuk mendaftarkan gugatan cerai. Namun jika dia masih berharap suaminya pulang dan bisa bersabar, doakan kekuatan baginya untuk menjalani pernikahannya yang berat ini.

 

Demikian, semoga bermanfaat.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Dijawab Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

 

Kala Wanita Bosan Dengan Fithrahnya

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Suatu ketika ada seseorang yang menggiring sapi (sejenis kerbau) yang  di atas punggungnya membawa beban -dalam riwayat lain, “tiba-tiba laki-laki tersebut menaikinya dan memukulnya- Maka berkatalah sapi tersebut,”Sesungguhnya kami diciptakan bukan untuk keperluan ini, aku diciptakan untuk membajak sawah.” Maka orang-orang berkata,”Subhanallah, seekor sapi dapat berbicara.” Kemudian beliau bersabda,”sesungguhnya aku diberi amanah untuk ini, begitu juga Abu Bakar dan Umar…(HR Bukhari dan Muslim)

Demikianlah, Allah Ta’ala menghiasi makhluknya dengan kekuatan dan keistimewaan yang berbeda-beda, dan Allah memberikan piranti kepada makhluk sesuai dengan tujuan ia diciptakan. Kerbau tidak diciptakan untuk mengangkat beban dan dijadikan tunggangan, akan tetapi diciptakan untuk membajak sawah, maka mempergunakan kerbau sebagai kendaraan atau untuk mengangkat beban berarti menyalahi maksud diciptakannya kerbau dan tidak sesuai dengan keistimewaan yang telah diberikan Allah kepada kerbau.

Begitupun halnya dengan manusia. Allah menjadikan laki-laki dan perempuan serta memberikan kelebihan dan keistimewaan yang berbeda sesuai dengan tugas dan peranannya. Kita dapatkan perbedaan yang menyolok antara keduanya baik dalam sifat, susunan tubuh, gerak-geriknya, cara berjalan, duduk, berdiri, cara berbicara, kesenangan, kebiasaan dan juga perasaannya. Perbedaan tersebut sesuai dengan kekhususan fungsi dan peranannya sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Menuntut persaman gender adalah sebuah tuntutan untuk memaksakan kesamaan dua hal yang seungguhnya berbeda. Menyeru persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan adalah bentuk “diskriminatif” terhadap fithrah yang telah Allah gariskan terhadap manusia. Kalau saja tugas dan peranan laki-laki sama dengan perempuan, lantas di manakah letak kebijakan Allah menciptakan manusia menjadi dua jenis? mengapa tidak cukup menciptakan dengan satu jenis kelamin saja jika memang sama tugas dan hak-haknya?  Allah berfirman:

“Tidaklah laki-laki itu seperti wanita..”

 

KEMBALI KEPADA FITHRAH ADALAH JALAN SELAMAT

Segala sesuatu akan menjadi baik jika berada di atas fitrahnya. Ikan akan tetap hidup jika ia tinggal di air, Burung akan terjaga kelestariannya jika mereka terbang di udara dan tinggal di pucuk-pucuk pohon dan cacing akan selamat jika ia tetap tinggal di dalam tanah. Bencana akan menimpa mereka ketika masing-masing telah jenuh dengan apa yang menjadi fitrahnya.

Demikian halnya dengan mnausia, dia akan tetap baik ketika nrimo dengan apa yang menjadi fitrahnya. Jika wanita sudah menjadi laki-laki, dan laki-laki memerankan wanita, maka kerusakanpun akan terjadi. Oleh karena itu Rasulullah melaknat wanita yang menyerupai (meniru) laki-laki dan laki-laki yang menyerupai (meniru) wanita.

Baca JugaMuslimah dalam Perjalanan Hijrah

Wanita ibarat pedang bermata dua, apabila dia baik, menunaikan tugas dan peranannya yang hakiki, serta berjalan diatas fitrah yang telah digariskan oleh Allah, maka ia ibarat batu bata yang baik bagi sebuah bangunan masyarakat ISlam yang komitmen dengan ketinggian akhlak dan cita-cita yang luhur. Akan tetapi, ketika mereka menyimpang dari tugas pokoknya dan menyerobot tugas yang bukan menjadi tanggung jawabnya serta latah mengikuti para budak hawa nafsu, maka dia menjadi musuh besar bagi manusia yang hendak meraih kejayan di dunia dan akherat.

Karenanya, Rasulullah menyuruh kita waspada terhadap bahaya besar yang ditimbulkan oleh wanita semacam ini. Beliau bersabda :

“Sesungguhnya dunia itu manis dan menggiurkan. Dan sesungguhnya Allah menyerahkan dunia kepada kalian. Kemudian hendak melihat apa yang kalian perbuat terhadapnya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita.”  Dalam riwayat lain ada tambahan “sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” (HR Muslim)

Beliau juga bersabda :

“Aku tidak meninggalkan fitnah sepeningalku yang lebih berat bagi laki-laki dari fitnah wanita.” (HR Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sa’id bin Musayyib berkata, “ketika setan merasa kewalahan menggoda manusia, maka ia bersembunyi di balik wanita (memperalatnya).” Benar, seringkali wanita mampu berbuat dengan sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh setan. Ia mampu menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari kerusakan yang ditimbulkan oleh syetan. kapankah itu? yakni ketika ia bosan dengan apa yang telah digariskan oleh atasnya. Wanita semacam ini akan menjadi senjata pamungkas bagi syetan untuk menghadapi manusia.

Kenyataan itulah yang telah diketahui oeh syetan-syetan jin dan manusia. Maka mereka berupaya untuk menyimpangkan wanita dari tugasnya yang utama, agar ia mau berperang di pihaknya dan membela misinya.

 

DI MANAKAH FITRAH WANITA?

Setelah kita menyadari pentingnya kembali kepada fitrah, lantas bagaimana sesungguhnya fitrah wanita itu? Apakah fitrah itu sesuatu yang biasa dikerjakan manusia? ataukah suatu budaya yang telah berlangsung secara turun temurun?

Bukan, fitrah adalah ketetapan yang Allah gariskan bagi para makhluknya. Allah yang menciptakan hambaNya sehingga Allah yang paling mengetahui apa-apa yang baik bagi hamba-Nya dan apa yang buruk bagi hamba-Nya. Lalu Allah memberikan tugas kepada masing-masing makhluk serta memberikan perangkat dan alat sesuai dengan tugasnya di dunia. Ketika satu diantara mereka menyerobot tugas yng bukan menjadi tugasnya, mka akan da suatu pekerjaan yang tidak tertangani dan semakin banyak pekerjaan yang tumpang tindih dan semrawut akan semakin besar pula kekacauan yang timbul.

Allah menggariskan bagi kaum laki-laki untuk memimpin wanita karena memang Allah mengkaruniai suatu alat bagi laki-laki untuk memimpin yang tidak dikaruniakan kepada wanita. Demikian pula Allah mempercayakan seorang bayi kepada kaum wanita lantaran Allah telah memberikan piranti kepadanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki.

Contoh lain, Allah menetapkan bagi wanita separuh dari bagian laki-laki dalam hak waris, karena Allah melebihkan suatu beban bagi kaum laki-laki dengan apa yang tidak dibebankan bagi kaum wanita, yakni memberikan nafkah bagi keluarga. Begitulah, Allah memberikan sarana kepada makhluknya dengan apa yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Jika demikian pantaskah kita sambut seruan “persamaan gender” dalam hak-hak secara keseluruhan?

Baca Juga: Hukum Wanita Karir

Jika kaum wanita hari ini menuntut persamaan hak mendapatkan jatah kursi, persamaan hak untuk mendapatkan jatah warisan dan barang murahan lainnya, maka lihatlah apa yang menjadi tuntutan para sahabiyat yang seharusnya menjadi teladan kita.

Suatu ketika Asma’ bin Yazid bin Sakan menghadap Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita yang berada di belakangku, mereka sepakat dengan apa yang aku katakan dan sependapat dengan pendapatku..sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus anda kepada laki-laki dan juga kepada para wanita. Kamipun beriman kepada anda dan mengikuti anda. Sedangkan kami para wanita terbatas gerak-geriknya, kami mengurus rumah tangga dan menjadi tempat menumpahkan syahwat bagi suami-suamikami, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Namun Allah memberikan kutaman kepada kaum laki-laki dengan shalat jama’ah, mengantar jenazah dan berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga hartanya dan memelihara anak-anaknya, maka apakah kami medapatkah pahala sebagaimana yang mereka dapatkan?”

Mendengar tuntutan Asma’ tersebut, Nabi menoleh kepada para sahabat seraya bersabda,”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agamanya yang lebih bagus dari pertanyan ini?” Kemudian beliau bersabda, “Pergilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita di belakangmu bahwa perlakuan baik kalian terhadap suami dan upaya kalian mendapat ridha darinya serta ketaatan kalian kepadanya pahalanya sama dengan apa yang engkau sebutkan tentang pahala laki-laki.”

Maka perhatikanlah, adakah sama tuntutan hak para sahabiyat dengan kebanykan muslimah hari ini?

 

Oleh: Redaksi/Wanita

Menanamkan Aqidah Kepada Anak-Anak

 

“Mi, kalau Umi tidak punya uang, kakak nanti akan minta uang kepada Allah untuk membeli es krim. Dia Maha Pemberi dan Penyayang, kan?” Si Ibu gelagapan menjawab pertanyaan sulungnya itu. Apalagi saat si kecil ikut bertanya, “ Allah itu tinggal dimana sih, Mi?”

Seringkali sebagai orangtua, kita merasa kesulitan untuk menjelaskan masalah-masalah aqidiyah (keyakinan) kepada anak-anak. Karena Aqidah Islamiyah dengan ke-enam rukunnya yaitu; beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhir serta Qadha’ dan Qadar, adalah persoalan ghaib yang berada di luar kemampuan akal dan panca indera untuk menjangkaunya.

Meski hal inilah yang menjadikan aqidah islamiyah menjadi unik dan khas, menjelaskannya kepada anak-anak membutuhkan keseriusan dan ketelatenan tersendiri. Bagaimanapun, kemampuan berfikir anak-anak yang masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak, menjadi penghalang yang tidak bisa diremehkan. Sementara kesalahan kita dalam memberi jawaban akan berakibat fatal, sebab jawaban itulah (mungkin) yang akan terekam di benak anak untuk seterusnya.

Baca Juga: Seni Menjawab Keingintahuan Anak

Menanamkan aqidah islamiyah kepada anak-anak sangatlah penting. Aqidah atau keyakinan yang tertanam akan menjadi acuan dan pegangan dalam mengarungi kehidupan mereka selanjutnya. Aqidah itu juga akan menjadi standar perbuatan yang mereka lakukan, serta menjadi pembanding setiap kali mereka menjumpai bentuk-bentuk perilaku baru.

Aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa anak-anak, membantu mereka mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta memudahkan mereka menjalani proses menuju manusia yang lebih bermoral dan berkepribadian lebih baik.

Mereka tumbuh bukan hanya berbasis pengetahuan umum dan memperturutkan hawa nafsu semata, namun jauh dari kehidupan yang religius, hal yang terbukti memiliki andil besar munculnya kanakalan dan kerusakan moral manusia.

Rahmat Allah

Merupakan rahmat Allah kepada manusia adalah Allah menciptakan mereka di atas fithrah. Allah berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan) ini”. (QS. Al A’raaf: 172)

Ketika menjelaskan hadits “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah”, Syaikh Mulla Ali al-Qari berkata, “Yang dimaksudkan adalah fitrah Islam, yang berupa ketauhidan dan pengetahuan tentang Rabbnya”. Artinya, setiap manusia yang hadir ke dunia, lahir dalam keadaan mengenal Allah  dan mengakuinya. Ia diciptakan di atas karakter siap menerima syariat.

Mendiktekan Laa Ilaaha Illallah

Agar aqidah ini tertanam kuat dalam jiwa anak-anak, metode talqin (pendiktean) ternyata merupakan cara yang sangat efektif bagi anak-anak yang relatif sulit menerima penjelasan yang rasional dan abstrak. Metode ini juga tidak selalu menghajatkan bukti-bukti atau argumentasi yang nyata. Ini adalah karunia Allah, bahwa Dia telah melapangkan dada manusia untuk menerima iman tanpa memerlukan berbagai argumentasi yang berbelit atau bukti-bukti yang rumit.

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebuah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam,

اافتحوا علي صبيانكم  أول كلمة  لا إله إلا الله, ولقنوهم عند الموت  لا إله إلا الله

“Mulakanlah kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada anak-anak kalian, dan diktekanlah kepada mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah saat menjelang kematian”

Para sahabat suka mengajarkan kalimat ini kepada anak-anak mereka, hingga menjadi kalimat pertama yang mereka hafalkan dan ucapkan dengan fasih. Sementara Ibnul Qayyim menganjurkan agar kalimat inilah yang pertama didengar oleh telinga anak-anak. Imam Ghazali mengatakan bahwa saat anak-anak telah menghafal kalimat ini, makna-maknanya akan tersingkap sedikit demi sedikit di masa yang akan datang. Maka mengajarkan aqidah kepada anak-anak hendaklah diawali dengan pemberian hafalan, kemudian pemahaman, kepercayaan, keyakinan dan pembenaran.

Mencintai Allah dan Rasulullah

Cinta adalah sumber kekuatan, juga pengorbanan. Untuk itu, aqidah islamiyah akan semakin kokoh menancap di dalam jiwa jika berdiri di atas dasar cinta kepada Allah dan Rasulullah-Nya. Ibarat tongkat bagi si buta, ia akan semakin menuntun manusia menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupannya kelak. Mempermudah kesulitannya, memperingan rasa sakitnya, menjernihkan kekeruhannya dan mendekatkan jarak ke akhirat yang sering dianggap jauh. Rasulullah bersabda,

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah”. (HR. At-Thabrani)

Pada fase perkembangannya, manusia akan melakukan proses imitasi (peniruan) terhadap sosok yang dianggapnya teladan, untuk kemudian berusaha menyerupakan dirinya dengan sang tokoh itu. Dalam hal ini peneladanan terhadap Rasulullah mutlak perlu, karena beliau adalah teladan terbaik bagi manusia. Jauh dari sifat tercela dan akhlak yang hina. Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab: 21)

Mengajarkan al-Qur’an

Menyakinkan anak-anak bahwa Allah adalah Rabb dan al-Qur’an adalah firman-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah, agar ruh al-Qur’an merasuki jiwa dan cahaya sinarnya menerangi akal mereka, dimulai dengan membacakan dan mengajaarkan al-Qur’an kepada mereka semenjak dini.

Hal ini akan menjadikan mereka mudah menerima dan memahami aqidah al-Qur’an dan tumbuh di atas keyakinan yang mantap, karena mereka menerima aqidah ini dalam satu paket, akal, jiwa dan hati mereka. Dari sini, melaksanakan serangkaian perintah dan menjauhi serangkaian larangan yang mereka temukan di dalam al-Qur’an menjadi tidak terasa sulit dan memberatkan. Banyak persoalan dan masalah yang mereka temukan di kemudian hari, baik berhubungan dengan keyakinan dan kejiwaan akan mereka pecahkan dan hadapi dengan mudah, Insya Allah.

Imam as-Suyuthi berkata, “Mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu pilar di antara pilar-pilar Islam, agar mereka tumbuh di atas fithrah. Begitu juga cahaya hikmah akan masuk ke dalam hati mereka lebih dahulu sebelum dikuasai hawa nafsu dan dinodai kemaksiatan dan kesesatan”.

Pengajaran al-Qur’an menjadi pijakan utama seluruh kemampuan anak-anak pada masa pertumbuhan mereka. Hal ini diawali dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah dan dilanjutkan pengajaran isinya secara bertahap. Juga senantiasa membiasakan mendengarkan tilawah al-Qur’an.

Rasulullah bersabda,

“Ajarilah anak-anak kalian tiga hal; kecintaan kepada Nabi kalian, kecintaan kepada keluarga beliau dan membaca al-Qur’an. Karena sesungguhnya, para pembawa al-Qur’an iu berada di bawah naungan singgasana Allah, di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya ”. HR. At Thabrani dari Ali bin Abi Thalib. Al Munawi dalam Faidhul Qadiir menyatakannya sebagai hadits dha’if.

Banyak kita temukan para ulama terkemuka telah menghafalkan al-Qur’an pada usia yang sangat muda. Imam Syafi’i telah hafal al-Qur’an pada usia tujuh tahun, demikian juga Sahl bin Abdillah at- Tastari. Sementara Ibnu Sina dan Imam Nawawi pada usia sepuluh tahun.

Teguh Memegang Aqidah dan Siap Berkorban Karenanya

Sebuah aqidah atau keyakinan tentu saja memerlukan pengorbanan. Semakin kuat dan teguh sebuah aqidah yang dimiliki, semakin besar pengorbanan yang akan diberikan. Sebab aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa akan membuahkan keyakinan yang mantap dan tanpa keraguan. Setiap pengorbanan yang dilakukan akan memberikan keamanan dan ketenangan batin serta kemanisan iman.

Baca Juga: Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Hari ini kita sebagai kaum muslimin menghadapi tantangan yang sangat berat untuk tetap berpegang teguh dan istiqamah di atas aqidah islamiyah yang kita miliki. Berbagai konspirasi keji yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari aqidah, juga al-Qur’an menghadang dari seluruh penjuru kehidupan. Baik berupa berbagai studi keislaman yang (katanya) ilmiah namun ujung-ujungnya menyimpangkan Islam dari keotentikan ajarannya, berbagai pemikiran yang merusak aqidah, juga semangat menghamba hawa nafsu (hedonis) yang semakin menggila.

Semua itu tentu saja membutuhkan jiwa yang teguh memegang aqidah, juga kesiapan berkorban untuk mempertahankannya. Seperti memegang bara api, demikian Rasulullah pernah menyatakan.

Rasulullah tercinta mendidik para sahabat untuk siap berkorban di atas aqidah mereka, agar menjadi pribadi yang matang dan berpendirian. Beriman bukanlah sikap main-main, namun sebuah pilihan sadar tentang makna kebenaran, juga kesiapan menanggung semua risikonya. Rasulullah pernah menceritakan kisah ashabul uhdud kepada para sahabat, juga kisah-kisah lain yang menumbuhkan keberanian mereka untuk berkorban di atas keimanan mereka.

Kita temukan para ibu yang memberi motivasi anak-anak mereka agar berani berjihad fi sabilillah, kemudian bangga saat mendengar berita kesyahidan mereka. Juga anak-anak yang meminta peralata jihad dan menangis jika tidak diizinkan berangkat jihad. Dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian kita, melatih anak-anak untuk berbuat kebaikan kepada sesama, tidak berbohong dan selalu berkata jujur, apapun risikonya.

Keluarga

Akhirnya semua akan kembali kepada bagaimana keluarga memberikan perhatian terhadap aqidah anak-anak mereka. Menanamkan aqidah kepada anak-anak harus diawali dari rumah, sebelum mereka memperolehnya dari luar dan dihantam badai akhlak tercela. Ketidakpedulian orangtua dalam mempersiapkan aqidah anak-anak akan berakibat fatal.

Satu nasihat lagi, jangan menyerahkan pola asuh spiritul-terutama masalah aqidah kepada sekolah. Sebab banyak sekolah berlabel islam, namun mengacuhkan masalah yang sangat penting ini. Kita harus tetapi mengawasi dengan ketat agar tidak kecolongan. Wallahu A’lam.

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Keluarga

Tetap Bisa Mesra Meski Datang Bulan Sedang Tiba

Anda jangan salah sangka! Judul di atas bukan bermaksud memprovokasi. Apalagi ingin menggiring pembaca untuk nyrempet-nyrempet sesuatu yang haram. Tidak begitu. Karena memang, sudah diketahui banyak orang, bahwa termasuk hal yang diharamkan agama adalah menggauli istri yang sedang haid.

Tulisan ini hanya ingin memberikan pencerahan, bahwa berjimak dengan istri yang sedang haid atau datang bulan memang jelas dilarang. Namun, bukan berarti saat istri sedang haid, semua aktivitas bermesraan diharamkan. Sehingga, suami-istri mesti ‘libur total’ pada momen bulanan itu. Jika ini terjadi, tentu yang paling kasihan adalah saudara-saudara kita yang menikah di saat mempelai putrinya sedang datang bulan!!

 

Bukan Seonggok Najis

Wanita haid bukanlah seonggok najis yang mesti dijauhi dan tak boleh disentuh. Sebagaimana kebiasaan kaum Yahudi, bahwa apabila seorang wanita datang haid, ia tidak diberi makan dan tidak disetubuhi di dalam rumah. Maka, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal ini. Lalu turunlah ayat, “Engkau ditanya tentang haid, katakanlah, ‘Haid itu penyakit, maka jauhilah mereka itu sebelum suci’.” Nabi bersabda, “Perbuatlah segala sesuatu dengan istrimu di waktu haid, kecuali bersetubuh.” (HR. Muslim)   

Islam memberikan solusi pertengahan. Istri yang sedang haid tak diharamkan untuk disentuh. Bermesraan dengannya tak semuanya dilarang. Ada model bermesraan dengan istri yang sedang haid yang diperbolehkan. Rambu-rambu syar’i ini yang seharusnya dimengerti oleh pasangan suami-istri muslim. Sehingga, keduanya akan tetap bisa mesra sepanjang masa, tetap bisa harmonis walau di saat ‘kritis’.

 

Ini yang Dilarang

Para ulama fiqih telah membuat rincian hukum terhadap aktivitas bermesraan dengan istri yang sedang haid.

Pertama,

bermesraan dengan melakukan senggama pada kemaluan istri yang sedang haid, sebelum suci. Hal ini jelas diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

 مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا فَقَدْ كَفَرَ

Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menye­tubuhi wanita dari duburnya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Nasai)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Umat Islam telah membuat suatu kon­sensus, bahwa haram hukumnya seorang suami meng­gauli istrinya pada kemaluannya saat ia sedang haid atau nifas. Tak seorang pun dari kaum muslimin yang menyelisihi hal ini.” (Fatawa Ibni Taimiyyah, XXI : 624).

Baca Juga:
Bila Rasa Bosa dengan Pasangan Mulai Menjangkiti

Imam Nawawi juga menegaskan, “Perlu diketahui bahwa men­­cumbui istri yang sedang haid ada beberapa macam. Salah satunya adalah mencumbuinya dengan melakukan senggama pada kemaluannya. Ini adalah haram hukumnya berdasarkan ijmak kaum muslimin, dengan landasan nash dari Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih.” (Syarhun Nawawi ‘ala Shahih Muslim, II : 202).

Kedua,

bermesraan dengan melakukan senggama saat istri sudah suci dari haid, tapi belum mandi. Jumhur fuqaha’, dari kalangan madzhad Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiyah, juga Imam Asy-Syaukani, Imam Ath-Thabari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Ab­bas, Az-Zuhri, Imam Nawawi dan ulama lainnya, berpendapat bahwa tidak boleh berjimak dengan wanita yang sedang haid, sebelum darahnya berhenti, dan ia mandi.

Pendapat mereka di­san­­­dar­­­kan kepada firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepada­mu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu ha­id, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyuci­kan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Yakni, apabila ia telah mandi. Demikianlah yang ditafsir­kan oleh Ibnu Abbas, karena dalam ayat ini Allah Ta’ala berfir­man, “…dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri,” yakni Allah menyanjung mereka. Ini menunjukkan bahwa Allah men­­yan­­­jung perbuatan mereka. Sedang perbuatan mereka itu ada­lah mandi, bukan berhentinya darah. Dengan demi­ki­an, sebelum dibolehkannya berjimak itu harus memenuhi dua syarat, yakni berhentinya darah, dan mandi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimi­yyah menga­­­­­­­­­ta­­­kan, “Tidak boleh berjimak dengan istri yang se­dang ha­­­id dan nifas, sebelum ia mandi. Jika ia tidak menda­patkan air atau khawatir akan membahaya­kan dirinya bilamana meng­­­gu­­­­­­nakan air karena ia sakit atau cuaca sa­ngat dingin se­kali, maka hendaknya ia ber­taya­mum, setelah itu baru si sua­mi boleh berjimak dengan­­nya.” (Majmu’ul Fatawa, I : 635)

 

Ini yang Dibolehkan

Bermesraan dengan istri yang sedang haid, selain dengan berjimak pada kemaluan. Para ahli ilmu telah sepakat tentang bolehnya bermesraan de­ng­an istri yang sedang haid di daerah atas pusar dan bawah lutut, baik dengan ciuman, dekapan, tidur bersa­ma, bercumbuan dan lain sebagainya. (Majmu’ul Fatawa, I : 624). Sedangkan bermesraan dengan istri yang sedang haid di daerah bawah pusar dan atas lutut, selain di ke­ma­luan, diperbolehkan bagi suami yang wara’ dan mampu menguasai dirinya.  

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Apabila sa­lah seorang di antara kami sedang haid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menyuruhnya mengenakan kain sarung di tempat keluarnya haid, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah melanjutkan, “Dan siapakah di antara kalian yang mam­pu menguasai hajatnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mampu menguasai hajatnya?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini, dapat di­sim­pul­kan bolehnya bermesraan dengan istri yang se­dang haid dan nifas di daerah atas pusar dan ba­wah lu­­­­­tut. Karena arti “mengenakan kain sarung (ta’taziru)” ada­­­lah mengikatkan kain sarung yang bisa menutupi pusarnya dan daerah bawahnya sampai lutut.

Baca Juga: 
Mama Galak Kasihan Si Anak

Diriwayatkan juga dari Haram bin Hakim, dari pamannya, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa yang halal bagiku sebagai suami terhadap istriku, saat ia haid?” Beliau menjawab, “Bagimu daerah di atas kain sarungnya.” (HR. Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra

Bermesraan adalah bumbu pemanis dalam kehidupan rumah tangga. Hal tersebut juga bernilai ibadah, jika dilakukan untuk membahagiakan pasangannya. Namun, bermesraan tetap ada batas-batasnya, tak boleh lepas bebas, termasuk saat istri sedang haid. Lakukan yang dibolehkan, dan jauhi yang dilarang syariat. Semoga sakinah dan mawaddah akan selalu menggelayuti kehidupan rumah tangga Anda. Wallahul musta’an.

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Untuk Muslimah: Agar Berhiasmu Bernilai Ibadah

Berhias merupakan suatu hal yang sangat lekat dengan kehidupan manusia, terutama bagi kaum wanita. Karena, wallahu a’lam, secara psikologis, rata-rata wanita lebih merasa tertuntut untuk selalu tampil menarik daripada laki-laki. Sehingga, bagi sebagian wanita, berhias menjadi sebuah kegemaran yang mengasyikan, yang terkadang mereka tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat diri agar dapat selalu tampil anggun-mempesona. Beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta rupiah rela mereka keluarkan sebagai anggaran berhias yang terkadang sangat melampaui batas. Semua itu dilakukan demi kecantikan dan penampilan fisik yang selalu menarik.

 

Agar Berhias Bernilai Ibadah

Islam tidak menafikan kegemaran berhias bagi wanita. Boleh-boleh saja wanita itu berhias, bahkan terkadang berhiasnya wanita bisa bernilai ibadah, tatkala itu dilakukan untuk membahagiakan hati suaminya tercinta. Bersolek di depan suami merupakan kebiasaan terpuji para istri penyejuk hati.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, wanita bagaimanakah yang paling baik?” Beliau menjawab:

“(Yaitu wanita) yang selalu membahagiakan (suami)nya bila dipandang, mematuhinya bila diperintah, dan tidak pernah menyelisihinya dalam hal diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai oleh suaminya.” (HR. Nasa’i dan Ahmad)

As-Sanadi menjelaskan, “Yang dimaksud membahagiakan (suami)nya bila dipandang, yakni karena kecantikannya secara lahir, atau kebagusan perilakunya secara batin dan senantiasa menyibukkan diri dengan ketaatan dan bertakwa kepada Allah.” (Hasyiyah As-Sanadi ‘ala Syarh An-Nasa’i, VI/68)

Islam melarang seorang suami yang telah lama bepergian meninggalkan istrinya untuk memasuki rumahnya di larut malam, karena dikhawatirkan saat itu istri dalam keadaan tidak berhias dan acak-acakan penampilannya. Sehingga yang demikian membuat rasa kecewa dan tidak simpatik dalam hati suami. Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Dahulu kami pernah bersama Rasulullah  dalam peperangan. Manakala kami telah tiba di kota Madinah, kami hendak segera memasukinya. Maka beliau bersabda:

Tundalah sebentar, hingga kita memasukinya di malam hari (waktu Isyak), agar wanita yang rambutnya acak-acakan bisa menyisirnya dan yang telah lama ditinggal pergi suaminya bisa mencukur bulu kemauluannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata asy-sya’itsah artinya istri yang kepalanya berdebu dan rambutnya tidak beraturan. Disebut seperti itu, karena wanita yang suaminya tidak berada di rumah biasanya tidak memperhias diri. Sehingga, Rasulullah melarang memasuki rumah di waktu-waktu yang diperkirakan istri sedang tidak dalam kondisi berhias.

Demikianlah, Islam memberikan perhatian besar kepada para istri untuk menyenangkan hati suaminya. Walaupun, kurang bijak tatkala seorang suami selalu menuntut istrinya untuk senantiasa berdandan, sedangkan dirinya justru berpenampilan acak-acakan setiap hari di hadapan istrinya. Suami-istri harus saling menjaga perasaan hati pasangannya, agar keharmonisan akan terus mewarnai hari-hari bahagia mereka.

  

Jangan Mengubah Ciptaan Allah!

Islam telah memberikan rambu-rambu berhias yang harus diperhatikan oleh para wanita muslimah, agar mereka tidak terjebak kepada model berhias yang diharamkan. Walaupun, di zaman ini, dengan dalih mematut diri dan menjaga kecantikan, sebagian wanita justru menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama. ‘Operasi plastik’ demi merawat kecantikan termasuk perkara haram yang telah ‘dihalalkan’ di zaman ini. Karena, di dalamnya terdapat unsur mengubah-ubah ciptaan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Tetap Takwa Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Ibnul Arabi mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan rupa, lalu membaguskannya dalam susunan bentuk yang asli. Selanjutnya membuat berbeda-beda kecantikan rupa-rupa tersebut, dan menjadikannya beberapa tingkatan. Barangsiapa hendak mengubah ciptaan Allah pada dirinya dan melenyapkan kebijaksanaan-Nya dalam rupa-rupa itu, berarti ia terlaknat, karena ia berani melakukan hal yang terlarang.” Imam Ath-Thabari menegaskan, “Wanita tidak boleh mengubah sesuatu pun dari bentuk yang ia telah diciptakan oleh Allah dalam bentuk tersebut, baik dengan tambahan atau pengurangan, demi memburu kecantikan, tidak untuk suami dan tidak pula untuk selainnya.”

 

Hindari Berhias Model Ini!

Ada beberapa aktivitas merawat kecantikan yang dilarang oleh Islam, dan seyogianya ditinggalkan oleh para wanita muslimah. Rasulullah telah bersabda :

Rasulullah telah melarang wanita yang bertato atau minta dibuatkan tato, yang menyambung rambutnya atau minta disambungkan, dan yang mencabut bulu alis atau yang minta dicabutkan.” (HR. an-Nasa’i)

Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, “Allah telah melaknat wanita bertato dan yang dibuatkan tato, dan wanita yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan, serta yang merenggangkan giginya demi kecantikan, yang mengubah-ubah ciptaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah telah melarang empat hal dalam aktivitas berhias.

Pertama, merenggangkan atau meruncingkan gigi demi kecantikan. Ini biasa dilakukan wanita tua agar tampak masih muda. Namun, jika tujuannya untuk terapi dan pengobatan, maka itu tidaklah dilarang. Misalnya, seorang wanita yang memiliki gigi yang menonjol (tongos) yang memperjelek penampilan dan mengganggu saat makan, atau memiliki gigi yang berlobang, maka ia boleh mencabutnya. Karena, menghilangkan cacat itu pada dasarnya diperbolehkan secara syar’i, kecuali ada dalil yang melarangnya.

Kedua, mencabut bulu alis. Yang dilakukan oleh para wanita masa kini, berupa membentuk bulu alis atau merampingkannya dengan menggunting, mencukur atau mencabuti sisi tepinya, maka itu termasuk an-namash (mencabut bulu alis) yang diharamkan.

Baca Juga: Pernah Dinodai Pacar, Bagaimana Solusinya?

Ketiga, menyambung rambut, yakni mengubah ciptaan Allah demi kecantikan, dengan cara menambahkan rambut palsu pada wanita, baik dari rambutnya sendiri atau dari rambut orang lain, dan baik rambut manusia atau yang selainnya.

Keempat, mentato tubuhnya, lalu dilukis di atasnya nama kekasihnya, gambar bunga-bungaan, lambang-lambang cinta, dan yang lainnya.  

Muslimah tampil cantik tidaklah dilarang. Namun, jangan lakukan cara-cara yang diharamkan. Jangan pula dipamerkan kepada semua orang di sepanjang jalan. Suguhkan kecantikanmu hanya teruntuk suamimu tercinta. Bagi yang belum menikah, sembunyikan kecantikanmu, dan niatkan itu hanya untuk suamimu kelak! Wallahul musta’an. 

 

Oleh: Redaksi/Muslimah

Suami Saya Enggan Shalat, Bagaimana Hukum Pernikahan Kami?

PERTANYAAN:  

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Maaf Ustadz, saya mohon pertimbangannya. Suami saya jika disuruh shalat wajib susah. Dia hanya menjawab, kalau kamu ikut campur urusanku mending bercerai saja. Saya bingung karena sudah punya dua orang putri. Putri yang kecil sangat dekat dengan ayahnya. Saya baca di ar-Risalah edisi pernikahan impian. Saya jadi merasa berkecil hati. Yang saya tanyakan, bagaimana hukum pernikahan kami? Waktu Ramadhan ia berpuasa dan shalat Jum’at, sedang yang lain tidak. Sekian jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ummu Abdillah, di bumi Allah

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti fillah yang sedang bingung, saya bisa memahami kegelisahan anda dengan kondisi suami yang seperti itu. Mestinya sebagai imam keluarga, dialah yang menyuruh isteri dan anak-anaknya untuk mendirikan shalat, bukan sebaliknya. Kondisi seperti ini jelas tidak nyaman. Semoga anda segera memperoleh jalan keluar yang terbaik, insyaallah.

Menurut saya, masalah suami anda adalah masalah yang serius. Shahabat Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa barangsiapa yang meremehkan shalat, maka dalam urusan selainnya dia akan lebih meremehkan lagi. Penjelasannya, kalau tentang hak Allah saja seseorang berani meremehkan, apalagi hak selain-Nya?

Carilah waktu untuk berbicara dari hati ke hati agar dia mengerti apa yang anda maui. Ingatkan juga tentang tujuan pernikahan kalian, dan tanggung jawab yang akan dipikulnya di akhirat kelak, jika dia meremehkan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Katakan juga bahwa hal ini bukan urusannya saja, namun urusan seluruh anggota keluarga.

Ajaklah dia untuk hadir di majelis pengajian, agar pemahamannya tentang agama semakin bertambah baik. Temanilah dia dalam proses mencari nikmatnya ibadah, agar dia tidak menganggap shalat dan ibadah yang lain hanya merepotkan dan melelahkan. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah membukakan pintu hatinya untuk kebenaran. Yakinlah, doa adalah kekuatan utama ketika semua rumusan akal telah menemui jalan buntu.

Ukhti fillah, seandainya semua cara sudah ditempuh dan dia tetap kukuh untuk tidak mengerjakan shalat, bersiap-siaplah untuk mengajukan khulu’, yaitu pengajuan perceraian dari pihak isteri. Pedih memang. Namun ini adalah jalan terakhir, sebab tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti ini. Sebelum kesedihan anda akan bertambah-tambah.

Yakinlah Allah akan memberikan petunjuk terbaiknya jika anda melakukan semuanya karena Allah, bukan karena hawa nafsu saja. Karena itu, serahkan semuanya kepada-Nya saja. Wallahu a’lam,

Demikian, semoga bermanfaat!

 

Dijawab oleh: Ust. Tri Asmoro K

 

Baca Konsultasi Lainnya: 

Saya Rajin Ibadah, tapi Mengapa Jodoh tak Kunjung Datang?

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasinya?

 

Parenting Islami: Mama Galak, Kasihan Si Anak

Karakter ‘galak’ tidak semata dimiliki oleh ibu saja. ‘Galak’ bisa pula tersematkan menjadi sebuah hiasan sikap yang nggegirisi dalam pribadi seorang ayah. Namun, melihat kedekatan anak dengan ibu yang secara fitrah jauh lebih lekat ketimbang dengan ayahnya, terutama di masa kanak-kanak, maka fenomena ‘ibu galak’ patut diperbincangkan secara serius. Lebih serius lagi, kalau ternyata ayah dan ibu dalam sebuah keluarga sama-sama berkarakter galak dan keras dalam menyikapi perilaku anaknya. Sungguh, dentuman bentakan dan kegalakan yang terekspresikan dalam sikap ayah dan ibu, akan menjadi sebuah pupuk perdana yang akan menyemaikan watak keras dan nakal dalam diri anak. Dan, kerasnya anak maupun nakalnya anak merupakan bencana kehidupan bagi ayah-ibunya!

 

Dampak Buruk Sikap Galak

Banyak faktor yang menyebabkan ibu bersikap keras terhadap anaknya. Kondisi keluarga yang sedang dirundung masalah, atau suasana batin ibu yang tertekan oleh berbagai problema, sangat berpotensi memekarkan ‘sikap galak’ pada diri ibu. Sesekali bersikap keras mungkin masih bisa ditolerir, namun jika kegalakan itu hampir setiap hari ditembakkan kepada anaknya, maka jangan berharap kelembutan dan kesantunan budi akan menghiasi kepribadian anak Anda. Bukankah Rasulullah SAW menghasung kita untuk bersikap lembut dan kasih sayang? Beliau bersabda :

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ وَالْفُحْشَ

 “Hendaknya kamu bersikap lemah-lembut, kasih sayang dan hindarilah sikap keras dan keji.” (HR. Bukhari)

Salah satu bentuk kegalakan yang sering dilakukan oleh orang tua adalah mengeluarkan kata-kata kasar dan ungkapan-ungkapan buruk yang ditujukan kepada si anak. Muhammad Rasyid Dimas dalam bukunya Siyasat Tarbawiyyah Khathi’ah mengutip beberapa contoh kalimat yang kerapkali diucapkan para orang tua –umumnya ketika sedang marah– dan disinyalir dapat melukai jiwa anak. Yakni ungkapan-ungkapan seperti, “Goblok!”, “Kamu tolol!”, “Diam, dungu!”, “Kemarilah, hai anak nakal!”, “Kamu seperti keledai, tidak paham juga!”, “Aku tidak merasa bangga kamu jadi anakku!”, “Kamu orang paling bodoh yang pernah saya lihat!”, “Mengapa kamu tidak seperti adikmu!”, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Kalimat-kalimat semacam itu, menurut Rasyid Dimas, sangat berbahaya bagi jiwa anak, dan hendaknya dihindari oleh para orang tua. Kalimat-kalimat seperti itu jika terlalu sering diucapkan akan menjadikan anak merasa diintimidasi, dizhalimi dan diitindas, sehingga menyebabkan luka di dalam jiwanya. Luka tersebut tidak akan hilang dalam waktu yang cepat, melainkan akan menempel kuat dan membuat parit yang dalam pada perasaan dan jiwanya. Dan itu akan menghambat proses perkembangan jiwa si anak dan membuatnya menjadi orang yang introvert (tertutup), murung, merasa tidak aman dan membenci diri sendiri; serta akan menumbuhkan sikap aprioiri, pembangkang, frustasi, pasif dan suka bermusuhan dengan orang lain. Yang lebih parah lagi, hal itu akan memangkas rasa percaya diri dan motivasi anak, sehingga anak menjadi mudah putus asa, minder dan tidak memiliki semangat untuk maju.

Melihat efek negatif sikap galak terhadap kejiwaan anak, maka ibu (maupun ayah) dituntut harus bisa mengerem dan menahan diri. Jangan sampai kegalakan itu cepat tersulut setiap waktu, sehingga anak kerapkali menjadi bulan-bulanan kemarahan dan sikap keras orang tua. Kalau ini yang terjadi, maka sungguh kasihan si anak!!

 

La Taghdhab!

Islam sebenarnya telah mengajarkan kepada kita untuk menghindari sifat marah dalam hidup ini, apalagi itu ditujukan kepada anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah a, bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki tersebut mengulang-ulang perkataannya beberapa kali. Beliau pun selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Seseorang mendatangi Ibnul Mubarak –semoga Allah merahmatinya– dan berkata, “Coba rangkumkan akhlak yang baik dalam satu kalimat!” Maka, Ibnul Mubarak menjawab, “Hindari marah!”

Baca Juga: Salah Kaprah Dalam Mendidik Anak

Sungguh, wasiat la taghdhab (jangan marah) yang disampaikan oleh Nabi kepada kita, akan membawa kemaslahatan yang berlimpah jika kita bisa ‘membumikannya’ dalam realitas kehidupan kita, termasuk dalam keluarga kita. Seorang ibu yang mengedepankan kelembutan dan membuang jauh-jauh kegalakan saat berinteraksi dengan anaknya, akan lebih berpeluang menggapai kesuksesan dalam mencetak anak shalih-shalihah. Karena, Allah Ta’ala akan mencintai dan mencurahkan kebaikan kepada keluarga yang dinaungi oleh sifat kelembutan. Nabi SAW bersabda :

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ أَهْلَ بَيْتٍ أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

 “Sesungguhnya Allah jika mencintai penghuni sebuah rumah, Dia akan menanamkan kepada mereka sikap lemah-lembut.” (HR. Ibnu Abi Dunya dan selainnya, terdapat dalam Shahihul Jami’, no. 1704)

 

Tips Meredam Kegalakan

Apabila suatu ketika, karena beberapa faktor, ketegangan tak dapat dihindarkan, marah telah membuncah, emosi telah meninggi, dan kegalakan telah terpancing untuk diledakkan, maka Islam memberikan tips syar’i untuk meredam kemarahan. Yang jelas, pertama kali, ia harus segera sadar bahwa marah adalah penyakit kronis yang akan menimbulkan berbagai bencana yang hebat. Lalu, hendaklah ia menjauhi hal-hal yang bisa semakin membakar emosinya, dan hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Karena, pada hakikatnya, marah itu berasal dari setan. Berwudhu saat marah juga sangat positif untuk dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Maka, apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (Sunan Abi Dawud, No. 4784, hal. 678)

Hendaklah ia tetap berada pada posisinya semula. Jika orang yang marah dalam kondisi duduk, maka janganlah ia berdiri, karena gerakan tertentu saat marah bisa membangkitkan emosi lebih besar lagi. Namun, mengubah posisi kepada yang lebih rendah lagi saat marah, bisa dilakukan. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah dan ia sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk. Dan jika marahnya belum sirna dari dirinya, hendaklah ia berbaring” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Juga, hendaklah ia menahan diri dari berkata-kata saat sedang marah, karena ucapan yang meluncur dari bibir yang gemeretak karena marah, berpotensi untuk semakin menyulut emosi. Beliau bersabda, “Dan apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” (HR. Ahmad)

Demikian. Semoga setelah membaca tulisan singkat ini, Anda tak lagi menjadi ibu yang galak. Anda akan berubah menjadi ibu yang ramah-menyejukkan saat berinteraksi dengan anak-anak dan suami Anda. Wallahul musta’an

 

Oleh: Redaksi/Parenting Islami

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ustadz, saya punya masalah dengan ibu mertua. Beliau selalu marah-marah dan kurang terima dengan berbagai hal yang saya lakukan. Padahal, insyaallah, saya selalu berusaha menjalankan tugas dengan baik, karena saya anak desa yang terbiasa dengan urusan kerumahtanggaan. Beliau sering marah dan menyinggung perasaan saya. Sayangnya, tipikal suami saya pendiam dan sering mengalah dengan ibu. Padahal satu dua kali saya juga butuh pembelaannya, sebab beberapa hal menurut saya sangat menyinggung perasaan. Apa memang birrul walidain itu harus seperti itu, Ustadz? Kalau iya, mungkin kesabaran saya yang kurang. Atas masukannya saya ucapkan terima kasih.

Muslimah, Jogja

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti yang shalihah, persoalan yang muncul antara mertua dengan menantu adalah masalah yang sangat lazim. Ketidakcocokannya bisa karena kurangnya komunikasi, pengetahuan keagamaan yang lemah, hingga soal perbedaan selera dalam berbagai hal. Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Semoga Allah memudahkan urusan Ukhti.

Yang pertama, cobalah bersyukur kepada Allah atas kesempatan beramal shalih dengan ibu mertua. Sebuah kesempatan langka yang tidak semua menantu mendapatkannya. Anggaplah beliau sebagai ibu sendiri agar lebih mudah memahami sikap dan tindakannya. Termasuk perasaan terikat dengan putra kesayangan, yang lahir dari rahimnya, kini terbagi kecenderungannya dengan Ukhti sebagai isteri. Kelak, Ukhti akan mengerti, insyaallah.

Perbaikilah pola komunikasi dengan cara yang lemah lembut agar terbentuk saling pengertian. Hormati, muliakan, cintai, dan sayangi beliau dengan tulus. Insyaallah hal itu bisa melunakkan hatinya. Sering-seringlah meminta nasihat atas suatu masalah agar Ukhti bisa melihat sudut pandang beliau. Selain akan membuat Ukhti bertambah luas wawasan, hal itu juga bisa menjadi masukan bagi suami untuk bersikap jika ternyata pandangan beliau menyimpang dari ajaran agama islam. Bagaimanapun, beliau berasal dari zaman dan pola pendidikan yang berbeda.

Jangan lupa untuk mempelajari selera beliau tentang suatu hal. Sebab selera seseorang terhadap sesuatu, akan sangat berpengaruh terhadap penilaiannya. Jadi bukan hanya soal selesai dikerjakan, tapi juga tentang bentuk dan tampilannya.

Selain itu, ingatkanlah suami tentang tanggung jawabnya untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah terbebas dari campur tangan orang lain. Juga tentang kewajibannya untuk bersikap adil dengan timbangan syariat. Bisa menegur siapapun yang berbuat zhalim dan melanggar syariat dengan cara yang baik.

Dan kalau ternyata pilihannya adalah berpisah tempat tinggal, maka jangan lupakan silaturahmi dengan sering berkunjung. Syukur sambil membawa oleh-oleh. Juga jangan lupa mendoakan kebaikan bagi beliau secara khusus. Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Oleh: Ust. Tri Asmoro/Konsultasi Keluarga

 

Baca Konsultasi Lainnya Juga: 

Pernah Dinodai Oleh Pacar dan Takut Memutusnya, Apa Solusinya?

Tidak Tahan dengan Kelakuan dan Penampilan Istri

Saya Rajin Beribadah, Tapi Jodoh tak Juga Kunjung Datang

 


Ingin berlangganan Majalah Islami tentang keluarga dan seluk-beluknya? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085

Kesempatan Berharga Bersama Orang Tua

Foto-foto pengungsi Rohingya yang sedang memikul orang tuanya menjadi viral di media sosial. Beberapa video juga tersebar menunjukkan bagaimana mereka terseok menggendong ibu mereka menyeberangi lumpur dan sungai.

Hal tersebut mengingatkan kita pada kisah ibnu Umar saat ia melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

Semoga Allah memberi kemudahan kepada mereka lantaran bakti mereka kepada orang tua. Beruntunglah mereka yang masih diberikan nikmat kebersamaan dengan orang tua karena masih terbuka salah satu pintu dari pintu-pintu surga.

Keberadaan orang tua merupakan kesempatan berharga bagi anak untuk menimba pahala sebanyak-banyaknya.

 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَظُنُّهُ قَالَ أَوْ أَحَدُهُمَا

Rasulullah bersabda, “Celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena kebaktiannya).” Dan berkata Abdurrahman, “aku mengira ia mengatakan atau salah satunya.”

Raghima anfu rajulin dalam hadits tersebut adalah seseorang akan mengalami berbagai kehinaan di dunia jika ia hidup bersama orang tuanya sementara ia tidak bisa menjadikan keduanya faktor yang membuatnya masuk surga. Taat kepada orang tua adalah cara termudah untuk masuk surga.

Baca Juga: Pahala Sempurna Bagi Orangtua yang Anak Kecilnya Meninggal

Salah seorang sahabat pernah datang kepada Nabi dan bertanya, “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah.” Nabi menjawab, “Shalat pada waktunya.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Birul walidain.”

Rasulullah menggunakan istilah berbakti bukan taat, karena kata bakti mencakup semua jenis kebaikan, kasih sayang, memberi, menolong, dan membahagiakan mereka berdua.

Kesempatan hidup bersama orang tua tak datang dua kali. Maka para sahabat dan orang-orang shalih memanfaatkan waktu tersebut dengan baik.

Anas bin Nadzr al-Asyja’I pernah bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.”

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang didapatkan anaknya.

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar. Suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum!” Mendengar panggilan ibunya, beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya.

Baca Juga: Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking.

Melihat tindakan seperti itu, ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu?” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.”

 Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma).

Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian? Padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan, pasti kuberikan.” (Shifatush Shafwah)

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah, beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, ‘Ada apa dengan Muhammad? Apakah dia mengadukan suatu hal?’ Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, ‘Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya’.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Bersegeralah untuk berbakti kepada orang tua sebelum kesempatan itu berlalu dan penyesalan selalu hadir dibelakang. Jika ingin memperoleh cinta Allah, mintalah ridha orang tua. Kita bahagiakan orang tua. Buat mereka tertawa, bantulah mereka, bersabarlah terhadap perilaku mereka yang membuat kita tak senang.

Jika salah seorang dari mereka berumur lanjut dalam pemeliharaan kita, jangan tinggikan suara dihadapan mereka dan tetaplah berkata dengan perkataan yang mulia. Berdoalah untuk keduanya baik ketika mereka masih hidup atau setelah mereka meninggal.

Seorang tabiin pernah ditanya, “Berapa kalikah saya harus berdoa kepada ayah dan ibuku?” Ia menjawab, “Lima kali dalam sehari.” Orang itu bertanya, “mengapa?” Ia menjawab, “Bukankah engkau telah diperintahkan untuk shalat lima waktu dalam sehari?” orang itu menjawab, “Benar.” Tabiin itu berkata, “Bukankah Allah berfirman, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.’ (QS. Luqman: 14). Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan/Fadhilah

 


Segera miliki majalah islam keluarga, ar-risalah. Majalah pilihan keluarga muslim dalam meningkatkan kualitas hati dan ketakwaan. Hubungi agen terdekat atau sms/wa ke: 0852 2950 8085

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasi?

Pertanyaan: 

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz yang baik, suami saya memiliki hutang yang lumayan banyak. Apakah istri ikut menanggung hutang itu jika dia memiliki harta, sedang suami tidak memiliki harta untuk membayarnya?

Jazakumullah untuk jawaban dan perhatiannya.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ibu yang shalihah, di dalam Islam, seorang istri tidak berkewajiban menanggung nafkah untuk suaminya. Karena kewajiban menafkahi keluarga dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga. Pun harta seorang istri berapapun banyaknya adalah miliknya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri.

Di dalam surat an Nisa’ ayat 4, Allah berfirman, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Ayat ini menjelaskan bahwa mahar istri yang asalnya dari suami saja, tidak boleh kembali dinikmati suami kecuali atas kerelaan istri, maka harta istri yang bukan dari suami lebih tidak boleh dinikmati suami tanpa kerelaan istri.

Dengan demikian, hukum asalnya adalah istri tidak wajib menanggung utang suami. Harta istri adalah miliknya sendiri dan dia bebas menggunakannya tanpa campur tangan orang lain, termasuk suaminya. Istri boleh menolak pembayaran hutang itu jika suami memaksa. Sebab tanpa kerelaan istri, haram hukumnya seorang suami mengambil dan menikmati harta istri.

Namun jika pembayaran hutang suami oleh istri adalah pemberian yang ikhlas tanpa paksaan, tanda cinta istri kepada suami setelah mempertimbangkan kemampuan masing-masing, juga upaya istri meraih amal shalih yang lebih banyak, tentu saja diperbolehkan. Bahkan ia adalah sebuah keutamaan.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Konsultasi

 

Artikel Konsultasi Lainnya: