Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa

Entah siapa yang memulai, namun pembagian tugas: suami mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga, menjadi sebuah teori atas nama agama dan adat yang tak terbantahkan. Sungguh, ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan gender atau banyaknya muslimah yang bekerja di luar rumah dengan beragam alasan. Tapi nyatanya, ada juga para suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan rumah kepada istri. Ya, sepenuhnya tanpa syarat. Mulai dari hal-hal remeh seperti sekadar menyapu nasi sisa yang tercecer (bekas makan anak-anaknya sendiri), sampai urusan strategis yang sering dianggap sepele, yaitu pendidikan anak.

Ironis. Ketika dalam sebuah keluarga muslim pasangan suami istri saling melempar tanggung jawab urusan ini. Suami sibuk di luar rumah demikian pula dengan sang istri. Akhirnya, anak diserahkan kepada pembantu atau seharian penuh berada di sekolah-sekolah terpadu tanpa kontrol orang tua. Orang Jawa bilang, “Pasrah bongkokan.” Ayah-ibu tiba di rumah dalam keadaan sangat payah, sehingga hampir tak ada selera untuk bercanda dengan anak-anaknya. Lebih ironis lagi, bila sibuknya sang ayah atau ibu tersebut, disebabkan urusan dakwah untuk memperbaiki akhlak orang lain, namun lupa kepada keluarganya. Lupa bahwa anak-anaknya jauh lebih berhak diperhatikan daripada orang lain.

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Dan perintahkanlah keluargamu menjalankan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kami lah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akherat] adalah bagi orang yang takwa.” (QS. Thaha : 13)

Mari kita renungi. Kita kembalikan semua pada fitrahnya.

Kita semua telah hafal di luar kepala, bahwa ibu adalah madrosatul ula, sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Tak heran, bila anak sering dianggap imitasi dari para orang tua, terlebih ibu. Lihatlah bagaimana cara mereka marah, bagaimana cara mereka berbicara, berpakaian atau bertingkah laku. Mungkin, para ibu akan tertawa sendiri bila menyadarinya. Maka sangat disayangkan bila anak-anak kita mendapat metode pendidikan yang salah dari sang ibu. Lebih menyedihkan lagi, bila pendidikan pertama ini justru didapat dari orang lain, mengingat betapa sibuknya ibu dengan pekerjaannya, dengan hobinya, dengan teman-temannya, dengan pengajiannya, dan sebagainya.

Padahal di antara tugas seorang ibu yang sholihah adalah untuk mendidik anak-anaknya, untuk menjaga kesucian dan kebersihan, menjaga kehormatan dan keberanian, serta meninggalkan gemerlap perhiasan dan kesenangan dunia. Semua itu agar mereka tumbuh sebagai anak-anak yang hanya hidup dengan islam dan untuk islam.

Lalu dimana ayah?

Dalam Islam ayah memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ia bertanggung jawab atas keistiqamahan seluruh anggota keluarga. Ialah istri dan anak-anaknya.

“Dan ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya”. (HR. Muslim)

Akan tetapi kesibukanlah yang sering dijadikan alasan oleh para ayah sehingga kesulitan mencari waktu luang untuk berkumpul dengan anggota keluarga. Hampir tak ada waktu untuk sekadar mendengarkan keluhan, mengarahkan, mendengarkan pendapat atau mengajak bicara. Istri pun sering tidak mendapat kesempatan untuk berdiskusi atau membicarakan program-program dalam keluarga. Bisa juga kebersamaan yang ada itu hanya sebatas formalitas saja. Ayah bersama laptopnya, ibu sibuk dengan teman-temannya di negeri dumay (dunia maya), anak-anak menonton televisi, semua asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Berkumpul dalam satu atap, namun semua membisu. Bisu dan tenggelam dalam alamnya masing-masing.

Padahal peran ayah dalam mendidik anak tak kalah pentingnya. Dia memiliki andil untuk membantu istri dengan cara menjelaskan dan mendiskusikan  metode pendidikan bagi anak-anaknya serta langkah-langkah operasional untuk mewujudkan semua itu. Karena anak-anak biasanya lebih sering berinteraksi dengan ibu. Namun tanpa bantuan suami, sulit rasanya bagi seorang istri memahami hakekat pendidikan yang benar dan mengokohkan keinginan mencetak generasi-generasi terbaik dari anak-anaknya.

Mari kita perhatikan, bagaimana lelaki terbaik umat ini berinteraksi dengan anak-anak. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, “Aku mellihat Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, kemudian datang Al-Hasan dan Al-Husain yang mengenakan gamis berwarna merah berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Maka beliau turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan mendudukkan di hadapannya. Beliau pun bersabda, ‘Maha benar Allah dalam firmanNya, ‘Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah ujian.’ Aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih, maka aku tidak sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan aku mengangkat keduanya.” Hmm…Sebuah pemandangan unik yang mungkin tak akan ditemui dari para ayah zaman sekarang.

Maka bisa dipastikan bahwa urusan pendidikan anak, bukan melulu tanggung jawab suami atau hanya menjadi tugas istri. Keduanya disyari’atkan untuk bahu membahu dalam menjalankannya. Akan tetapi para istri semestinya bersabar atas kelalaian suami yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bahkan tak menjadi penghalang bagi langkah suami dalam berbagai urusan. Sebaliknya para suami juga tidak boleh tenggelam dalam dunianya, hingga menelantarkan keluarganya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku”. (HR. Tirmidzi)

Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama bahwa, pendidikan anak bukan merupakan pekerjaan main-main. Inilah pekerjaan lintas generasi yang berawal dari rumah. Dari kita, orang tuanya. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Sebuah pekerjaan yang buah manisnya tidak bisa kita nikmati seketika, namun berbuntut panjang bahkan hingga ke negeri akhirat.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah

 

Lelah dalam Memaknai Syahrun Mubaarak ‘Ramadhan’

Ataakum syahrun mubaarak, telah Adatang kepada kalian bulan yang diberkahi, demikian ucapan selamat dari Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika datang bulan Ramadhan.

Ini memang perkara yang sudah dimaklumi dan disepakati. Sekaligus paling mewakili tentang sifat Ramadhan. Juga lebih tepat daripada menyifati ramadhan sebagai bulan suci, karena masih butuh dalil tentang penyifatan ini. Berbeda dengan syahrun mubaarak yang telah jelas nash dan dalilnya.

Tapi, mari kita selami lebih jauh lagi akan makna keberkahan yang berhubungan dengan Ramadhan. Di antara makna keberkahan adalah an nama’ wa ziyadah, bertumbuh dan bertambah. Keberkahan itu ketika mengenai yang sedikit maka akan berlipat menjadi banyak. Dan jika mengenai yang banyak akan tampak manfaatnya. Indikator yang paling nyata akan keberkahan sesuatu adalah istl’maluhaa alaa tha’atillah, ketika digunakan untuk ketaatan kepada Allah.

Ramadhan kita akan berkah ketika semakin banyak kita gunakan untuk ketaatan. Jelas pula kita pahami bahwa keberkahan bulan Ramadhan menjadikan pahala amal shalih menjadi berlipat ganda.

Namun tak hanya keberkahan yang berupa pahala semata. Bahkan setiap usaha, karya kebaikan dan amal shalih itu akan dilipatkan hasilnya di bulan Ramadhan.

Omset sedekah di bulan Ramadhan biasanya selalu meningkat drastis, pun begitu tak pernah ada laporan atau berita tentang bertambahnya angka kemiskinan disebabkan banyaknya orang yang bersedekah. Meskipun kita dapati bahwa orang yang bersedekah di bulan Ramadhan termasuk juga kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ini di antara yang bisa dilihat dan dirasakan keberkahan sedekah di bulan ramadhan.

Ikhtiar untuk mencari ilmu, di bulan Ramadhan juga akan dilipatkan hasilnya dari pemahaman dan atau hafalannya. Sedikit usaha membuahkan hasil yang berlipat di hari biasa.

Baca Juga: Kultum Ramadhan, Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

Keberkahan Ramadhan juga bermakna bagi orang yang berupaya menghafal aI-Qur’an, kemudahan juga akan lebih dirasakan jauh dibandingkan hari biasa. Pengalaman ini juga banyak disaksikan dan dialami oleh para penghafal al-Qur’an. Begitulah makna keberkahan Ramadhan bagi para penghafal aI-Qur’an.

Bagi para da’i di jalan Allah, ajakan dan seruan mereka lebih banyak didengar dan diterima oleh masyarakat, dibanding waktu-waktu yang lain. Nyatanya, event-event pengajian lebih banyak dihadiri meski secara intensitas juga lebih sering dari bulan selainnya.

Intinya, Ramadhan menjanjikan hasil yang berlipat ganda dan istimewa bagi siapapun yang mengisinya dengan kebaikan. Maka selayaknya kita tak canggung dan tanggung untuk merencanakan program-program di bulan Ramadhan. Baik yang berhubungan dengan target diri sendiri, keluarga maupun masyarakat secara umum. Mari lihat kembali, sedahsyat apa program kita di bulan Ramadhan tahun ini.

Apakah program yang terencaa sudah terealisasi? Sementara Ramadhan hanya tersisa beberapa hari lagi.

Semoga Allah menerima ibadah puasa kita tahun ini.

 

Muhasabah/Ust. Abu Umar Abdillah

Kultum Ramadhan: Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

Kultum Ramadhan

Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

 

Jerih payah perjuangan, akan terasa manis dikenang saat seseorang telah berhasil mencapai tujuan. Derita dan duka lara yang pernah dilalui pun menjadi cerita indah setelah bahagia datang. Seperti seseorang yang untuk bersekolah dan menuntut ilmu harus mengenyam pahitnya kesabaran saat belajar dan keterbatasan di negeri rantau akan senang mengenang peristiwa tersebut setelah ia sukses menyelesaikan pendidikan.

Atau seorang businesman yang harus jatuh bangun merintis usaha akan mengenang peristiwa sulit itu ssebagai kisah indah saat ia telah sukses membangun bisnisnya. Seperti juga liku-liku seseorang yang
menghadapi aral yang terjal saat menuju gerbang pernikahan, kelak ujian itu menjadi kisah romantis yang dikenang selalu. Itulah indahnya bernostalgia. Suatu cara menghibur diri dengan cara mengingat suka duka meraih sesuatu yang diimpikan.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Dari semua nostalgia yang pernah ada dan akan ada, tak ada nostalgia yang lebih indah dari nostalgia penghuni surga. Saat mereka telah bergelimang dengan kenikmatan, telah sirna penderitaan dan kesusahan, maka bernostalgia menjadi tambahan hiburan bagi mereka.

Ibnul Qayyim dalam bukunya yang fenomenal Hâdil Arwah ila Bilâdil Afrah, perjalanan ruh ke negeri kebahagiaan, memberi satu judul bab dengan kalimat, “Fî Ziyârati Ahlil Jannah ba’dhuhum ba’dha wa tadzâkurihim ma kâna bainahum fid dunya,” yakni bab tentang penghuni surga yang saling mengunjungi satu sama lain dan bernostalgia terhadap kenangan yang pernah mereka alami di dunia. Sebuah judul yang unik dan membuat kita penasaran, dasar manakah yang beliau jadikan sebagai sandaran, benarkah penghuni surga saling bernostalgia.

Mungkin kita sering membacanya, namun luput dari perhatian kita. Karena ternyata, ada ayat yang gamblang menjelaskan hal ini, yakni firman. Allah Ta’ala,

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

Allah mengabarkan bahwa penghuni surga saling berhadap-hadapan satu sama lain, mereka bercengkerama dan saling bertanya tentang suka dukanya di dunia. Lalu mereka saling bercerita dan mengenang nostalgia mereka saat di dunia. Hingga ada di antara mereka berkata, ”Sesungguhnya
aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (Ash Shaffat 50-51)

Tak ada sesuatu yang lebih indah untuk dikenang selain liku-liku mereka di dunia saat menghadapi godaan dan gangguan, dan bagaimana beratnya menahan kesabaran di dunia, hingga Allah menyelamatkan sampai di jannah. Di antara mereka ada yang hampir terpengaruh dengan bujuk rayu temannya di dunia yang menanamkan keraguan terhadapnya akan adanya hari kebangkitan di dunia.

Allah mengisahkan seorang penghuni jannah yang mengenang saat di dunia yang digoda oleh temannya,

 

قُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ ﴿٥٢ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

“yang berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan’.” (QS. ash-Shaffat: 52-53).

Ketika itu, ia pun segera mengingat temannya itu, dan ia ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang setelah di akhirat. Maka iapun berkata:

 

قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿٥٤ فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ ﴿٥٥ قَالَ تَاللَّـهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ ﴿٥٦ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ ﴿٥٧

“Maka iapun berkata, ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah naar menyala-nyala. Ia berkata (pula),”Demi Allah, sesungguhnya kamu benarbenar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke naar).” (QS. Ash-Shaffat: 54-57)

Perbincangan para penghuni surga tak hanya menyangkut pribadinya semata, tapi juga bercerita tentang suka duka keluarganya. Masih di bukuyang sama, Ibnul Qayyim membuat sub judul, “fi tadzâkuri ahil Jannah ma kâna bainahum fi Dârid dunya,” yakni tentang penduduk jannah yang bernostalgia (mengenang) di antara mereka saat di dunia. Lalu beliau menyebutkan:

 

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴿٢٥ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦ فَمَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Dan sebagian mereka menghadap sebagian yang lain, saling tanya menanya. Mereka berkata,” sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut akan di azhab. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azhab neraka.” (QS. ath-Thur: 25-27).

Ketika mereka bernostalgia, maka mereka mengenang masa-masa sulit yang mereka alami saat mencari ilmu, memahami al-Qur’an dan asSunnah. Hal ini lebih menyenangkan bagi mereka daripada kenikmatan
makan maupun minum. Bagaimana tidak, setelah mereka berada dalam satu keluarga orang yang beriman, melewati masa-masa hidup di dunia denga suka dan duka, mereka juga sempat kehilangan anggota keluarga yang dicintainya, karena memang Allah mewafatkan mereka bukan dalam waktu yang bersamaan, lalu setelah sekian lama berpisah, akhirnya Allah mengumpulkan mereka kembali di jannah.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat keluarga orang mukmin menjadi satu level dengannya, meskipun amal mereka levelnya berada di bawahnya. Itu semua agar Allah menyempurnakan kebahagiaannya. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. ath-Thur: 21).

Begitulah, Allah akan menyatukan satu keluarga orang mukmin tanpa mengurangi keutamaan salah satu di antara mereka. Tak ada yang diturunkan derajatnya untuk bersatu dengan keluarganya, justru anggota
keluarga yang berada di level bawah akan dinaikkan ke derajat yang paling tinggi di antara mereka. Alangkah indahnya pertemuan mereka ketika itu.

Alangkah mengesankan pula ketika mereka bernostalgia dan mengenang masa-masa hidup di dunia. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai di jannah-Nya, aamiin.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

Kultum Ramadhan: Ketika Setan Menjadi Teman

Kultum Ramadhan:

KETIKA SETAN MENJADI TEMAN

 

Salwa al-Udlaidan menyebutkan kisah dalam bukunya “Hakadza hazamu al-Ya’sa” bahwa ada seorang salaf yang rontok semua rambut kepalanya, belang kulitnya, buta kedua matanya, dan lumpuh kedua tangan dan kakinya. Meskipun begitu keadaannya, dia berucap, “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari penyakit yang menimpa kebanyakan dari makhluk-Nya, dan melebihkan keadaanku dari keadaan mereka.”

Mendengar ucapan ini, seseorang keheranan dan bertanya, “Dari penyakit apa Allah menyelamatkan Anda, sedangkan Anda dalam keadaan buta, belang, rontok rambut kepala dan lumpuh? Nikmat manakah yang Allah lebihkan Anda dari orang lain?” Iapun menjawab, “Wahai kisanak, Allah telah menjadikan lisanku sehat untuk berdzikir, hati yang bisa bersyukur dan badan yang sabar menanggung cobaan.” Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ{ [الزخرف:36].

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS az-Zukhruf 36)

Begitulah orang yang telah merasakan kecintaan kepada Allah dan manisnya ketaatan kepada-Nya. Yang menjadikan keridhaan Allah sebagai barometer keberuntungan dan kebahagiaan. Apapun derita fisik dan cobaan duniawi terasa ringan selagi ia dekat dengan Allah. Ini mengingatkan kita akan ‘curhat’ Nabi shallallahu alaihi wasallam saat dakwahnya ditampik oleh penduduk Tha’if, bahkan dibalas dengan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Beliau berdoa,

 

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي إِلَى عَدُوٍّ يَتَجَهَّمُنِي أَمْ إِلَى قَرِيبٍ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي! إِنْ لَمْ تَكُنْ غَضْبَانًا عَلَيَّ فَلاَ أُبَالِي، إِنَّ عَافِيَتَكَ أَوْسَعُ لِي

“Ya Allah, kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia wahai Yang paling pengasih di antara para pengasih. Ya Arhamar Raahimin, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku, apakah orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasaiku, selagi Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Karena teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku.” (HR Thabrani)

Segala musibah itu kecil, selagi Allah ridha terhadapnya. Karena dampak dari keridhaan Allah adalah kebahagiaan hakiki yang lebih nyata, sempurna dan lestari selamanya. Begitu pula sebaliknya, tidaklah berarti segala kenikmatan dunia dimiliki sementara Allah murka terhadapnya. Hatinya akan gelisah tak jelas pangkal dan ujungnya. Hati akan diliputi  kegelisahan, dan cepat atau lambat Allah akan mencabut nikmatnya dan menggantikannya dengan niqmah (bencana).

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Hama Pahala di Bulan Mulia

Maka tak ada musibah yang lebih besar bagi manusia, melebihi musibah berupa jauhnya ia dari Allah. Ketika ia tidak mau mendekat kepada Allah, tidak mau mengingat dan mengindahkan titah dan larangan-Nya, maka Allah menguasakan mereka kepada setan. Inilah sunnatullah yang berlaku sebagai balasan yang setimpal bagai orang yang tak mau diuntung.

Pernah suatu kali Sufyan bin Uyainah berkata, “Tidaklah ada kata-kata bijak yang masyhur di kalangan Arab, melainkan saya bisa menyebutkan firman Allah yang lebih bagus tentangnya.” Lalu seseorang berkata, “Bagaimana dengan kata-kata, “A’thi akhaka tamratan, fainlam yaqbal fa’thihi jamratan”, berilah saudaramu tamrah (kurma), jika tidak mau menerima, beri saja jamrah (bara api), ayat mana yang semisal dengan ini?”

Maka beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ{ [الزخرف:36].

“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya seitan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az-Zukhruf: 36)

Ketika seseorang tidak mau diuntung dengan cara mendekat dan taat kepada Allah, maka ia akan menjadi buntung, tersesat dalam tawanan setan. Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menyebutkan, ketika segolongan manusia enggan menegakkan shalat jamaah yang merupakan bentuk taqarrub kepada Allah yang paling nyata, maka Allah biarkan setan akan menguasai mereka,

 

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَة

“Tiada tiga orang dalam satu desa, atau pegunungan, lalu tidak ditegakkan shalat jamaah di tengah mereka, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala akan memangsa kambing yang sendirian.” (HR Abu Dawud)

Musibah mana yang lebih besar dari musibah manusia yang telah ditawan oleh setan, hingga setanlah yang menjadi pemimpinnya, yang mengarahkan langkah dan memandu jalannya. Telah nyata bahwa setan adalah musuh sejati manusia, sama sekali tak berpihak kepada manusia, dan tak sedikitpun bermaksud baik kepadanya. Setiap intruksi dan order dari setan terhadap pengikut dan tawanannya adalah uapaya menggiring mereka menuju jurang binasa. Allah berfirman,

 

 إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Wallahu a’lam bishshawab.

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah

Dosa Hanya Membuahkan Derita

 

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. al-Jatziyah: 21)

 


 

Ibnu Asakir menyebutkan dari Masruq bahwa Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu suatu malam shalat dengan membaca dan mengulang-ulang ayat,

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Beliau melakukannya dari tengah malam hingga menjelang Subuh sembari menangis karena penghayatannya terhadap ayat ini. Betapa peka hati beliau. Semacam ada kekhawatiran bahwa perbuatan baik dan amal shalihnya belum mencapai level sebagai orang baik. Ada rasa takut bahwa kekhilafannya saat terjerumus pada suatu dosa atau sisi kekurangannya dalam menjalankan kewajiban menjatuhkannya pada kriteria sebagai pendosa.

Begitulah para shalihin, amalnya klimak, rasa takutnya memuncak. Orang mukmin itu melihat dosa yang pernah dilakukannya seperti duduk di kaki gunung hingga takut akan reruntuhan bebatuannya. Adapun orang fajir memandang dosa yang telah diperbuatnya seperti lalat yang hinggap di hidungnya. Cukup dengan mengibsakan kepalanya, maka lalat itu akan enyah dari dirinya. Begitulah wasiat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Seorang mukmin menganggap besar urusan dosa dan tidak menyepelekannya. Maka ia akan berusaha meninggalkan dosa, menjauhinya, bertaubat dan merengek-rengek kepada Allah agar mengampuni dan memaafkannya.

Baca Juga: Yang Menyenangkan Belum Tentu Membuat Bahagia

Adapun karakter pendosa tidak demikian halnya. Berapa banyak orang-orang yang dengan gampang melakukan dosa, lalu mengira secara otomatis Allah akan mengampuninya. Berapa banyak pula orang yang malas dalam melakukan ketaatan dan menelantarkannya, lalu secara sepihak mengklaim bahwa Allah memaklumi kemalasannya? Mereka mengikutapi mengklaim sebagai kata hati atau nurani yang Allah fitrahkan kepadanya. Padahal ia tidak mau tahu petunjuk-Nya, perintah dan larangan-Nya lalu mengira sudah mentaati-Nya. Dengan dalih itu pula ia menyangka bahwa Allah akan membalas sama antara mereka dengan orang yang benar-benar takut berbuat dosa dan benar-benar taat dalam menjalankan perintah Allah. Ini terlalu namanya. Maka tentang klaim yang seperti ini, maka Allah menyanggahnya,

“Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Ibnu Katsier menjelaskan dalam Tafsirnya, “Alangkah buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan para pendosa baik dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.

Ibnu Katsier rahimahullah menyebutkan satu riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ”

“Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa.”

Hanya saja hadits ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya. Akan tetapi Muhammad Ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa ada temuan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka’bah, tertulis padanya, “Kamu berbuat keburukan lalu berharap hasil yang baik, perihalnya seperti orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri,” yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur.

Baca Juga: Dosa Itu Kini Tumbuh Besar

Balasan baik hanya diterima oleh orang yang usahanya baik. Begitupun dengan hasil yang buruk, tidak disandang kecuali oleh orang yang berlaku buruk. Sebagaimana amal keduanya berbeda saat di dunia, maka beda pula hasilnya kelak pada hari Kiamat. Kerugian dan siksa neraka adalah buah yang akan dipanen para pendosa, sedangkan keberuntungan dan kenikmatan adalah buah yang Allah anugerahkan kepada orang-orang baik dan bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,

“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)

Maka perlu dipahami betul indikator ataupun pembeda antara orang baik dan orang fajir. Ada penjelasan dari sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari yang layak kita jadikan cermin untuk diri, adakah kita masuk dalam kategori orang baik, atau malah sebaliknya.

Al-Hafiz Abu Ya’la meriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu bahwa beliau berkata, “Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, maka ia akan menghadap Allah dalam keadaan sebagai seorang yang fasik atau pendosa.” Ketika beliau ditanya, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?” Beliau menjawab, “Hendaklah seseorang mengambil apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak atau menghindari apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah. Ia juga mengerjakan perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah.”

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang baik, aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kalam Kalbu

 

Majalah Ar Risalah April 2019 – Edisi 214

Telah terbit majalah islam Arrisalah edisi 214 Bulan April 2019, yang berjudul “Masa Bergulir Tahta Bergilir” .

Daftar Isi Majalah Ar-Risalah Mei 2019

001 IFTITAH

002 Biah
Teroris Itu Bukan Islam

003 RUANG PEMBACA

006 RISALAH
Jangan Sia-siakan Bulan Sya’ban

007 DAFTAR ISI

008 MUTHALA’AH
08 Masa Bergulir Tahta Berakhir
13 Pasang Surut Hubungan Ulama Dan Penguasa

016 FATAWA
Denda Karena Terlambat Mengembalikan Buku

017 ASMAUL HUSNA
Maha Luas Rahmat Dan KuasaNya

019 AKHDATS NIHAYAH
Tiga Penenggelaman Ke Dalam Bumi

021 MAKALAH
Menjadi Pemuda Milenial Cerdas

024 ADAB NABAWIYAH
Menyulam Sabar Dalam Belajar

026 FIKRAH
Delegimitasi Istilah Syar’i

029 FIKih NAZILAH
Berjalan Cepat Karena Takut Telat

031 KHUTBAH Jumat
Merenovasi tiang Agama

035 FIKRAH DAKWIYAH
Dakwah Santun Atau Dakwah Kasar

 

037 AHLA HIKAYAH
Nabi Ishaq Dan Doanya Yang Mustajab

039 HIMMAH ALIYAH
Jejak Yang Penuh Makna

041 TIPS
Taubat Hebat Dari Maksiat

042 KALAM QALBI
Dahsyatnya Kekuatan “In Syaa Allah”

046 HADHARAH
Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Ilmu

048 TAJRIBAH
Hijrah Cintaku (2)

050 AHWAL NISAIYAH
Pemilik Dua Kepang

052 SHIFAT INSANIYAH
Melawan Rasa Takut

054 HIWAR UKHRAWI
Saat Hamba Bertemu Rabbnya

057 KITABAH
Anak Islam Hafal al-Qur’an

058 FURSAH NAFISAH
Memanfaatkan Peluang

061 AKIDAH
Berbahagialah Orang Yang Asing

063 DZATU IBRAH
Ombak Yang Mengundang Tangisan

064 MUHASABAH
Andai Dajjal Muncul Hari Ini

arrisalah edisi 214 april 2-19

Majalah Ar-Risalah

Al-Qur’an banyak mengisahkan perihal umat-umat terdahulu, agar diambil pelajaran oleh umat Muhammad Salallahu’alaihi wasallam hingga hari Kiamat. Termasuk kisah-kisah saat bersatunya antara kekuasaan dan kebenaran maupun saat di mana kebenaran harus berhadapan dengan kekuasaan yang berada di tangan musuh kebenaran. Ada masa di mana kekuasaan itu tumbang oleh kebenaran, dan ada kalanya Allah menyelamatkan penganut kebenaran meski kekuasaan tidak berpindah kepada penyandang kebenaran.

Begitulah kekuasaan dipergilirkan, semua kondisi menjadi ujian bagi orang yang beriman. Apa yang berlaku bagi ummat Muhammad Salallahu’alaihi wasallam juga silih berganti; ada masanya kekuasaan dan kebenaran sejalan dan ada masanya berjauhan bahkan tak jarang keduanya saling berhadap-hadapan. Semoga Allah anugerahkan kita kesabaran dan memenangkan kebenaran.

Baca selengkapanya di majalah ar-risalah edisi bulan ini.

Belum punya majalahnya? Atau bingung cara membelinya? hubungi agen terdekat di kota Anda atau

Klik Untuk hubungi kami  =               
Websaite: arrisalah.net

Sumbangan Islam dalam Memajukan Negeri Ini

Sebagian orientalis berpendapat bahwa kedatangan Islam ke negeri ini tidak membawa pengaruh dan perubahan penting. Snouck Hurgronje, misalnya, menyatakan dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1) bahwa Islam baru masuk ke kepulauan Indonesia pada abad XIII setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Snouck Hurgronje juga menyatakan dalam bukunya, Arabie en Oost Indie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam. Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Nusantara dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada.

Benarkah demikian?

 

Permulaan Zaman Modern

Kedatangan dan penyebaran Islam merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Oleh karena itulah, M.C. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul A History of Modern Indonesia menulis permulaan munculnya zaman modern di Indonesia sejak kedatangan Islam. Hal ini berarti bahwa sebelum kedatangan Islam, Indonesia belum memasuki zaman modern. Begitu pula, Indonesia sudah memasuki zaman modern sebelum para penjajah Barat yang beragama Katolik dan Protestan datang ke negeri ini.

Baca Juga: Islam Sebagai Kekuatan Orang Aceh Melawan Portugis

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, agama Islam yang datang ke negeri ini telah membawa suatu pemikiran baru dengan konsep-konsep rasionalisme, intelektualisme, dan penekanan kepada sistem masyarakat yang berdasarkan kepada kebebasan perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan. (Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hlm. 20) Dorongan baru yang dibawa oleh Islam itu telah menggalakkan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

 

Perkembangan Ilmu

Setelah kedatangan Islam, perkembangan ilmu pengetahuan berlaku bukan saja di pusat-pusat kebudayaan di istana atau keraton, tetapi kegiatan intelektualisme ini turut juga tersebar di kalangan rakyat jelata. Dalam Islam, kewajiban belajar dan membaca, terutama kitab suci Al-Qur’an, sudah menjadi sesuatu yang mesti dilakukan oleh setiap manusia Indonesia muslim. Sejak dari kecil, seseorang sudah diasuh mempelajari huruf Arab agar bisa membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama yang lain.

Dengan hal itu, gerakan pendidikan tidak lagi dimonopoli oleh istana-istana raja, tetapi tersebar luas di kalangan rakyat melalui institusi pendidikan, seperti madrasah, pesantren, masjid, langgar, surau dan lain-lain. Hasil dari pendidikan di berbagai institusi pengajian Islam, bahasa Melayu juga turut berkembang karena ia telah dijadikan sebagai bahasa pengantar dan bahasa ilmu pengetahuan. Melalui pendidikan Islam itu lahirlah cerdik pandai Indonesia, bukan saja ahli dalam bidang agama Islam, tetapi juga mengetahui cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain. (Ismail Hamid, Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, hlm. 12-13)

 

Bahasa Melayu sebagai Bahasa Muslim

Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa muslim kedua terbesar yang digunakan oleh kaum muslim di wilayah Asia Tenggara. Selambat-lambatnya pada abad XVI, bahasa Melayu telah mencapai kedudukan sebagai bahasa religius dan kesusastraan. Dibandingkan dengan bahasa Melayu kuno pada prasasti batu abad VII dan VIII, bahasa Melayu baru yang menyebar itu telah mengalami evolusi yang mendalam. Bahasa Melayu kemudian ditulis dengan huruf Arab dan sedikit demi sedikit diimbuhi dengan sejumlah besar istilah baru yang diambil dari bahasa-bahasa Islam lainnya. Dalam sebuah kajian, R. Jones telah menghitung secara global 2.750 kata asal Arab (di antaranya 260 nama diri) dan 321 kata asal Persia. Selain itu, ada beberapa kata Hindustani dan beberapa kata Tamil yang juga masuk melalui perantaraan Islam. (Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179)

Baca Juga: Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Bahasa Melayu pun menjadi bahasa Islam dan berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Untuk menghilangkan pengaruh Islam, sampai-sampai beberapa sekolah di Jawa yang didirikan oleh misionaris pada awal abad XX menghindari penggunaan bahasa Melayu sejauh mungkin. Imam Yesuit Frans van Lith, pendiri sekolah Muntilan berpendapat, ”Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.” (Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Jilid II, hlm. 726)

 

Budaya Menulis

Mengikuti pengaruh di bidang bahasa adalah tersebarnya sedikit demi sedikit alas baru untuk menulis, yaitu kertas. Sebelum kedatangan dan penyebaran Islam, orang Indonesia biasanya menulis di daun lontar. Teknologi kertas baru menyebar seiring dengan kedatangan dan penyebaran Islam. Meskipun lebih mahal, namun kertas lebih awet dibandingkan daun lontar. Kertas dibuat oleh para ulama dan kyai untuk menyalin buku-buku agama. Kertas itu di Jawa dinamakan dluwang yang digarap dari bagian dalam kulit kayu pohon gluga. Pembuatan kertas dluwang dengan tangan itu biasa dilakukan di pesantren-pesantren. Kata kertas sendiri menunjukkan adanya hubungan erat antara bahasa Melayu dengan Arab dan Islam. Teknik yang pernah berjaya ini akhirnya merosot mulai abad XVII karena adanya impor kertas buatan Eropa secara besar-besaran. (Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179))

Berdasarkan fakta-fakta di atas, tepatlah pernyataan bahwa Islam merupakan rahmat bagi alam semesta. Islam datang ke Indonesia dibawa oleh orang-orang yang berilmu dan berperadaban tinggi. Islam datang membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian mengubah pandangan hidup bangsa Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. Islam mengubah masyarakat Indonesia yang primitif menjadi masyarakat modern dan berilmu. Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari, M.Si/sejarah Islam Indonesia

 

Bijak Menasihati Tidak ‘Menelanjangi’

Kita sering menjumpai seseorang menasihati saudaranya, baik secara langsung maupun melalui sarana media. Sayangnya, caranya menasihati justru terkesan mengkritik, menghina, atau ‘menelanjangi’ kesalahan saudaranya. Ia tidak sungkan menyatakannya di depan umum, atau dibeberkan melalui media sosial yang bisa dilihat banyak orang. Niatnya ingin menasihati, tetapi hati justru tersakiti. Bukan cinta yang ia dapat, tetapi benci yang kemudian melekat.

Nasihat seharusnya menghadirkan kebaikan kepada orang yang diberi nasihat, bukan malah mendatangkan keburukan. Al Khaththabi mengingatkan, “Nasihat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasihati.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1:219).

 

Mengikat Hati dalam Menasihati

Setiap insan bisa berbuat kekeliruan, kesalahan, atau tersesat karena salah jalan. Hal ini senada dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat dari kesalahannya.” (HR. At Tirmidzi no. 2499, Hasan)

Kesalahan adalah keniscayaan, dan bertaubat darinya merupakan keharusan. Proses itu mungkin butuh nasihat, perlu diingatkan agar tidak bermaksiat. Memberi nasihat bukan sekedar memberikan penjelasan mengenai aturan dan konsekuensinya. Bukan pula menyatakan bahwa ia harus begini dan begitu, tidak boleh ini atau itu.

Ia harus dilakukan dengan cara yang bijak, sehingga hati bisa menerima dengan baik. Cara yang bijak akan memperindah nasihat itu sendiri. Tersebut dalam atsar, “Barangsiapa memerintahkan kebaikan, hendaklah memerintahkannya dengan cara yang baik.”

Ada dua cara menasihati dengan bijak.

Pertama, menasihati dengan perkataan yang lembut. Dari Abdurrahman bin Abi Uqbah, dari ayahnya yang pernah menjadi budak orang Persia bahwa ia berkata, “Aku turut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Uhud, lalu aku memukul seseorang dari kalangan kaum musyrikin. Aku katakan kepada orang musyrik itu, ‘Ayo kalau berani, aku adalah seorang pemuda Persia!’ Rasulullah kemudian menoleh kepadaku dan berkata, “Mengapa tidak kamu katakan saja, aku adalah seorang Anshar, putra dari saudari mereka?” (HR. Abu Dawud)

Inilah nasihat yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak langsung menghardik, tetapi justru memberikan nasihat yang menarik. Sebuah cara yang indah, namun tetap terkesan gagah. Cara yang tidak menyalahkan, tetapi mengarahkan.

Kedua, menasihati dengan memberikan teladan melalui perbuatan. Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertemu dengan seorang anak yang sedang menguliti seekor kambing, namun keliru dalam melakukannya. Beliau bersabda, “Menyingkirlah dulu, akan aku perlihatkan kepadamu cara menguliti yang benar.” Beliau kemudian memasukkan tangan di antara kulit dan daging lalu menyusupkannya hingga masuk ke bagian ketiak. Sesudah itu beliau berlalu untuk melaksanakan shalat bersama para sahabat tanpa berwudhu lagi.” (HR. Abu Dawud)

Cara menasihati ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan cara yang cukup efektif. Lembut dan tidak menyakiti, namun justru mengikat hati. Beliau juga memilih bahasa yang bisa diterima, susunan kata yang tepat untuk diungkap. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah engkau berbicara dengan suatu kaum dengan bahasa yang tak terjangkau akal pikiran mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” (HR. Muslim)

 

Menasihati Bukan ‘Menelanjangi’

Sebagian orang merasa tidak bersabar ketika menjumpai orang lain melakukan kesalahan atau kelalaian dalam berucap dan bersikap. Dengan spontan mereka langsung menghina, mencaci dan menghakimi. Hal semacam ini merupakan kesalahan dalam menasihati.

Menasihati tidak dilakukan dengan menghina dan mencaci. Tidak perlu pula mengungkapkan kesalahan itu di depan orang lain, karena seharusnya kita menutupinya. Membuka kesalahannya di depan orang sama seperti ‘menelanjangi’ saudara kita, membuka aib yang semestinya kita tutupi.

Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 225).

Imam Syafii rahimahullah mengajarkan agar kita tidak menasihati seseorang di depan umum. Ia berkata, “Tutuplah kesalahanku dengan menasihatiku seorang diri dan janganlah menasihatiku di depan banyak orang. Karena sesungguhnya menasihatiku di hadapan banyak orang adalah bagian dari menjelekkanku. Aku tidak ridha mendengar seperti itu. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku, maka jangan marah jika nasihatmu tak kuikuti.”

Baca Juga: Kesempatan Berharga Bersama Orang Tua

Menyalahkan bukan sikap yang baik untuk memberi nasihat. Apalagi jika dilakukan dengan membuka aib saudara kita di depan orang lain, hakikatnya sama dengan menelanjanginya. Jika hal itu dijadikan kebiasaan, maka nasihat yang diberikan tidak akan menjadi kebaikan, bahkan cenderung menyebabkan kebencian. Maksud hati hendak merangkul, tetapi justru memukul, dan pada akhirnya nasihat menjadi tumpul.

Ikutilah teladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberikan nasihat. Beliau pernah mengingatkan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma yang pada saat itu masih kecil dan tidak menjaga pandangannya. Beliau bersabda kepadanya, “Nak, sesunggunya pada hari ini (Arafah), siapa saja yang bisa memelihara pandangannya, maka ia akan mendapatkan ampunan.”

Betapa indahnya cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meluruskan kesalahan. Beliau menunjukkan kesalahan tersebut dengan nasihat, sehingga anak yang mendapat teguran dapat langsung memperbaiki kesalahannya. Begitulah seharusnya kita, menasihati dengan mengikat hati, bukan dengan membuka aib saudara sendiri.

Oleh: Ust. Asadullah al-Faruq/Fadhilah Amal

 

Imam Al-Bukhari: Imam Para Pakar Hadits Sepanjang Zaman

Namanya terlalu masyhur untuk dikenalkan, ilmunya terlalu luas untuk diukur, keutamaannya terlampau banyak untuk dibilang, lebih banyak dari bilangan kerikil dan pasir. Perjalanan hidupnya yang mengagumkan membuat tak seorangpun jemu untuk menelusuri lebih jauh siapakah gerangan sesungguhnya pemilik kitab yang paling shahih setelah kitabullah ini.

Beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim. Lahir pada saat “sayyidul ayyaam”, usai shalat jum’at tanggal 13 Syawal 194 H. Badannya kurus, perawakannya sedang, kulit kecoklatan (sawo matang), sedikit makan, pemalu, dermawan dan zuhud. Tumbuh dalam keluarga yang pantas diteladani dalam hal ilmu dan wara’, terutama kehati-hatiannya dalam makan. Ayahnya berkata, “Didalam hartaku tidak terdapat uang yang haram ataupun syubhat sedikitpun.”

Sifat wara’ dari orang tua tersebut ternyata membuahkan keberkahan dengan lahirnya anak manusia yang pada gilirannya menjadi Imam para pakar hadits, dan tak seorang manusia hingga hari ini melainkan membutuhkan ilmunya.

Tanda-tanda kecerdasannya telah nampak ketara semenjak kecil, terutama daya hafalnya yang luar biasa. Belum genap usia sepuluh tahun, beliau sudah banyak menghafal hadits. Bahkan setelah berumur 16 tahun beliau sudah hafal kitab-kitab Abdullah bin Mubarak dan Waki’ bin Al-Jaraah.

Baca Juga: Sejarah Kemunculan Hadits Maudhu’

Bakat itu semakin memuncak ketika dipupuk dengan kesungguhan beliau dalam mencari hadits. Ketika beliau berumur 16 tahun, beliau pergi haji bersama ibu dan saudaranya. Setelah berhaji keduanya kembali ke Bukhara sementara Al-Bukhari memutuskan tinggal di Mekah. Sejak itulah pengembaraan memburu hadits dimulai. Beliau merantau ke seluruh negeri-negeri Islam untuk mendapatkan hadits. Tidak kurang dari 1.080 ulama di seluruh negeri Islam yang beliau datangi. Beliau berkata, “Saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, ke Bashrah empat kali dan saya bermukim di Hijaz selama enam tahun, dan tak terhitung lagi berapa kali saya pergi ke Kufah dan Baghdad untuk menemui hadits.” Di Baghdad inilah beliau sering menemui Imam Ahmad bin Hambal, Imam Madzhab yang dikatakan Ar-Raazi, “Adalah Ahmad bin Hambal hafal 1 juta hadits.”

Semakin gigih beliau mencari ilmu sedangkan ilmu pun serasa cocok bersemayam di dalam jiwanya yang agung.

Terkadang untuk mencari sebuah hadits, tak segan-segan beliau rela menjual kendaraan dan barang berharga miliknya demi menemui ulama yang menyimpan hadits. Meski tidak selalu orang yang ditujunya benar-benar layak untuk diambil haditsnya.

Pernah suatu hari beliau mendatangi seseorang yang katanya memiliki hadits. Beliau menjumpainya di saat kudanya lari. Lalu dia pamerkan wadah makanan untuk kuda itu. Imam Bukhari bertanya, “Apakah dalam wadah itu betul-betul ada makanan untuk kuda itu?” Orang itu menjawab, “Tidak, ini hanyalah siasat untuk mengelabui dia supaya kuda itu mau kembali.” Dengan kecewa Imam Bukhari berpaling sambil berkata, “Aku tidak mengambil hadits dari orang yang berani menipu binatang.”

Begitulah, siang hari beliau berburu ilmu, bermalam bersama ilmu pula. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika terlintas suatu ilmu dibenaknya di tengah malam beliau bangun menyalakan lampu lalu menulisnya, kemudian lampu itu dimatikan. Sebentar kemudian beliau ulangi lagi yang demikian itu, beliau mengulangi yang demikian itu hingga dua puluh kali dalam semalam.

Ilmu yang masuk ke dalam jiwanya demikian melimpah, namun serasa makin longgar daya tampungnya untuk mewadahinya, kuat mempertahankan apa yang telah dihafalnya. Tentu tidak sebagaimana umumnya kita di zaman ini, bertambahnya hafalan seringkali bersamaan dengan hilangnya sebagian hafalan yang lain karena lupa.

Bukti akan kecerdasan dan kekuatan hafalannya adalah tatkala beliau tiba di Baghdad, ulama hadits berkumpul untuk menguji kemampuannya. Mereka mencampur aduk dan mengoplos sanad dan matan hadits sebanyak 100 hadits. Matan hadits satu ditukar dengan sanad hadits yang lain dan sebaliknya. Sepuluh ulama itu massing-masing mengajukan 10 hadits yang sudah acak tak karuan. Ulama pertama membacakan 10 hadits kepada beliau, setelah selesai Al-Bukhari menjawab, “Aku tidak mengenal matan hadits seperti itu namun jalur sanadnya seperti itu.” Begitu seterusnya sampai penanya yang kesepuluh.

Setelah itu Imam Al-Bukhari kembali kepada penanya pertama dan berkata, “Hadits yang pertama tadi mestinya sanadnya adalah begini..” Hingga seratus hadits mampu beliau posisikan letak sanad dan matannya dengan tepat. Ternyata tak satupun ada kesalahan atau sanad yang tertukar. Maka ulama Baghdad menyatakan kekaguman akan kecerdasan beliau hingga mereka menjuluki beliau dengan Imam Hadits.

 

Kitab Shahih Bukhari yang Luar Biasa

Ada persitiwa mengesankan yang selalu beliau kenang. Persitiwa yang dengannya muncul kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab yang disepakati oleh para ulama sebagai kitab paling shahih setelah kitabullah, sehingga hari ini kita tidak mungkin rasanya dapat meneladani Nabi melainkan harus dengan membuka kitab beliau.

Suatu ketika beliau mengikuti majelis syeikhnya Ishaq bin Rahawaih yang tatkala itu beliau berkata kepada para muridnya, “Andai saja di antara kalian ada yang mampu mengumpulkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah saw dalam sebuah kitab.” Peristiwa tersebut, begitu istimewa bagi beliau meski dianggap sederhana oleh selainnya atau tak lebih sebagai umumnya harapan bahkan dianggap angan-angan. Imam Bukhari bercerita, “Kalimat itu sangat berkesan di hatiku, sehingga aku bertekad untuk mengumpulkan hadits-hadits yang shahih.”

Baca Juga: Hadits ‘Istiqlaaliyah’, Bolehkah Dijadikan Pegangan?

Beliau tidak gegabah memasukkan hadits ke dalam kitab shahihnya. Di samping hati-hati dalam mengambil hadits dari sumbernya, beliau tidak memasukkan satu haditspun melainkan setelah istikharah sebelum menulisnya. Alangkah istimewa kitab shahihnya, alangkah luar biasa penyusunnya.

Abu Zaid Al-Marwazi, seorang ulama pengikut Madzhab Syafi’iyah yang masyhur berkata, “Suatu ketika aku bermimpi ketemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam lalu beliau berkata kepadaku, ”Sampai kapan engkau mempelajari kitab-kitab Syafi’i sedangkan engkau belum mempelajari kitabku?” Aku bertanya, “Apa kitab Anda itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kumpulan hadits Muhammad bin Isma’il (Al-Bukhari). ”Tentu cerita ini tidak menunjukkan kerendahan kitab-kitab Imam Syafi’i, namun keunggulan kitab Shahih Al-Bukhari.

Banyak sanjungan yang disampaikan oleh para ulama masyhur perihal beliau. Di antaranya adalah Abu Bakar bin Khuzaimah berkata, “Di kolong langit ini tidak ada ahli hadits yang melebihi Muhammad bin Isma’il (Al-Bukhari)

Sedangkan Abu Hatim Ar-Raazi berkata, “Khurasan ini belum pernah melahirkan seorang yang melebihi Al-Bukhari, begitupula di Irak.”

Namun beliau bukan saja ahli dalam bidang hadits dan ilmu dien. Beliau juga ahli memanah dan rajin mempelajarinya sebagai i’dad (persiapan) untuk berjihad fii sabilillah. Bahkan ada yang berkata bahwa sepanjang hidupnya hanya dua kali saja anak panahnya meleset dari sasaran.

Demikianlah, perjalanan hidup beliau penuh dengan lembaran indah amal shalih, kenangan ilmu dan teladan bagi umat yang setelahnya dalam kegigihan mencari ilmu dan mengamalkannya.

Hingga datanglah hari di mana Allah berkehendak mencabut sebagian ilmu dengan wafatnya ulama yang tiada bandingnya pada zamannya apalagi generasi yang setelahnya.

Ketika penduduk Samarkand meminta kesediaan beliau untuk tinggal di sana, beliau berangkat menuju ke sana. Beliau mampir di sebuah desa Khartank yang terletak 2 farsakh dari Samarkand untuk mengunjungi sebagian kerabatnya, namun wafat menjemputnya di saat usia beliau sekitar 62 tahun. Semoga Allah membalas kebaikan beliau atas jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tsaqafah Islam 

 

 

Khutbah Jumat: Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

KHUTBAH JUMAT

Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

Oleh: Majalah ar-risalah

Versi PDF: Di Sini

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Puji syukur alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah l atas karunia dan nikmat-nikmatnya. Segala karunia tersebut pada hakikatnya merupakan ujian keimanan. Hamba yang bersyukur akan menggunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Semoga kita termasuk golongan hamba tersebut dan bukan termasuk golongan manusia yang kufur nikmat.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada rasul kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para shabat dan segenap pengikutnya yang komitmen dengan sunnahnya hingga akhir masa. Aamiin ya rabbal alamin.

Selaku khatib, perkenankan saya menyampaikan pesan takwa kepada diri saya pribadi, dan kepada jamaah pada umumnya. Marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan takwa yang sebenar-benarnya; yaitu dengan menjauhi setiap larangan Allah, dan mengamalkan segala perintah Allah, baik berupa ibadah fardhu maupun sunnah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dikisahkan seorang kakek senja usia pulang dari masjid kampungnya. Lalu ia segera mengetuk pintu rumahnya, namun sang istri tak membukakan pintu dengan segera. Hingga ia lelah dan pingsan di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang istri yang tak mendengar ketukan pintu menyadari keterlambatan suaminya. Bergegas ia melihat keluar dan ternyata suaminya tergeletak pingsan di depan pintu karena menunggu lama. Ia pun panik, bersusah payah membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Lalu menyeka wajahnya dengan air hingga suami siuman dari pingsannya. Sang istri meminta maaf atas keterlambatan ia membukakan pintu untuk suaminya. Akan tetapi sang suami tak memarahinya. Dia hanya berkata, “Saya pingsan bukan karena lamanya menunggu pintu dibuka, tapi karena saya ingat akan suatu hari,  ketika di hadapan Allah saya berdiri lama sementara pintu jannah tertutup di depan mata saya.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Begitulah hati yang peka, senantiasa terkait dengan Allah dan Hari Akhir. Dia membayangkan bagaimana kelak jika dia bersusah payah mendatangi jannah, namun pintu tak terbuka untuknya. Pelajaran ini membawa dirinya untuk senantiasa mengusahakan sebab dibukanya pintu jannah untuknya. Karana mudah atau susahnya ia memasuki jannah tergantung upayanya di dunia untuk mendatangi amal-amal yang memudahkan baginya untuk masuk jannah. Tak apalah kita berlelah-lelah di dunia, selagi kita dipermudah untuk memasuki jannah-Nya. Karena itulah, ketika Imam Ahmad bn Hambal ditanya, “mata ar-raahah?” Kapankah datangnya waktu rehat? Maka beliau menjawab, “Yakni saat engkau menginjakkan kakimu di jannah, saat itulah kamu bisa rehat.”

Itulah saat di mana seorang hamba berhasil mencapai sukses tertinggi, keberhasilan yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka  dan dimasukkan ke dalam jannah maka sungguh ia telah beruntung. (QS. ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘azhiem yang bermakna keburuntungan atau sukses besar banyak disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an setelah penyebutan tentang orang-orang yang masuk jannah dan terhindar dari neraka.

Inilah kesuksesan sesungguhnya. Karena kenikmatan jannah bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikitpun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai tanpa sedikitpun penghalang, dan akan kekal selamanya tanpa akhiran.

Berbeda dengan apa yang diklaim sebagai kesuksesan di dunia ini. Yang sekarang sudah menduduki jabatan tinggi itu belum sukses yang sebenarnya. Mereka masih menghadapi keruwetan masalah yang di hadapinya, masih menanggung celaan dari orang yang tidak ridha dengan posisinya dan masih takut jika harus lengser dari jabatannya.

Begitupun yang sekarang sudah kaya raya, pun belum bisa dikatakan jaya dengan sebenarnya. Masih ada ambisi dan kehausan akan apa yang belum bisa dicapainya. Ada keresahan hati jika hartanya berpindah atau hilang, dna masih harus menghadapi kedengkian orang lain terhadapnya. Hal yang sama dialami oleh orang-orang tenar dan terkenal.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Memang begitulah isi dunia, semua manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan; mukmin maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4)

Sa’id bin Jubeir menafsirkan makna ‘fi kabad’, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencaharian.” Sedangkan Hasan al-Bashri menyebutkan, “Yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tak ada manusia yang terbebas total dari musibah, kesulitan hidup, kegelisahan, kesedihan maupun rasa sakit. Jangan disangka orang-orang kafir hanya merasakan kesenangan tanpa duka lara. Dari sisi bahaya dan musibah yang dihadapi, nyaris tak ada beda antara keduanya, meski berbeda corak dan variasi. Tak hanya itu, menjadi pejuang kebathilan juga mengharuskan mereka untuk bersusah payah dalam berusaha. Bedanya, ada pengharapan baik bagi orang mukmin sehingga bisa menjadi pelipur lara baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan. Sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (QS. an-Nisa’: 104)

Bedanya lagi, sekecil apapun penderitaan yang dialami seorang mukmin bisa menjadi penggugur dosa. Sedangkan musibah yang dialami orang kafir adalah sebagai bonus siksa yang disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، إِلاَّ حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Seorang mukmin takkan merasa bosan dan putus asa dalam berikhtiar dan berusaha, hingga tercapai kesuksesan jannah yang didambakannya. Jikalau ada keinginan duniawi yang belum bisa dicapainya, toh akan digantikan dengan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat.

Andaikan yang terjadi di dunia ini selalu sesuai dengan apa yang kita ingini, tentulah jannah tak dirindukan lagi. Dan andai tidak ada duka lara di dunia ini, niscaya tak ada istimewanya rehat di akhirat nanti. Karenanya, ucapan penghuni jannah saat memasuki jannah adalah,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS. Fathir: 34)

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah, aamiin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا
(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 

Download versi PDF nya: Di Sini

 

 

 

Tiga Cara Manusia Dihisab Sebelum Masuk Surga

Di dunia ini tidak ada dua orang beriman yang memiliki derajat keimanan yang sama. Sejuta orang beriman, sejuta pula tingkat keimanan mereka. Namun demikian, hanya ada tiga cara, bagaimana mereka akan masuk surga di hari akhir kelak. Ketiga cara itu adalah: masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab yang ringan, dan masuk surga dengan hisab yang berat. Masing-masing orang yang beriman dipersilakan memilih salah satunya, dan tidak ada sesuatu pun yang memaksa mereka untuk memilihnya. Tidak juga Allah, karena Dia telah berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. al-Insan: 3)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Ayat di atas juga menjelaskan bahwa mereka yang masuk surga tanpa hisab disebut dengan sabiq bilkhairat, mereka yang masuk surga dengan hisab yang ringan disebut muqtashid, dan mereka yang masuk surga setelah hisab yang berat disebut zhalim linafsih.

Jumlah mereka yang masuk surga tanpa hisab ini lebih sedikit dibandingkan mereka yang masuk surga dengan hisab, baik yang ringan ataupun yang berat. Demikian Ibnu Katsir menyitir pendapat ulama dalam tafsir beliau.

 

Masuk Surga Tanpa Hisab

Sabiq bilkhairat, yang akan masuk surga tanpa hisab, secara bahasa berarti orang yang bersegera menuju kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang aqidahnya lurus tiada tercampuri kemusyrikan. Tentang mereka dan kemurnian tauhid mereka yang menjadi syarat utama, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (رواه البخاري ومسلم)

Akan masuk surga tanpa hisab 70.000 orang dari ummatku. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan tathayyur, dan hanya bertawakkal kepada Allah. (HR.  al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Keadaan Manusia yang Terakhir Kali Masuk Surga

Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa vol. VII menjelaskan bahwa mereka juga orang-orang yang melaksanakan semua kewajiban yang Allah bebankan dan menjauhi semua larangan-Nya. Selain itu, sisa waktu yang mereka miliki, mereka isi dengan amalan sunnah. Yang makruh? Jangankan yang makruh, untuk yang mubah pun mereka pilih-pilih demi menjaga diri dari terjerumus kepada yang haram.

 

Masuk Surga Dengan Hisab yang Ringan

Muqtashid berarti orang yang sedang, tidak buruk dan tidak istemewa. Perbedaan mereka dengan sabiq bilkhairat pada amalan sunnah dan sikap mereka terhadap yang makruh dan yang mubah. Untuk semua kewajiban dan larangan, muqtashid memenuhi aturan Allah sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan aqidahnya.

Tentang hisab yang akan mereka jalani Rasulullah saw bersabda,

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ( فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ عُذِّبَ (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap orang yang menjalani hisab pada hari kiamat pasti celaka.”Aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah ta’ala telah berfirman, Barangsiapa menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’” Beliau saw menjawab, “Hanyasanya itu adalah al-‘aradl (sekedar diperlihatkan), dan tidak ada seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan diadzab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Masuk Surga Dengan Hisab Yang Berat

Zhalim linafsih atau orang yang menzhalimi diri sendiri adalah orang yang tahu adanya kewajiban dan larangan, namun mereka sengaja melanggarnya, dan lalu ia meninggalkan dunia sebelum sempat bertaubat dari dosa itu (selain syirik dan kufur akbar). Lalu di akhirat, status mereka adalah tahtal masyiah (tergantung kepada kehendak Allah); jika Allah menghendaki bisa saja mereka langsung mendapatkan ampunan, dan jika Allah menghendaki lainnya, maka mereka mesti disucikan dulu di atas api neraka. Dalam hal ini Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. an-Nisa`: 116)

Kepastian masuknya zhalim linafsih ke dalam surga dapat dilihat secara jelas dan tegas dari kandungan dua hadits berikut ini.

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ يَقُولُ اللَّهُ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيَخْرُجُونَ قَدِ امْتُحِشُوا وَعَادُوا حُمَمًا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ أَوْ قَالَ حَمِيَّةِ السَّيْلِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا أَنَّهَا تَنْبُتُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً  (رواه البخاري ومسلم)

Apabila penghuni surga telah masuk surga dan penghuni neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman, “Barangsiapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarkanlah ia (dari neraka)!” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, “Tidakkah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ  (رواه البخاري ومسلم)

Akan keluar dari neraka satu kaum setelah mereka terjilat oleh apinya, lalu mereka masuk ke dalam surga. Para penghuni surga menamai mereka dengan al-jahannamiyyun (mantan penghuni jahannam). (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Meminta Surga Yang Paling Utama

Sebenarnyalah jika saja seseorang melanggar aturan Allah lalu ia bertaubat dengan tulus (baca: taubat nashuha) maka paling kurang ia masuk kategori muqtashid, dan akan masuk surga dengan hisab yang ringan. Bukankah Rasulullah ﷺ pun beristighfar sesedikitnya 70 kali dalam sehari-semalam?

Penutup

Tentu saja faktor anugerah Allah dan keadilan-Nya berhubungan erat dengan ketiga cara masuk surga ini. Jelas-jelas Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ (رواه البخاري ومسلم)

“Sekali-kali amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga dirimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, namun karena aku dinaungi Allah dengan rahmat(-Nya) (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akhirnya, termasuk kategori yang mana pun masing-masing kita ~menurut pandangan kita sendiri~ selayaknya menyimak atsar yang dicantumkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap ayat ke-32 dari surat Fathir ini, supaya kita tidak tertimpa ‘ujub (bangga diri) atau ghurur (tertipu).

‘Uqbah bin Shahban al-Hanna`iy pernah bertanya kepada ummul mukminin, ‘Aisyah ra tentang siapakah yang dimaksud oleh Allah dalam surat Fathir ayat 32. Ibunda ‘Aisyah menjawab, “Wahai anakku, mereka semua akan masuk surga. Sabiq bilkhairat adalah mereka yang telah mendahului kita di masa Rasulullah ﷺ dan beliau menjanjikan surga bagi mereka. Muqtashid adalah para sahabat Nabi yang senantiasa meneladani beliau. Zhalim linafsih adalah orang-orang seperti diriku dan dirimu.” Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Imtihan as-Syafi’i/Akidah Islam

 

Petualangan Portugis di Jawa

Barangkali perjumpaan pertama antara orang Jawa dengan orang Portugis terjadi di Malaka saat bangsa Paranggi –sebutan lain untuk orang Portugis dan Spanyol– itu datang pada 1511. Tidak lama setelah berhasil menguasai Malaka, Alfonso de Albuquerque mengirimkan pasukan ekspedisinya ke beberapa wilayah lain di Nusantara. Jawa adalah salah satu wilayah yang menjadi tujuan ekspedisi tersebut.

Orang Portugis yang pertama datang ke Jawa adalah Antonio de Abreu. Ia mengunjungi Jawa pada 1511. Ada dua pelabuhan yang dikunjunginya, yaitu pelabuhan Tuban dan Gresik. Ia melaporkan bahwa pelabuhan Gresik penuh dengan para pedagang Cina. Dari Gresik, ia melanjutkan pelayarannya ke Ambon dan Banda. (Donald M. Campbell, Java: Past and Present, Volume I, hlm. 157)

 

Perjanjian dengan Padjadjaran

Kunjungan berikutnya terjadi pada 1522. Kali ini Portugis mengunjungi Banten, pelabuhan kerajaan Padjajaran yang sangat ramai pada masa itu. Portugis bermaksud mengadakan perjanjian dagang. Peristiwa ini dicatat oleh Joao de Barros sebagai berikut.

Pada tahun 1522, Jorge de Albuquerque, kapten kota Malaka untuk urusan perdagangan, mengirim utusan yang dipimpin oleh Henrique Leme menghadap Samiam, raja Sunda. Sewaktu utusan tersebut tiba di pelabuhannya raja tersebut menerima orang-orang Portugis dengan baik. Guna memperoleh bantuan dalam peperangan yang sedang berlangsung melawan orang Islam, dan untuk memperkuat berbagai hubungan dagang, orang Portugis diberi hak untuk membangun benteng dan dijamin bahwa mereka boleh memuat merica sejumlah yang mereka kehendaki. Selain itu, raja pun berjanji memberikan 1000 karung merica setiap tahunnya kepada raja Portugal mulai hari dibangunnya benteng tersebut. Perjanjian itu dibuat secara tertulis. Tiga orang menteri setempat turun mengambil bagian dalam pembicaraan tersebut: Mandari Tadam, Tamungo Sague de Pate dan Bengar, syahbandar setempat. Atas perintah raja, mereka mengantar Leme ke tempat akan dibangunnya benteng tersebut, di sebelah kanan muara sungai, di kawasan yang dinamai Calapa, di situ mereka mendirikan sebuah padrao (semacam tugu peringatan). Selanjutnya Leme pulang ke Malaka. Jorge de Albuquerque menilai hal itu sangat penting dan menulis kepada raja Portugal untuk meminta persetujuannya. Joao III menyetujui usaha tersebut dan mempercayakan pelaksanaannya kepada Francisco de Sa yang berangkat dengan armada kapal yang dipimpin oleh Vasco da Gama, wakil raja India yang baru. Oleh karena Vasco da Gama kemudian meninggal, maka Francisco de Sa tinggal beberapa waktu di Goa.

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

Ketika Francisco de Sa tiba di Malaka, armada Portugis sedang menyiapkan operasi militer melawan Bintan di bawah pimpinan Pero Mascarenhas. Francisco de Sa dengan armadanya bergabung, dan setelah selesai baru berangkat menuju Sunda. Armadanya terserang badai. Duarto Coelho, salah seorang kapten armada tersebut, berhasil sampai di Calapa, sementara kapalnya tenggelam di situ. Semua penumpang kapal diserang oleh orang-orang Islam yang beberapa hari sebelumnya telah merebut kota itu dari Samiam, sahabat orang Portugis.

Orang Islam yang telah merebut kota itu adalah orang rendahan bernama Faletehan asal Pasai. Sewaktu Pasai baru saja direbut oleh Portugis, Faletehan pergi berlayar menuju Mekah dengan kapal yang memuat rempah-rempah, dan tinggal di sana selama kira-kira dua atau tiga tahun untuk belajar agama Islam. Sekembalinya di Pasai, dia menganggap tidak mungkin dapat mengajarkan agama Islam di dekat benteng orang Portugis, ia lalu pergi ke Jepara, mengislamkan rajanya dan dia sendiri menjadi kadinya. Sebagai imbalan, raja memberikan saudara perempuannya untuk diperistri. Terdorong oleh keinginan untuk mengislamkan banyak orang, Faletehan meminta izin kepada raja untuk pergi ke Bintam, kota di Sunda. Di kota itu, dia diterima dengan baik oleh seorang tokoh setempat yang kemudian masuk Islam. ketika Faletehan menganggap keadaan kota itu cocok untuk melaksanakan rencananya, dia meminta kepada raja Jepara untuk mengirim pasukan tentara. Raja Jepara menyanggupinya dan segera mengirimkan dua ribu orang tentara. Ketika Francisco de Sau tiba di Pelabuhan Sunda, Faletehan telah menguasai keadaan dengan begitu baiknya, sehingga mampu melarang pembangunan benteng itu.

 

Kandasnya Perjanjian

Setelah ikut mengambil bagian dalam ekspedisi Pero Mascarenhas melawan Bintan, Francisco de Sa berlayar menuju Sunda untuk membangun benteng. Selama perjalanan, armada yang dipimpinnya diserang badai sehingga kapal-kapalnya terpencar-pencar selama beberapa hari. Tiga di antaranya, sebuah kapal yang besar pimpinan Duarte Coelho serta dua kapal lainnya, dengan susah payah berhasil mencapai Pelabuhan Sunda. Pada waktu terserang badai itulah salah satu kapalnya terdampar, tiga puluh orang Portugis yang ada di dalamnya berenang menuju daratan, tetapi di pantai itu mereka diserang oleh musuhnya, orang-orang Islam. sebenarnya raja yang menghendaki dibangunnya benteng itu sudah meninggal dan musuh yang diperanginya telah merebut daerahnya. Pada waktu itu, musuh dalam jumlah yang besar telah tiba di kota Bantam, kota terpenting di kerajaannya, dan berusaha menundukkannya. Begitu orang Islam melihat kedatangan armada Portugis, timbul niat mereka untuk membalas dendam, mereka tahu bahwa raja yang meninggal itu telah memberi izin kepada Portugis membangun benteng di pelabuhan tersebut. Namun demikian, kapal besar dan satu kapal lainnya tidak terdampar. Sewaktu melihat apa yang menimpa para penumpang kapal yang terdampar itu, tanpa mengetahui nasib Francisco de Sa beserta kapalnya, Duerte Coelho bertolak kembali ke Malaka.

Francisco de Sa beserta kapalnya terbawa badai sampai di pantai Jawa. Dia berhasil menghimpun kembali kapal-kapal lainnya di Pelabuhan Panarukan, dan membawa armadanya menuju pelabuhan Batam untuk berlabuh. Dikirimnya utusan untuk memperingatkan raja akan janji yang sudah pernah diberikan oleh raja yang digantinya. Karena raja menolak, Francisco de Sa memutuskan untuk mempergunakan kekuatan, tetapi di daratan dia menghadapi pertahanan yang begitu kuat –di antara pasukan Portugis, empat orang terbunuh dan sejumlah orang lainnya luka-luka– sehingga dia mengundurkan diri dan kembali ke Malaka.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia 

Syukur Seperti Nabi Sulaiman, Tabah Seperti Nabi Ayyub Alaihissalam

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang amat taat.”

Betapa sering kekayaan dan hidup berkecukupan membuat manusia lalai dan takabur. Betapa banyak pula kemiskinan dan musibah membuat manusia abai dan kufur. Maka Allah mengisahkan tentang hamba-hamba terbaiknya dengan seluruh variasi ujian yang dihadapinya, untuk menjadi teladan bagi manusia sepanjang zaman. Agar tak ada lagi yang pantas malas ibadah karena hidup terlalu nyaman. Tak ada pula yang layak meninggalkan ketaatan, lantaran menyandang hidup kesusahan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Saya membaca al-Qur’an, dan saya dapatkan sifat Nabi Sulaiman alaihis salam, meskipun menyandang segala kesejahteraan, beliau digelari oleh Allah, “Sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang amat taat.” Dan saya dapatkan sifat Nabi Ayub alaihissalam, meskipun diuji dengan segala cobaan berat yang dialaminya, beliau juga menyandang gelar ni’mal ‘abdu innahu awaab,’ sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang taat. Keduanya disifati dengan gelar yang sama meskipun latar belakang keduanya sangat berkebalikan, yang satu sejahtera dan yang kedua menanggung ujian derita.”

 

Kuat Iman Meski Hidup Berkecukupan

Adapun Nabi Sulaiman alaihis salam, beliau hidup sejahtera dan serba kecukupan. Beliau menyandang segala kenikmatan duniawi. Tubuh yang sehat perkasa, nyaris tanpa cela. Kerajaan yang sulit dicari bandingannya sepanjang zaman. Kekayaan melimpah yang sulit dihitung nilainya, dan kekuasaan yang tak diberikan kepada siapapun selainnya. Ini sebagai pengabulan doa beliau,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi”. (QS. Shaad: 35)

Tentang kekuasaannya, Imam al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Di hadapan singgasana Sulaiman ‘alaihis salam terdapat 6oo kursi, para pembesar di kalangan manusia duduk di dekat beliau. Kemudian di deretan berikutnya para pembesar dari golongan jin. Sekawanan burung juga diperintah untuk menaungi mereka. Beliau juga diberi kemampuan memerintah angin.” Disebutkan pula dalam banyak dalil, bahwa beliau mampu memahami bahasa hewan, sekaligus bisa memerintah mereka.

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Semua Maslahat

Tentang semegah apa istananya, Al-Hafizh Abu Nu’aim menyebutkan riwayat dari Wahab bin Munabih, bahwa istana Sulaiman alahissalam tersusun dari seribu lantai; lantai paling atas terbuat dari kaca, dan lantai paling bawah terbuat dari besi.

Namun semua kemewahan dan kemegahan itu disadari oleh Nabi Sulaiman sebagai ujian dari Allah, seperti perkataan beliau yang dikisahkan dalam al-Qur’an,

“Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”  (QS. an-Naml: 60)

Maka beliau pergunakan seluruh fasilitas yang Allah anugerahkan kepada beliau untuk taat dan mengabdi kepada Allah. Akhirnya beliau dinyatakan lulus menghadapi ujian kekayaan dan kesejahteraan. Sebagaimana firman Allah,

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at(kepada Rabbnya).” (QS. Shaad: 30)

Maka alangkah nista, ketika ada manusia yang memiliki harta yang tak seberapa kaya, lalu sibuk diri dengan harta dan melalaikan ibadah seperti Qarun. Begitupun yang diuji dengan jabatan yang tak seberapa tinggi, lalu bertingkah pongah sebagaima Fir’aun, wal ‘iyaadzu billah.

 

Setabah Kesabaran Ayyub

Berbeda dengan Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub menghadapi beratnya segala cobaan hidup. Tubuh yang digerogoti penyakit, kemiskinan yang menghimpit dan keterasingan karena dijauhi masyarakat yang tak tahan berdekatan dengan beliau yang sarat dengan penyakit. Pun begitu, hatinya sehat tanpa cacat. Tak ada keluhan yang terlontar selain mengeluh kepada Allah, tak ada buruk sangka yang terlintas dibenaknya. Yang ada hanyalah kesabaran dan zhan yang baik kepada Allah. Amat berat cobaan yang menimpa beliau. Syeikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam kitabnya Qishah Nabiyullah Ayyub alaihissalam menyimpulkan perkataan para ahli tafsir tentang firman Allah,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS al-Anbiya’ : 83)

Beliau mengatakan, “Pada mulanya Ayyub alaihis salam adalah seorang lelaki yang memiliki banyak harta, berupa tanah yang luas, hewan ternak dan kambing, yaitu pada sebuah belahan bumi yang bernama Tsaniyah, di Huran, yang terletak di negeri Syam. Ibnu Asakir berkata, “Semua lahan yang luas itu adalah miliknya, lalu Allah menguji dirinya dengan kehilangan semua harta tersebut. Beliau diuji dengan berbagai macam ujian yang menimpa tubuhnya, sehingga selain hati dan lisannya, tidak ada sejengkalpun dari bagian tubuhnya kecuali ditimpa penyakit. Dia selalu berzikir dengan kedua indra yang masih sehat tersebut, bertasbih kepada Allah siang dan malam, pagi dan sore. Akibat penyakit yang  dideritanya, seluruh temannya merasa jijik terhadapnya, sahabat karibnya menjauh darinya. Akhirnya beliau diasingkan pada sebuah tempat pembuangan sampah di luar kota tempat tinggalnya, dan tidak ada yang menemaninya kecuali istrinya, yang selalu menjaga hak-haknya dan membalas budi baik yang pernah dilakukan terhadap dirinya serta dorongan rasa belas kasihan padanya…”

Hingga pada akhirnya Allah menyembuhkan beliau dan menilai Nabi Ayyub lulus menghadapi ujian berat. Maka Allah berfirman,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).

Maka tidak layak bagi seseorang yang diuji dengan sedikit kekurangan, ataupun ditimpa penyakit lantas menjauh dari ketaatan kepada Allah. Ketika seseorang diuji dengan penderitaan lalu ia bersabar, niscaya Allah akan mengentaskannya dari kesulitan dan akan mengganjarnya dengan pahala yang tak terbilang besarnya (bighairi hisaab). Semoga Allah anugerahkan rasa syukur atas nikmat dan sabar menghadapi ujian. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tafsir Kalbu

 

Majalah Ar Risalah Maret 2019 – Edisi 213

Telah terbit majalah islam Arrisalah edisi 213 Maret 2019, yang berjudul “Mendulang Hikmah Dari Lintas Sejarah” dengan rubrik unggulan:

1. Ust. Rachmad Abdullah: Nusantara Dalam Sejarah Islam Dunia

2.Ust. Isa Anshari: Islamisasi dan Deislamisasi Bahasa Jawa

Daftar Isi Majalah Ar-Risalah

001 IFTITAH

002 Biah
Islam Yang Toleran

003 RUANG PEMBACA

006 RISALAH
Urgensi Belajar Sirah Nabi

007 DAFTAR ISI

008 MUTHALA’AH
08 Mendulang Hikmah Dari Lintasan Sejarah
11 Nusantara Dalam Sejarah Dunia

016 FATAWA
Membaca Al-Qur’an Melalui HP

017 ASMAUL HUSNA
Al-Halim,
Andai Allah Mau, Setiap Durjana Pasti Jadi Debu

019 AKHDATS NIHAYAH
Kabut

021 MAKALAH
Muslimah Di Jalan Dakwah

024 ADAB NABAWIYAH
Mulianya Keluarga Karena Memuliakan Tetangga

026 FIKRAH
Israel, Rasisme, Dan Kejahatan Kemanusiaan

029 FIKih NAZILAH
Aurat Muslimah Di Hadapan Wanita Muslimah

031 KHUTBAH Jumat
Janji-janji Manis Yang Kandas

035 FIKRAH DAKWIYAH
Dakwah total Football

037 AHLA HIKAYAH
Nabi Yusya’ Dan Matahari Yang Tak Terbenam039 HIMMAH ALIYAH
Ketika Futur Menghampiri041 TIPS
Bermajelis Agar Tidak Muflis

042 KALAM QALBI
Andai Aku Seorang Muslim

046 HADHARAH
Islamisasi Dan Deislamisasi Bahasa Jawa

048 TAJRIBAH
Hijrah Cintaku

050 AHWAL NISAIYAH
Perempuan Dan Rekayasa Generasi

052 SHIFAT INSANIYAH
Syahwat, Antara Tabiat Dan Maksiat

054 HIWAR UKHRAWI
Melihat Allah Di Surga

057 KITABAH
Solusi Penyakit Hati

058 FURSAH NAFISAH
Tsabat; Kokoh Dalam Iman

061 AKIDAH
Jangan Ingkari Dan Pungkiri
Meski Diri Ini Tidak Mengetahui

063 DZATU IBRAH
Jangan Jadikan Anak Bahan Bakar Neraka

064 MUHASABAH
Yang Ngasih Rejeki Kami Siapa?

arrisalah eidsi maret 2019

Majalah Ar-Risalah

Kita sering mendengar ungkapan, jangan sekali-kali melupakan sejarah atau mari melestarikan tradisi leluhur yang adi luhung. Ungkapan ini merupakan ungkapan wajar dan baik. Hanya saja, kita seringkali gagal paham tentang leluhur. Alih-alih mengingat kejayaan Islam yang begitu gemilang, malah nguri-uri ritual atau adat yang berbau klenik, mistis dan kadang syirik. Sementara, sejarah Islam di masanya seakan sunyi dan tak berbekas di masa kini.

Kita tak boleh melupakan sejarah kejayaan pendahulu kita, hingga brand ‘leluhur’ diambil selain tradisi di era kejayaan Islam.

Baca selengkapanya di majalah ar-risalah edisi bulan ini.

Belum punya majalahnya? Atau bingung cara membelinya? hubungi agen terdekat di kota Anda atau

Klik Untuk hubungi kami  =               
Websaite: arrisalah.net

Kunci Meraih Nikmatnya Ibadah

Ibadah merupakan tujuan utama penciptaan manusia. Puncak dari segala urusan dan kepentingan di dunia fana ini. Meskipun disebut taklif atau beban, namun di dalam ibadah juga terdapat kenikmatan luar biasa. Sebuah kenikmatan yang jauh melebihi segala bentuk kenikmatan yang ada di dunia. Seperti kata Imam Abu Sulaiman, “Kenikmatan yang dirasakan ahlu tha’at (orang yang rajin melakukan ketaatan) jauh lebih lezat daripada kenikmatan yang dirasakan ahlu syahwat (budak syahwat) saat menuruti nafsu mereka.”(Hilyatul Auliya’ IV/181).

[bs-quote quote=”“Kenikmatan yang dirasakan ahlu tha’at (orang yang rajin melakukan ketaatan) jauh lebih lezat daripada kenikmatan yang dirasakan ahlu syahwat (budak syahwat) saat menuruti nafsu mereka.”(Hilyatul Auliya’ IV/181).” style=”default” align=”left”][/bs-quote]

Sesiapa yang mampu merasakan nikmatnya ibadah, berarti dia telah mendapatkan anugerah terindah dari  Allah. Ia telah meraih sebuah maqam (kedudukan) yang tinggi di antara manusia. Dari milyaran manusia, hanya sedikit yang mau beribadah, dari yang mau beribadah hanya sedikit yang beribadah dengan sungguh-sungguh, dan dari yang sudah bersungguh-sungguh, hanya sedikit yang benar-benar bisa merasakan nikmatnya pengabdian kepada Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang istimewa. Ibadah bagi mereka bukan lagi beban tapi kesenangan, rehat dan aktivitas yang penuh kenikmatan.

Nah, bagaimanakah cara meraih kenikmatan dalam ibadah?

Tentunya, kita tidak mungkin mendapatkan caranya tanpa mencoba mencari tahu dari orang-orang yang pernah merasakannya, yakni para ulama dan shalihin. Jika kita pelajari berbagai keterangan para ulama, akan ada banyak tips dan cara agar kita bisa meraih kenimatan dalam ibadah. Hanya saja, wallahu a’lam, kiranya  ada satu hal fundamental dalam semua tips dan cara meraih kenikmatan dalam ibadah yang disarankan. Yaitu, kuatnya rasa ta’zhim (pengagungan) kepada Allah.

Baca Juga: Nikmat Beribadah Bersama Keluarga

Semakin besar dan kuat pengagungan seorang hamba akan kebesaran dan kuasa Rabbnya, semakin mudah baginya merasakan nikmatnya mengabdi kepada Rabbul Izzati. Sebuah pengagungan yang menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang diharap, ditakuti, dicintai dan disegani atas segala kuasa dan kemuliaan-Nya. Sebuah pengagungan yang membuat segala hal selain Allah menjadi kecil nilainya dan benar-benar layak dikesampingkan; tidak begitu diharapkan, tak ditakuti dan dikhawatirkan dan tak layak mendapat cinta sedalam cinta kepada-Nya.

Dalam ibadah, kuatnya ta’zhim akan membuat ibadah semakin nikmat dirasa. Segala perintah Allah akan terasa ringan bahkan menyenangkan. Begitu pula saat menghadapi godaan maksiat. Kuatnya ta’zhim akan membuat hati mudah meninggalkan perbuatan dosa dan tak gampang tergiur untuk melakukannya.

 

Ta’zhim Membuat Ibadah Semakin Indah

Ambil satu contoh ibadah; shalat. Pengagungan terhadap Allah dan ayat-ayat-Nya menjadikan dalam shalat membuat ibadah ini benar-benar terlihat menakjubkan. Lebih dari itu, shalat sendiri seakan-akan merupakan ibadah yang disetting agar unsur ta’zhim kita kepada Allah benar-benar diperhatikan.

Coba kita renungkan, di dalam shalat ucapan yang mengawali dan menandai setiap gerakan adalah takbir, “Allahu akbar”, Allah Mahabesar. Wallahua’lam, seakan-akan dalam setiap gerakan shalat kita diingatkan dan ‘diprogram’ untuk selalu mengingat keagungan dan kebesaran Allah. Dalam setiap gerakan seakan-akan kita diarahkan agar hanya Allahlah yang besar, paling mulia, paling layak dicari perhatian-Nya, sedang selain Allah itu remeh, kecil dan tidak penting. Tak hanya ucapannya, bahkan seluruh gerakan shalat pun mengilustrasikan pengagungan dan ketundukan kepada Dzat Yang Maha Besar.

Baca Juga:Wisata Ke Rumah Ibadah Agama Lain

Karenanya, tidaklah mengherankan jika saat shalat, orang-orang shalih seperti terbius oleh syahdunya munajat kepada Allah. Mereka begitu menikmati ibadah ini. Tentu kita sudah pernah mendengar kisah Ali bin Abi Thalib yang menjadikan kenikmatan ibadah shalat sebagai anestesi saat lukanya hendak dioperasi. Subhanallah.

Atau puncaknya adalah seperti yang dirasakan Nabi kita Muhammad ﷺ.  Bagi beliau, shalat adalah rohah, istirahat, jeda dari segala aktivitas yang melelahkan. Shalat bukan beban tapi justru rehatnya badan, hati dan pikiran dari segala kelelahan. Beliau bersabda,

يَا بِلاَلُ أَرِحْنَا بِالصَّلاَةِ

“Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.”(HR. Ahmad)

Itulah arti sebuah pengagungan. Ketika Allah benar-benar menjadi yang paling agung di mata dan hati kita, semua menjadi remeh. Pertemuan dan momen-momen yang mendekatkan diri kepada-Nya pun menjadi momen paling indah dan membahagiakan.

 

Maksiat Mudah Ditinggalkan Karena Ta’zhim

Tak hanya dalam ibadah, kuatnya rasa ta’zhim kepada Allah akan membuat seorang hamba dengan mudahnya menangkis godaan maksiat. Bukankah yang namanya ketaatan itu bukan hanya melaksanakan perintah (fi’lul ma`mur) tapi juga meninggalkan maksiat (tarkul mahdzur)?

Senikmat apapun hidangan yang disajikan nafsu dan setan, rasa pengagungan kepada Allah yang kuat akan dengan mudah memusnahkan fatamorgana syahwat. Hati benar-benar tak sudi mengkhianati-Nya. Pengawasan-Nya terasa nyata, jauh lebih terasa dari pengawasan kamera bahkan supervisor di ruang kerja. Kenikmatan yang dijanjikan-Nya jauh lebih diingini meski masih ba’da kiamat nanti, daripada kenikmatan yang sudah ada dihadapanny kini. Ancaman-Nya jauh lebih terasa menyengsarakan daripada sengsaranya hati jika harus meninggalkan kesempatan mencicipi maksiat yang terlihat begitu nikmat. Dan harapan akan cinta dan kasih-Nya telah membuatnya putus asa dari mengharap cinta dari selain-Nya. Allah benar-benar akbar dalam hati dan akalnya.

Tentu kita tidak lupa dengan kisah Juraij yang urung berzina karena mengingat Allah. Padahal sajian haram itu telah terhidang pasrah dihadapannya. Juga kisah-kisah orang shalih yang lain, yang dengan mudahnya meninggalkan ajakan maksiat karena teringat akan kebesaran Rabbnya.

Dan memang, Allah berhak atas pengagungan dari seluruh hamba-Nya. Allah berfirman;

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan bagi-Nyalah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Jatsiyah: 37)

Itulah makna ta’zhim. Memang, bukan hal mudah untuk memupuk rasa ini dalam hati. Kadangkala, meski sudah tahu ilmu dan bagaimana seharusnya, tetap saja hati kita sering lemah. Pada akhirnya, ibadah sering terasa hambar dan bahkan memberatkan. Garis dosa pun demikian mudah dilanggar seakan-akan pasti mendapat permakluman.

Ya Allah, tumbuhkanlah ta’zhim kami akan kebesaran-Mu. Tambahkan iman kami, besarkan harapan kami akan kasih-Mu, kuatkan takut kami akan siksa-Mu dan rekatkan cinta kami kepada-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau beri nikmat dapat merasakan lezatnya berkhidmat kepada-Mu. Aamiin. Wallahua’lam.

 

Oleh: Redaksi/Ibadah