Khutbah Jumat: Bila Hati Rindu Haji

KHUTBAH JUMAT

Bila Hati Rindu Haji

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد

فإن أحسن الحديث كلام الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثةٍ بدعة وكل بدعةٍ ضلالة وكل ضلالةٍ في النار

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Saat ini, kita berkumpul di sini dalam keadaan baik dan sehat. Sementara di tempat lain, saudara-saudara tengah mengalami musibah bencana alam. Ada yang kehilangan keluarga, rumah dan semua isinya bahkan ada yang kehilangan seluruh miliknya. Semoga Allah merahmati kita dan mereka yang terkena musibah, serta memberi mereka kesabaran.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada para shahabat dan orang-orang yang mengikuti jalannya sampai hari kiamat.

Tidak ada nasihat yang lebih baik daripada nasihat yang mengingantkan kita untuk selalu bertakwa dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Inti dari takwa adalah rasa takut dan waspada terhadap segala hal yang dapat menjerumuskan kita kepada perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Seperti kehati-hatian kita saat berjalan di jalan setapak yang banyak lubang dan duri.

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Meski tak ada air terjun seindah Niagara di tempat ini. Tak ada pula aneka taman bunga yang indah berseri. Ataupun Dunia Fantasi yang menyenangkan buah hati. Tapi semua pengunjung betah di tempat ini. Banyak hati rindu untuk mendatangi, dan banyak doa terlantun agar bisa mendatangi.

Itulah kota Makkah al-Mukarramah di mana Ka’bah berada di dalamnya. Tak ada tempat ibadah ataupun wisata manapun yang lebih banyak dikunjungi dari tempat ini. Dan tak ada lokasi yang lebih mengesankan dan lebih dirindukan berkali-kali melebihi tempat ini.

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Bagaimana seorang muslim tidak merindukannya. Di situlah tempat di mana Islam bermula, tempat di mana Rasulullah dilahirkan, dan di situlah banyak peristiwa-peristiwa besar dan mengesankan terjadi dalam sejarah. Membaca dan mengingat sejarahnya saja, membuat hati kita haru, lantas bagaimana kiranya tatkala kita bisa menginjakkan kaki di sana.

Namun, kerinduan seorang muslim bukan semata-mata karena faktor nostalgia kesejarahan. Lebih dari itu, karena banyak sisi fadhilah dan keutamaan yang bisa didapatkan.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan dalam Zaadul Ma’ad, “Allah Ta’ala telah memilih beberapa tempat dan negeri, yang terbaik serta termulia adalah tanah Haram. Karena Allah Ta’ala telah memilih bagi nabinya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan menjadikannya sebagai tempat manasik dan sebagai tempat menunaikan kewajiban. Orang dari dekat maupun jauh dari segala penjuru akan mendatangi tanah yang mulia itu.”

Itulah tempat yang diberkahi sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ ﴿٩٦﴾

 “Sesungguhnya pertama kali rumah ibadah yang diletakan untuk manusia adalah yang ada di Makkah yang di berkati dan sebagai petunjuk ( kiblat ) bagi seluruh manusia” (QS.  Ali Imron: 96)

Begitu mulianya tempat itu, hingga shalat yang dikerjakan di dalamnya lebih utama dari seratus ribu shalat di tempat yang lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, al-Albani mengatakan, “shahih”)

Wajar, jika kita melihat manusia berduyun-duyun memakmurkan Masjidil Haram setiap waktunya. Bahkan hingga kini, terbilang sulit untuk mencari tempat sujud di dalamnya, terutama di bulan Ramadhan dan musim haji. Bukan karena sempitnya tempat, tapi karena saking banyaknya manusia yang ingin mendapatkan tempat sujud di dalamnya. Butuh kesungguhan dan datang lebih awal  untuk mendapatkan tempat sujud dengan nyaman.

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Ke tempat yang mulia itu pula Allah mengundang seluruh manusia untuk haji dan beribadah kepada-Nya, bahkan undangan ini berlaku sejak Nabi Ibrahim alaihissalam diperintahkan untuk menyeru manusia, sebagaimana firman-Nya,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ﴿٢٧﴾

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27)

Sungguh merupakan karunia besar, jika kita termasuk salah satu yang diberi kekuatan dan kemampuan untuk mendatangi undangan mulia ini.

Haji adalah ritual ibadah tingkat tinggi. Di mana semua potensi dilibatkan dalam prosesi ini. Harta yang tak sedikit harus dicurahkan, segenap tenaga harus dikerahkan, ketegaran mental dan hati mutlak diperlukan. Namun itu semua tak menciutkan nyali orang-orang yang telah merindukannya. Karena hasil yang bisa diraih lebih hebat lagi dari usaha yang dikerahkan.

Betapa tidak, ibadah haji mampu membersihkan dosa-dosa yang kita ‘produksi’ setiap waktunya. Hingga kesempurnaan haji bisa menjadi sebab terhapusnya dosa secara sempurna. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata jorok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan besarnya pengorbanan orang yang berhaji tersebut, maka tidak ada reward atau balasan yang bisa menutup dan mencukupinya selain jannah. Terlalu remeh jika balasan haji hanya sebatas gelar Haji, sebatas bertambahnya relasi atau lancarnya rejeki, Bahkan kenikmatan dunia dan seisinya masih terlalu remeh dan belum cukup untuk mengganjar orang yang berhaji. Dan hanya jannah yang sepadan dan layak diberikan sebagai balasan bagi orang yang berhaji. Rasulullah ﷺ bersabda,

وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

“Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan (yang layak) selain jannah.” (HR Bukhari)

Jadi, hadits ini tidak mengingkari kemungkinan adanya faedah dan keberkahan duniawi yang diperoleh bagi orang yang berhaji. Akan tetapi,  sebagai penekanan bahwa hanya jannah yang bisa mencukupi keutamaan orang yang berhaji.

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Meskipun semua orang merindukannya, belum tentu semua mampu menunaikannya. Karenanya, kewajiban haji berlaku hanya bagi orang yang mampu menempuh perjalanannya. Allah berfirman,

وَلِلَّـهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Biasanya, tatkala seseorang membaca ayat ini otomatis tergambar bahwa hanya orang kaya yang bisa berhaji. Sehingga, orang-orang yang belum dikarunia kecukupan harta menjadi ciut nyalinya. Dan tak sedikit diantara kaum muslimin yang belum ada gambaran di benaknya untuk berhaji lantaran melihat minimnya ekonomi.

Ia lupa, bahwa ternyata tak sedikit orang yang miskin namun Allah takdirkan bisa menginjakkan kakinya di Tanah Suci. Sangat menarik dialog seorang tabi’in, Ibrahim bin Ad-ham rahimahullah dengan seseorang yang hendak berhaji.  Suatu kali seseorang yang mengendarai onta melewati Ibrahim bin Adham sedang berjalan kaki, lalu menyapa, “Hendak kemana Anda pergi wahai Ibrahim?” Beliau menjawab, “Saya hendak pergi berhaji.” Orang itu heran dan berkata, “Mana kendaraanmu? Bukankah jalan menuju Mekah itu jauh?” Beliau menjawab, “Saya memiliki banyak kendaraan yang Anda tidak melihatnya.” Makin penasaranlah orang itu lalu bertanya, “Kendaraan apa itu?” Beliau menjawab, “Jika terjadi musibah, kendaraanku adalah sabar, jika mendapatkan nikmat, kendaraanku adalah syukur, dan jika takdir turun, kendaraanku adalah ridha”

Beliau tidak bermaksud mengesampingkan kendaraan pengangkut fisik maupun perbekalan materi. Namun dengan kesiapan hati dan kekuatan mentalnya, seseorang akan mampu mencapai Tanah Suci atau setidaknya memperoleh pahala haji.

Jamaah Jumat Rahmakumullah

Yang mesti dilakukan oleh setiap orang yang merindukan haji adalah mengawalinya dengan niat. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, ia tak akan luput dari pahala haji. Bisa jadi dengan niat dan tekadnya yang tulus Allah berkenan memberi kemudahan jalan yang tak disangka-sangka. Dan kisah tentang ini bertebaran dari zaman ke zaman.

Atau jika ternyata Allah tidak mentakdirkan ia sampai ke Baitullah, ia tetap mendapatkan pahala haji karena niatnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Perumpamaan umat ini seperti perumpamaan empat golongan; ada orang yang dikaruniai Allah keluasan harta dan ilmu, maka dia mengelola hartanya dengan ilmunya dan ia tunaikan sesuai haknya. Ada orang (kedua) yang tidak dikaruniai kecukupan harta, lalu dia berkata, “Seandainya saya memiliki harta seperti dia, niscaya aku akan berbuat seperti yang ia perbuat.’ Lalu Rasululah bersabda, “Maka keduanya mendapatkan pahala yang sama….” (HR Ibnu Majah)

Maka tatkala seseorang belum diberi karunia harta, lalu ia melihat ada orang kaya yang menggunakan hartanya untuk berhaji dan ia bercita-cita seperti itu, niscaya ia mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berhaji.

Tersebut dalam hadits Bukhari, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Maka barangsiapa yang bertekad melakukan suatu kebaikan dan dia belum mengerjakannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya.” (HR. Bukhari)

Sebagai bukti akan tekad dan niatnya, ia tidak akan tinggal diam. Ia akan berusaha semampunya untuk bisa menjalankannya. Jika seseorang terhalang haji karena kuota yang terbatas, atau antrian terlalu panjang, atau sebab lain sementara dia mampu menempuh perjalanan umroh di bulan lain, hendaknya ia melakukannya.

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor onta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi bersabda,

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجّ

Maka apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” Dalam riwayat lain, “Seperti haji bersamaku.

Ibnu Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif berkata, “Dan ketahuilah, orang yang tak mampu dari satu amal kebaikan dan bersedih serta berangan-angan bisa mengerjakannya maka ia mendapat pahala bersama dengan orang yang mengerjakannya…” Lalu beliau menyebutkan riwayat tersebut sebagai satu contohnya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk ziarah ke Baitullah yang mulia, aamiin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ  إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ للهِ وَلِيِّ الإِحْسَانِ، لا يَحُدُّهُ الزَّمَانُ وَالمَكَانُ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الوَلِيُّ الحَمِيدُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّـنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ الخُلُقِ العَظِيمِ، أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهُ، وَأَكْرَمَهُ فَجَعَلَهُ خَلِيلَهُ وَحَبِيبَهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الأَبْرَارِ، وَعَلَى تَابِعِيهِمْ مِنْ عِبَادِ اللهِ الأَخْيَارِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

 : فَيَا عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

: عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Dapatkan versi PDF di Sini: Khutbah Jumat PDF (Bisa langsung diprint)

 

 

Khutbah Jumat: Kezhaliman Sempurna Seorang Hamba

KHUTBAH JUMAT:

KEZHALIMAN SEMPURNA SEORANG HAMBA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنسْتعِينُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنعُوذ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيّئاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

يَاأَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أما بعد

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَديثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُورِ مُحْدَثاَتِهَا وَكُلَّ مُحْدَثــَةٍ بدْعَةٌ وَكُلَّ بدْعَةٍ ضَلاَلةٌ وَكُلَّ ضَلاَلةٍ فيِ النَّارِ

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Puji syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala . Karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya lah kita dapat menunaikan tugas kita sebagai seorang hamba. Dengan rahmat-Nya pula, Kita dapat menghadiri majelis shalat jumat ini. Yang mana, majelis ini telah menjadi kebutuhan bagi kita. Agar ruhiyah kita semakin hidup.

Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad ﷺ. Kepada ahlu baitnya, sahabatnya dan para pengikutnya yang selalu meneladani sunnahnya hingga hari akhir. Amma Ba’du:

Melalui mimbar jumat ini, khatib wasiatkan kepada diri kami dan para jamaah pada umumnya. Marilah kita tingkatkan kualitas dan kuantitas takwa kita kepada Allah. Yaitu, dengan cara meningkatkan amal ibadah yang dikerjakan dengan penuh keihlasan, dengan penuh rasa khauf dan dengan segenap rasa raja. Dan, dengan meninggalkan kemaksiatan dengan segenap kemampuan kita. Semoga, takwa tersebut dapat menjadi bekal terbaik untuk hari akhirat. Dapat menjadi penerang di gelapnya alam barzakh. Dan, dapat menolong kita di hari akhir kelak. Amin ya rabbal ‘alamin.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Ketika turun ayat,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَـٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ﴿٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-An’am: 82)

Para sahabat resah. Rasanya tidak ada orang yang bersih dari segala bentuk kezhaliman. Untuk itu, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak perah menzhalimi dirinya sendiri?”

Nabi menjawab, “(maksudnya) bukan seperti yang kalian katakan, mereka tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman, maksudnya dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar perkataan Lukman kepada anaknya, “sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang besar.”

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Sungguh ini merupakan jawaban yang memuaskan. Karena kezhaliman yang sempurna adalah syirik, yakni mengalamatkan ibadah tidak pada tempatnya. Berdo’a, meminta rejeki, memohon perlindungan dan keselamatan, berkurban dan mengabdi kepada selain Allah. Dosa inilah yang menyebabkan hilangnya ketenteraman dan hidayah.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Di dunia, orang musyrik tak pernah tenteram. Segala kejadian menjadi sumber ketakutan dan kehawatiran. Kejatuhan cicak, ia anggap sebagai tanda sial. Atau ketika ada binatang melintas di jalan yang dilaluinya, atau ada gelas terjatuh dan pecah. Semua itu menjadi sumber ketakutan baginya.

Mereka juga takut terhadap hari-hari tertentu, tempat-tempat tertentu atau makhluk tertentu, melebihi takutnya kepada Allah. Untuk mengenyahkan rasa takut itu, mereka meningkatkan volume kesyirikan dengan sesaji, ruwatan, mengalungkan jimat dan upacara kesyirikan lain.

Tidak pernah tenang orang yang menduakan pengabdian. Sesekali shalat untuk Allah, sesekali sesaji untuk tandingan Allah. Dia hendak mencari ridha seluruhnya, sementara masing-masing sesembahan menuntut loyalitas dirinya secara sempurna. Bagaimana orang semacam ini bisa tenang. Allah berfirman,

 

رَبَ اللَّـهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا

 “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (hamba) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang hamba yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua hamba itu sama halnya?” (QS az-Zumar: 29)

Ibnu Abbas menafsirkan, “Ini adalah perumpamaan antara orang  musyrik dan orang mukhlis (ikhlas).”

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Kegundahan yang selalu meliputi orang musyrik di dunia, akan berbuah penderitaan neraka yang tiada tara di akhirat, selamanya. Kecuali jika dia bertaubat sebelum matinya. Allah tidak akan mengampuni dosanya. Berbeda dengan dosa lain, betapapun besarnya, masing mungkin Allah mengampuninya. Nabi juga telah memastikan bahwa orang seperti ini masuk neraka. Beliau bersabda,

 

وَ مَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الناَّرَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” ( HR Muslim)

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Jika ingin perbandingan yang klimaks, orang yang suka mencuri, berjudi namun terhindar dari syirik, itu jauh lebih baik dari orang yang dermawan, ramah tamah tapi musyrik. Mengapa? Tanpa mengecilkan dosa mencuri dan berjudi, kedua dosa itu masih mungkin diampuni (dengan kehendak Allah), dan dosa itu merupakan kezhaliman atas sesama manusia. Akan tetapi syirik, tidak terampuni. Karena berlaku zhalim terhadap Allah, dan inilah kezhaliman yang paling besar. Wallahu a’lam.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ  إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ للهِ وَلِيِّ الإِحْسَانِ، لا يَحُدُّهُ الزَّمَانُ وَالمَكَانُ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الوَلِيُّ الحَمِيدُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّـنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ الخُلُقِ العَظِيمِ، أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهُ، وَأَكْرَمَهُ فَجَعَلَهُ خَلِيلَهُ وَحَبِيبَهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الأَبْرَارِ، وَعَلَى تَابِعِيهِمْ مِنْ عِبَادِ اللهِ الأَخْيَارِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

 : فَيَا عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

: عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Tips Memilih dan Menyajikan Materi Khutbah Jumat

Anda khatib Jumat? atau takmir masjid yang sedianya harus selalu siap di hari Jumat sebagai pengganti khatib utama? Atau anda belum pernah berkhutbah sebelumnya dan hendak khutbah tapi bingung menentukan materi khutbah Jumat yang pas bagi hadirin?

Yakin materi khutbah yang hendak anda sampaikan menarik bagi para jamaah? dan yakin jamaah mau mendengarkan?

Di bawah ini ada beberapa tips yang bisa anda gunakan dalam meramu dan memilih materi khutbah Jumat agar pas dan menarik bagi para jamaah, dan merekapun hadir di sidang shalat jumat bukan hanya sekedar melepas rutinitas tapi mendegarkan dengan seksama.

Tips-tips berikut sebagiannya adalah metode umum dalam menyusun naskah, baik untuk khutbah maupun pembuatan makalah. Karena pada dasarnya, tidak ada trik rahasia yang bisa menyulap racikan materi atau penyampaian khutbah menjadi luar biasa dalam seketika.

Untuk mewujudkan khutbah yang luarbiasa dibutuhkan tehnik penyajian dan retorika yang baik juga proses dan pembelajaran. Pengalaman dan jam terbang juga akan menjadi tangga yang harus dilalui
untuk mendapatkan hasil terbaik.

Tips-tips berikut sifatnya hanyalah saran, bukan aturan baku. Adakalanya sebagiannya tidak perlu dipakai jika dirasa kurang pas dengan situasi yang dihadapi.

 

TIPS MEMILIH TEMA

1. PILIH TEMA SESUAI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENGAMALAN PENDENGAR TENTANG ISLAM

Point ini kami letakkan di awal karena nilai urgensinya. Tema yang baik haruslah tema yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengamalan pembaca. Sesuai dalam arti bisa dipahami dan tidak muluk-muluk. Bukan berarti tema yang dipilih itu-itu saja alias tidak meningkat, tapi dalam memilih tema hendaknya mempertimbangkan kemampuan serap audiens secara umum terhadap tema yang diangkat. Ini penting karena tema yang muluk-muluk berpotensi tak dapat dipahami bahkan bisa pula disalahpahami. Tema-tema beraroma teoritis bisa diterima di khutbah jumat masjid kampus, tapi tidak untuk masjid kampung. Bukan berarti khatib harus repot-repot melakukan riset pada tingkat pemahaman pendengar, cukup mengira dari segi daerah atau letak masjid yang ditempati pun bisa.

2. PILIH TEMA SESUAI KEBUTUHAN PENDENGAR

Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan masyarakat terhadap suatu penjelasan (bayan) atau ilmu dari syariat. Misalnya, di masyarakat tengah menjamur tren kuliner masakan dari binatang-binatang
haram. Maka yang dibutuhkan masyarakat saat itu adalah kebutuhan terhadap bayan atau penjelasan mengenai berbagai makanan yang haram; landasan dalilnya, madharatnya, serta berbagai hal terkait dengan tema tersebut. Tema yang sesuai kebutuhan akan lebih efektif dan tepat guna karena nilai aktualitasnya.

3. CARI TEMA BARU YANG PADAT-BERISI DAN MENCERAHKAN

Menyesuaikan tema dengan kebutuhan pendengar dalam beberapa kondisi sifatnya sangat kontesktual. Artinya, hanya jika ada masalah, isu atau kasus yang perlu direspon. Dan itu tidak kita dapatkan setiap
Jumat. Pada Jumat-jumat biasa, perlu kiranya kita berikan tema-tema baru yang terukur dalam level yang bisa diterima audiens. Misalnya tema-tema berunsur tauhid atau tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

 

TIPS MENYAJIKAN TEMA

Beberapa trik berikut ini adalah trik untuk membuat naskah khutbah lengkap. Asumsinya, Anda akan menyampaikan khutbah dengan menggunakan teks khutbah lengkap, mulai dari pembukaan, isi hingga penutupan. Bagi yang sudah terbiasa berkhutbah hanya dengan membawa point-point pokoknya, trik-trik berikut bisa berfungsi sebagai penambah pengetahuan.

1. Pilih salah satu tema yang anda inginkan. Anda bisa mengambil tema dari satu bab dalam sebuah buku, atau dari inspirasi sendiri.

2. Pilih ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan tema tersebut yang paling mencakup dan mengena. Dalam buku ini kami telah memilihkan untuk Anda.

3. Pilih hadits-hadits yang paling mencakup yang menjelaskan masalah yang diangkat. Anda bisa menggunakan program kumpulan hadits atau buku-buku hadits shahih yang hari ini sudah banyak diterjemahkan.

4. Cari keterangan ulama yang gamblang dalam menjelaskan tafsir atau syarh (penjelasan) dari tema, untuk dinukil dalam teks khutbah. Keterangan ulama ini bisa didapat dari tafsir ayat terkait atau penjelasan syarh hadits yang dinukil. ini akan memperkuat nilai ilmiyah sebuah ceramah.

5. Cari kisah-kisah dari para ulama salaf atau bisa juga kisah nyata hari ini sesuai tema anda. Usahakan –jika memang ada- dalam khutbah kita ada satu atau dua nukilan kisah sebagai gambaran implementasi dari tema. Orang Arab mengatakan, “bil mitsal tattadhihul maqal” dengan contoh, penjelasan akan menjadi gamblang.

6. Akan lebih unik jika mampu membuat semacam analogi atau perumpamaan pada keterangan yang anda sampaikan. Bagi yang memiliki pengetahuan dalam bahasa Jawa atau Arab misalnya, disana ada banyak permisalan yang bisa digunakan.

7. Ada baiknya menghafal ayat atau hadits yang akan dijadikan rujukan utama.

Ini akan membantu menggenjot performa dan kepercayaan diri anda, juga menambah kemantapan para pendengar. Meskipun membawa materi khutbah lengkap, sebaiknya jangan terlalu terkungkung dengan teks. Menghafal ayat, hadits, atau cerita akan lebih mengesankan.

8. Soal referensi tidak harus disebutkan terlalu detail.

Jika hadits cukup disebutkan riwayat siapa, tidak perlu sampai menyebutkan nomor dan halaman. Jika nukilan dari buku, cukup sebutkan dari buku apa atau penulisnya. Yang penting kita yakin bahwa yang kita sampaikan memiliki rujukan valid meski tidak kita sampaikan. Sebab, ini khutbah bukan makalah, waktunya singkat dan yang dibutuhkan audiens adalah materi yang langsung bisa dicerna.

9. Hindari memilih tema yang dimaksudkan untuk menyindir seseorang.

Tema semacam ini rawan rancu dan tidak bisa dipahami oleh hadirin karena mereka tidak memahami konteks. Hindari pula mencela kelompok/organisasi Islam lain secara spesifik, kecuali yang memang terbukti sesat, juga memuji atau mencela secara berlebihan dan emosional.

Demikian beberapa tips dalam memilih materi khutbah jumat agar menarik perhatian audience. sekali lagi, hasil yang maksimal tentunya ditentukan oleh masing-masing orang, penilaian khutbah juga bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Semoga bisa mempermudah pembaca dalam memilih materi khutbah jumat.

 

Majalah ar-risalah/Redaksi

Khutbah Jumat: Dosa Hanya Membuahkan Derita

Khutbah Jumat:
Dosa Hanya Membuahkan Derita

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ

إنَ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah l tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

 

Ibnu Asakir menyebutkan dari Masruq bahwa Tamim ad-Dari radhiyallahu anhu suatu malam shalat dengan membaca dan mengulang-ulang ayat,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

Beliau melakukannya dari tengah malam hingga menjelang Subuh sembari menangis karena penghayatannya terhadap ayat ini. Betapa peka hati beliau. Semacam ada kekhawatiran bahwa perbuatan baik dan amal shalihnya belum mencapai level sebagai orang baik. Ada rasa takut bahwa kekhilafannya saat terjerumus pada suatu dosa atau sisi kekurangannya dalam menjalankan kewajiban menjatuhkannya pada kriteria sebagai pendosa.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Begitulah para shalihin, amalnya klimak, rasa takutnya memuncak. Orang mukmin itu melihat dosa yang pernah dilakukannya seperti duduk di kaki gunung hingga takut akan reruntuhan bebatuannya. Adapun orang fajir memandang dosa yang telah diperbuatnya seperti lalat yang hinggap di hidungnya. Cukup dengan mengibaskan kepalanya, maka lalat itu akan enyah dari dirinya. Begitulah wasiat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Seorang mukmin menganggap besar urusan dosa dan tidak menyepelekannya. Maka ia akan berusaha meninggalkan dosa, menjauhinya, bertaubat dan merengek-rengek kepada Allah agar mengampuni dan memaafkannya.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Adapun karakter pendosa tidak demikian halnya. Berapa banyak orang-orang yang dengan gampang melakukan dosa, lalu mengira secara otomatis Allah akan mengampuninya. Berapa banyak pula orang yang malas dalam melakukan ketaatan dan menelantarkannya, lalu secara sepihak mengklaim bahwa Allah memaklumi kemalasannya?

Mereka klaim sebagai kata hati atau nurani yang Allah fitrahkan kepadanya. Padahal ia tidak mau tahu petunjuk-Nya, perintah dan larangan-Nya lalu mengira sudah mentaati-Nya. Dengan dalih itu pula ia menyangka bahwa Allah akan membalas sama antara mereka dengan orang yang benar-benar takut berbuat dosa dan benar-benar taat dalam menjalankan perintah Allah. Ini terlalu namanya. Maka tentang klaim yang seperti ini, maka Allah menyanggahnya,

سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21)

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Ibnu Katsier menjelaskan dalam Tafsirnya, “Alangkah buruknya dugaan mereka terhadap Kami, padahal mustahil Kami menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan para pendosa baik dalam kehidupan di negeri akhirat nanti dan juga dalam kehidupan di dunia ini.

Ibnu Katsier rahimahullah menyebutkan satu riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ”

‘Sebagaimana tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri buah anggur, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak akan memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa.”

Hanya saja hadits ini gharib bila ditinjau dari segi jalurnya. Akan tetapi Muhammad ibnu lshaq menyebutkan di dalam kitab Sirah-nya bahwa ada temuan sebuah prasasti yang ada di Mekah, tepatnya di pondasi Ka’bah, tertulis padanya, “Kamu berbuat keburukan lalu berharap hasil yang baik, perihalnya seperti orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri,” yakni mustahil mendapatkannya karena pohon yang berduri tidak dapat membuahkan anggur.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Balasan baik hanya diterima oleh orang yang usahanya baik. Begitupun dengan hasil yang buruk, tidak disandang kecuali oleh orang yang berlaku buruk. Sebagaimana amal keduanya berbeda saat di dunia, maka beda pula hasilnya kelak pada hari Kiamat. Kerugian dan siksa neraka adalah buah yang akan dipanen para pendosa, sedangkan keberuntungan dan kenikmatan adalah buah yang Allah anugerahkan kepada orang-orang baik dan bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,

 

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ ﴿٢٠

“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”  (QS. Al-Hasyr: 20)

Maka perlu dipahami betul indikator ataupun pembeda antara orang baik dan orang fajir.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Ada penjelasan dari sahabat mulia Abu Dzar al-Ghifari yang layak kita jadikan cermin untuk diri, adakah kita masuk dalam kategori orang baik, atau malah sebaliknya.

Al-Hafiz Abu Ya’la meriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu bahwa beliau berkata, “Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barang siapa yang berpaling darinya dan tidak mengamalkannya, maka ia akan menghadap Allah dalam keadaan sebagai seorang yang fasik atau pendosa.” Ketika beliau ditanya, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?” Beliau menjawab, “Hendaklah seseorang mengambil apa yang dihalalkan oleh Allah karena Allah, dan menolak atau menghindari apa yang diharamkan oleh Allah karena Allah. Ia juga mengerjakan perintah Allah karena Allah, dan menjauhi larangan Allah karena Allah.”

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang baik. Aamiin

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Khutbah Jumat/Majalah ar-risalah/Abu Umar Abdillah

Khutbah Jumat: Keagungan Kalimat Tauhid

KEAGUNGAN KALIMAT TAUHID

 Oleh: Majalah ar-risalah

 

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,

Tiada kata henti untuk bersyukur, karena banyaknya nikmat Allah tak terukur. Adalah keliru jika seseorang itu memandang nikmat sebatas pada makanan, minuman, tempat tinggal maupun kemewahan. Betapa seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan jika tak mengenali nikmat selain pada kelezatan ragawi dan kenikmatan materi. Imam Hasan al-Bashri berkata, ”Barangsiapa yang tidak mengenali nikmat Allah selain pada makanan, minuman dan pakaian, maka sungguh dangkal ilmunya, dan amat berat penderitaannya.” Tentu saja ia menderita, karena ketika seseorang tidak mengenali nikmat, ia pun tidak mampu merasakan kelezatannya.

Maka jaminan kebahagiaan bukan dari sisi kekayaannya, begitu juga derajat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Hanya saja, budaya materialistis telah mendorong manusia memandang kemuliaan melulu berdasarkan harta dan kelebihan secara fisik.

 

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

“Sesungguhnya, Allah akan membebaskan seorang lelaki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Akan dibentangkan padanya 99 lembaran (catatan amal keburukan), tiap-tiap lembaran seukuran sejauh pandangan mata. Kemudian Allah bertanya, “Apakah engkau mengingkari sesuatu dari lembaran (catatan amal keburukan) ini? Apakah para (malaikat) penulis–Ku al-Hafizhun (yang mencatat) menzhalimimu?”

Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah engkau memilik alasan?” Maka, hamba tadi menjawab, “Tidak wahai Rabb-ku.” Maka, Allah berfirman, “Benar, sesungguhnya di sisi Kami engkau memiliki satu kebaikan. Sesungguhnya pada hari ini engkau tidak akan dizhalimi.  Kemudian, dikeluarkan sebuah bithaqah (karcis) yang bertuliskan: Asyhadu alla ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah hambaNya dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Datangkanlah timbanganmu.”  Hamba tadi berkata, “Wahai Rabb-ku, apa (pengaruh) karcis ini terhadap lembaran-lembaran ini.” Maka, Allah berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi.” Rasulullah bersabda, “Maka, lembaran-lembaran itu diletakkan di atas satu daun timbangan, dan satu karcis tersebut diletakkan di atas satu daun timbangan yang lain. Maka, ringanlah lembaran-lembaran itu, dan beratlah karcis tersebut. Maka, sesuatupun tidak berat ditimbang dengan nama Allah.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah, tidak ada sesuatu pun yang lebih berat bila ditimbang dengan kalimat Laa ilaaha illallah. Siapa yang bertemu Allah dan mengimaninya maka Allah akan menyelamatkannya dari Azab neraka meskipun sebelumnya dia diazab lantaran dosa yang dilakukan. Sebaliknya, siapa yang bertemu dengan Allah tanpa kalimat itu dan mengkufurinya, kelak dia akan menyesal tidak mendapatkan rahmat-Nya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Kalimat Laa ilaaha illallah adalah inti dakwah para Nabi. Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

Tidaklah seorang Nabi dibenci dan dimusuhi melainkan karena mereka menyampaikan dan mengajak semua orang untuk mengagungkan kalimat tersebut. Kalimat Laailaaha illallah adalah kalimat pembuka jannah sebagaimana sabda Rasulullah,

“Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga.“ (HR. Ahmad).

Namun, tidak setiap yang mengucapkannya bisa mengambil manfaat dari kalimat tersebut. Iman Bukhari meriwayatkan bahwa seseorang pernah bertanya kepada Imam Wahab bin Munabbih, seorang Tabi’in dari Shan’a, “Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?”  Wahab menjawab, “Benar, akan tetapi setiap kunci pasti bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu.”

Apakah gerigi-gerigi itu? Gerigi itu adalah syarat-syarat Lailaha illallah. Demikian pula keterangan Hasan Al Bashri rahimahullah, ketika ia ditanya, “Orang-orang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah pasti akan masuk surga.” Hasan al-Bashri berkata:

من قال « لا إله إلا الله » فأدَّى حقها وفرضها دخل الجنة

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah, lalu menunaikan hak dan kewajibannya (konsekuensinya), pasti akan masuk surga“.

Rasulullah juga bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Sesiapa yang akhir ucapannya adalah kalimat Lailaha illallah maka Allah akan memasukkannya ke dalam jannah.” (HR. Abu Dawud).

Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk menalqinkan kalimat tersebut pada orang yang hendak meninggal.

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat, ’laa ilaha illallah’.” (HR. Muslim)

 

Jamaah jumat Rahimakumullah,

Itu pulalah yang diinginkan Rasulullah dari paman beliau, Abu Thalib. Paman yang telah berjuang membela dan melindungi Rasulullah ketika kaum kafir menginginkan kecelakaan pada beliau. Beliau ingin pamannya mengucapkan kalimat tersebut di akhir hayatnya. Maka pada saat pamannya berada pada detik-detik akhir hidupnya, beliau berdiri di sisi dipan sambil berkata, “Wahai pamanku, ucapkan Laa ilaaha illallah, kalimat yang dengannya aku akan berhujjah (membelamu) di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.”  (HR. Al-Bukhari)

Namun sayang, pamannya enggan mengucapkan kalimat tersebut. Karena bujukan dan hasutan dari kedua saudaranya Abu Jahal dan Abu lahab, yang turut serta mendampinginya di akhir hayatnya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Belum setelah wafatnya Rasulullah, Umar Ibnu Khatab pernah mendapati sahabat Thalhah bin Ubaidillah sedang duduk berteduh dan bersedih. Lantas umar bertanya kepada Thalhah, “Wahai Thalhah, apa yang membuatmu bersedih? apakah istrimu?”

Jawabnya, “Bukan, tapi yang membuatku sedih adalah aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebelum beliau meninggal, ‘Sungguh aku tahu, ada satu kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya disaat kematiannya melainkan kalimat itu akan menjadi cahaya diwajahnya sehingga warnanya cerah dan Allah mudahkan urusannya. Dan sungguh jasad dan ruhnya akan mendapat kenyamanan dan rahmat di saat kematian’.

Thalhah melanjutkan ucapannya, “Aku ingin menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam, namun beliau jatuh sakit. Dan aku tidak sempat menanyakannya hingga beliau wafat. Dan ini yang membuatku sedih.”

Umar pun mengatakan, “Aku tahu kalimat itu wahai Thalhah, yaitu kalimat yang beliau ingin agar pamannya Abu Thalib mengucapkannya (yaitu kalimat laa ilaaha illallah).”

 

Jammah Jumat rahimakumullah,

Begitu berharganya kalimat Laa ilaaha illah, sehingga para Nabi dan orang-orang shalih mewasiatkan hal ini kepada anak-anaknya. Dalam sebuah hadits Rasulullah menceritakan Nabi Nuh alaihissalam di masa akhir hidupnya. Ia berpesan kepada anaknya,

“Wahai anakku, aku perintahkan kepadamu melazimi kalimat laa ilaaha illallah …kalaulah kiranya tujuh lapisan langit dan bumi diletakkan dalam satu timbangan. Kemudian kalimat laa ilaaha illallah diletakkan pada timbangan yang satu. Sungguh kalimat laa ilaaha illallah itu lebih berat. Kalaulah kiranya dunia langit seisinya itu terbentuk menjadi sebuah rantai yang kokoh, sungguh kalimat laa ilaaha illallah dapat memotongnya“.

Nabi Nuh telah diberikan umur yang panjang oleh Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa umur beliau mencapai 950 tahun. Sepanjang usianya ia habiskan untuk mendakwahkan kalimat Lailaha illallah. Beliau menyaksikan bagaimana Allah menolong dan menyelamatkan orang-orang yang berpegang dengan kalimat tauhid dan ia menyaksikan kebinasaan penduduk bumi yang hanyut tenggelam lantar kekufuran mereka terhadap kalimat laa ilaaha illallah. Begitu agungnya kalimat ini, sehingga tak ada nilainya seberapapun dunia yang kita miliki bila di dalam hati kita tidak ada keimanan dan tidak ada pengagungan kepada kalimat tauhid ini.

Kalimat ini pulalah yang dipesankan oleh Nabi Yaqub kepada putra-putrinya. Allah mengisahkan tentang Nabi Ya’kub,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah: 133).

Nabi Ya’kub tidak mengkhawatirkan kehidupan dunia anak-anaknya. Ia tidak khawatir dengan apa yang mereka makan kelak, yang mereka pakai kelak, di mana kelak mereka akan tinggal. Yang ia khwatirkan adalah apa yang akan mereka sembah, yang akan mereka taati, yang akan mereka ibadahi sepeninggal beliau. Itu yang beliau khawatirkan.

 

Jamaah rahimakumullah,

Semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan konsekuensi dari kalimat tauhid sehingga kita dimudahkan dalam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illah di penutup usia kita. Kemudian Allah memasukkan kita ke dalam Jannah bersama para ahli tauhid.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Khutbah Jumat

 

Khutbah Jumat: Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

KHUTBAH JUMAT

Tak Ada Rehat Kecuali di Jannah Kelak

Oleh: Majalah ar-risalah

Versi PDF: Di Sini

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Puji syukur alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah l atas karunia dan nikmat-nikmatnya. Segala karunia tersebut pada hakikatnya merupakan ujian keimanan. Hamba yang bersyukur akan menggunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Semoga kita termasuk golongan hamba tersebut dan bukan termasuk golongan manusia yang kufur nikmat.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada rasul kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para shabat dan segenap pengikutnya yang komitmen dengan sunnahnya hingga akhir masa. Aamiin ya rabbal alamin.

Selaku khatib, perkenankan saya menyampaikan pesan takwa kepada diri saya pribadi, dan kepada jamaah pada umumnya. Marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan takwa yang sebenar-benarnya; yaitu dengan menjauhi setiap larangan Allah, dan mengamalkan segala perintah Allah, baik berupa ibadah fardhu maupun sunnah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dikisahkan seorang kakek senja usia pulang dari masjid kampungnya. Lalu ia segera mengetuk pintu rumahnya, namun sang istri tak membukakan pintu dengan segera. Hingga ia lelah dan pingsan di depan pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, sang istri yang tak mendengar ketukan pintu menyadari keterlambatan suaminya. Bergegas ia melihat keluar dan ternyata suaminya tergeletak pingsan di depan pintu karena menunggu lama. Ia pun panik, bersusah payah membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Lalu menyeka wajahnya dengan air hingga suami siuman dari pingsannya. Sang istri meminta maaf atas keterlambatan ia membukakan pintu untuk suaminya. Akan tetapi sang suami tak memarahinya. Dia hanya berkata, “Saya pingsan bukan karena lamanya menunggu pintu dibuka, tapi karena saya ingat akan suatu hari,  ketika di hadapan Allah saya berdiri lama sementara pintu jannah tertutup di depan mata saya.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Begitulah hati yang peka, senantiasa terkait dengan Allah dan Hari Akhir. Dia membayangkan bagaimana kelak jika dia bersusah payah mendatangi jannah, namun pintu tak terbuka untuknya. Pelajaran ini membawa dirinya untuk senantiasa mengusahakan sebab dibukanya pintu jannah untuknya. Karana mudah atau susahnya ia memasuki jannah tergantung upayanya di dunia untuk mendatangi amal-amal yang memudahkan baginya untuk masuk jannah. Tak apalah kita berlelah-lelah di dunia, selagi kita dipermudah untuk memasuki jannah-Nya. Karena itulah, ketika Imam Ahmad bn Hambal ditanya, “mata ar-raahah?” Kapankah datangnya waktu rehat? Maka beliau menjawab, “Yakni saat engkau menginjakkan kakimu di jannah, saat itulah kamu bisa rehat.”

Itulah saat di mana seorang hamba berhasil mencapai sukses tertinggi, keberhasilan yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka  dan dimasukkan ke dalam jannah maka sungguh ia telah beruntung. (QS. ali Imran: 185)

Maka kalimat al-fauzul ‘azhiem yang bermakna keburuntungan atau sukses besar banyak disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an setelah penyebutan tentang orang-orang yang masuk jannah dan terhindar dari neraka.

Inilah kesuksesan sesungguhnya. Karena kenikmatan jannah bersifat sempurna tanpa terselip kesedihan sedikitpun. Hanya ada kelezatan tanpa kepahitan, rasa aman tanpa ketakutan, semua keinginan tercapai tanpa sedikitpun penghalang, dan akan kekal selamanya tanpa akhiran.

Berbeda dengan apa yang diklaim sebagai kesuksesan di dunia ini. Yang sekarang sudah menduduki jabatan tinggi itu belum sukses yang sebenarnya. Mereka masih menghadapi keruwetan masalah yang di hadapinya, masih menanggung celaan dari orang yang tidak ridha dengan posisinya dan masih takut jika harus lengser dari jabatannya.

Begitupun yang sekarang sudah kaya raya, pun belum bisa dikatakan jaya dengan sebenarnya. Masih ada ambisi dan kehausan akan apa yang belum bisa dicapainya. Ada keresahan hati jika hartanya berpindah atau hilang, dna masih harus menghadapi kedengkian orang lain terhadapnya. Hal yang sama dialami oleh orang-orang tenar dan terkenal.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Memang begitulah isi dunia, semua manusia tanpa beda akan merasakan kesusahan dan kelelahan; mukmin maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4)

Sa’id bin Jubeir menafsirkan makna ‘fi kabad’, yakni manusia mengalami kesusahan dan kesulitan dalam mencari mata pencaharian.” Sedangkan Hasan al-Bashri menyebutkan, “Yakni harus menghadapi kesulitan hidup di dunia dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kesusahan di akhirat.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tak ada manusia yang terbebas total dari musibah, kesulitan hidup, kegelisahan, kesedihan maupun rasa sakit. Jangan disangka orang-orang kafir hanya merasakan kesenangan tanpa duka lara. Dari sisi bahaya dan musibah yang dihadapi, nyaris tak ada beda antara keduanya, meski berbeda corak dan variasi. Tak hanya itu, menjadi pejuang kebathilan juga mengharuskan mereka untuk bersusah payah dalam berusaha. Bedanya, ada pengharapan baik bagi orang mukmin sehingga bisa menjadi pelipur lara baginya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan. Sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (QS. an-Nisa’: 104)

Bedanya lagi, sekecil apapun penderitaan yang dialami seorang mukmin bisa menjadi penggugur dosa. Sedangkan musibah yang dialami orang kafir adalah sebagai bonus siksa yang disegerakan di dunia. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى، إِلاَّ حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Seorang mukmin takkan merasa bosan dan putus asa dalam berikhtiar dan berusaha, hingga tercapai kesuksesan jannah yang didambakannya. Jikalau ada keinginan duniawi yang belum bisa dicapainya, toh akan digantikan dengan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat.

Andaikan yang terjadi di dunia ini selalu sesuai dengan apa yang kita ingini, tentulah jannah tak dirindukan lagi. Dan andai tidak ada duka lara di dunia ini, niscaya tak ada istimewanya rehat di akhirat nanti. Karenanya, ucapan penghuni jannah saat memasuki jannah adalah,

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.” (QS. Fathir: 34)

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam jannah, aamiin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا
(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 

Download versi PDF nya: Di Sini

 

 

 

Khutbah Jumat: Mulia Saat Miskin Maupun Kaya

KHUTBAH JUMAT

Mulia Saat Miskin Maupun Kaya

Oleh: Majalah ar-risalah

Versi PDF: Di Sini

 

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,

Tiada kata henti untuk bersyukur, karena banyaknya nikmat Allah tak terukur. Adalah keliru jika seseorang itu memandang nikmat sebatas pada makanan, minuman, tempat tinggal maupun kemewahan. Betapa seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan jika tak mengenali nikmat selain pada kelezatan ragawi dan kenikmatan materi. Imam Hasan al-Bashri berkata, ”Barangsiapa yang tidak mengenali nikmat Allah selain pada makanan, minuman dan pakaian, maka sungguh dangkal ilmunya, dan amat berat penderitaannya.” Tentu saja ia menderita, karena ketika seseorang tidak mengenali nikmat, ia pun tidak mampu merasakan kelezatannya.

Maka jaminan kebahagiaan bukan dari sisi kekayaannya, begitu juga derajat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Hanya saja, budaya materialistis telah mendorong manusia memandang kemuliaan melulu berdasarkan harta dan kelebihan secara fisik.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Sapaan pertama yang paling jamak diungkapkan untuk teman lama yang tak lama ketemu adalah “wah…sekarang sudah makmur”, “sekarang sudah jadi orang”, “sekarang sudah bahagia”, atau “sekarang hidupmu sudah mulia.” Itu jika yang didapatkan adalah teman berbadan gemuk, kaya raya, atau kelihatan berpakaian parlente. Memang begitulah rata-rata orang mengukur kemuliaan dan kehormatan, yakni dari sudut harta, tampilan maupun jabatan. Tapi, ayat yang kita bahas ini meluruskan asumsi itu salah tersebut.

Harta tak selalu menjadi sumber kebahagiaan bagi pemiliknya. Pikiran tegang saat memburunya, memeras keringat ketika mendapatkannya, dan kekhawatiran akan lenyapnya harta yang berada dalam genggamannya adalah indikiasi yang bertentangan dengan kebahagiaan. Bahkan, ujung dari siksa itu adalah penyesalan mendalam saat perpisahan antara dirinya dengan hartanya benar-benar terjadi. Mungkin karena hartanya harus berpindah tangan, lenyap oleh bencana, atau lantaran ajal yang memisahkan ia dengan hartanya. Pintu yang terakhir ini hanya tinggal menunggu waktu, tak satupun manusia yang mampu mengelak darinya.

Kalaupun mereka mampu merasakan manisnya hasil jerih payah yang diupayakannya, toh tak akan bertahan lama. Karena muara harta dari tangan pemburu dunia dan lalai dari agamanya tak akan jauh dari kesenangan yang berbau maksiat. Dan pasti, kesenangan itu akan berbuntut penderitaan di dunia, kesengsaraan di akhirat, kecuali yang bertaubat.

Pergi ke klub malam, menenggak miras, menghisap narkoba, mencari wanita, membanjiri hiburan pemuas syahwat dan aktivitas lain yang berkenaan dengan kenikmatan perut dan bawah perut. Sudah bisa ditebak ‘ending’ dari semua itu. Perselingkuhan, cekcok suami istri yang berujung kepada perceraian dan anak yang terganggu psikisnya. Atau kecanduan narkoba yang dampak paling ringannya masuk bui. Kalaupun tidak, penderitaan karena kecanduan itu sudah merupakan siksa luar biasa.

Belum lagi jika ia tidak bisa menebus barang haram yang meracuninya. Hadirnya penyakit berbahaya akibat maksiat-maksiat itu juga telah mengintainya.

Semua alasan di atas menjadikan kita tidak kesulitan dalam memahami maksud firman Allah,

فَلاَ تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلاَ أَوْلاَدُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia…” (QS. at-Taubah: 55)

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Harta yang Allah tumpahkan atas mereka itu aalah untuk menyiksa mereka, bukan untuk memuliakan mereka.
Tidak selalunya pula orang kaya itu terhormat dalam pandangan orang di sekitarnya. Karakter pemburu nafsu adalah bakhil, tidak akan mengeluarkan sesuatu dari hartanya, kecuali jika dengannya mereka mendapatkan kepuasan syahwatnya. Padahal, jika diukur dengan parameter syahwat, tak ada yang nikmat dalam menunaikan zakat dan sedekah. Kenikmatan adalah jika ia bisa memuaskan diri sendiri.

Sikap bakhil ini menjadi bibit munculnya rasa benci orang-orang miskin sekitar kepadanya. Imej orang terhadap merekapun buruk. Doa keburukan akan teralamatkan untuknya, dan tidak menutup kemungkinan, perlakuan jahat akan ia dapatkan dari orang-orang yang nekat ingin mendapatkan sebagian kekayaannya.

Semua kehinaan dan penderitaan yang demikian pahit itu masih belum seberapa dibandingkan kehinaan dan kesengsaraan yang kelak mereka rasakan di akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. al-Mukmin 60)

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Kaya atau miskin bukan ukuran mulia atau hina. Kekayaan bisa berarti siksa, sedangkan kemiskinan boleh jadi menjadi karunia. Keduanya tak lebih sebagai ujian, mana yang mulia, mana yang hina tergantung bagaimana masing-masing menyikapi ujian yang mereka hadapi.
Nabi bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالِ

“Sesungguhnya setiap umat itu menghadapi cobaan, cobaan umatku adalah berupa harta.” (HR Tirmidzi)

Ibnul Qayyim dalam Tafsir al-Qayyim-nya menjelaskan Surat al-Fajr ayat ke 15-17 di atas berkata, «Allah mengabarkan bahwa Dia menguji hambanya dengan memberikan kenikmatan dan melimpahkan rezki atasnya. Allah juga menguji manusia dengan sempitnya rezki. Keduanya adalah ujian dan cobaan. Kemudian Allah menyanggah atas anggapan orang bahwa terbukanya pintu rezki dan melimpahnya harta adalah bukti Allah memuliakan dirinya, dan bahwa sempitnya rezki adalah pertanda Allah menghinakannya.

Allah menyanggah anggapan itu “Sekali-kali tidak demikian!”, yakni, anggapan orang-orang itu tidaklah benar, terkadang Aku menyiksa dengan nikmat-Ku dan memberikan nikmat dengan cobaan-Ku.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Nilai kemuliaan orang kaya adalah dengan syukurnya. Ia mengakui bahwa semua nikmat itu dari Allah. Ia juga memuji Allah dengan lisannya. Dan yang tak kalah penting, ia menggunakan nikmat Allah sesuai dengan kehendak Sang Maha Pemberi Karunia. Dengannya, dia mampu meraih derajat tinggi di sisi Allah sebagai hamba yang beryukur.

Namun jika ia kufur, maka kekayaannya menjadi sebab kehinaan dirinya, sekaligus ‘modal’ untuk menuai penderitaan dan kesengsaraan.

Sedangkan kemuliaan orang miskin adalah dengan bersabar, tetap berbaik sangka kepada Allah. Kemiskinan tidak membuatnya marah kepada Allah, berputus asa dari rahmat-Nya, ataupun terjun ke dalam dosa untuk mengentaskan diri dari kemiskinan.

Roda terus berputar, namun di manapun posisi kita, semoga kita tetap bisa meraih kemuliaan. Syukur di saat kaya, sabar di saat miskin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا
(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Download versi PDF nya: Di Sini

Khutbah Jumat: Bekal Hidup Setelah Mati

الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Marilah senantiasa kita panjatkan syukur kepada Allah atas setiap nikmat yang dikaruniakan kepada kita. Syukur secara lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah dan menyebut-nyebut bahwa nikmat tersebut dari Allah, maupun secara amal. Dengan cara menggunakan seluruh karunia Allah untuk kebaikan dan menjalankan syariatnya sebaik-baiknya. Bukan untuk melanggar larangan-Nya. Itulah hakikat syukur yang sempurna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, juga kepada keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah beliau.

Selanjutnya marilah kita tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah. Karena takwalah yang menentukan mulianya seseorang dihadapan Allah. Adapun kedudukan, jabatan, kesuksesan, keturunan dan kecerdasan tidak akan bernilai jika tidak diiringi dengan ketakwaan. Takwa adalah berhati-hati dalam menjalankan kehidupan agar jangan sampai menginjak ranjau setan. Bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban dan meningkatkan kewaspadaan pada hal-hal yang diharamkan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan meneliti kembali bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Manfaat besar akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan memperbanyak amal ketaatan. Tapi jika kita ujub, merasa telah mencapai derajat tertentu dalam keimanan, merasa telah memiliki banyak tabungan kebaikan, hal ini akan membuat kita terpedaya.

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Imam Syafi’i memberikan tips supaya kita tidak cepat berbangga dengan amal yang telah kita tunaikan atau dosa yang mampu kita tinggalkan. Beliau berkata, “Jika kamu khawatir terjangkiti ujub, maka ingatlah tiga hal; ridha siapa yang kamu cari, kenikmatan manakah yang kamu cari, dan dari bahaya manakah kamu hendak lari. Maka barang siapa merenungkan tiga hal tersebut, niscaya dia akan memandang remeh apa yang telah dicapainya.”

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Mari kita jawab tiga pertanyaan tersebut, lalu kita selami kedalaman makna dari nasihat tersebut.

Pertama, ridha siapa yang kamu cari? Tentu jawaban idealnya adalah ridha Allah, tapi  bagaimana penerapannya? Kita lihat apa yang kita lakukan setiap hari. Adakah setiap langkah, gerak-gerik, diam dan bicara, terpejam dan terjaganya mata kita selalu demi meraih ridha-Nya? Bahkan kegigihan dan pengorbanan manusia untuk mendapatkan ridha atasan, kekasih, atau untuk mendapat kewibawaan di kalangan masyarakat seringkali lebih hebat dari usahanya untuk menggapai ridha Allah.

Kedua, Kenikmatan manakah yang kamu cari? Tentu kita akan menjawab, “kenikmatan jannah.” Sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّة

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jannah.” (HR. Abu Dawud)

Tapi, sudahkah layak usaha yang kita lakukan sehari-hari itu diganjar dengan pahala jannah yang penuh dengan kenikmatan? Berapa waktu yang kita pergunakan untuk beribadah kepada Allah bandingkan dengan keinginan kita untuk mendapatkan kenikmatan jannah.

Banyak orang rela bekerja 8 jam sehari untuk mendapatkan rumah mewah sepuluh atau belasan tahun kemudian. Tapi, adakah rumah itu lebih mewah dari rumah dijannah yang digambarkan oleh Nabi, “Batu-batanya dari emas dan batu-bata dari perak?” Manakah yang lebih luas, rumah dambaannya, ataukah rumah di jannah yang disebutkan oleh Rasulullah,

طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً

“Panjangnya sejauh 60 mil.” (HR. Muslim)

Kita bisa bayangkan berapa waktu yang mesti kita pergunakan setiap harinya agar kita mendapatkan rumah sebesar dan seindah itu? Barangsiapa merenungkan hal ini, niscaya akan menganggap bahwa amalnya belum seberapa. Belum sepadan antara usaha yang dilakukan dengan balasan yang dijanjikan oleh Allah bagi orang mukmin di jannah.

Ketiga, dari bahaya manakah kita hendak lari? Tentu kita akan menjawab, “Dari siksa api neraka”, sebagaimana hal ini juga menjadi permohonan yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah,

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّار

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” (HR. Abu Dawud)

Masalahnya, adakah perbuatan yang kita lakukan setiap harinya sudah mencerminkan kondisi orang yang menghindar dari bahaya neraka yang amat dahsyat? Ataukah keadaan kita seperti yang digambarkan oleh seorang ulama salaf ketika memperhatikan banyak orang terlelap di waktu malam tanpa shalat, “Aku heran dengan jannah, bagaimana manusia bisa tidur lelap sedangkan katanya ia sedang memburunya. Dan aku heran terhadap neraka, bagaimana bisa manusia tidur nyenyak, sementara ia mengaku tengah lari dari bahayanya?”

Mungkin kita pernah melihat orang yang takut ditimpa suatu penyakit, takut ditangkap aparat, takut di PHK dari suatu perusahaan, takut dirampok dan lain-lain. Merekapun bertindak ekstra hati-hati dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Padahal itu semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ancaman neraka.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Tidak diragukan lagi, jika kita memikirkan ketiga perkara di atas, kita akan merasa, betapa amal kita masih jauh dari sempurna, masih jauh dari yang semestinya. Sehingga kita tak layak untuk ujub dan berbangga. Selayaknya kita menghitung kembali perbekalan kita, meneliti agar tak satupun tercecer, dan kita memilah dan memilih, mana yang harus dibawa, dan mana pula yang harus ditinggal.

 

Jamaah shalat jumat Rahimakumullah,

Semangat untuk beramal adalah baik. Namun, setiap amal harus didahului dengan ilmu yang benar. Jika tidak, bisa jadi bekal yang dibawa keliru. Perumpamaan orang yang beramal tanpa didasari ilmu, ibarat seorang musafir yang membawa onggokan kerikil dalam perjalanan. Ia menyangkan beban berat yang ia bawa akan membantunya dalam perjalanannya, ternyata hanya menjadi beban yang memberatkan. Sebagaimana seseorang yang  melakukan banyak amal yang tidak dicontohkan oleh Nabi maupun diajarkan oleh syariat sementara ia mengira amal tersebut akan menambah pahala baginya. Allah mengabarkan nasib orang yang keliru membawa bekal di akhirat kelak,

“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al Kahfi :104)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan ayat ini, “Ini adalah kondisi orang memiliki banyak amal, akan tetapi dia lakukan bukan untuk Allah atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah.”

Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan tujuan dan tindakan. Semoga Allah senantiasa menunjukkan kebaikan kepada kita dan menganugerahkan kekuatan untuk melaksanakannya. Dan Allah tunjukkan keburukan kepada kita serta kekuatan untuk menghindarinya.

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

   الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

  هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْماً: (( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا )

   اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Oleh: Majalah ar-risalah

Khutbah Jumat: Mengalahkan Nafsu, dengan Akal dan Wahyu

Mengalahkan Nafsu,
dengan Akal dan Wahyu

Oleh: Majalah ar-risalah

 

Download versi pdf di sini

 

  الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، كَتَبَ الفَلاَحَ وَالفَوْزَ المُبِينَ، لِكُلِّ مَنْ طَهَّرَ نَفْسَهُ وَزَكَّاهَا، وَجَمَّـلَهَا بِحُسْنِ الأَخْلاَقِ وَحَلاَّهَا، سُبْحَانَهُ آتَى كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْـلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْـلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، جَعَلَ سَلاَمَةَ العَقِيدَةِ وَحُسْنَ العِبَادَةِ سَبِيلاً لِتَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَتَحْـقِيقِ السَّعَادَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ الرُّسُلِ وَالأَنْبِيَاءِ، كَانَ كَثِيرًا مَا يُرَدِّدُ هَذَا الدُّعَاءَ: ((اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا))، اللَّهُمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

   أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسلِمُونَ :

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً)

 

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, 

Pada kesempatan yang penuh barakah ini, berbagai kenikmatan Allah limpahkan kepada kita. Utamanya dua hal, yang di antara ulama salaf mengatakan, ”Barangsiapa yang dalam keadaan muslim, sedangkan dirinya dalam keadaan sehat, maka sungguh telah terkumpul pada dirinya, nikmat dunia yang paling besar, dan nikmat akhirat yang paling besar. Karena nikmat dunia yang paling berharga adalah sehat, dan nikmat yang paling agung untuk akhirat adalah Islam. Maka menjadi kewajiban kita untuk mensyukuri nikmat Allah, yakni memanfaatkan nikmat sesuai dengan kehendak Allah Yang Memberi nikmat, bukan menurut keinginan dan hawa nafsunya.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Ketika Allah menyertakan hawa nafsu dalam penciptaan manusia, maka Allah juga menyertakan akal untuknya. Kemudian Allah menurunkan wahyu untuk membimbing akal agar bisa menjadi pengendali dan pemandu bagi hawa nafsu.

Antara akal dan nafsu tak henti-hentinya berseteru pada diri manusia. Peta kekuatan antara keduanya berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Bahkan dalam diri satu orang, kondisinya silih berganti dari waktu ke waktu. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “jika pagi hari tiba, maka berkumpullah hawa nafsu, amal dan ilmu (akal) manusia. Jika dia berbuat mengikuti hawa nafsu, maka hari itu adalah hari yang buruk baginya. Dan jika dia berbuat dengan mengikuti ilmunya, maka hari itu adalah hari yang baik baginya.”

Kemuliaan dan kehinaan manusia sangat bergantung pada posisi pertarungan antara keduanya.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Yang paling hina di antara manusia adalah orang yang akalnya didominasi oleh hawa nafsu. Dia menjadi tawanan bagi hawa nafsunya. Akalnya tidak dikerahkan untuk mengendalikannya. Bahkan akal diperalat untuk menjadi pembenar setiap apa yang diingini hawa nafsunya. Dia tidak berfikir kecuali dengan sudut pandang nafsunya, membenci dan menyenangi juga berdasarkan kecenderungan nafsunya, berbuat dan bertindak pun hanya mengikuti selera hawa nafsunya. Dialah yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. al-Furqan: 43)

Derajatnya paling rendah di kalangan manusia, atau bahkan lebih rendah lagi dari itu. Seorang tabi’in, Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Allah menciptakan malaikat disertai akal dan tidak memiliki syahwat. Allah menciptakan binatang dengan menyertakan syahwat tanpa akal. Sedangkan Allah menciptakan manusia dengan menyertakan keduanya, akal dan syahwat. Maka barangsiapa yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik dari malaikat, dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk dari binatang.”

Mengapa dia dikatakan lebih buruk dari binatang? Karena binatang tidak memiliki akal, wajar jika mereka memperturutkan hawa nafsunya. Tapi dimanakah akal manusia tatkala mereka memperturutkan setiap kehendak nafsunya?

Derajat yang sedikit lebih baik dari yang pertama adalah posisi dimana dorongan nafsu dan bimbingan akal memiliki kekuatan yang berimbang. Sesekali hawa nafsu yang unggul, namun di waktu yang lain akal menundukkannya dan membawanya kepada ketaatan. Posisi ini berpotensi melorot ke arah derajat yang paling rendah. Yakni ketika pemiliknya mendekatkan diri kepada lingkungan dan suasana yang melemahkan ilmu dan ketaatannya. Namun juga memiliki peluang untuk naik ke derajat yang lebih dan bahkan paling tinggi. Di mana akal mampu memenangi hawa nafsu secara telak. Yakni ketika dia menyadari potensi itu, lalu berusaha menguatkan posisi ilmu dan iradah (kemauannya) dalam kebaikan. Dengan mendalami ilmu-ilmu syar’i, bergabung dengan teman-teman yang shalih dan bermujahadah untuk memerangi hawa nafsunya. Nabi ﷺ bersabda,

وَ اْلمُجاَهِدُ مَنْ جاَهَدَ نَفْسَهُ

“Dan (termasuk) mujahid adalah orang yang memerangi hawa nafsunya.” (HR Ibnu Majah dan an-Nasaa’i dengan sanad yang baik)

Untuk meraih peringkat itu hendaknya dia juga berdoa seperti yang diajarkan oleh Nabi ﷺ,

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

“Ya Allah, karuniakanlah bagi jiwaku, ketakwaan dan kesuciannya, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikan jiwa, Engkaulan Pelindung dan Penolongnya.” (HR. Muslim)

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Derajat dan kesuksesan manusia yang paling spektakuler adalah ketika hawa nafsu tunduk dan takluk oleh akal yang dibimbing oleh wahyu. Sehingga dia berjalan di atas kebenaran, dalam bingkai syariat dan teguh di jalan istiqamah. Derajatnya bahkan melampaui kedudukan para malaikat. Karena malaikat hanya memiliki akal, tanpa disertai syahwat, namun diberi akal, maka wajar jika mereka tidak bermaksiat. Seperti berjalan tanpa rintangan. Berbeda halnya dengan manusia, meski hawa nafsu menantang di tengah jalan, mereka mampu melampauinya, mengalahkan nafsu dan menjadikannya tunduk dalam keimanan dan keshalihan. Inilah yang disebut dengan khairul bariyyah, sebaik-baik ciptaan. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَـٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (QS. al-Bayyinah:7)

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan juga ulama yang lain berdalil dengan ayat ini ketika menyatakan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal shalih lebih utama dari para malaikat, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat ini. Karakter ini tidak akan dicapai kecuali jika dia berhasil memerangi hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan.

Maka Allah menjanjikan jannah bagi orang yang memerangi hawa nafsunya, mencegahnya dari maksiat lantaran takut akan suatu hari di mana manusia berdiri di hadapan Allah,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya jannahlah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at 40-41).

Bahkan mereka akan mendapatkan dua jannah, sebagaiamana yang dirinci dalam ayat yang lain,

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

 “Orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya baginya dua jannah.” (QS. Ar-Rahman: 46).

Mujahid dan Ibrahim an-Nakha’i rahimahumullah berkata, “Dia adalah seseorang yang didorong hawa nafsunya untuk berbuat maksiat kemudian dia mengingat Allah maka dia tinggalkan maksiat tersebut karena rasa takutnya kepada-Nya.”

Ya Allah, karuniakanlah bagi jiwa kami, ketakwaan dan kesuciannya, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikan jiwa, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.Amien.

 

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا   وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ   لي وَلَكُمْ،   فَاسْتغْفِرُوهُ   يَغْفِرْ لَكُمْ    إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ   إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

   الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

  هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْماً: (( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا )) (23).

   اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Download versi pdf nya DI SINI

Khutbah Jumat: Ketakwaan Melahirkan Keberanian

KHUTBAH JUMAT

Ketakwaan Melahirkan Keberanian

Oleh: Ust. Taufik Anwar

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Semoga, nikmat dan karunia dari Allah dapat kita gunakan untuk beramal shalih.

Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada nabi Muhmmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para pengikut sunah dan seluruh umatnya sampai hari kiamat.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketika pasukan kaum Muslimin dikalahkan dalam perang Uhud dan beberapa orang shahabat gugur sebagai syuhada, tersiar isu bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah terbunuh. Bahkan seorang bernama Abu Qami’ah mengaku telah membunuh Rasullullah padahal ia hanya memukul beliau dan menyebabkan beliau terluka. Tersiarnya kabar bohong itu memengaruhi hati banyak shahabat dan mengacaukan barisan kaum muslimin. Hal itu menjadikan mereka lesu dan lemah untuk melanjutkan pertempuran.

Ibnu Abi Nujaih menceritakan sebagaimana dikutip oleh ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa seorang shahabat Muhajirin bertanya kepada seorang Anshar yang masih berlumuran darah, “Hai fulan, apakah engkau merasa atau mendengar bahwa Muhammad shalallahu alaihi wasallam, telah terbunuh?” Orang Anshar itu menjawab, “Jika Muhammad telah terbunuh maka ia telah menyampaikan risalahnya. Bertempurlah terus membela agamamu.”

Dalam keadaan demikian, turunlah surat Ali Imran ayat: 144, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tida dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tertentu waktunya..” Ayat ini menyuntikkan energi keberanian kepada orang-orang yang mulai melemah semangatnya untuk terus bertempur. Sebab, bergerak ke depan untuk melawan musuh atau lari ke belakang tidak akan mengurangi atau menambah umur seseorang.

Selanjutnnya Allah berfirman membesarkan hati para Mukminin dan menghibur mereka dari kekalahan dalam perang Uhud. Berapa banyak nabi yang berperang dan bersama mereka sahabat-sahabat mereka yang bertakwa.

وَكَأيِّنْ مِنْ  نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيْرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ الله وَمَا ضَعُفُوا وَمَا السْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

“Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan menjadi lesu, tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 146).

Ribbiyuna katsir menurut Ibnul Hasan adalah ulama yang banyak jumlahnya. Mereka adalah para ulama yang sabar yakni yang berbakti dan bertakwa.

Qatadah menjelaskan bahwa mereka, ribbiyun, orang-orang yang bertakwa tidak lemah semangat karena terbunuhnya Nabi mereka dan tidak menyerah. Mereka tidak pernah mundur dari kewajiban membantu para nabi dan agama mereka. Mereka senantiasa berjuang membela para rasul dan risalahnya hingga bersua dengan Allah.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ayat tersebut menggambarkan salah satu karakter orang yang bertakwa, yaitu mereka tidak pernah lemah karena gangguan dan rintangan yang menimpanya di jalan Allah. Mereka juga tidak patah semangat dan tidak menyerah kepada musuh.

Karenanya, para shahabat dikenal sebagai orang-orang yang berani dalam memperjuangkan kebenaran. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamun Nubala menceritakan keberanian Nasibah binti Kaab, seorang shahabiyah Rasulullah. “Siang itu,” tutur Nasibah, “Saya menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum muslimin. Awalnya tentara muslim memenangkan pertempuran. Namun ketika pasukan Islam mulai kalah, saya langsung terjun ke medan laga. Saya halau segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya.” Hingga di sekeliling Rasulullah hanya tersisa sekitar sepuluh orang dan di antanya adalah Nusaibah, suami, dan dua putranya. Dengan gagah berani mereka menghalau segala serangan yang datang untuk melukai Rasulullah.

Begitulah keberanian para shahabat yang tidak akan datang selain dari ketakwaan mereka kepada Allah.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kisah keberanian lainnya adalah seorang tabiin bernama Said bin Jubair ketika berhadapan dengan al-Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dalam Shuwar min hayatit Tabiin, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya mengisahkan bahwa al-Hajaj bertanya kepada Ibnu Jubair, “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Said bin Jubair, yang artinya orang yang bahagia putra dari orang yang perkasa.” Al-Hajaj menimpali dengan ketus, “Engkau adalah Syaqi bin Kasir, yang artinya orang celaka putra dari orang yang lumpuh. Namun dengan cerdas ia menjawab, “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau.”

Al-Hajaj bertanya kepada Ibnu Jubair, “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?” Ibnu Jubair menjawab, “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.” “Aku ingin mendengar pendapatmu,” Al-Hajjaj mendesak. Ibnu Jubair menjawab, “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.” “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu,” kata al-Hajaj. “Yang kuketahui engkau telah melanggar kitabullah,” kata Ibnu Jubair, “engkau mengutamakan hal-hal yang tampak hebat padahal hal itu menghancurkan dan menjerumuskanmu ke neraka.”

 

 Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketakwaan akan melahirkan sikap merendah dan takut kepada Dzat yang Maha Agung. Namun ia melahirkan sikap berani dan tabah menghadapi makar dan kezaliman sekalipun harus berhadapan dengan penguasa. Ketakwaan melahirkan keberanian untuk membela syariat Allah, Rasulullah, dan al-Qur’an. Ketakwaan tidak melahirkan pribadi rapuh yang mudah putus asa saat menghadapi gangguan dan rintangan dalam perjalanan menuju Allah.

Ketakwaan tidak melahirkan pribadi yang permisif terhadap kebatilan dan kemungkaran. Ketakwaanlah yang membuat seorang wanita seperti Nasibah berani maju ke medan jihad. Ketakwaanlah yang membuat Said bin Jubair mampu melawan kezaliman.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

Khutbah Jumat: Kabar dari Al-Qur’an yang Paling Menakutkan

Khutbah Jumat:

Kabar Al-Qur’an yang Paling Menakutkan

Oleh: Majalah ar-risalah

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ مَجَالِسَ الخَيْرِ مَجْمَعًا لِكُلِّ خَيْرٍ وَفَضِيلَةٍ، وَأَرْشَدَنَا فِي مَجَالِسِنَا إِلَى جُمْـلَةِ آدَابٍ جَلِيلَةٍ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ نَبِيُّ الأُلْفَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالإِخَاءِ وَالهِدَايَةِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي العُقُولِ الرَّاجِحَةِ وَالمَجَالِسِ الصَّالِحَةِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ وَاقْتَفَى أَثَرَهُمْ إِلَى يَوْمِ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ العَالَمِينَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

 

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah

Puji syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’ala . Karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya lah kita dapat menunaikan tugas kita sebagai seorang hamba. Dengan rahmat-Nya pula, Kita dapat menghadiri majelis shalat jumat ini. Yang mana, majelis ini telah menjadi kebutuhan bagi kita. Agar ruhiyah kita semakin hidup.

Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad ﷺ. Kepada ahlu baitnya, sahabatnya dan para pengikutnya yang selalu meneladani sunnahnya hingga hari akhir. Amma Ba’du:

Melalui mimbar jumat ini, khatib wasiatkan kepada diri kami dan para jamaah pada umumnya. Marilah kita tingkatkan kualitas dan kuantitas takwa kita kepada Allah. Yaitu, dengan cara meningkatkan amal ibadah yang dikerjakan dengan penuh keihlasan, dengan penuh rasa khauf dan dengan segenap rasa raja. Dan, dengan meninggalkan kemaksiatan dengan segenap kemampuan kita. Semoga, takwa tersebut dapat menjadi bekal terbaik untuk hari akhirat. Dapat menjadi penerang di gelapnya alam barzakh. Dan, dapat menolong kita di hari akhir kelak. Amin ya rabbal ‘alamin.

 

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Ada satu kisah yang dapat kita ambil hikmahnya. Pada suatu malam. Ketika Khalifah Umar bin Khathab sedang dalam suatu perjalanan, beliau bertemu dengan sekelompok kafilah. Di padang pasir tersebut, malam sangat gelap menutup pandangan setiap pengendara. Sahabat Abdullah bin Mas’ud berada dalam kafilah itu. Khalifah Umar memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada kafilah tersebut, “Dari manakah kalian? Dan hendak ke mana kalian”. Abdullah menjawab “Min fajjin ‘amiq, ila baitil atiq. Dari lembah yang dalam menuju baitullah al-atiq.”

Jawaban tersebut membuat Umar mengira bahwa di kafilah pasti ada orang yang sangat alim. Kemudian diperintahkannya pula untuk bertanya, “Ayat Qur’an manakah yang paling agung? Ayat apakah yang paling kuat hukumnya? Dan ayat Quran manakah yang paling luas cakupannya?”

Setiap pertanyaan dijawab dengan sangat baik oleh Abdullah. Hingga tiba satu pertanyaan, “Kabar ayat Al-Qur’an manakah yang paling menakutkan?” Jawab Abdullah,

لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلاَ أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلاَ يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا

“Pahala dari Allah bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong. dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah.” (QS. An Nisa’: 123)

Shahabat Abdullah bin Mas’ud menilai ayat ini memberikan kabar yang menakutkan. Dan pendapat itu disetujui oleh sahabat Umar. Kabar menakutkan yang pertama ada pada kalimat ‘pahala itu bukanlah seperti angan-anganmu’. Mereka khawatir jika sebagian pahala atau bahkan seluruh amal mereka tidak diterima oleh Allah, padahal mereka adalah generasi terbaik umat ini. Karena itu, semestinya kita lebih layak untuk takut dan khawatir. Sebab, semakin seseorang memiliki ilmu dan banyak amal, dia semakin takut kepada Allah.

Selama ini, boleh jadi kita sering mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, berbagai ibadah yang telah kita jalankan. Lalu kita mengkalkulasi, begitu banyak pahala yang menurut kita telah kita kumpulkan. Semestinya kita khawatir, jangan-jangan nilai di sisi Allah sebenarnya jauh dari angan-angan kita.

Kelak akan banyak orang yang kecele. Mereka merasa telah berbuat yang sebaik-baiknya, padahal apa yang dianggapnya baik, ternyata bukan kebaikan menurut Allah,

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 104)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menafsirkan maksud orang merugi dalam ayat ini, “inilah hasil amalan yang bukan diperuntukkan Allah, atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.” Maka selayaknya kita senantiasa memperhatikan dan mengevaluasi amal kita, sebelum dan sesudahnya. Sebelum beramal, selayaknya kita bertanya, “liman a’mal? wa kaifa a’mal?”, untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana saya mesti beramal? Jawaban yang pertama adalah dengan mewajibkan hati kita untuk ikhlas, yakni tidak beramal dan berbuat kecuali hanya karena Allah semata. Adapun pertanyaan kedua, “bagaimana saya mesti beramal?” Jawabannya, haruslah dengan mutaba’ah, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Karena,

وَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah dariku, maka tertolak.” (HR. Bukhari)

Amal yang diterima oleh Allah, hanyalah amal yang ikhlas dan benar. Sementara kita tidak bisa menjamin, bahwa semua yang kita lakukan sudah ikhlas seperti yang diperintahkan, baik qablal amal, ‘indal amal dan ba’dal amal, sebelum, ketika dan sesudah beramal. Tidak heran jika seorang ulama salaf mengatakan, “Ikhlas sesaat adalah kebahagiaan abadi, hanya saja, ikhlas itu berat.” Sufyan ast-Tsauri juga berkata, “Aku tidak pernah mengobati penyakit yang lebih berat dari mengobati niatku.”

 

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Orang yang yang beribadah tapi tidak ikhlas atau tidak benar, Kelak akan tertipu oleh  angan-angannya. Namun, orang yang benar-benar tertipu adalah orang yang telah melakukan beberapa kebajikan, namun pahalanya harus dibagi-bagi lantaran kezhaliman yang dilakukannya. Pahalanya kebaikannya pun habis dan bahkan masih menanggung dosa orang yang dizhalimi. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِيْ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأّتِيْ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هذَا وَأَكَلَ مَالَ هذَا وَسَفَكَ دَمَ هذَا وَضَرَبَ هذَا فَيُعْطَى هذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ إُخِذَ مِنْ خَطَايَا هُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِيْ النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan pahala shalat, shaum maupun zakat. Akan tetapi dia telah mencela ini, menuduh itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu, lalu kebaikannya diberikan kepada si ini, kebaikan lain diberikan kepada si itu, hingga ketika kebaikannya telah habis sementara kezhalimannya belum terlunasi, maka dosa orang yang dizhalimi ditimpakan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim)

 

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Hal kedua dalam ayat tersebut yang membuat takut para shahabat adalah kalimat, “Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.”

Padahal mereka adalah orang yang sedikit melakukan dosa. Karena sedikitnya, mereka bisa mengingat, kapan dan dosa apa yang telah mereka lakukan. Itupun, mereka takut jika dosa yang pernah mereka lakukan menyebabkan jatuhnya sanksi yang menimpa mereka. Karena dosa bisa mendatangkan musibah, baik berupa sangsi di dunia maupun siksa di akhirat.

Telah dikabarkan bahwa Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, bagaimana akan ada keberuntungan setelah ayat ini, maka setiap apa yang (dosa) yang kami lakukan maka kami akan dibalas?” Nabi ﷺ bersabda, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, bukankah kamu pernah sakit? Bukankah kamu pernah kelelahan? Bersedih? Bukankah kamu pernah mengalami ditimpa cobaan?” Abu Bakar menjawab: “ya” kemudian beliau bersabda, “Maka itu semua adalah balasan bagi kalian.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini ada ancaman yang menakutkan, namun juga ada hiburan yang melegakan, di mana setiap kesusahan dan penderitaan sekecil apapun yang dialami oleh seorang muslim itu adalah kafarah (penebus) bagi dosa.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari jahatnya jiwa kami dan buruknya amal-amal kami. Amin ya rabbal alamin.

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ  إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ وَلِيِّ الإِحْسَانِ، لا يَحُدُّهُ الزَّمَانُ وَالمَكَانُ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ الوَلِيُّ الحَمِيدُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّـنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ الخُلُقِ العَظِيمِ، أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهُ، وَأَكْرَمَهُ فَجَعَلَهُ خَلِيلَهُ وَحَبِيبَهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الأَبْرَارِ، وَعَلَى تَابِعِيهِمْ مِنْ عِبَادِ اللهِ الأَخْيَارِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

فَيَا عِبَادَ اللهِ

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ

(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Khutbah Jumat: Belum Datangkah Saat Untuk Bertaubat?

Khutbah Jumat:

Belumkah Datangkah
Saat Bertaubat?

Oleh: Majalah ar-risalah

 

الْحَمْدُ للهِ الغَفُورِ التَّوَّابِ، يَقْبَلُ التَّوبَةَ مِمَّنْ تَابَ إِلَيْهِ وَأَنَابَ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَستَغْفِرُهُ مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، دَعَا عِبَادَهُ إِلَى الإِنَابَةِ إِلَيْهِ وَالمَتَابِ، وَوَعَدَهُمْ عَلَى ذَلِكَ رِضْوَانَهُ وَحُسْنَ مَآبٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، كَانَ يَتُوبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَيَستَغْفِرُهُ بِلا عَدٍّ وَلا حِسَابٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنِ اتَّبَعَهُ وَسَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَدَعَا بِدَعْوَتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:113)1 

 

Jama’ah jum’at rahimakumullah

Menjadi kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, atas segala limpahan dan karunia yang tak terhingga. Sungguh, kenikmatan itu datang karena syukur, dan syukur itu akan mengundang hadirnya tambahan nikmat. Tambahan karunia dari Allah tak akan berhenti, kecuali jika hamba itu menghentikan syukurnya. Di antara ulama mengartikan syukur dengan tarkul ma’aashi, meninggalkan maksiat. Maka barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka dia telah menanggalkan syukurnya kepada Allah, sesuai dengan tingkat dosa yang dilakukannya. Namun, dengan kasih sayang Allah atas hamba-Nya, Dia memberikan kesempatan kepada setaip orang yang berdosa untuk bertaubat. Taubat yang sempurna tak hanya menghapus dosa, bahkan bisa jadi keadaan orang yang bertaubat lebih baik dari keadaannya sebelum berbuat dosa.

Jamaah jumat rahimakumullah

Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata, “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melampiaskan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَماَ نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلُ فَطاَلَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فاَسِقُوْنَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (QS. al-Hadid: 16).

Tatkala mendengarnya, tubuh beliau gemetar dan berkata, “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus!,” dan sebagian yang lain berkata, “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Fudhail menceritakan, “Kemudian aku merenung dan bergumam, “Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram.”

Ayat itulah yang menyadarkan seorang Fudhail bin ‘Iyadh dari kelalaian yang panjang. Hingga akhirnya beliau menjadi ulama senior di kalangan tabi’in, sekaligus dikenal sebagai ahli ibadah yang zuhud. Ayat itu pula yang menyadarkan Malik bin Dinar rahimahulah yang pada gilirannya beliau menjadi ulama terkemuka di zamannya.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Ayat ini menjadi teguran yang halus, sekaligus ‘menohok’ terhadap orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman. Halus, karena Allah menyentuh dengan sapaan “orang-orang yang beriman”, bukan orang-orang yang durhaka. Menohok, karena setiap orang yang merasa dirinya beriman pastilah terhenyak ketika menghayati ayat ini. Karena mereka akan menyadari, betapa tidak layaknya seseorang yang disifati sebagai orang beriman, namun hati dan perbuatannya tidak mencerminkan sebagai orang beriman. Yang terkadang masih menyepelekan dosa-dosa, menomorduakan perintah Allah dan rasul-Nya dan ditambah lagi merasa enjoy untuk berlama-lama dengan kondisi seperti itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنُ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ مِثْلَ ذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَذَبَّ عَنْهُ

“Sesungguhnya seorang muslim membayangkan dosa-dosanya seperti duduk di kaki gunung dan ia takut tertimpa olehnya. Sedangkan seorang yang fajir menganggap dosanya seperti lalat yang hinggap dihidungnya, lalu dikibasnya.” (HR. Tirmidzi)

Janganlah kita membatasi obyek seruan ayat ini hanya kepada orang yang mengaku Islam namun masih menjadi penjahat, pemabuk atau pezina. Atau seakan-akan kita telah bebas dari teguran ini.

Para sahabat yang demikian taat menganggap bahwa ayat ini sebagai teguran untuk mereka. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Jarak antara keislaman kami dengan teguran Allah pada ayat ini adalah 4 tahun.” Sementara Abdullah bin Abbas mengatakan, “Sesungguhnya Allah menganggap lambat hati orang-orang dalam merespon (ayat-ayat-Nya), lalu Allah menegur mereka setelah 13 tahun sejak diturunkan ayat!”, yakni teguran dengan ayat ini.

Jika demikian, tentulah kita lebih layak menjadi obyek dari teguran Allah dalam ayat ini. Memang kita telah banyak mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, juga membaca dan mempelajarinya, alhamdulillah. Namun jujur, kadang hati dan jasad belum juga khusyuk. Hati belum fokus dan konsen terhadap peringatan dari Allah, jasadpun belum menunjukkan ketundukan dan kepasrahan terhadap perintah dan larangan-Nya.

Berapa kali kita membaca dan mendengar ayat-ayat perintah, tapi seberapa persenkah yang telah kita lakukan? Dan segigih apakah kita dalam menjalankan?

Ayat-ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang larangan, sering pula mampir di telinga. Ancaman bagi setiap pelaku dosa juga kerap kita baca. Namun seberapakah efek peringatan itu terhadap hati dan tindakan kita? Seakan masih menunggu waktu, atau merasa masih panjang waktu kita bersenang-senang. Seolah kita tahu berapa jatah umur kita hidup dunia, lalu dengan pedenya merencanakan untuk menyisihkan saat taubat itu beberapa saat saja di ujung usia.

Kita lupa, bahwa angan-angan manusia itu melampaui batas ajalnya. Kematian bisa saja datang sebelum kita menyelesaikan separuh atau bahkan seperempat dari rencana ‘goal setting’ yang kita buat. Bagaimana lancangnya kita jika meletakkan target bertaubat itu di ujung usia kita, padahal kita buta, kapan hari ketetapan ajal itu tiba.

Hadirin jamaah jumat rahimakumullah

Membaca ayat ini, mestinya kita tersadar, Allah masih memberi kesempatan kita untuk bertaubat, dan menyuruh kita bersegera kembali kepada-Nya setelah sekian lama teledor dan lalai. Dan kita tidak tahu, seberapa lama lagi Allah masih memberi kesempatan dan menunggu kita untuk memperbaiki diri.

Tak ada pilihan lain, kita harus menyudahi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah sekarang juga, baik dosa yang tersembunyi, maupun yang terang-terangan. Sebelum satu dari dua keburukan menimpa kita. Apakah ajal yang datang sebelum sempat bertaubat, ataukah kerasnya hati lantaran tak sudi menggunakan peluang yang panjang untuk berbenah diri.

Sementara setan terus menghembuskan bisikan yang memabukkan, tapi berdampak mematikan. Bisikan itu adalah ‘taswif’, bujukan untuk menunda kebaikan dan taubat dengan kalimat beracun, “nanti!” Dihembuskannya bisikan itu setiap kali tercetus hasrat di hati seorang hamba untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Karena itulah, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “innat taswif min junuudi iblis”, sesungguhnya taswif (mengatakan ‘nanti” untuk kebaikan) adalah satu di antara tentara Iblis.”

Sebelum semua itu terjadi, sekarang juga kita pasrah di hadapan Allah, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ،  وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، فَتَحَ بَابَ تَوْبَتِهِ لِلتَّائِبِينَ، وَأَسْبَلَ سِتْرَهُ عَلَى العَاصِينَ، وَنَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَأَفْضَلُ المُخْبِتِينَ التَّائِبِينَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

  : عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ .وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Khutbah Jumat: Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main

 

MATERI KHUTBAH JUMAT

Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main

Oleh: Majalah ar-risalah

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Marilah senantiasa kita panjatkan syukur kita kepada Allah atas setiap nikmat yang dikaruniakan kepada kita. Syukur secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillah dan menyebut-nyebut bahwa nikmat tersebut dari Allah, maupun secara amal. Caranya dengan menggunakan seluruh karunia Allah untuk kebaikan dan menjalankan syariatnya sebaik-baiknya. Bukan untuk melanggar larangan-Nya. Itulah hakikat syukur yang sempurna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi agung Muhammad SAW, juga kepada keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah beliau. Kita mengucapkan shalawat dan salam atas beliau, bukan karena beliau membutuhkan doa keselamatan dari kita dan agar beliau selamat dan sejahtera, tapi doa kesejahteraan dan keselamatan dalam shalawat itu akan kembali kepada kita. Rasulullah bersabda, “ Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan memberikan shalawat (kesejahteraan dan keselamatan) untuknya 10 kali.” (HR. Muslim).

Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah nilai yang akan menentukan kedudukan kita di sisi Allah. Takwa bukan sekadar takut, tapi kekuatan, kesemangatan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-perintah-nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ada sebuah kisah yang menggugah jiwa dari kelalaian, dari seoang ahli ibadah terkenal bernama Ibrahim bin Adham. Ibrahim bin Adham termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya dikenal kaya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya untuk menghibur diri dan bersenang-senang. Hidup penuh kesenangan hingga lupa sebuah hakikat “untuk apa sebenarnya diciptakan”?

Ketika ia sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah Ta’ala,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاًوَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاتُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. “(QS. al-Mukminun: 115)

Serasa disambar petir. Ayat itu betul-betul menyentak beliau. Menggugah kesadaran, betapa selama ini telah bermain-main dalam menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan tak terperi, atau kebahagiaan tak tertandingi. Yakni saat di mana manusia dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuat. Sejak itulah beliau tersadar, dan itulah awal beliau meniti hidup secara semestinya, hingga saksi sejarah mencatat beliau sebagai ahli ibadah dan ahli ilmu yang ‘bukan main’.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Rasa-rasanya, ayat ini seperti belum pernah diperdengarkan di zaman kita ini. Meski tidak terungkap kata, tetapirealitamemberi buktinya; banyak manusia yang menganggap dan menjadikan hidup ini tak lebih dari  iseng dan main-main. Berpindah dari satu hiburan ke hiburan lain, dari satu kesenangan menuju kesenangan lain, seakan hanya untuk itulah mereka diciptakan.

Ayat ini menjadi peringatan telak bagi siapapun yang tidak serius menjalani misi hidup yang sesungguhnya. Kata ‘afahasibtum’, ( maka apakah kamu mengira), ini berupa istifham inkari, kata tanya yang dimaksudkan sebagai sanggahan. Yakni, sangkaan kalian, bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk iseng, main-main atau kebetulan itu sama sekali tidak benar. Dan persangkaan kalian, bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami, adalah keliru.

Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskan jatah umur, lalu mati dan tidak kembali,

”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Persangkaan yang keliru itu, membuat manusia liar dalam menjalani hidup. Berjalan tanpa panduan arah yang jelas, terseok dan tertatih di belantara kesesatan.

Hanya ada tiga ’guide’ (penunjuk) yang mungkin akan mereka percaya untuk memandu jalan. Pertama adalah hawa nafsu. Dia berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Apa yang diingini nafsu, itulah yang dilakukan. Kemana arah nafsu, kesitu pula dia akan berjalan. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan bengkok, betapa besar potensi ia terjungkal ke jurang kesesatan.

Pemandu jalan kedua adalah setan. Ketika seseorang tidak secara aktif mencari petunjuk sang Pencipta sebagai rambu-rambu jalan, maka setan menawarkan peta perjalanan. Ia pun dengan mudah menurut tanpa ada keraguan. Karena sekali lagi, dia tidak punya ’kompas’ yang bisa dipertanggungjawabkan dalam menentukan arah perjalanan. Sementara, peta yang disodorkan setan itu menggiring mereka menuju neraka yang menyala-nyala,

”Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Rambu-rambu ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran itu adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah kiblat dan barometer setiap tingkah laku dan perbuatan. Padahal,

1.

” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am: 116)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung; agar mereka beribadah kepada-Nya. Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya; lembar catatan amal dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan.

Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua tercatat dengan detil dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetil itu, mereka berkata,

2.

”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. al-Kahfi: 49)

Sebelum peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk menjadikan hidup lebih berarti. Mudah-mudahan, fragmen singkat di bawah ini membantu kita untuk membangkitkan semangat itu.

Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur Anda sekarang ini?” Orang itu menjawab, “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau begitu, selama 60 tahun itu Anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan Allah, dan tak lama lagi perjalanan Anda akan sampai.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un,” tukas orang itu.

Fudhail kembali bertanya, ”Tahukah Anda, apa makna kata-kata yang Anda ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan jawaban.”

Orang itu bertanya, ”Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sedangkan kesempatan telah terlewat?”

Fudhail menjawab, ”Hendaknya Anda berusaha memperbagus amal di umur yang masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa lampau.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah. Hidup ini bukanlah kehidupan yang sia-sia, hanya main-main dan kebetulan belaka. Ada hari pembalasan, ada masa pertanggungjawaban. Yang menyia-nyiakan kehidupan, bencanalah yang ia dapatkan. Tapi yang mempersiapkan dan menggunakan untuk kebaikan, dialah yang berhak mendapat keberuntungan. Kita berdoa, semoga kita mampu mengubah hidup kita, dari main-main, menjadi bukan main. Amien.

وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاّ َالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ الرَّحِيْمِ الرَّحْمَنِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

 

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مَتُلاَزِمَيْنَ عَلَى مَمَرِّ اللَّيَالِيْ وَالزَّمَانِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

 

إِنَّ الله َوَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَىالنَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ  مُجِيْبُ  الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ اغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ

 رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

 

Download versi Pdf Khutbah Jumat di sini: KHUTBAH JUMAT

Khutbah Iedul Adha: Taat Saat Ringan dan Berat

TAAT SAAT RINGAN DAN BERAT

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Majalah ar-risalah

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنسْتعِينُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنعُوذ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيّئاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أما بعد

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَديثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُورِ مُحْدَثاَتِهَا وَكُلَّ مُحْدَثــَةٍ بدْعَةٌ وَكُلَّ بدْعَةٍ ضَلاَلةٌ وَكُلَّ ضَلاَلةٍ فيِ النَّارِ
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha. Kita kenang dan kita hayati bersama kisah sebuah keluarga di dalam mencapai dan mencari ridha Allah subhanahu wataala. Keluarga yang senantiasa taat kepada Allah, baik di saat ringan maupun berat.

Allah telah mengisahkan kepada kita, ketika Ibrahim alaihissalam berbahagia dengan kelahiran puteranya yang bertahun lamanya dinanti. Muhammad Ali As-shabuni di dalam tafsir beliau mengatakan bahwa Allah mengaruniakan putra pertama kepada Ibrahim ketika beliau berusia 120 tahun. Kurang lebih 75 sampai 80 tahun setelah usia pernikahan beliau. Allah perintahkan beliau membawa istrinya, Hajar dan juga puteranya yang bernama Ismail ke Bakkah atau Mekah, tempat yang sangat sepi, tandus tak ada pepohonan maupun cadangan air.

Saat beliau hendak meninggalkan keduanya, Hajar alaihassalam bertanya, “Mengapa Kau tinggalkan kami di sini?” Ibrahim tak mampu menjawab apa-apa. Lalu Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Beliau menjawab, “Iya.” Hajar pun berkata, “Kalau begitu, pastilah Allah tidak akan menelantarkan kami!”

Hajar alaihassalam tidak menyangka bahwa nantinya Mekah menjadi begitu makmur dan tak pernah sepi sedikitpun dari orang-orang yang mengunjunginya. Mata air zam-zam yang Allah anugerahkan untuk beliau berkahnya hingga sekarang dirasakan jutaan manusia setiap harinya.Yang beliau tahu ketika itu adalah beliau harus taat terhadap perintah Allah, dan kesudahan yang baik diberikan kepada hamba-Nya yang bertakwa.

Pun demikian ketika Ismail, putra yang kelahirannya ditunggu selama bertahun-tahun itu sudah dapat pergi bersama dengannya, pada saat anaknya betul-betul menjadi penyejuk matanya, beliau bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra yang dicintainya, sedangkan mimpi para Nabi adalah wahyu.

Kita dapat merasakan betapa berat ujian Nabi Ibrahim alaihissalam ketika itu, namun bagi beliau perintah Allah adalah segalanya, sehingga beliau berkata kepada putranya,

بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Kita saksikan betapa taatnya ia kepada Allah sehingga dengan mantap ia berkata,

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah yang menceritakan tentang keluarga Nabi Ibarahim alaihissalam. Ketika Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putranya, setan berkata, “Jika kau tidak bisa menggoda mereka kali ini maka aku tidak akan menggodanya selama-lamanya.”

Ketika Ibrahim alaihissalam keluar bersama putra beliau, setan mendatangi istri beliau dan berkata, “Kemana Ibrahim pergi berasama anakmu?”

Beliau menjawab, “Untuk suatu keperluan.”

Setan menyangkal, “Dia pergi bukan untuk satu keperluan, tetapi dia pergi untuk menyembelih anakmu.”

Beliau berkata, “Mengapa dia hendak menyembelih anakku?”

Setan menjawab, “Ibrahim mengaku bahwa Rabbnya telah memerintahkan ia untuk itu.”

Beliau menjawab, “Alangkah baiknya jika dia melaksanakan perintah Rabbnya.”

Kemudian setan pergi dan menyusul putra Ibrahin lalu berkata, “Nak, hendak diajak kemana kamu oleh ayahmu?”

Beliau menjawab, “Untuk suatu keperluan.”

Setan berkata, “Dia mengajakmu bukan untuk satu keperluan, tetapi untuk menyembelihmu.”

Beliau bertanya, “Dengan alasan apa ayah hendak menyembelihku.”

Setan menjawab, “Dia mengaku bahwa Rabbnya memerintahkan hal itu.”

Maka beliau berkata, “Demi Allah jika Allah memerintahkan itu maka sudah seharusnya ayah mengerjakannya. Maka setan pun pergi meninggalkannya dengan putus asa.”

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Saat Ibrahim alaihissalam diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih puteranya, beliau tidak tahu sebelumnya bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan seekor domba. Yang beliau tahu bahwa beliau harus menjalankan perintah Rabbnya. Lalu Allah memberikan kejutan yang membahagiakan kepadanya, sebagai balasan atas kesetiaan beliau terhadap perintah Rabbnya. Maka kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Sebagaimana juga Nabi Musa alaihissalam tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya laut akan terbelah setelah tongkat beliau dipukulkan ke lautan. Yang beliau tahu bahwa itu adalah perintah Allah dan pasti Allah memberikan jalan keluar.

Nabi Nuh alaihissalam juga tidak tahu bahwa akan terjadi banjir bandang, saat beliau membuat kapal di musim kemarau hingga ditertawakan kaumnya. Beliau hanya menjalankan perintah, lalu Allah memberikan kesudahan yang baik bagi beliau dan orang-orang yang mengimaninya.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Jalan itu pula yang diikuti oleh para sahabat Nabi yang merupakan generasi terbaik umat ini. Mereka berjalan dengan menggunakan instrumen keimanan. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh ketaatan. Semboyannya adalah sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami taat. Tanpa ada keraguan apalagi kecurigaan terhadap syariat. Karena semua itu datang dari Yang Mahatahu dan Mahabijaksana.

Sepenggal kisah di malam Perang Ahzab bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Saat itu udara sangat dingin menusuk tulang, kelaparan mendera, dan musuh mengancam kaum muslimin. Ketika itu Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan tawaran kepada para sahabat,

“Adakah seseorang yang mau berangkat untuk melihat apa yang dilakukan musuh lalu melaporkan kepada kita?” Nabi mempersyaratkan ia kembali dan Allah akan memasukkannya ke dalam jannah. Namun tak satupun berdiri karena memang beratnya kondisi mereka ketika itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengulangi tawarannya dan menjanjikan bagi yang bersedia menjalankan tugas itu maka akan menjadi teman dekatnya di jannah. Pun tidak ada yang berdiri menyambut tawaran. Ketika tak ada satupun yang berdiri, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَاحُذَيْفَةُ، فَاذْهَبْ فَادْخُلْ فِي الْقَوْمِ فَانْظُرْ مَايَفْعَلُونَ وَلاَتُحْدِثَنَّ شَيْئًاحَتَّى تَأْتِيَنَا

‘Hai Hudzaifah, pergilah menyusup ke tengah-tengah mereka dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan kau bertindak apapun sampai engkau menemuiku.” (HR Ahmad)

Hudzaifah menyadari bahwa ini bukan lagi tawaran, melainkan perintah yang tidak ada alasan untuk membantah. Maka beliau pun berangkat meski dalam kondisi berat. Karena tidak ada jawaban lain bagi seorang mukmin ketika mendapat perintah dari Allah dan Rasul-Nya melainkan ucapan, “sami’na wa atha’na”, kami mendengar dan kami taat.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Tatkala larangan khamr diberlakukan dengan turunnya ayat tentang haramnya khamr maka serentak mereka mengatakan, “intahaina ya Rabb, Kami berhenti wahai Rabb!” Tak ada pilihan lain lagi selain itu.

Tatkala turun syariat hijab, para shahabiyah tidak meminta waktu untuk membuat mode hijab yang membuat mereka semakin cantik, tapi mereka langsung menyambar kain apapun yang ada didekat mereka.

Begitupun tatkala syariat jihad ditegakkan atas para shahabat, meski mengandung resiko harta dan nyawa, mereka berangkat menunaikan perintah Allah,

“Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. at-Taubah: 41)

Ayat ini menampik alasan-alasan orang yang malas dan was-was, dan para sahabat mampu menepis semua itu, mereka mendengar dan taat. Begitulah jawaban dan reaksi orang yang beriman pada saat menerima titah dari Rabbnya.

Ini berbeda dengan ahli kitab yang tatkala mendapat perintah dari Allah mereka berkata sami’na wa ashaina, kami mendengar dan kami durhaka. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati.” (QS. al-Baqarah: 93)

Berbeda pula dengan respon orang-orang munafik yang mengatakan “sami’na” kami mendengar, wahum laa yasma’un, padahal mereka tidak sudi mendengarkan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (QS. al-Anfal: 21)

Itulah tiga tipe manusia yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an tatkala merespon perintah dan larangan dari Allah, hendaknya kita mawas diri, di kelompok mana kita berada. Mengikuti para Nabi dan para sahabat, ataukah ahli kitab dan munafiqin yang mewarisi tradisi Iblis dalam keengganannya untuk taat.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Marilah kita mantapkan di dalam hati sanubari kita bahwa kecintaan kita kepada keluarga, istri dan anak-anak kita, kepada harta benda yang kita kumpulkan diletakkan dibawah kecintaan kita kepada Allah subhanahu wataala.

Nabi Ibrahim mencintai istri dan anak-anak beliau, namun jelas kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih tinggi dibandingkan kecintaan kepada mereka. Kecintaannya kepada Allah menyebabkan ia siap berpisah dengan apapun ketika itu merupakan perintah dari Allah subhanahu wataala.

Marilah kita bermuhasabah, introspeksi diri. Jangan sampai hanya karena mencari harta yang tak seberapa ibadah kita menjadi tak sempurna. Hanya karena istri dan anak-anak tercinta kita lakukan hal-hal yang membuat Allah murka. Semuanya kita cinta tapi cinta kita kepada Allah lebih dari segalanya.

Semoga Allah jauhkan kita dari kesombongan dan pembangkangan dan menjadikan kita hamba yang senantiasa taat baik di saat ringan maupun berat.

Marilah kita akhiri khutbah Ied pada hari ini dengan berdoa kepada Allah:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمسْلِمَاتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ ارزُقنا حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنا حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنا مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لَناَ فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّا مِمَّا نحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لنا فِيمَا تُحِبُّ

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

اللهُمَّ اكْفِنَا بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

DOWNLOAD VERSI PDF NYA DI SINI: Khutbah Iedul Adha 1439 H

 

 

Khutbah Jumat: Makna Hakiki dari Cinta pada Bangsa dan Tanah Air

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا ,يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga kepada para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.

Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa dalam setiap khutbahnya. Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan tidak  asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya, juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar diskusi dan isu-isu seputar semangat kebangsaan dan nasionalisme. Dan Islam, seringkali disindir atau bahkan dituduh menjadi ideologi yang anti terhadap kebangsaan dan mengharamkan cinta tanah air dan bangsa. Sebenarnya bagaimana sikap seorang muslim terhadap hal ini?

Islam tidak mengharamkan umatnya untuk mencintai bangsanya, sukunya, juga tanah air atau negeri di mana dia tinggal. Cinta kepada hal-hal tersebut akan muncul secara alami karena kesamaan bahasa, tradisi, selera dan tempat tinggal. Cinta pada semacam ini bersifat thabi’i alias natural. Contoh kongkritnya, kebanyakan orang akan lebih memilih istri dari bangsa yang sama. Alasannya? Kesamaan bahasa. Kebanykan orang juga lebih memilih tinggal bersama orang-orang yang sebahasa dan sekultur karena hal itu akan memudahkan dalam banyak hal. Hal ini wajar dan dibolehkan.

Namun, kecintaan kita terhadap semua hal itu haruslah proporsional dan tidak boleh melebihi atau merusak kecintaan atas dasar iman dan Islam. Cinta pada saudara seiman dan seislam harus menjadi prioritas karena persaudaran inilah yang diakui oleh Allah. Semua dalil mengenai ukhuwah Islamiyah dalam al-Quran maupun hadits mengarah pada ikatan persaudaraan karena iman dan Islam, bukan yang lain. Jika kecintaan kepada bangsa, suku, dan tanah air melebihi kecintaan kita terhadap saudara seiman, berarti kita telah terjebak sikap ashobiyah jahiliyah atau fanatisme jahiliyah yang dicela dalam Islam.

Contoh kecintaan kepada bangsa dan tanah air yang melebihi cinta kepada saudara seiman adalah sikap abai dan tidak peduli pada penderitaan saudara seiman sebangsa apalagi lain bangsa dan negara. Saat saudara seiman dari bangsa lain menderita karena penindasan, pengusiran dan berbagai konflik, kita bersikap tidak peduli dan enggan membantu karena merasa mereka bukanlah saudara sebangsa dan setanah air. Padahal Iman dan Islam tidaklah dibatasi suku, warna kulit dan negara. Cinta dan persaudaraan Iman adalah persaudaraan manusia sedunia dan bahkan akhirat. Jika cinta kepada bangsa mengakibatkan fanatisme seperti ini, maka cinta semacam itu adalah tercela.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

 Dakwah Rasulullah di awal berdirinya kedaulatan Islam di Madinah adalah menghapuskan fanatisme kesukuan antara Aus dan Khazraj dan menyatukan mereka dalam persaudaraan Islam. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلَانِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan (fanatisme) ala Jahilliyah dan kebanggaan kalian dengan nenek moyang. (Yang ada adalah) orang beriman yang bertakwa dan orang yang jahat yang celaka. Kalian adalah anak cucu Adam, dan Adam tercipta dari tanah. Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap bangsanya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari serangga yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR Abu Daud).

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Selain tidak boleh melebihi dan menghalangi kecintaan pada saudara seiman, cinta pada saudara sebangsa dan setanah air juga tidak boleh membuat kita membiarkan mereka melakukan kezhaliman. Bukan disebut cinta namanya membiarkan saudaranya melakukan kezhaliman. Oleh karenanya, kepada saudara sesuku dan sebangsa pun kita harus tetap mengajak kepada hidayah Allah dan mencegah kemungkaran yang dilakukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah (fanastisme), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.”[HR. Abu Dawud No.4456].

 
عَنْ بِنْتِ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Dari Putri Watsilah bin Al-Asqa’, ia mendengar Ayahnya berkata: Aku berkata, “Yaa Rasulullah, apa itu ashabiyah?”. Rasul menjawab: “Engkau menolong kaummu dalam kezaliman.”[HR. Abu Dawud No.4454].

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dengan batasan ini kecintaan kita kepada saudara sebangsa dan setanah air justru akan lebih adil dan proprosional. Bukan cinta membabi buta yang membuat kita mengabaikan saudara seiman atau cinta yang mencelakakan karena membiarkan saudara sebangsa melakukan kezhaliman.

Tidak sedikit yang berkoar-koar cinta kepada bangsa dan tanah air, tapi diam saat saudara sebangsa terkena musibah. Diam saat saudara sebangsanya yang juga saudara seiman membutuhkan bantuan karena musibah atau dizhalimi oknum-oknum tak bertanggungjawab. Diam saat penjajah-penjajah modern dari kalangan kapitalis menginjak kedaulatan dan merebut sumber-sumber daya alam di tanah air sendiri.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Banyak yang menuduh bahwa ukhuwah Islamiyah adalah fanatisme ekslusif yang mengabaikan orang diluar lingkupnya. Padahal jika kita melihat bagaimana cinta dan persaudaraan Rasulullah dan para shahabat, juga umat-umat Islam terdahulu, kita akan dapati bahwa kecintaan mereka pada Islam, eratnya persaudaraan mereka, akan menyebarkan cinta yang lebih luas kepada sekitarnya, kepada bangsanya dan kepada negeri di mana dia tinggal. Memang demikianlah. Kita baru bisa merasakan kesaktian islam sebagai rahmatan lil alamain, bukan ketika kendur dalam berislam tapi justru sebaliknya; saat kita kuat dalam berpegang teguh dengannya.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Khutbah Kedua

الْحَمْدَ لله الَّذِي أَنَارَ قُلُوْبَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ بِنُوْرِ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الْعَرَبِيِّ اْلأُمِّيِّنَ اَلَّذِي فَتَحَ اللهُبِهِ أَعْيُناً عُمْياً وَأَذَاناً صُمًّا وَقُلُوْبَاً غَلْفاً وَأَخْرَجَبِهِ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَي النُّوْرِ. صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ عَلَيْهِإِليَ يَوْمِ الْبَعْثِ وَ النُّشُوْرِ وَعَلَىآلِهِ الطَّيِّبِيْنَ اْلأَطْهَرِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَبْرَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إِلَي يَوْمِ الدِّيْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواصَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.اَللَّهُمَّاغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Khutbah Jumat

Baca Juga Khutbah Lainnya:
Solusi Andalan Saat Sulit dan Terjepit, Hati Gersang Karena Iman Telah Usang, Keluarga, Fondasi Utama Kekuatan Umat